09 January 2017

Harta Karun di Pasar Cibogo

Semua bermula tahun lalu, ketika saya mulai pindah ke kos sekarang dan kangen sekali untuk berburu kebutuhan sehari-hari di pasar. Saat itu saya belum begitu paham dengan lokasi di sekitar kos yang terletak di dekat Bandung International School dan Hotel-Apartemen Majesty. Lebih tepatnya, saya tidak pernah terbayang bahwa ada pasar di dekat lokasi seperti ini, hahaha. Di bayangan saya, kalau ingin ke pasar, ya harus menempuh jarak yang lebih jauh.

Sampai akhirnya, sekitar bulan Agustus tahun 2013, salah satu adik sepupu harus tinggal di kos saya dulu selama sebulan sebelum semua urusan di kampusnya selesai -- yang sangat berantakan sistemnya karena baru berubah menjadi sebuah universitas itu, hih saya masih sangat emosi kalau ingat betapa jeleknya sistem administrasi kampus tersebut yang benar-benar merugikan mahasiswa baru, hahaha -- dan Tante saya yang sempat ikut menginap di seminggu pertama sangat "gerah" karena tidak dapat memasak dan harus membeli di tempat makan sekitar kos saya, yang saya akui bahwa rasanya benar-benar sangat "ajaib" dan terkadang tidak layak dibeli dengan harga cukup mahal, hahaha. Jadi, saya pun mencari tahu lokasi pasar terdekat (selain pasar swalayan Giant dan Griya yang tinggal ngesot sampai). Begitulah perkenalan saya dengan Pasar Cibogo dimulai. Pasar yang sangat kecil, to be honest...

Saya tidak pernah menyangka bahwa akan menemukan sebuah tempat berisi harta karun dunia yang luar biasa di sana!



Apalagi, kalau bukan buku-buku fiksi berbahasa Inggris yang murah...


***

Sejak pertemuan pertama saya dengan Pasar Cibogo, saya sudah menyadari keberadaan kios buku kecil yang dari luar terlihat hanya sebagai lapak majalah bekas. Lokasinya ada di seberang pasar, berderet di dekat angkutan umum ngetem, serta masih sederetan dengan rumah susun.

Saya selalu mampir ke sana setiap kali ke pasar untuk membeli pisang dan kentang, dua jenis makanan yang harus selalu saya miliki stoknya di kamar hahaha. Selain majalah dan textbook bekas, mayoritas koleksi yang dijual adalah buku-buku anak sekolah atau jurusan-jurusan tertentu saja (yang jelas bukan textbook yang saya butuhkan untuk menunjang perkuliahan, hihi), kios buku tersebut diam-diam menjual novel-novel bekas berbahasa Inggris maupun Indonesia. Koleksi novel-novel ini memang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan majalah. Mungkin karena belum berjodoh, saya selalu kecewa karena tidak berhasil menemukan buku-buku yang selamanya akan selalu menjadi wishlist selama belum saya temukan buku fisiknya. 

Buku-buku Michael Crichton sering saya temukan, begitu juga dengan karya Shidney Sheldon dan John Grisham. Semuanya berbahasa Inggris dan tentu saja, bekas. Terkadang saya juga melihat beberapa chicklit terjemahan maupun yang berbahasa Inggris. Saya membaca buku-buku yang saya sebut barusan, namun saya tidak begitu tertarik untuk mengoleksi. Inilah mengapa saya bilang, selama lebih dari setahun ini saya lebih banyak merasa kecewa karena gagal mendapatkan buku-buku incaran, hahaha.

Sampai kemudian, Senin pagi (22/09/14) saya iseng ke pasar. Apalagi niatnya kalau bukan untuk membeli pisang dan kentang. Saya sengaja ke pasar sekitar pukul 07.30 WIB supaya tidak terlalu kesiangan dan juga saya harus ke kampus sekitar pukul 10.00 WIB. Berhubung hanya ingin membeli pisang dan kentang, serta beberapa jajanan pasar, saya memilih tidak membawa dompet dan hanya membawa uang sebesar Rp. 100.000,00 saja. Selain itu, biasanya saya ke pasar tidak pernah mau membawa HP android maupun blackberry, melainkan hanya membawa HP monophonic yang nomornya hanya diketahui oleh keluarga saja sekadar untuk berjaga-jaga jika orang tua menghubungi saya. Ternyata jumlah uang yang dibawa beserta HP android yang ikut saya bawa saling berkaitan untuk saya gunakan sebagai media pamer ke beberapa teman di grup buku serta supaya saya tidak kalap membeli buku murah! Hahaha...

Begitu turun dari angkot, entah mengapa, saya lebih tergerak untuk mampir ke kios buku. Less expectation berhubung pengalaman sebelumnya sangat mengecewakan. Ternyata oh ternyata!

Sewaktu saya datang, bapak pemilik kios masih beres-beres buku. Saya langsung  bertanya, mana saja koleksi buku berbahasa Inggris hari itu yang bisa saya lihat? Akhirnya si bapak teh menunjukkan kepada saya sebuah kardus kecil yang diisi beberapa buku John Grisham dan Michael Crichton. Seketika, saya kecewa. Tetapi, tetap saya seperti biasa meminta bapak tersebut untuk mengeluarkan koleksi lainnya. Maka, dikeluarkan-lah beberapa buku chicklit, dan saya tersenyum kecut hahaha. Mungkin karena melihat saya cemberut dan mengenaskan, si bapak pun terus berusaha mengubek-ubek buku di antara tumpukan majalah yang belum dirapikan dan kemudian... voila! Bermunculan buku-buku Shakespeare eks-kolektor yang dijual paling murah sekitar Rp 150.000,00. Nahjong! Hahaha. Lebih baik saya berburu koleksi Shakespeare di tempat lain. Kalau sering ke daerah Tebet di Jakarta Selatan, atau berburu buku di bookfair Senayan, kemungkinan akan familiar dengan toko buku Sabana yang banyak mengeluarkan koleksi buku berbahasa Inggris eks-kolektor juga dengan harga murah. Semua buku Shakespeare yang saya punya dibeli di sana dengan harga satuan sekitar Rp. 20.000,00 - 25.000,00 saja.

Kios buku di Pasar Cibogo juga menjual koleksi buku langka dengan harga mencapai di atas Rp 250.000,00. Baik buku lokal maupun berbahasa Inggris. Ngg... Mahal yak! Hahaha.

Jadi saya memilih mengulik koleksi lain yang jauh lebih reasonable untuk ukuran dompet anak kos dan mahasiswa seperti saya, hahaha. Kesabaran saya pagi itu berbuah hasil! Tentu saja dengan harga luar biasa murah meriah hore senang sekali \(^o^)/

Buku pertama yang saya langsung pegang erat adalah Cadas Canios karya Amin Maalouf, seorang penulis keturunan Lebanon yang menetap di Prancis. Ini buku terjemahan, ya iyalah saya langsung ngeh ini merupakan buku terjemahan karena judul aslinya adalah La Rocher de Tanios atau The Rock of Tanios untuk yang versi bahasa Inggris, hahaha. Cadas Tanios merupakan buku terbitan Yayasan Obor Indonesia dengan harga Rp. 25.000,00. Kalau mau buku ini, bisa memesan di Boekoe Factory Outlet ya! Buku baru kok dan mulai ada stoknya (beserta buku-buku terbitan Yayasan Obor Indonesia lainnya) di katalog Oktober 2014 ini. Berhubung buku saya ini sempat hilang, jadi saya anggap saja buku Cadas Tanios yang baru saya temukan dengan harga Rp. 10.000,00 sebagai penggantinya hahaha. Luar biasa murah untuk buku yang pernah memenangkan Prix Gouncourt pada tahun 1993. Ketika diterbitkan ulang pada tahun 2010, buku ini kembali menyabet penghargaan Prince of Asturias Award for Literature.

Buku kedua yang saya sadari keberadaannya dari sekian banyak tumpukan buku yang disodorkan oleh si bapak kepada saya yang terduduk manyun dengan mulut ditekuk sedemikian rupa adalah... THE NAMESAKE!!! Astaga ini sudah incaran lama, hahaha. The Namesake merupakan novel pertama dari novelis yang populer dengan nama pena Jhumpa Lahiri. Kalau ada yang belum kenal, Jhumpa Lahiri bernama asli Nilanjana Sudeshna Lahiri dan merupakan keturunan India-Amerika. Karyanya yang sampai memenangkan penghargaan adalah The Interpreter of Maladies, yang mendapatkan Pulitzer Price for Fiction pada tahun 2000. The Namesake ini pernah diadaptasi ke film dengan judul yang sama pada tahun 2007. Seketika itu juga saya langsung memamerkan penemuan ini ke teman-teman di beberapa grup dan cukup membuat heboh beberapa orang. Apalagi ketika saya sebutkan bahwa harga buku tersebut hanya Rp. 10.000,00 saja! Sebagai tukang pamer buku murah, tentu saja saya senang dengan respon seperti itu, hahahaha. The Namesake berbahasa Inggris ceban doang harganya cuuuyy!!

Buku ketiga yang menarik perhatian saya adalah DOCTOR ZHIVAGO!!! OMAYGAAAWWDD!!! Ini buku maha-penting bagi saya, hahaha. Sudah bertahun-tahun saya incar dan siapa yang tidak naksir dengan buku yang masih ke dalam daftar 1001 Books You Must Read Before You Die? Susah sekali menemukan buku ini, hahaha. Siapa yang menolak untuk mengadopsinya dengan merogoh kocek murah meriah?! Buku Doctor Zhivago nasibnya serupa dengan buku-buku Pramoedya Ananta Toer ketika pertama kali muncul. Konon, Boris Pasternak sampai menyelundupkan buku ini ke Milan dan diterbitkan di sana pada tahun 1950an karena keberadaan buku ini ditolak oleh pemerintah Rusia. Fenomenal, ya? Iya! Buku edisi berbahasa Inggris yang cukup tebal ini, lagi-lagi, ceban dong harganya hahahaha. Kreyzih!

Buku keempat yang saya temukan adalah salah satu karya Dan Brown. Nope, bukan The Da Vinci Code. Kalau ada buku murahnya, saya pasti senang karena ini termasuk ke dalam buku-buku saya yang hilang. Hih! Yang saya adopsi adalah Deception Point. Kebetulan, saya juga belum membaca buku Dan Brown yang ini. Berapa? Ah tidak perlu pakai ditanyakan. Tentu saja, ceban! Hahahaha. Dibanding tiga buku sebelumnya, buku ini ada sedikit cacat di cover samping. Tapi tidak mempengaruhi kualitas isi buku, pasTINJA. Tahan diri kalian kalau semakin merasa iri... *kabur*

Last but not least...

Buku terakhir yang menjadi puncak perburuan pagi itu adalah buku Agatha Christie. Kemungkinan besar, kalian pasti sudah mengenal nama ini dengan baik. Buku-bukunya banyak bertebaran di toko-toko buku besar, seperti Gramedia. Bahkan, ada cetakan baru berupa boxset khusus karya-karya Agatha Christie juga! Nah, kali ini, buku yang saya temukan adalah Evil under the Sun. Lagi-lagi seharga ceban dan juga merupakan salah satu buku incaran lama! Jadi, ya, ini buku spesial bagi saya. Evil under the Sun merupakan salah satu serial Agatha Christie yang masuk ke dalam serial kisah Hercule Poirot dan termasuk yang banyak didaptasi. Plot di buku ini memiliki kesamaan dengan salah satu cerita pendek Agatha Christie yang berjudul Triangle at Rhodes. Coba kalian kulik kisah ini kalau penasaran dengan gambaran kisah di buku Evil under the Sun. Selain itu, buku ini juga pernah dibuat versi PC-adaptation.

Sebagai bonus dari semua keriuhan pagi tersebut, saya mendapatkan bonus gratis satu buah buku Paula Fox yang berjudul One-Eyed Cat, ahaks!

Jadi...

Syurga dunia lalalala...

Kalau tidak ingat bahwa saya belum membeli pisang dan kentang (yang ternyata saat itu harganya naik dari harga beli seminggu sebelumnya, hastagaaaah!!!), sementara otomatis duit yang tersisa tinggal goban, saya pasti akan lebih berlama-lama di kios buku tersebut demi mengadopsi buku lainnya hahaha.

Demi mengingat pisang dan kentang, saya pun cukup puas menebus enam buku ini. Dan beralih-lah saya ke pasar, setelah tentu saja, saya juga cukup puas memamerkan foto di grup sana dan sini, disertai dengan heboh ini dan itu dari teman-teman saya... *evil grin...*

Beberapa minggu sebelumnya, saya juga sudah cukup memamerkan betapa murah harga komik-komik Eropa di Bargain Books Gramedia Merdeka, seperti Lucky Luke, Cubitus, Marsupilami, serta Quick & Flupke yang merupakan karya dari Herge (terkenal sebagai penulis asli serial Tintin).

Iya, saya memang tukang pamer buku murah, hahahaha.

Ternyata oh ternyata lainnya adalah... Kemarin, sepulang dari kunjungan ke beberapa tempat (termasuk bertemu dengan salah satu klien, guru, dan orang tuanya untuk mendapatkan data follow up pasca pemeriksaan), saya sempat mampir ke seberang Unisba. Awalnya berniat mampir ke kios buku yang ada di seberang sana. Sayangnya sudah tutup. 

Daripada "mubazir"... Perjalanan saya lanjutkan ke Baltos, hitung-hitung mampir ke Lawang Buku. Eh, ternyata si empunya Lawang Buku tidak ada karena Kang Deny sedang ada kegiatan di tempat lain. Jadi saya mampir ke dua lapak lainnya. Di lapak yang tepat berada di belakang Lawang Buku, saya tidak menemukan buku apapun. Ada buku-buku berbahasa Inggris, novel-novel fiksi, yang dijual seharga Rp. 5.000,000 astaga goceng!!! Sayangnya... Bukan termasuk buku yang ingin saya koleksi. Kalau suka dengan buku-buku terbitan Dastan, ada banyak sekali yang dijual ceban saja. Saya memilih tidak membeli karena fokus saya ingin membeli buku yang lain, hahaha. Kemudian saya beralih ke lapak di sebelahnya dan saya menemukan buku Henry James yang Daisy Manis terbitan Pustaka Jaya serta buku Terry Pratchett (pernah duet dengan Neil Gaiman di buku Good Omens) yang berjudul Pria Cilik Merdeka terbitan Atria, masing-masing seharga Rp. 15.000,00 saja. Ada juga buku Max Havelaar versi penerbit Narasi dan Qanita, masing-masing dijual seharga Rp. 60.000,00 dan Rp. 50.000,00. Tetapi tidak saya beli, yang versi Narasi setelah pamer di grup ini dan itu akhirnya diadopsi oleh Dwi anak genk Makassar isterinya Pai. Katanya sekalian dikirimkan dengan pesanannya di Boekoe Factory Outlet. 

Begitu saya kembali ke Lawang Buku, yang sudah dibuka lapaknya oleh teteh cantik dan akang bule-nya, saya pun terkesima melihat koleksi buku eks-kolektor berbahasa Inggris yang bertumpukan dan meminta untuk dijamah hahaha. Sayangnya, saya tidak menemukan koleksi William Faulkner satupun hih! Benar kata Kang Deny, saya memiliki saingan kalau ingin berburu buku William Faulkner di Lawang Buku. Soalnya ada orang Filipina yang rutin menyambangi Lawang Buku demi berburu buku Opa Faulkner. Duh! Akhirnya saya fokus memamerkan buku-buku lainnya saja. Untungnya, dari sekian banyak buku yang menarik bagi saya dan saya temukan kemarin di Lawang Buku (buku-bukunya Bronte sisters, Robert Louis Stevenson, George Eliot, Gustave Flaubert, Shakespeare, dan Jonathan Swift) hanya satu yang saya belum punya yaitu buku Nathaniel Hawthorne yang berjudul The House of the Seven GablesNoban doang cuuuyyyy duapuluhrebuuuu. Hahahaha.

Pasca membaca buku The Scarlet Letter dan menonton filmnya dulu, saya menjadi sangat mencari koleksi-koleksi Nathaniel Hawthorne lainnya. 

And baidevai...

Selain The Scarlet Letter, The House of the Seven Gables masuk juga ke dalam daftar 1001 Books You Must Read Before You Die

Syurga dunia lalalala...

Begitu saya pulang ke kos dan sempat salin baju, tetapi pastinya belum mandi hahaha, saya membaca BBM dari salah satu teman yang mengabarkan bahwa dia sedang di kios buku Pasar Cibogo. Ey? Rupanya, teman lainnya selain yang sedang BBM-an dengan saya, sempat membaca update saya di salah satu akun twitter komunitas buku terkait penemuan harta karun di atas tadi dan meluncur-lah mereka berdua ke sana. Saya kemudian menyusul...

Memang benar kata Kang Deny, buku itu jodoh-jodohan dengan kita. Kemarin sempat gagal mendapatkan koleksi Faulkner di Lawang Buku, saya justru menemukan buku Sanctuary -- tentunya berbahasa Inggris -- yang juga merupakan karya kece dari Faulkner di kios buku Pasar Cibogo hahaha. Harganya Rp. 15.000,00.

Saya mendapatkan buku Herman Hesse yang berjudul Steppenwolf juga! Buku Hesse yang ini pun termasuk ke dalam daftar 1001 Books You Must Read Before You Die. Buku berbahasa Inggris yang dibanderol dengan harga Rp. 15.000,00.

Syurga dunia lalalala...

Selain itu, saya masih mendapatkan "bonus" berupa buku Tom Sharpe. Kenal, kan? Bukunya yang terkenal yang berjudul Wilt, saya sudah punya yang terjemahan dan yang berbahasa Inggris. Kemarin, saya mendapatkan yang The Great Pursuit, juga seharga Rp. 15.000,00 dan berbahasa Inggris.

Last...

Saya mendapatkan buku terjemahan Moliere yang berjudul Akal Bulus Scapin (The Mischivous Machinations of Scapin) seharga Rp. 5.000,00. Penerbitnya adalah Pustaka Jaya. Goceng!!!

Lagi-lagi dan lagi-lagi dan lagi-lagi...

Semuanya belum termasuk bonus satu buah buku pilihan yang boleh saya pilih sesuka hati. Saya lalu memilih The Poisonwood Bible. Buku Barbara Kingsolver ini masuk ke dalam daftar Oprah's Book Club dan lagi-lagi lagi-lagi lagi-lagi... termasuk ke dalam daftar 1001 Books You Must Read Before You Die. Dibandingkan dengan empat buku yang saya beli, buku bonus ini justru buku paling tebal!

Subhanalloooh rezeki anak sholehah, hahahaha.

Yuk ah! Berburu buku murah. Kaki saya juga sudah gatel untuk berburu ke Jalan Dewi Sartika, terakhir ke sana sebelum Ramadhan sepertinya. Tapi karena lebih membutuhkan banyak waktu kalau mau ke sana, sementara ini saya akan fokus berburu di kios buku Pasar Cibogo mengingat betapa suksesnya saya mendapatkan buku-buku luar biasa kece di dua kunjungan terakhir saya ke sana.

Eh iya, berhubung buku-bukunya sudah saya susun di rak bagian atas sebelum saya foto, jadi saya tidak masukkan foto-foto hasil buruan kemarin ya. Agak malas juga untuk memanjat kursi demi mencapai susunan buku-buku tersebut. Ya maklum, kapasitas kamar kos sangat seadanya dan saya sudah sangat kebingungan untuk mengatur space demi membeli rak baru yang besarnya cukup memadai, jadi sudahlah buku-buku yang tidak bisa disusun di dalam rak otomatis "naik pangkat" ke bagian atas, hahaha.


Cheers!
Have a blessed-day!