08 January 2017

The Girl on the Train by Paula Hawkins

The Girl on the Train yang diterjemahkan oleh Penerbit Noura;
dalam bentuk buku fisik serta e-book di Jakarta Digital Library


BLURB

Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Di pinggiran London, keretanya akan berhenti di sebuah sinyal perlintasan, tepat di depan rumah nomor lima belas. Tempat sepasang suami istri menjalani kehidupan yang tampak bahagia, bahkan nyaris sempurna. Pemandangan ini mengingatkan Rachel pada kehidupannya sendiri yang sebelumnya sempurna.

Pada suatu pagi, Rachel menyaksikan sesuatu yang mengejutkan. Hanya semenit sebelum kereta mulai bergerak, tapi itu pun sudah cukup. Kini pandangannya terhadap pasangan itu pun berubah.


***

First of all...

Ini adalah simple trailer untuk book review The Girl on the Train yang saya buat. Silakan disimak...



The Girl on the Train merupakan sebuah novel dengan genre thriller, mystery, suspense... you name it. Bahkan, prolog untuk novel ini pun sudah berbau misteri...
Dia terkubur di bawah pohon birkin perak, di dekat rel kereta tua, kuburannya ditandai dengan tumpukan batu. Sesungguhnya hanya setumpuk kecil batu. Aku tidak ingin tempat peristirahatannya tampak mencolok, tapi aku tidak bisa meninggalkannya tanpa kenangan. Dia akan tidur dengan damai di sana, tak seorang pun mengusiknya, tidak ada suara kecil kecuali kicau burung dan gemuruh kereta yang melintas.

Belum apa-apa, kita sudah disuguhkan dengan prolog seperti itu -- seolah cover dan blurb belum cukup untuk menyatakan bahwa buku yang akan kita baca isinya ini adalah novel dengan genre yang cenderung psycho-thriller. Hehehe.

And by the way...

The Girl on the Train merupakan novel berlabel (Dewasa).

Saya suka dengan prolog seperti ini, instead of narasi panjang dalam berlembar-lembar halaman, karena terasa lebih straight to the point.

Ada dua jenis prolog yang diberikan kepada kita sebagai pembaca The Girl on the Train karya Paula Hawkins ini. Pertama, seperti yang sudah saya sebutkan di atas -- kita sebut saja dari sudut padangan si A. Kedua adalah prolog lainnya yang didasarkan dari sudut pandang orang lain lagi -- kita sebut saja si B. Sampai di sini kita masih belum tahu siapa si A dan si B, serta siapa Rachel yang disebutkan di blurb. Apakah si A dan B merupakan orang yang sama, atau orang yang beda? Apakah salah satu (atau keduanya?) adalah Rachel? Atau justru orang lain?

Yang jelas, menurut saya, membaca kedua prolog ini sangat menarik. Personally, saya suka sekali dengan prolog yang kedua; dari sudut pandang si B tadi. Kenapa?

Diambil dari The Girl on the Train versi e-book
di Jakarta Digital Library

Karena...

Seperti yang sudah lebih dulu saya ceritakan di akun Instagram saya (@niafajriyani) saat proses membaca ulang The Girl on the Train... Ketika membuka bagian ini, saya langsung otomatis menyanyikan lagu tradisional anak-anak di UK (judulnya seperti yang disebutkan di footnote; One for Sorrow). One for Sorrow merupakan salah satu classic nursery rhymes yang sangat saya sukai. Ini bercerita tentang burung Magpie, yang umumnya dikenal sebagai burung yang menjadi simbol pertanda bahwa hal buruk sedang atau akan segera terjadi. Nah, di dalam lirik lagu One for Sorrow ditekankan pula bahwa burung Magpie dapat membawa keberuntungan maupun kesialan bagi kita -- tergantung pada seberapa banyak jumlah burung Magpie yang kita lihat dalam sehari.

Di dalam prolog kedua, disebutkan lirik One for Sorrow sebagai berikut.
Satu berarti penderitaan, dua berarti kebahagiaan, tiga berarti bocah perempuan.

Versi yang tercantum ini merupakan versi dari lirik yang lebih umum dikenal. Begini lirik lebih lengkapnya.
One for sorrow. Two for joy. Three for a girl. Four for a boy. Five for silver. Six for gold. Seven for a secret. Never to be told. Eight for a wish. Nine for a kiss. Ten for a bird. You must not miss.

Lagu One for Sorrow dapat dinyanyikan dengan nada seperti ketika kita menyanyikan lagu ABC -- jika kita ingin menyanyikan dengan nada yang kita lebih familiar dan kenal dengan baik. Misalnya, seperti di dalam video di bawah ini.


Ada banyak sekali jenis "penyajian" untuk lagu One for Sorrow; seperti yang umum saya ketahui dari banyak classic nursery ryhmes lainnya. Tetapi, jangan tertukar dengan One for Sorrow versi Steps, ya. Ini sih salah satu lagu Steps, a popular dance-pop group yang hits sekali di tahun 1990-2000an awal dulu, yang paling saya sukai juga selain Tragedy. Hahaha.

Back to The Girl on the Train...

Original lyrics of One for Sorrow konon pertama kali dipublikasikan pada abad 18-19. Saya lupa persisnya karena sudah lama sekali sejak saya terakhir mengulik classic nursery ryhmes dan mencari tahu sejarah-sejarahnya. Hehehe. Kalau tidak salah ingat, mungkin di periode tahun 1780-1850an. Liriknya berbunyi seperti ini.
One for sorrow. Two for mirth. Three for a funeral. Four for birth. Five for heaven. Six for hell. Seven for the devil, his own self.

Dengan mengetahui apa itu yang dimaksud di dalam footnote di prolog kedua novel The Girl on the Train, serta mengetahui pula bahwa yang dimaksud adalah lagu dari classic nursery ryhme yang berjudul One for Sorrow dan tahu bagaimana kisah di balik liriknya, ini membantu saya untuk lebih memahami salah satu karakter utama di The Girl on the Train; yang kalau kita membaca prolog dari sudut pandang si B ini, maka kita bisa langsung membayangkan bahwa dia sedang dalam suatu kondisi tertentu dan kita bisa langsung membuat beberapa asumsi pula mengenai alasan mengapa dia berkata seperti ini...
... Aku bisa mendengar burung-burung Magpie itu, mereka tertawa, mengejekku, terkekeh parau. Ada kabar. Kabar buruk. Kini aku bisa melihat mereka, hitam dilatari matahari. Bukan burung-burung itu, tapi sesuatu yang lain. Seseorang datang. Seseorang bicara kepadaku. Kini lihatlah. Lihatlah apa yang terpaksa kulakukan karenamu.

Jreng jeng jeng...

Apa yang sebenarnya sedang terjadi?


*** 

Secara umum, The Girl on the Train merupakan kisah mengenai tiga orang wanita, yaitu Rachel, Megan, dan Anna.

Rachel tinggal bersama dengan temannya ketika kuliah, yang bernama Cathy, setelah dia bercerai dengan suaminya dan tidak memiliki pilihan tempat tinggal selain tinggal bersama Cathy. Hidup Rachel pasca bercerai sangat kacau. Eventually, Rachel ini jobless tetapi dia merahasiakan fakta dari Cathy bahwa dia tidak memiliki pekerjaan. Sehingga, untuk menutupi kebohongannya mengenai ini, Rachel akan selalu keluar dari rumah setiap pagi di waktu yang sama, dan pulang ketika sudah sore menjelang malam -- seperti halnya jadwal para pekerja lainnya. Apa yang dilakukan oleh Rachel setiap dia di luar rumah? Inilah yang menjadi dasar cerita dan juga terkait dengan judul buku; The Girl on the Train.

Yak...

Setiap pagi, Rachel akan menumpang kereta api menuju ke London.
Rasanya melegakan bisa kembali berada di kereta pukul 8.04. Bukannya aku tidak sabar untuk tiba di London dan memulai mingguku -- aku sama sekali tidak ingin berada di London. Aku hanya ingin bersandar di kursi beledu-sintetis empuk meleyot itu, merasakan kehangatan cahaya matahari yang menembus jendela, merasakan gerbong kereta berayun-ayun ke depan dan ke belakangan dan ke depan dan ke belakangan, merasakan irama menenangkan roda-roda di atas rel. Aku lebih suka berada di sini, memandang rumah-rumah di pinggir rel, daripada berada di hampir semua tempat lainnya. (p. 4)

Saat sore hari menjelang malam, Rachel akan menumpang kereta api menuju ke Ashbury -- pulang ke rumah.
Kereta yang kunaiki pada malam hari, pukul 17.56, sedikit lebih lambat daripada kereta pagiku -- perlu satu jam dan satu menit, tujuh menit lebih lama daripada kereta pagi, walaupun tidak berhenti di stasiun tambahan mana pun. Aku tidak keberatan karena, sama seperti aku tidak terburu-buru tiba di London di pagi hari, aku juga tidak terburu-buru pulang ke Ashbury di malam hari... (p. 9)

Meskipun Rachel terkesan acuh dan tidak peduli dengan kehidupannya, setidaknya ada satu hal yang membuatnya merasa bisa menikmati perjalanan di dalam kereta pulang-pergi menempuh jarak dari Ashbury ke London dan sebaliknya, yaitu ia bisa mengamati kehidupan kaum suburban dan menikmati pemandangan rumah-rumah yang dilaluinya. Lebih tepatnya, ada satu rumah yang sangat membuatnya tertarik dan membuatnya selalu ingin mengamati rumah tersebut setiap kali ia bepergian dengan kereta api.
... Jika duduk di gerbong D, seperti biasa, aku mendapat pemandangan sempurna ke rumah pinggir-rel favoritku; rumah nomor lima belas.
Rumah nomor lima belas sama seperti rumah-rumah lainnya di sepanjang bentangan rel ini: bergaya semi Victoria, dua lantai, dengan kebun kecil terawat yang menghampar sekitar enam meter ke pagar. Setelah itu terdapat beberapa meter tanah tak bertuan hingga ke rel kereta. Aku hafal rumah ini. Aku mengenal setiap batanya, aku tahu warna tirai kamar tidur di lantai atasnya (krem, dengan corak biru tua), aku tahu cat pada birai jendela kamar mandinya mengelupas, dan ada empat genting yang hilang dari bagian atap di sisi sebelah kanan.
(p. 4-5

Rumah nomor 15 menjadi gambaran rumah yang diimpikan oleh Rachel; ada pasangan yang bahagia di dalamnya. Rumah nomor 15 juga menjadi semacam "pelarian" bagi Rachel dari rumah nomor 23; rumah lamanya -- rumah yang ia tempati ketika ia masih menikah dengan Tom.

Rachel bisa melihat interaksi pasangan yang menempati rumah nomor 15 setiap hari. Pasangan yang oleh Rachel dinamakan sebagai Jess dan Jason; pasangan idealnya. Ia juga ingin menjadi Jess, yang menurutnya adalah wanita ideal impiannya.
Aku tahu kalau pada malam-malam musim panas yang hangat, kedua penghuni rumah ini, Jason dan Jess, terkadang memanjat keluar dari jendela besar. Mereka duduk di teras sekadarnya di atas atap dapur yang diperluas. Mereka pasangan yang hebat dan sempurna. Jason berambut gelap dan bertubuh kekar, dia juga kuat, protektif, baik hati. Tawanya memikat. Jess mungil, cantik, berkulit pucat, dengan rambut pirang dipangkas pendek. Dia punya struktur tulang yang pas untuk gaya rambut semacam itu, tulang pipi menonjol dihiasi kulit berbintik-bintik dan rahang indah. (p. 5)

Dia sangat menyukai rumah tersebut, beserta Jess dan Jason, karena mengingatkan Rachel pada kehidupan perfect yang dijalaninya dulu; sebelum ia dan suaminya, Tom, bercerai.
... Dulu aku dan Tom biasa lari bersama setiap Minggu, aku lari sedikit melebihi kecepatan normalku, dia lari kira-kira setengah kecepatan normalnya, sehingga kami bisa lari berdampingan. (p. 6)

Rachel dan Tom pernah bahagia. Pernah. Sebelum akhirnya Rachel selalu gagal untuk bisa hamil, mulai minum-minum dan menjadi alcoholic kelas berat. Kemudian, suaminya berselingkuh dan menceraikan dirinya. Sejak itu kehidupan Rachel sangat kacau; kacau balau. Tidak mengherankan jika ia sangat menyenangi pasangan Jess dan Jason karena kehidupan Jess dan Jason merupakan gambaran pernikahan ideal bagi Rachel.

Kemudian, ada Megan.

Di luar, Megan tampaknya memiliki perfect marriage-life dengan suaminya. Dia juga terkesan memiliki suami yang sangat pengertian dan supportive.
Scott sudah menungguku setibanya aku di rumah, dia menyodorkan minuman ke tanganku, dia ingin tahu semuanya. Kukatakan sesinya lumayan. Dia bertanya mengenai terapis itu: apakah aku menyukainya, apakah dia tampak ramah? Lumayan, jawabku lagi, karena aku tidak ingin kedengaran terlalu antusias. Dia bertanya apakah kami bicara mengenai Ben. Scott menganggap segalanya berhubungan dengan Ben. Mungkin dia benar. Mungkin dia mengenalku lebih baik daripada yang kupikirkan. (p. 31)

But in factMegan tidaklah bahagia. Ia memiliki suami yang sebenarnya cenderung tidak mengenalnya dengan baik dan sangat posesif. Ia juga masih sangat dihantui oleh masa lalu yang membuatnya harus rutin berkonsultasi dengan seorang terapis bernama Kamal Abdic. Terapisnya ini pula yang menyadarkan Megan mengenai apa yang sebenarnya ia hadapi di dalam kehidupan pernikahannya.
Aku mencoba mengucapkan sesuatu, tapi dia mengangkat sebelah tangannya untuk menghentikanku. "Perilaku yang kau gambarkan -- membaca semua email-mu, meneliti browser history-mu -- kau menjelaskan semuanya itu seakan itu perilaku yang lumrah, seakan itu normal. Tidak, Megan. Melanggar privasi seseorang hingga taraf itu tidaklah normal. Inilah yang sering kali dilihat sebagai sebentuk penganiayaan emosi." (p. 78)

Pertemuan Megan dan seseorang kemudian mengubah kehidupannya, membuat hari-harinya tidak lagi berjalan seperti biasanya. Ditambah juga dengan affair yang dijalani Megan dengan orang lainnya lagi.
Aku melangkah maju, menutup celah di antara tubuh kami, lalu aku berjinjit dan menciumnya. Dia tidak melepaskan diri dariku. (p. 226)

Terakhir, ada Anna.

Anna hanya menginginkan kehidupan yang damai dan bahagia dengan keluarga kecilnya. Hanya saja ada satu orang yang membuatnya selalu bersikap paranoid; mantan istri suaminya. Menurut Anna, jika saja mantan istri suaminya tidak terus menghubungi suami dan masih juga mengganggu kehidupan pernikahan ia dan suaminya, maka pasti kehidupan pernikahan yang bahagia bersama anak dan suami akan dapat Anna miliki. Gangguan demi gangguan yang dilancarkan oleh mantan istri suaminya tersebut, bagi Anna sangat annoying, dan membuat Anna tidak pernah bisa hidup dengan tenang dan damai sesuai dengan harapannya. Basically, Anna sangat tidak menyukai Rachel.
Aku membenci diriku sendiri karena menangis, ini sangat menyedihkan. Tapi, aku merasa lelah, beberapa minggu terakhir ini begitu berat untukku. Dan, aku dan Tom bertengkar lagi mengenai -- tentu saja -- Rachel.
... Bagaimana mungkin dia bahkan mempertimbangkan untuk menemuinya lagi? Maksudku, jika kau memandang kami berdua, berdampingan, tidak ada seorang lelaki pun di dunia ini yang akan memilih Rachel daripada aku. Dan, itu bahkan tanpa membahas semua masalah yang dimiliki perempuan itu.
(p. 348-349

Suatu hari, di dalam salah satu perjalanan rutinnya, Rachel melihat Jess mencium seorang laki-laki dan Rachel sangat yakin bahwa laki-laki tersebut bukanlah Jason; karena laki-laki ini lebih tinggi dibandingkan Jason, serta memiliki struktur tubuh yang juga berbeda dengan Jason. Sekian hari berselang, Rachel juga mendengar tentang berita hilangnya Megan Hipwell. Berdasarkan alamat yang tercantum di surat kabar, Rachel kemudian mengetahui bahwa Jess adalah Megan.

Wah!

Dengan bermodalkan ingatannya yang sempat melihat Jess/Megan mencium laki-laki selain Jason, maka Rachel merasa bahwa ia harus segera bertindak. Dia pun berusaha menghubungi Jason -- yang kemudian diketahui memiliki nama asli Scott Hipwell. Selain itu, Rachel juga mendatangi kantor polisi dan mengatakan kepada polisi mengenai apa saja yang dia lihat. Namun, kesaksian Rachel ditolak oleh pihak kepolisian.

Siapa yang akan mudah percaya pada kesaksian seorang alcoholic seperti Rachel, kan? Ditambah, ketika kejadian Megan menghilang dan Rachel merasa melihat Megan sebelum dia menghilang, saat itu dia sedang dalam kondisi mabuk berat.

Kenapa Rachel bahkan bisa ada di lingkungan tempat terakhir kali Megan terlihat sebelum menghilang?

Apakah Rachel ada kaitannya dengan peristiwa hilangnya Megan?

Sayangnya, saat itu kondisi Rachel sedang dalam keadaan mabuk berat. Saking mabuknya, dia bahkan sampai mengalami totally blackout. Lebih parahnya lagi, Rachel mengalami memory loss tentang rincian kejadian pada hari itu. Jadi, dapat dikatakan bahwa ingatan Rachel tentang kejadian sebelum Megan menghilang itu terlihat tidak valid dan reliable. Seperti blackhole; misteri.

Tetapi, Rachel tidak menyerah. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Rachel merasa bahwa keberadaan dirinya -- bukti yang dia miliki, kesaksian yang dia dapat lakukan -- akan berguna bagi semuanya. Tekad Rachel ini membuatnya harus kembali berhadapan dengan kehidupan Scott dan Megan, serta Tom dan Anna, dan membuka setiap tabir yang menutupi rangkaian kehidupan mereka sebelumnya.

And everything got really complicated since then...



***


Sebagai sebuah karakter, Rachel merupakan gambaran wanita yang sangat lemah. Dia sangat insecure terhadap dirinya sendiri, terutama terhadap gambaran fisiknya. Di dalam buku digambarkan bahwa Rachel overweight dan tidak atraktif. Anna bahkan selalu menyebut Rachel sebagai "Rachel gendut" dan selalu menganggap dirinya jauh lebih menarik dan akan lebih dipilih oleh laki-laki dibandingkan Rachel.

Rachel juga merupakan gambaran orang yang akan memilih "lari" ketika berhadapan dengan masalah. Dalam hal ini, Rachel memilih "lari" ke alkohol -- hal yang kemudian memperkuat kemungkinan hubungannya dengan Tom semakin menjadi buruk dan mereka bercerai. Setelah bercerai, Rachel semakin menjadi-jadi untuk melarikan diri ke alkohol dan menjadi sangat ketergantungan ke alkohol.
Aku kelelahan, kepalaku berat oleh kantuk. Ketika menenggak alkohol, aku nyaris tidak tidur. Aku benar-benar tak sadarkan diri selama satu atau dua jam, lalu terbangun, dipenuhi ketakutan, merasa jijik terhaap diriku sendiri. Jika tidak menenggak alkohol seharian, malamnya aku akan tidur teramat sangat nyenyak, benar-benar tak sadarkan diri, tapi keesokan paginya aku tidak bisa bangun sepenuhnya, aku tidak bisa mengenyahkan rasa kantuk yang terus bertahan selama berjam-jam dan terkadang sepanjang hari. (p. 36)

Kehidupan Rachel menjadi sangat parah. Bahkan, dia tidak dapat mengurus dirinya sendiri dengan benar. Alkohol membuat Rachel semakin memiliki excuses untuk setiap perilaku yang ditunjukkannya. Ia melakukan segala jenis rasionalisasi -- salah satu bentuk self defense yang dia bentuk ketika berhadapan dengan situasi konflik apapun, termasuk ketika ia merasa harus membenarkan pilihan sikapnya; pilihan hidupnya. Menurut Freud, orang-orang yang membentuk defense mechanism dengan cara rasionalisasi berusaha untuk mengalihkan pikirannya supaya apapun kejadian atau hal yang membuat pikirannya tidak tenang akan terasa menjadi lebih menenangkan bagi dirinya. Rasionalisasi ini juga disebut sebagai distorsi kognitif, di mana orang yang melakukannya akan mendistorsi fakta agar kejadian atau impuls yang dialaminya dapat menjadi lebih sedikit "mengancam" bagi diri orang tersebut. Biasanya, seseorang akan melakukan ini saat secara sadar membutuhkan excuses -- seperti yang terjadi pada Rachel.

Beberapa jenis excuses yang dilakukan oleh Rachel untuk membuatnya membenarkan perilaku adiksinya terhadap alkohol antara lain dengan membuatnya merasa bahwa itulah cara dirinya untuk mengasihani diri sendiri, serta bersikap merusak, melukai, dan mengancam dirinya maupun orang lain. Perilaku mengancam ini yang kemudian juga sering menjadi sumber konflik antara Rachel dan Anna karena seringkali Rachel membuat keonaran di rumah Tom dan Anna (well, technically, itu adalah rumah yang dulunya juga ditempati oleh Rachel ketika dia masih berstatus sebagai istri Tom). Salah satu yang dikhawatirkan oleh Anna akibat perbuatan Rachel adalah keselamatan anaknya; Evie.

Rachel memimpikan kehidupan pernikahan yang bahagia, karena dia sendiri pernah memiliki kehidupan pernikahan yang sangat buruk sebelum berakhir dengan perceraian. Untuk itulah dia senang melihat kehidupan pernikahan seperti yang dia lihat pada pasangan "Jess dan Jason". Apparently, Rachel sangat ingin menjadi "Jess". Inilah yang membuat Rachel menjadi sangat marah ketika dia menyaksikan salah satu dari mereka ternyata melakukan hal yang menurutnya sangat tidak bisa dibiarkan -- yang kemudian membuatnya sangat termotivasi untuk dapat turut serta secara aktif dalam menemui Scott, merasa harus selalu menghubungi Scott, dan memberitahu Scott tentang apa yang telah dilakukan oleh Megan di belakang dirinya; hal yang kemudian membawa Rachel untuk berada di dalam posisi berbahaya ketika muncul penemuan-penemuan lain yang menjadi titik terang di balik peristiwa hilangnya Megan. Inilah salah satu gambaran perilaku impulsif Rachel. Dia bahkan sampai tidak menyadari ada bahaya mengancam dirinya selama dia fokus pada hal tersebut.

Untungnya, peristiwa hilangnya Megan mampu membuat Rachel untuk juga melihat ke dalam dirinya sendiri; untuk menyadari bahwa apa yang menurutnya kehidupan menarik, belum tentu akan berimbas baik pada dirinya. Sebaliknya, apa yang menurutnya buruk, belum tentu seburuk itu. Contohnya adalah ketika dia menyadari bahwa Jess atau Megan bukanlah seperti gambaran wanita yang selama ini dia bayangkan. Bahkan, semakin Rachel terlibat dalam mencari tahu apa yang terjadi pada Megan, semakin pula dia menjadi tidak bersimpati pada diri Megan. Selain itu, terjadi pula ketika dia menuduh Kamal terlibat pada peristiwa hilangnya Megan dan sudah membuat gambaran buruk mengenai Kamal, serta sampai mencoba mencari tahu mengenai Kamal dengan berpura-pura menjadi pasien yang perlu diterapi oleh Kamal; lagi-lagi dengan bermodalkan impulsivitas a la Rachel. Ternyata, setelah itu Rachel menyadari bahwa Kamal tidaklah seburuk itu. Bahkan, Kamal adalah orang yang membantu Rachel untuk melawan adiksinya terhadap alkohol serta membantunya pula untuk dapat mengatasi memory loss.

Sementara itu...

Megan, atau sebelumnya disebut sebagai Jess oleh Rachel, merupakan gambaran umum mengenai wanita cantik dan seksi -- yang juga dianggap flawless bagi wanita dengan kecenderungan insecure seperti Rachel. Hal yang tampak dari luar atau image yang terbentuk dan dilihat oleh orang lain memang dapat lebih menarik dibandingkan apa yang sebenarnya terjadi. Demikianlah yang juga terjadi pada Megan.

Megan memiliki masa lalu yang sangat kelam dan dia cenderung menyimpan masa lalu ini sendiri dan akhirnya "sengsara" sendiri. Megan mengalami depresi, tetapi bahkan suaminya sendiri tidak menyadari bahwa Megan memiliki sindrom depresi yang cukup akut. Beberapa hal yang pernah terjadi dan membuat Megan trauma, juga membuat Megan menjadi orang yang tidak pernah merasa terpuaskan. Ini karena ada semacam lubang yang menganga lebar di dalam jiwanya, sebagai efek jangka panjang dari peristiwa kelam di masa lalunya tadi. Akibatnya, dia tidak pernah merasa cukup dicintai dan mencintai. Megan sepertinya cukup mencintai suaminya dan sangat menyadari bahwa suaminya pun mencintai dirinya. Akan tetapi, lubang di dalam jiwanya tadi membuatnya tidak pernah merasa bahwa cinta dari suaminya telah cukup untuk menutupi lubang tersebut. Akhirnya, Megan memilih jalan untuk melakukan affair sebagai usahanya untuk mencari cinta-cinta lain yang (menurut Megan) dia butuhkan agar lubang di dalam jiwanya dapat tertutup rapat sesuai keinginannya.

Megan juga kemudian semakin menyadari bahwa semakin dia mengenal Scott, semakin dia mengetahui bahwa Scott tidak pernah bisa memberikan rasa aman dan nyaman yang dibutuhkan olehnya. Baginya, Scott memang baik. Tetapi juga sangat sangat sangat overprotective.

Ada pula... Anna.

Anna merupakan selingkuhan Tom ketika Tom masih menjadi suami Rachel. Dia sangat tidak menyukai keberadaan Rachel, serta mudah sekali merasa marah dan tersinggung dengan apapun yang menyangkut diri Rachel. Baginya, Rachel adalah pengganggu dan dia sangat membenci perilaku Rachel yang masih sering menghubungi Tom. Apalagi, Tom juga masih sering membela dan mengasihani Rachel. Hal ini membuat Anna menjadi orang yang sangat paranoid -- mudah curiga terhadap apapun yang melibatkan seorang Rachel.

Pada dasarnya, Anna simply ingin hidup normal dan bahagia bersama keluarganya; suami dan anaknya, Evie.

But in twisted ways...

Anna menganggap dirinya innocent dan korban dari Rachel. Padahal, fairly speaking, justru yang terjadi adalah sebaliknya; Rachel adalah korban dari Anna.

Tapi, di sini, kita sedang berbicara tentang Anna. Artinya, kita harus melihat dari sudut pandang Anna yang twisted tadi. Salah satu gambaran yang menurut saya menarik mengenai hal ini dapat terlihat di paragraf berikut.
... Aku mengingat apa yang terjadi di dekat sini dan berpikir betapa beruntungnya diriku, betapa aku mendapatkan segala yang kuinginkan. Ketika memandang Tom, aku juga bersyukur karena dia menemukan diriku, karena aku berada di sana untuk menyelamatkannya dari perempuan itu. Pada akhirnya Rachel pasti akan membuatnya gila; aku benar-benar berpikir begitu -- perempuan itu pasti akan menindasnya, membuatnya menjadi sesuatu yang sebenarnya bukan dia. (p. 146)

Wew...

Anna menikmati rasa sengsara yang dialami oleh Rachel karena menganggap bahwa itu adalah kesalahan Rachel sendiri -- karena Rachel sudah membuat dirinya sendiri menjadi tidak atraktif, bahkan semakin tidak menarik akibat memiliki drinking habit yang sangat buruk. Anna merupakan contoh tepat dalam mengenali orang yang selfish.

Diambil dari The Girl on the Train versi e-book
di Jakarta Digital Library

Kisah Rachel, Megan, dan Anna bergulir dengan saling beririsan terhadap satu sama lain. Kejadian yang menimpa Megan juga menghasilkan kisah-kisah baru di dalam kehidupan Scott, Kamal, dan Tom. Kisah Megan juga akhirnya menyingkap siapa sebenarnya Scott, Kamal, dan Tom.

Karakter ScottKamal, dan Tom memiliki kesamaan. Dalam arti, kesamaan kesan.

Kesan yang ditampilkan oleh ScottKamal, dan Tom sama-sama berbeda dengan bagaimana mereka aslinya. Hal inilah yang membuat penilaian para wanita -- RachelMegan, dan Anna -- dapat menjadi salah ketika mereka mencoba mengenali para lelaki.

Misalnya, Tom merupakan sosok yang dikenal kalem, penyabar, bahkan masih mau mengurusi mantan istri yang merongrong dirinya dan keluarga barunya terus-menerus. Tetapi, benarkah sosok asli Tom seperti itu?

Lalu, Scott digambarkan sebagai suami yang overprotective. Semua sikapnya terhadap Megan dikesankan sebagai sikap suami yang posesif terhadap istri, yang kemudian menjadi pemicu pula bagi Megan untuk memiliki affair. Tetapi, apakah memang se-"buruk" itu aslinya Scott?

Kemudian, Kamal digambarkan sebagai terapis yang dicurigai Rachel terlibat dalam hilangnya Megan -- hal yang kemudian membuat Rachel merasa harus memberitahu Scott. Tetapi, Rachel sendirilah yang kemudian menemukan bahwa Kamal tidak seburuk itu. Bahkan, tuduhan Rachel terhadap Kamal sejak awal ternyata salah total. Kamal  juga merupakan salah satu yang membuat Rachel mau untuk mencoba mengubah dirinya menjadi lebih baik lagi.

Selain kepada Kamal (and Rachel herself ketika dia sudah mau berubah, ya...), Cathy juga berhak mendapatkan credit atas bantuan yang diberikannya kepada Rachel.

Penilaian Rachel selalu salah mengenai Cathy. Menurut saya, penilaian Rachel juga sangat dipengaruhi dengan rasa insecure yang membuatnya cenderung sinis dan tidak mau mengakui kebaikan orang lain terhadap dirinya -- dalam hal ini berarti Rachel tidak mau mengakui bahwa Cathy merupakan orang yang genuinely kind, terutama terhadap Rachel.

Bayangkan saja... Ada orang yang dapat menahan sabar dalam menghadapi Rachel, setiap hari pula harus menghadapinya. Walau Cathy terkadang marah dan mengancam Rachel, namun ini normal kalau yang kita hadapi adalah orang seperti Rachel -- dengan segala perilaku dan adiksinya terhadap alkohol yang dapat membuat sakit kepala.

Ketika rahasia-rahasia Rachel mulai terbongkar, siapa orang yang tetap merangkul Rachel? Hanya Cathy.

Iya, kan?

Selain tokoh-tokoh yang sudah saya sebutkan, masih ada lagi si Rambut Merah.

Siapa pula ini? Apa kaitan dirinya dengan misteri yang sedang berjalan?

Lalu...

Jika kita kembali ke paragraf-paragraf awal tulisan saya di atas, saat saya menyebutkan tentang si A dan si B, siapakah mereka di antara semua tokoh yang sudah saya sebutkan? Ataukah mereka ini adalah tokoh-tokoh lainnya lagi?

Ya... Temukan saja jawabannya di dalam buku. Hehehe...


***

Tema yang diangkat oleh Paula Hawkins di dalam buku The Girl on the Train cenderung dark and depressive. Isu-isu yang diangkat oleh Paula Hawkins antara lain mencakup isu betrayal -- seperti perselingkuhan yang dilakukan oleh Tom dan Anna terhadap Rachel, serta apa yang dilakukan oleh Megan dengan segala affair yang dilakukannya. Bahkan kenangan buruk yang dimiliki oleh Megan terkait peristiwa di masa lalunya juga tidak terlepas dari isu ini.

Isu betrayal yang dialami oleh para tokoh ini juga lekat hubungannya dengan isu abandonment atau pengabaian -- seperti ketika Tom yang mengabaikan kesejahteraan Rachel, serta Anna yang juga turut berperan dalam pengabaian Tom terhadap Rachel. Lagi-lagi, Megan pun mengalami pengabaian yang menyakitkan bagi dirinya di masa lalunya, yang sepertinya mendorong Megan untuk menjadi Megan yang sekarang.

Belum lagi ada isu domestic violence dan alcohol abuse.

Meskipun saya tidak menyukai satupun karakter di The Girl on the Train, selain Cathy, namun saya dapat sedikit berempati terhadap Megan setelah mengetahui apa saja yang dilalui olehnya di masa lalu serta bagaimana sikap orang-orang (yang diharapkannya dapat membantu dan memulihkan pengalaman menyakitkan di masa lalunya) terhadap Megan saat ini. Bagi saya, the most pitiful character di buku ini adalah Megan

Rachel menghancurkan dirinya sendiri, Anna sangat selfish. Apa yang menyebabkan Rachel menjadi seperti saat ini secara umum disebabkan oleh dirinya sendiri. Semua penilaian buruk yang menimpa dirinya saat ini merupakan efek dari penghancuran diri yang dilakukan oleh dirinya sendiri. Dia yang secara aktif memilih untuk menjadi alcoholic, kan? Begitu juga dengan Anna. Apa yang dialami oleh dirinya saat ini adalah buah dari apa yang dia lakukan sebelumnya, terutama terhadap RachelKarma does exist...

Sementara, Megan?

Well... Complicated.

Rasanya sangat pantas untuk mengacungi jempol kepada Paula Hawkins karena sudah membuat The Girl on the Train menjadi sebuah cerita yang sangat solid. Banyak yang membandingkan The Girl on the Train dengan Gone Girl karya Gillian Flynn. Keduanya menarik dan sama-sama menjadikan wanita sebagai sentral cerita, dan ada unsur unreliable narrator sebagai tokoh-tokoh yang memberikan narasi di sepanjang cerita. Unsur inilah yang menjadi kekuatan utama.

Bayangkan kita sedang diberikan cerita oleh seorang unreliable narrator... 

Bagaimana sikap yang kita pilih? Mempercayai cerita yang disampaikan atau menolak kebenaran cerita yang disampaikan?

Dilema seperti inilah yang menjadi keseruan utama dalam membaca kisah dari sudut pandang orang-orang yang kecenderungannya menjadi unreliable narrator seperti pada buku The Girl on the Train. Kita jadi sibuk menebak mana yang dapat kita pegang ucapannya dan mana yang tidak. Hahaha.

Semua tokoh di dalam buku The Girl on the Train sangat sulit untuk dapat dipercaya. Bahkan, walaupun saya kemudian dapat melihat bahwa hanya Cathy satu-satunya yang normal dibandingkan yang lainnya, pada awalnya pun saya sempat menyangsikan kebaikan Cathy terhadap Rachel.

Well, partly ini akibat penggambaran mengenai Cathy dinarasikan oleh Rachel, sih ya...

Sebagai seorang acute alcoholic, sangat mudah memberikan judgement negatif terhadap Rachel dan tidak bisa langsung mempercayai apapun yang disampaikan olehnya -- seharusnya seperti itu. Tetapi, kesalahan saya adalah saya sempat mempercayai gambaran yang diberikan oleh Rachel terhadap Cathy. Hahaha.


***

The Girl on the Train bukanlah karya pertama dari Paula Hawkins. Sebelumnya dia sudah pernah menulis empat buah buku dengan genre romance, sejak tahun 2009, dengan menggunakan nama pena Amy Silver. Namun, empat novel tersebut konon tidak laku di pasaran. Kemudian, dia mengubah jalur ke genre yang lebih dark dan dia debut di genre yang sifatnya lebih ke suspense, thriller, dan penuh misteri pada tahun 2015. Itulah momen kelahiran The Girl on the Train.

Paula Hawkins membuat sebuah keputusan yang sangat tepat karena The Girl on the Train berhasil debut sebagai #1 New York Times Fiction Best Sellers List of 2015. Posisi #1 ini bertahan selama 13 minggu berturut-turut. Pada tahun yang sama, The Girl on the Train juga menjadi the winner of Goodreads Choice Awards kategori Best Mystery & Thriller.

Great!

Kepiawaian Paula Hawkins dalam membuat kisah yang menarik, terasa nyata, penuh dengan twist, serta sangat penuh pula dengan berbagai isu, sepertinya dipengaruhi pula oleh pengalamannya menjadi jurnalis selama 15 tahun; ada kedalaman isi dari setiap isu yang berusaha dia gambarkan. Mungkin hal ini tidak begitu terlihat ketika dia menulis kisah romance, tetapi sangat signifikan muncul ketika dia menulis cerita dengan genre seperti The Girl on the Train

The Girl on the Train sudah diangkat menjadi film layar lebar pada tahun 2016. Sejak saya pertama kali membaca buku ini di tahun 2015, kehebohan mengenai adaptasi filmnya sudah sangat menggema. Bahkan, di dalam cover terjemahan pun ada label Segera difilmkan oleh DreamWorks Studios.

Yes...

Film The Girl on the Train memang diadaptasi oleh DreamWorks Pictures dan disutradarai oleh Tate Taylor, serta rilis pada tanggal 7 Oktober 2016.

Menonton ulang The Girl on the Train secara online-streaming.
In picture; Emily Blunt sebagai Rachel.

Penerbit Noura (Noura Books) juga sempat mengadakan nonton bareng dan movie screening The Girl on the Train di CGV Blitz sebanyak dua kali.

Pertama diadakan di CGV Blitz Paris van JavaBandung pada tanggal 31 Desember 2016.


Kedua, diadakan di CGV Blitz Grand IndonesiaJakarta pada tanggal 6 Januari 2017. Sayangnya, saya sedang tidak bisa ikut serta. Huhu.


Meskipun gambaran tentang Rachel -- wanita alcoholic berusia 32 tahun dan selalu disebut "gendut" oleh Anna -- tidak terlalu terlihat pada diri Emily Blunt secara fisik; Emily Blunt terlalu "kurus" untuk dinyatakan sebagai wanita "gendut", tetapi gambaran impulsif, histeria, dan insecure a la Rachel di dalam buku terlihat sekali pada diri Rachel di dalam film. Menurut saya, gambaran karakter ini penting sekali karena bagaimanapun juga, berkat karakter Rachel -- yang mempengaruhi kemunculan segala impulsivitas perilaku Rachel, yang kemudian membuat segala hal mulai terasa lebih complicated di dalam hidupnya -- maka segala misteri dapat terdorong untuk terpecahkan.



***

The Girl on the Train dinarasikan dari tiga sudut pandang; RachelMegan, serta Anna. Dan yang digambarkan sebagai The Girl on the Train adalah Rachel. Orang yang kehidupannya diamati oleh Rachel selama dia sedang berada di dalam kereta adalah Megan; yang sebelumnya dinamakan sebagai Jess oleh Rachel. Sementara, orang yang membuat Rachel mengalihkan pandangan dan pikirannya dari rumah nomor 23 ke rumah nomor 15 -- karena ingatan Rachel mengenai rumah nomor 23 hanya memberikan kesedihan pada dirinya -- adalah Anna.

Alur di dalam The Girl on the Train maju-mundur. Setiap kali scene terpusat dari sudut pandang Rachel dan Anna, maka alurnya akan maju terus ke present days. Sementara, ketika scene beralih ke sudut pandang Megan, maka alurnya akan mundur ke past days. Alur yang maju-mundur ini ditandai dengan adanya tanggal di setiap bagiannya -- practically pada setiap pembuka di tiap bab ada tanda mengenai alur ini. Saya berikan contohnya, ya...

Pada bab pertama, ketika narasi dibuka dari sudut pandang Rachel, pembuka bab ditandai dengan ini.


Pada bab kedua, ketika narasi beralih ke sudut pandang Megan, pembuka bab ditandai dengan ini.


Perhatikan tanggal yang tertera pada masing-masing gambar di atas. Adanya detail-detail tersebut sangat membantu saya sebagai pembaca untuk bisa mengenali alur yang sedang terjadi. Saya yakin bukan hanya saya yang akan berkata seperti ini. Dengan adanya tiga sudut pandang dan sebuah peristiwa yang menjadi misteri, maka sangat wajar jika alur dibuat maju-mundur setiap kali fokus cerita sedang di salah satu sudut pandang tertentu. Tetapi, alur maju-mundur akan menjadi masalah jika tidak mudah dikenali oleh pembaca mengenai setting waktunya. Beberapa kali saya bertemu dengan tulisan yang tidak jelas setting waktunya ini dan sangat mengganggu kenikmatan saya dalam membaca. Bahkan, bisa membuat saya turn off dan memutuskan untuk sebaiknya berhenti membaca dulu -- sebelum nanti saya lanjutkan lagi jika mood sudah membaik.

Konsep untuk membedakan antara alur maju-mundur ini menurut saya sangat menarik -- hal yang sangat saya apresiasi dari semua yang terlibat di dalam layout dan design, maupun terhadap penulisnya sendiri.

Selain itu, font dan spasi juga sangat bersahabat. Bahkan, walaupun kita membaca versi e-book, seperti yang ada di iJakarta - Jakarta Digital Library, pengalaman membaca kita juga akan tetap terasa menyenangkan. Lihat saja ini.

Pilihan font dan spasi tetap bersahabat bagi mata

Kalau ingin melanjutkan nanti dan berhenti membaca sejenak, kita juga dapat menekan logo di kanan atas -- itu adalah bookmark, yang akan berubah warna menjadi putih jika kita sentuh.


Jadi, jejak terakhir yang kita baca akan tersimpan dengan baik. Data bookmark akan tersimpan khusus di folder Bookmark seperti di atas ini. Oh iya, TOC adalah daftar isi ya...

Di kanan bawah ada logo seperti kacamata. Itu adalah logo yang harus kita klik untuk dapat mengatur Setting atau pengaturan tampilan. Karena saya lebih suka membaca e-book yang cukup seperti kita membuka setiap halaman di dalam buku fisik, maka saya selalu memilih transisi kertas curl. Dan karena saya lebih suka membaca dengan latar yang terang, maka saya me-non aktif-kan latar gelap. Latar gelap tetap saya set untuk off.



Ada kalanya kita lupa sudah meminjam buku. Iya, kan? Nah, karena jumlah buku yang tersedia di setiap perpustakaan pasti terbatas, maka waktu peminjaman buku juga terbatas dong ya... Begitu juga dengan jatah waktu peminjaman buku di iJakarta - Jakarta Digital Library. Saya mendapatkan jatah peminjaman buku selama dua hari untuk buku The Girl on the Train ini. Untuk mengetahui batas waktu peminjaman, kita dapat membuka logo untuk peminjaman buku (di sebelah logo lonceng), lalu klik Info di masing-masing buku pinjaman. Nanti akan muncul persentase masa berlaku peminjaman. Kebetulan, pada data peminjaman saya ini masa berlakunya tinggal 1 jam, makanya saya buru-buru mengebut untuk membaca ulang The Girl on the Train versi e-book.


Ada yang bertanya kepada saya mengenai alasan saya meminjam e-book The Girl on the Train di iJakarta - Jakarta Digital Library ketika memutuskan membaca ulang buku ini. Padahal mereka mengetahui kalau saya memiliki versi buku fisiknya. 

Nganu lho...

Saya ini suka lama di kamar mandi. Sejak beberapa bulan lalu, daripada saya duduk melamun atau membawa handphone hanya untuk ghibah, sebaiknya saya membaca buku saja tho? Nah, membawa buku fisik ke kamar mandi itu terlalu riskan. Sayang bukunya kalau nanti terkena air dan jadi meringkel-ringkel keriting kertasnya. Jadi, saya lebih baik membaca e-book. Apalagi, banyak e-book untuk buku lokal dan terjemahan yang provided by iJakarta - Jakarta Digital Library, termasuk buku The Girl on the Train.

Selain itu, saya cenderung mobile dan kemana-mana jarang membawa buku; partly karena saya sudah tidak kuat lagi kalau harus membaca di dalam kendaraan, partly karena saya jarang memiliki momen untuk membaca di lokasi-lokasi saya beraktivitas sehari-hari (kecuali membaca textbook untuk materi mengajar dan hal-hal lain terkait laporan), partly karena saya takut buku saya tertinggal... dan sisanya karena saya jarang mau membawa buku fisik kecuali saya sedang pulang ke rumah di Bandar Lampung -- kalau di rumah, in case buku tertinggal di sana itu artinya masih mudah dijangkau untuk kembali ke tangan saya. Nah,  di momen membaca ulang ini saya sedang di luar Jakarta; jauh dari buku-buku saya yang ada di kos di Jakarta semua, termasuk buku The Girl on the Train. Lagian, sayang bukunya juga kalau jadi keriting akibat tertekan atau terkena apalah saat tertimpa segala rupa selama saya di luar kota karena saya tidak sedang membawa koper. Jadi, lebih aman membaca e-book juga tho?

Maka dari pada itu (halah!), keberadaan iJakarta - Jakarta Digital Library pasti membantu orang-orang seperti saya. 

Ehehe...


***

Saya menyukai ending dari kisah The Girl on the Train.

Memang tidak semuanya terpecahkan, bahkan menyisakan perasaan campur-aduk. Selama membaca bukunya sejak awal hingga menjelang akhir, segala emosi saya rasanya sudah tercurahkan. Bahkan, jeda setahun sejak pertama kali membaca versi terjemahan Penerbit Noura (saya pertama kali membaca versi bahasa Inggris di tahun 2015, dan langsung lanjut membaca terjemahannya pada momen akhir tahun 2015), tidak mempengaruhi perjalanan emosi saya selama membaca The Girl on the Train untuk ketiga kalinya ini; selalu dengan emosi yang beragam dan campur aduk.

Tetapi, setidaknya... Ending yang seperti itu bermakna bahwa sudah hilang satu sumber masalah terbesar dalam hidup Rachel

Menurut saya, ini yang paling penting.


***

Details
Identitas Buku
Judul: The Girl on the Train
Penulis: Paula Hawkins
ISBN: 978-602-0989-97-6
Halaman: 431+
Terbit: Agustus 2015 (Cetakan I)
Penerbit: Noura (Katalog)
Harga: Rp 79.000

Alternatif Lokasi Pembelian Buku
Mizanstore, Gramedia


P.S.
Jika tidak memiliki bukunya atau belum memiliki dana untuk membeli bukunya, maka sebaiknya meminjam di iJakarta - Jakarta Digital Library saja. Hihihi. Langsung klik link ini untuk mengetahui detail buku The Girl on the Train yang ada di iJakarta - Jakarta Digital Library.

Proses download aplikasinya sangat mudah. Setelah itu proses pendaftaran dan peminjaman buku juga sangat mudah. Selama stok buku yang ingin kita pinjam tersedia, maka kita tinggal meminjam dengan mengikuti rangkaian prosesnya. Kalaupun buku yang ingin kita pinjam belum tersedia atau kita harus antri, maka kita akan diberikan notifikasi pada saat buku sudah tersedia.

Step by step untuk meminjam ini berbentuk pop-up otomatis dari aplikasinya. Jadi, kita tinggal mengikuti setiap kali pop-up meminta kita melakukan sesuatu.




***


Review ini diikutsertakan pada Reading Challenge kerjasama antara iJakarta - Jakarta Digital Library dan Penerbit Noura (Noura Books).


Cheers!
Have a blessed-day!