02 January 2017

Sekolah Impian : Perpustakaan dan Fungsinya


Ilustrasi gambar diperoleh dari sini.

Saya sangat menyukai buku bacaan yang menurut saya berkualitas, tidak hanya textbook. Jadi, menurut saya, sekolah impian adalah sekolah yang memiliki perpustakaan dengan koleksi yang menarik dan, ya, saya bersyukur karena memiliki kesempatan untuk bersekolah di tempat yang memiliki koleksi sesuai dengan impian saya tersebut. Setidaknya, saya merasakannya selama saya menimba ilmu di sekolah hingga sekarang. Cerita serupa terkait dengan aktivitas membaca koleksi buku di perpustakaan maupun tempat lainnya pernah saya tuliskan di sini dan di sini.

Hingga SMA, saya bersekolah di Bandar Lampung dan (lagi-lagi) saya merasa bersyukur karena sekolah-sekolah tempat saya menimba ilmu memiliki koleksi-koleksi yang cukup memanjakan saya sesuai masanya. Begitu juga ketika saya mulai kuliah dan hijrah ke Depok.


***


Saat sekolah dasar, saya bersekolah di SD Kartika II-5 (dulunya bernama SD Budi Bhakti Persit). Saya ingat, masa awal perkenalan saya dengan buku-buku terbitan Balai Pustaka banyak dilalui di SD, terutama di masa peralihan kelas V ke kelas VI. Di masa peralihan tersebut, perpustakaan SD banyak memasukkan buku-buku koleksi terbaru. Sebagian besar dari koleksi tersebut adalah cerita-cerita rakyat dari seluruh Indonesia. Kebetulan sekali, saat itu saya sedang senang-senangnya membaca buku cerita rakyat. Jadi, saya rutin sekali menyambangi perpustakaan untuk membaca buku di sana atau meminjamnya untuk dibawa pulang selama beberapa hari. Bayangkan, betapa senangnya saya mendapatkan bahan bacaan dari koleksi terbaru dan buku-buku tersebut masih sangat mulus! Saya sampai berhati-hati sekali saat membacanya karena takut buku-buku tersebut menjadi rusak dan lecek.

Begitu masuk SMP Negeri 1, awalnya saya tidak suka bersekolah di SMP tersebut. Bukan sekolah incaran saya sejak SD dan saya seperti “terpaksa” untuk bersekolah di sana. Untungnya, saya masih membawa euphoria mengulik koleksi di perpustakaan sekolah. Jadi, dari pada saya senewen dengan masalah tersebut, saya memilih “melarikan diri” ke perpustakaan. Menurut saya saat itu, koleksi di perpustakaan SMP tidak sebanyak di perpustakaan SD. Bahkan, perpustakaannya kecil sekali. Menariknya adalah, perpustakaan SMP ini berada di lantai dua dan dekat pohon yang cukup besar. Setiap kali saya ke sana, saya seolah sedang dibawa ke rumah pohon dan rumah pohon tersebut seperti “rumah buku”! Untuk masuk perpustakaan, saya harus melepas sepatu. Benar-benar seperti ketika kita masuk ke rumah, kan? Imajinasi saya memang menjadi “liar”, hahaha. Meskipun memiliki koleksi sedikit, tetapi perpustakaan SMP memiliki koleksi-koleksi terbitan Balai Pustaka juga! Saat SD, saya menggandrungi cerita-cerita anak atau cerita rakyat dari seluruh pelosok Indonesia. Nah, ketika SMP, saya mulai tertarik dengan cerita sastra terbitan Balai Pustaka, baik tulisan dari pujangga lama maupun pujangga baru. Di sinilah perkenalan saya dengan roman-sastra ala Balai Pustaka banyak dilakukan. Perpustakaan SMP juga menyediakan televisi kecil di dekat pintu masuk. Jadi, kalau misalnya saya memiliki lebih banyak waktu di perpustakaan, saya bisa menonton MTV di sana hehehe.

Saat melanjutkan sekolah di SMA Negeri 3, lagi-lagi saya mendapatkan kemudahan akses membaca buku-buku terbitan Balai Pustaka dari perpustakaan sekolah. Apalagi saat itu, saya semakin tergila-gila untuk mengulik roman-sastra Balai Pustaka. Melalui perpustakaan sekolah juga saya mulai berkenalan dengan buku sastra lebih banyak lagi. Penanggung-jawab perpustakaan SMA juga merupakan guru Sosiologi saya. Beliau ini, mungkin karena sering melihat saya di perpustakaan saat istirahat atau pulang sekolah, menjadi sering memberitahu saya jika ada buku-buku yang saya incar tetapi belum sempat saya baca atau sekadar memberi rujukan buku-buku bagus apa saja yang bisa saya baca.

Begitu kuliah, ini lebih superb lagi bagi saya. Perpustakaan jurusan maupun perpustakaan pusat menjadi tempat saya untuk mencari segala bacaan yang belum pernah saya sentuh. Apalagi, saat awal saya “harus” berkenalan dengan Psikologi, bidang ilmu yang tidak saya kenal dan saya “terjebak” berada di dalamnya; perpustakaan adalah tempat saya untuk berkenalan dengan Psikologi dan bidang ilmu terkait lainnya, seperti Filsafat dan Antropologi. Selain juga berkenalan dengan buku-buku populer yang “wajib baca” lainnya, seperti kisah Sybil dan Dunia Sophie.

Berdasarkan pengalaman-pengalaman tersebut, saya semakin yakin bahwa salah satu kriteria keberhasilan sebuah sekolah bukan hanya dilihat dari kualitas guru dan siswanya atau seberapa banyak fasilitas mewah yang disediakan di sekolah tersebut. Melainkan dari fasilitas penunjang lainnya, yaitu perpustakaan dan bagaimana perpustakaan tersebut difungsikan.

Saya pernah bertugas di sebuah sekolah dasar. Kalau dari bentuk, perpustakaan di sekolah ini sedikit lebih kecil dibandingkan perpustakaan SD saya. Tetapi, koleksinya cukup bagus. Banyak sekali buku anak yang disediakan di sana. Menariknya lagi, sekolah tersebut memiliki program “jam perpustakaan”. Di hari-hari tertentu, saat masa transisi antara istirahat pertama dan jam pelajaran selanjutnya, adalah waktu di mana para siswa menjalani “jam perpustakaan”. Selama “jam perpustakaan” berlangsung, setiap siswa diajak ke perpustakaan dan membaca buku di sana. Siswa dibebaskan membaca buku apapun dan dibacanya tidak harus di perpustakaan. Pihak sekolah menyediakan beragam buku anak, mulai dari buku dongeng hingga buku pengetahuan.

Program di sekolah dasar tersebut menarik sekali bagi saya karena pihak sekolah memfungsikan keberadaan perpustakaan dengan baik. Hal yang tidak saya alami selama saya SD-SMA. Jadi, siswa tidak hanya dijejali dengan buku pelajaran tanpa ampun, tetapi juga diimbangi dengan buku bacaan lain ketika mereka berada di sekolah. Menurut saya, di sinilah siswa bisa refreshing otak dari materi-materi pelajaran yang mungkin membebani mereka.

Sebuah perpustakaan sekolah yang bagus bagi saya, bukan berarti harus memiliki segambreng koleksi dan buku-bukunya merupakan buku-buku yang “wah”. Melainkan perpustakaan sekolah, yang keberadaannya benar-benar difungsikan oleh para siswa di sekolah tersebut. Di sinilah peran aktif pihak sekolah dibutuhkan.

Meski sekolah saya dulu tidak memiliki program khusus serupa, tetapi beberapa guru atau dosen kerap memberikan positive reinforcement untuk menyambangi perpustakaan jika ingin membaca buku selain textbookPositive reinforcement ini bisa berupa ajakan, contoh, maupun pujian. Di sinilah yang menurut saya saat ini menjadi trigger saya untuk datang ke perpustakaan dan mengulik buku-buku yang saya butuhkan atau sekadar ingin saya baca.

Program penyediaan perpustakaan bagi kalangan yang mengalami kesulitan akses sudah banyak bertebaran, banyak sekali komunitas yang concern di isu ini dan sangat aktif mengumpulkan buku untuk disebarkan ke mereka yang membutuhkan. Momen ini bisa dimanfaatkan juga untuk mengajak anak-remaja “masuk” ke perpustakaan dan membaca koleksi-koleksinya. Mungkin, sekolah-sekolah yang belum memiliki program “jam perpustakaan” juga bisa mulai meniru langkah positif tersebut. Demi meningkatkan minat baca anak sekaligus mewujudkan sekolah impian kita bersama.


Cheers!
Have a blessed-day!