11 January 2017

Critical Eleven by Ika Natassa



BLURB

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat -- tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing -- karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah -- delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.


***

Puzzle.

Iya. Critical Eleven merupakan kepingan-kepingan puzzle mengenai kehidupan pasangan Ale dan Anya.

Dan sebelum saya mengulas kisah mereka berdua, saya selipkan simple trailer dari book review yang akan saya sampaikan mengenai Critical Eleven di dalam tulisan ini...



***

Aldebaran Risjad
Ale.

Penyuka kopi, ketoprak (ketoprak Ciragil, to be precise), kastengels, udara bebas, buku, film, lego, dan kerja. Hidup Ale sesederhana itu, tadinya. 
Bangun jam setengah lima pagi, lapor sama Bos Besar, mandi, sarapan sambil cek berita dan catatan, briefing pagi, rapat video conference dengan onshore office, inspeksi keliling, makan siang, lapor lagi sama Bos Besar, inspeksi lagi, paper work, ngopi, lapor sama Bos Besar, tulis laporan, lapor sama Bos Besar, makan malam, mandi, baca, kadang main lego, lapor sama Bos Besar, tidur.
Lalu besok pencet tombol repeat.
(p. 28)

Ale memulai karirnya di rig, lalu terakhir pindah ke offshore oil production facilities. Rotasi pekerjaannya 5/5; lima minggu di offshore yang terletak di Teluk Meksiko, dan lima minggu kemudian break -- di mana Ale lebih sering memakai periode libur itu untuk traveling daripada pulang. Pertemuan Ale dengan Anya yang kemudian membuat ia dapat mengubah rutinitas hidupnya tersebut. 
Gue baru lebih sering pulang sejak mulai mengejar Anya, perempuan yang kemudian menjadi menantu kesayangan Ibu karena bisa membuat anak laki-lakinya ini sering pulang. Yang bisa membuat anaknya mengubah definisi pulang. (p. 30)

Dan, setelah bertemu Anya pula, kesukaan Ale juga bertambah; menyentuh Anya, memakan telur dadar bawang buatan Anya, serta mendengar nama-nama panggilan kesayangan Anya kepada Ale -- nama-nama panggilan yang kelak sanggup membuat Ale seperti mengalami adiksi untuk bisa mendengar suara Anya memanggilnya dengan panggilan-panggilan tersebut.
Sayang itu satu dari tiga panggilan cinta Anya buat gue. Dua lagi: dickhead dan kebo. Tiga panggilan ini dia rotasi setiap hari, gue juga nggak tahu kenapa dan bagaimana polanya. (p. 40)

Tanya Laetitia Baskoro.
Anya.

Pencinta airports, sekaligus benci sekali jika harus terbang -- bukan masalah terbangnya, tapi masalah menyerahkan nasib di tangan orang lain selama berada di dalam pesawat dan tidak bisa kemana-mana. Anya melihat bandara seperti tempat peristirahatan sementara.
I'm one of those weird people who loves airports. There's just someting liberating yet soothing about it. Bahkan saat aku di situ untuk terbang demi urusan bisnis, bandara itu seperti tempat peristirahatan sementara. A temporary break from my mundane life. Tentu nanti begitu mendarat bakal langsung sibuk dengan tumpukan pekerjaan apa pun yang menanti, tapi sementara ini aku bisa "parkir" dulu di sini. (p. 5)

Anya tipikal perempuan muda yang "hobi" menyibukkan diri dengan sesuatu, karena setiap kali dia diam, maka pikirannya akan melayang ke hal-hal yang dia tidak inginkan.
Mempertanyakan makna hidup, tujuan hidup ini sebenarnya mau ngapain, apakah aku sudah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai manusia pada umur segini. Rasanya seperti dikejar-kejar Ligwina Hananto yang setiap mengajar financial planning selalu bertanya, "Tujuan lo apa?".
Truth is, aku tidak tahu tujuanku apa. I have no idea where I'm going in life. And it gets pretty scary sometimes if I let myself think about it. Yang aku tahu hanya menjalani hidup ini one day at time, bekerja, makan, tidur, tertawa, ngobrol. As long a I got some jobs to do and men to do, I'm fine. Walau sekarang yang bagian men-nya itu sedang musim kemarau. Sudah setahun. So maybe I'm only half fine.
(p. 5-6)

Well... Itu sebelum Anya bertemu dengan Ale, di dalam penerbangan dari Jakarta menuju Sydney; Anya dalam rangka menonton konser Coldplay sementara Ale terkait dengan pekerjaan. Pertemuan yang kemudian mengubah kehidupan mereka, sepenuhnya. Diawali dengan obrolan panjang tanpa pretensi apa-apa, namun menghasilkan "apa-apa" di dalam perkembangan hubungan Ale dan Anya selanjutnya. Bagian yang paling menyenangkan dalam melihat hal ini ada di dalam narasi Anya terkait pertemuan pertama mereka berdua -- versi lebih detail dari apa yang sudah disampaikan di dalam blurb, sekaligus benang merah antara judul Critical Eleven dengan kisah Ale dan Anya.
Aku lupa baca di mana, dalam dunia penerbangan ada yang namanya critical eleven. Sebelas menit yang paling kritis di dalam pesawat, yaitu tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Dalam sebelas menit ini, para air crew harus berkonsentrasi penuh karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu critical eleven ini. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.
In a way, I think It's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama saat bertemu seseorang itu kritis sifatnya dari segi kesan pertama, right? Senyumnya, gesture-nya, our take on their physical appearance. Semua terjadi dalam tiga menit pertama
And then there's the last eight minutes before you part with someone. Senyumnya, tindak tanduknya, ekspresi wajahnya, tanda-tanda apakah akhir pertemuan itu akan menjadi "andai kita punya waktu bareng lebih lama lagi" atau justru menjadi perpisahan yang sudah ditunggu-tunggu dari tadi.
(p. 16

Dari narasi Anya di atas, kita akan sudah bisa menebak bahwa Anya merupakan jenis orang yang menyimpan dengan perasaan; dia mengingat setiap hal dengan perasaan. Perasaannya sensitif. Dia berpikir dengan merasa, dia juga mengingat dengan merasa. Nantinya, hal ini menjadi signifikan sekali dalam mencoba memahami apa yang terjadi pada diri Anya di sepanjang kita membaca Critical Eleven. Sementara Ale, dia berpikir dengan cara agak sedikit berbeda. Selama kita membaca kisah mereka dari sudut pandang Ale, nanti kita akan tahu mengapa dia bisa langsung menetapkan bahwa dia menginginkan Anya sejak pertemuan awal mereka. Di situ kita bisa menilai bahwa Ale melihat Anya cukup logis untuk bisa bersikukuh menginginkan Anya menjadi pasangannya, bukan sekadar penilaian impulsif berdasarkan apa yang Ale lihat pada diri Anya ketika Anya menyadari adanya penilaian tersebut, melainkan ketika Anya tidak menyadari bahwa Ale sedang mengamatinya. Bagian ini ada di halaman-halaman terakhir. Baca saja bukunya, ya... Hihihi.

Kembali ke kisah awal pertemuan antara Ale dan Anya...

Tentu saja kisah Ale dan Anya di sini ditakdirkan untuk berlanjut. Tidak diawali dengan mulus, ada jeda, dan saya suka bahwa kisah mereka tidak langsung berlanjut sesaat setelah mereka berpisah di Sydney -- bahkan tidak ada komunikasi apapun antara Ale dan Anya meskipun saat itu mereka sudah bertukar nomor telepon. Ada rentang waktu sebulan sebelum komunikasi antara mereka benar-benar dimulai. Tetapi, ketika mereka kembali berkomunikasi, komunikasi mereka berlangsung dengan sangat intensif; bahkan sampai membuat Anya mampu jatuh cinta kepada Ale hanya dalam waktu tujuh hari.

Ketika mereka mulai berpacaran dan setahun kemudian menikah -- bahkan, hingga saat mereka telah menikah namun belum memiliki anak -- kehidupan Ale dan Anya berjalan dengan manis. Mereka tidak selalu bertemu setiap hari; pekerjaan Ale membuat mereka hanya dapat bertemu ketika Ale menghabiskan waktu break di Jakarta. Jika beruntung, mereka bisa lebih sering bertemu, yaitu ketika Anya menjalani dinas di New York di tahun-tahun pertama pernikahan mereka... Hingga saat itu, kehidupan mereka masih berjalan dengan begitu manis. Sangat manis.

Cobaan justru datang ketika mereka diberikan kesempatan untuk menjadi orang tua. Cobaan yang kemudian membuat hubungan pernikahan Ale dan Anya gonjang-ganjing tidak karuan. Untuk pertama kalinya mereka berhadapan dengan momen kehilangan dan untuk pertama kalinya selama lima tahun total kebersamaan mereka, hubungan Ale dan Anya berada di titik terbawah; kritis.

Masa kritis inilah yang menjadi tema sentral dari Critical Eleven; apakah Ale dan Anya akan mampu melewati periode kritis ini?


***

Critical Eleven masih membawa kisah dari salah satu anggota keluarga Risjad. Kali ini Aldebaran Risjad, atau Ale, kakak dari Harris Risjad (dari buku Antologi Rasa).

Frankly speaking, dibandingkan dengan kisah yang diangkat di Antologi Rasa, saya lebih merasa bahwa kisah di Critical Eleven lebih kaya dan lebih berwarna. Lebih pentingnya lagi, saya lebih merasakan kisah Ale dan Anya ini lebih relatable. Bisa jadi penilaian saya bias, ya, karena saya banyak menemukan langsung kisah-kisah Ale dan Anya di kehidupan nyata. Selain itu, Critical Eleven juga terasa tolerable bagi saya karena saya dapat lebih mudah berempati pada tokoh-tokohnya dan merasa bahwa apa yang dirasakan dan dialami oleh mereka itu lebih dari cukup untuk bisa membuat mereka menjadi lebih sulit untuk menjalani coping terhadap masalah itu dibandingkan dengan apa yang terjadi ketika Harris menjadi galau terkait hubungannya dengan Keara di Antologi Rasa, misalnya.

Pengalaman kehilangan yang dihadapi oleh Ale dan Anya bukan sekadar kehilangan barang kesayangan. Barang kesayangan masih bisa diupayakan untuk didapatkan kembali, setidaknya yang mendekati miripnya -- bahkan bisa saja mendapatkan yang sama persis. Putus dengan pacar dan merasa kehilangan, setidaknya masih ada kemungkinan untuk kembali berhubungan -- baik sebagai pacar lagi atau sebagai teman. Untuk bertemu langsung pun masih ada kesempatannya. Sementara, jika kehilangan itu melibatkan kematian?

Saya selalu bisa memaklumi proses grieving yang dijalani oleh orang-orang yang berduka karena kematian. Hal ini merupakan sesuatu yang kekuasaannya di luar jangkauan kita. Jadi, galau karena orang kesayangan atau orang terdekat meninggal dunia, tuh, menurut saya sangat wajar.

Pertanyaannya, siapa yang tidak akan sebegitunya galau, serta sulit sekali untuk ikhlas dan move on, kalau harus menghadapi apa yang dihadapi oleh Anya dan Ale? Percayalah, saya menemukan langsung kasus serupa dialami oleh salah satu tante terdekats saya dan dua orang teman kuliah saya. Ada di antara mereka yang membutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk benar-benar bisa menerima takdir -- dan mereka ini sangat luar biasa hati-hati selama menjalani proses ketika diberikan kesempatan untuk memperoleh "pengganti", karena masih ada jejak "trauma" dari pengalaman pertama mereka.

Bahkan, di saat saya membaca ulang Critical Eleven sekarang, ada satu lagi teman baru saya yang menceritakan pengalamannya ketika berada di posisi Anya. Akan saya ceritakan relevansi kisah teman saya dengan Anya di bawah nanti.


***

It takes two to tango...

Sekali lagi, mungkin saya bias, karena pemaknaan saya terhadap Anya banyak dipengaruhi oleh pengalaman pribadi juga. Tapi, saya cenderung mudah untuk bisa memahami proses grieving yang dialami oleh Anya melebihi apa yang saya pahami terhadap Ale karena didasari oleh setidaknya tiga hal. Pertama, saya perempuan. Kedua, saya tahu rasanya berduka, stress, dan depresi. Ketiga, saya memiliki contoh-contoh langsung dari beberapa perempuan di hidup saya yang juga memiliki pengalaman seperti Anya.

Background saya Psikologi, on my way to become a Clinical Psychologist, tetapi di momen ketika saya berada di titik terendah dalam hidup saya dan tahu dengan pasti bahwa saya harus segera bangkit dan berdiri tegak lagi, saya pun sempat mengalami apa yang Anya alami ketika kehidupan pernikahannya dengan Ale sudah berada di periode kritis; mempertanyakan dan mengkritisi habis-habisan segala teori grieving.

Saya juga berusaha untuk mendapatkan penjelasan logis, se-logis mungkin, untuk bisa "sembuh". Rasanya ada yang error, harus segera dibenahi yang error ini, dan cara logis adalah cara yang saya pilih karena cara ini yang dapat lebih mudah diterima oleh saya sejak dulu dibandingkan lewat cara emotional coping. Tapi, semakin berpikir dan mencari tahu, saya semakin sakit kepala. Hahaha. Untuk itulah saya dapat dengan mudah berempati kepada Anya ketika dia berusaha untuk melakukan hal sama untuk bisa menyembuhkan diri. Ditambah, pekerjaan Anya selalu membutuhkan penjelasan logis dalam penerapannya -- dan personally, profesi yang saya jalani juga membutuhkan penjelasan logis untuk bisa menganalisis apa yang dialami oleh para klien. Saya dapat merasakan kesakitan dan penderitaan Anya ketika berhadapan dengan hal yang bahkan penjelasan logis pun tidak mampu untuk bisa memberikan jawaban atas apa yang harus dia jalani untuk dapat keluar dari kekelaman momen kehilangannya.
Kata orang, waktu akan menyembuhkan semua luka, namun duka tidak semudah itu bisa terobati oleh waktu. dalam hal berurusan dengan duka, waktu justru sering menjadi penjahat kejam yang menyiksa tanpa ampun, ketika kita terus menemukan dan menyadari hal baru yang kita rindukan dari seseorang yang telah pergi itu, setiap hari, setiap jam, setiap menit. It never gets easier...
... Aku kembali bekerja, dan di tengah-tengah membaca puluhan artikel dan buku berbau finance dan manajemen serta strategi yang jadi pekerjaanku sehari-hari, aku memulai proyek besar. Proyek pribadi. Researching all kind of things to deal with this grief. Mempelajari The Kubles-Ross model atau lebih dikenal dengan stages of grief, membaca berbagai tulisan Baxter Jennings, William Worden, John Bowlby, George A. Bonanno, Charles A. Corr, dan entah berapa theorist lagi. Pekerjaanku sehari-hari adalah memberi penjelasan logis kenapa beberapa strategi bisa gagal diterapkan di perusahaan yang jadi klienku, dan mengonstruksi solusi yang sesuai untuk bangkit dari kegagalan itu. Jadi aku yakin jika aku cukup belajar tentang menghadapi kehilangan, paham semua teorinya dan penjelasan scientific-nya, mungkin aku bisa lebih tabah menerima kehilangan ini. Mungkin ada pendekatan ilmiah yang bisa kucoba untuk mengobati duka ini. 
(p. 95-96)

Ada, Anya, ada satu solusinya.

Support dari orang terdekat.

Saya pernah membahas mengenai support system di sini dan di siniSupport dari orang terdekat yang memiliki andil sangat signifikan dalam melalui proses grieving merupakan satu-satunya obat paling mujarab bagi Anya untuk dapat menjalani momen kehilangan tanpa merusak diri sendiri. Sayangnya, orang paling signifikan tersebut justru memberikan luka lebih mendalam lagi bagi dirinya. Momen kehilangan seperti yang Anya rasakan bisa menimbulkan duka yang terasa begitu pahit dan terasa semakin pahit ketika orang yang ia harapkan mampu menyembuhkan rasa pahit itu (baca: Ale) justru malah dia anggap menambah rasa pahit yang sulit sekali untuk dia handle rasanya.

Maka, wajar jika Anya menjadi sulit untuk membuka dirinya kepada Ale lagi. Hatinya pasti terlalu terasa sakit, jiwanya pasti terasa hancur, dan dia akhirnya memilih untuk "merusak" dirinya lebih dalam lagi lewat cara menenggelamkan diri ke dalam duka cita. Sendirian.

Wajar juga jika akhirnya Anya menjadi "marah" pada segalanya; marah kepada Ale, termasuk marah kepada takdir (yang artinya sama juga dengan marah kepada Tuhan). Tapi saya melihatnya bahwa Anya lebih marah lagi kepada dirinya sendiri. Itulah sebabnya Anya terkesan menolak untuk bisa segera keluar dari duka cita. Saya membayangkan ini seperti kita yang merasa bersalah karena telah menyebabkan sesuatu pergi, hilang untuk selamanya, dan tidak akan pernah bisa kembali ke dalam kehidupan kita. Rasa bersalah ini terlalu menguasai diri kita, sehingga kita tidak lagi merasa berhak untuk move on -- kembali menjalani hidup dengan bahagia dan "melupakan" hal yang telah hilang tadi. Nah, inilah yang, menurut saya, terjadi pada Anya.

Ada benang merah yang sama antara Anya dan para perempuan lain yang saya tahu mengalami kondisi serupa Anya; orang-orang yang berpotensi paling besar dalam menyakiti perasaan mereka saat itu adalah suami, baru setelah itu posisinya diduduki oleh perempuan-perempuan lainnya (ibu, saudara, atau teman). Untungnya, dalam kasus Anya, hanya suami yang menyakiti dia. Di kasus lain di dalam kehidupan pernikahan, misalnya:

  1. melahirkan secara C-section dianggap tidak sepenuhnya menjadi perempuan dan kurang berusaha untuk bisa melahirkan normal
  2. sedang mengalami baby blues (bahkan hingga mengalami Post-partum Depression) disebut tidak sayang anak

Terbayang, kan, ya menjadi perempuan-perempuan seperti kedua contoh di atas? Teman saya bahkan sampai berada di fase depresi dan sudah merencanakan bunuh diri. Untung saja gagal karena setiap kali dia berusaha untuk melakukan aksi bunuh dirinya, setiap kali pula ada orang-orang berkeliaran di sekitar dia dan membuatnya tidak jadi beraksi. Luka dan kondisi fisik pasca melahirkan saja belum sepenuhnya pulih, sudah berhadapan dengan kata-kata menyakitkan dari orang lain. Mungkin, kita bisa ignore jika itu perkataan dari orang lain yang tidak signifikan dalam hidup kita. Tapi, bayangkan jika itu dinyatakan oleh orang terdekat kita -- yang supposedly bisa memberikan dukungan moral kepada kita. Bagaimana rasanya?

Sakit. Pasti.

Teman saya itu sehari-harinya sangat religius, lho. Jadi, saya tidak fair jika hanya menyalahkan orang yang berada di fase seperti ini sebagai orang yang tidak religius, tidak mengingat Tuhan, dan sebagainya. Ini bukan sekadar urusan religius atau tidak religius, serta bukan juga sekadar dekat atau tidak dekat dengan Tuhan, melainkan kondisi kesehatan jiwa yang sedang bermasalah dan membutuhkan bantuan dari orang terdekat untuk mengobatinya -- sama dengan kalau kita sedang sakit fisik dan ingin ada yang membantu menjaga serta merawat kita hingga kembali sehat.

So...

Sekarang coba bayangkan menjadi Anya. Ketika kondisi fisiknya belum sepenuhnya pulih, serta kondisi mental dan emosionalnya masih sangat berantakan setelah harus menghadapi kenyataan bahwa dia kehilangan hal yang sangat dinantikan kehadirannya selama berbulan-bulan penantian, Anya harus menghadapi pernyataan menyakitkan dari Ale; suaminya sendiri, orang yang sangat dicintai oleh Anya, dan orang yang juga mengaku sangat mencintai Anya. Padahal, Anya paling mengharapkan dukungan emosional dari Ale. Bagaimana rasanya menjadi Anya?

Ale bukannya tidak menyadari kesalahan dirinya. Dia sangat sadar, amat sangat sadar.
Lihat apa yang sudah elo lakukan ke perempuan yang lo sebut istri kesayangan lo, Aldebaran Risjad.
Laki-laki macam apa lo?
(p. 76)

Ale sangat menyadari apa yang terjadi di antara dirinya dan Anya pasca kejadian momen kehilangan, dan bagaimana pernyataannya kemudian menyakiti Anya.
Iya, gue tolol.
Kalimat itu gue ucapkan pelan, tapi efeknya seperti gempa yang nggak berhenti mengguncang sampai hari ini.
(p. 81)

But, the damage is done...



***

Ada tiga karakter utama di dalam Critical Eleven yang menurut saya paling menarik untuk dianalisis karakter-karakternya.

1. Aldebaran Risjad

Di dalam bayangan saya, Ale ini tipikal seseorang yang mungkin sangat ahli dalam menjalani pekerjaannya, sangat ahli dalam membantu mengatasi masalah orang lain, sangat piawai dalam menghadapi orang lain, dan sebagainya... Tetapi, dia cenderung kikuk ketika harus mengatasi masalahnya sendiri. Kalau saya melihatnya seperti itu. Dia ini baik dan sangat bisa diandalkan. Hanya saja, dia dapat diandalkan ketika sedang dalam situasi normal dan di posisi yang netral. Dalam arti, ketika dia tidak terlibat secara personal di dalam masalah. Saat dia terlibat secara emosional di dalam masalah tersebut, maka Ale menjadi gagap. Contoh paling jelas, sebelum masalah Ale dan Anya muncul, adalah masalah yang melibatkan Ale dan Ayah Risjad.

Ayah Risjad, orang tua dari Ale dan Harris, merupakan sosok yang sebelumnya sangat dekat dengan Ale. Hobi Ale terhadap kopi juga akibat pengaruh kedekatannya dengan Ayah Risjad sejak kecil. Sampai ketika Ale beranjak remaja dan memiliki keinginan sendiri terhadap masa depannya -- keinginan yang sangat bertentangan dengan keinginan Ayah Risjad terhadap putra sulungnya tersebut -- membuat hubungan Ale dan ayahnya menjadi renggang. Kalau tidak dapat dikatakan sangat renggang. Keberadaan Anya yang nantinya cukup berperan dalam membuat hubungan ayah dan anak ini dapat membaik -- Anya adalah menantu kesayangan bagi Ayah Risjad, walau dari anaknya yang pembangkang.
"Ayah itu sebenarnya sayang banget sama kamu, Sayang, tapi mungkin bingung gimana nunjukinnya. Mungkin gengsi juga karena kamu sama Ayah sering berantem. Jadi nunjukinnya lewat aku." (p. 53)

Melihat bagaimana Ale bersikap dalam menghadapi konfliknya dengan Ayah Risjad, membuat saya menarik kesimpulan bahwa Ale agak sulit untuk bisa langsung diandalkan ketika berhadapan dengan masalah personal. Dia ini cenderung menunda dalam menyelesaikan masalah dan sulit untuk bisa melihat dari sudut pandang orang lain. Lihat saja berapa tahun yang dibutuhkan oleh Ale untuk bisa kembali menjalin hubungan yang akrab lagi dengan ayahnya. Jika bukan karena dipengaruhi oleh keberadaan Anya, maka saya ragu hubungan Ale dan ayahnya bisa membaik.

Saat Ale berhadapan dengan konfliknya dengan Anya, itu pun bermula dari Ale yang gagal dalam melihat momen kehilangan dari sudut pandang Anya juga. Saat itu, Ale hanya melihat dari sudut pandang dirinya sendiri; Ale hanya mengutamakan kesedihan yang dialaminya sendiri. Dia seperti lupa bahwa Anya juga sedang berada di posisi yang sama dengan dirinya. Apabila Ale mampu melihat dari sudut pandang Anya, maka dapat dipastikan bahwa pernyataan menyakitkan itu tidak akan pernah keluar dari mulutnya. Bukannya setelah itu Ale tidak pernah berusaha memperbaiki kesalahan lho, ya... Then again, the damage is done.


2. Tanya Laetitia Baskoro

Di atas tadi saya sudah mengatakan bahwa Anya ini cenderung berpikir dengan merasa. Akibatnya, ketika dia berhadapan dengan masalah, akan selalu ada konflik atau pertentangan internal di dalam dirinya sendiri; "perang" antara otak dan hati, antara pikiran dan perasaan. Ika Natassa menggambarkan internal struggle yang melibatkan otak dan hati Anya dengan sangat jelas. Hampir di setiap narasi Anya memperlihatkan internal struggle yang dihadapi oleh dirinya. Narasi Anya di halaman 21-27 merupakan salah satu yang paling memperlihatkan hal ini.
Mau tahu kenapa setiap mengingatnya, aku selalu menyebut lengkap namanya, Aldebaran Risjad? Karena aku sedang berusaha setengah mati memindahkan semua kenangan tentan laki-laki ini dari amygdala ke hippocampus. Mengubah emotional memories menjadi conscious, visual memories. Supaya lain kali setiap mengingatnya, aku akan mengingatnya seperti aku mengingat Steve Jobs, George Washington, Abraham Samad, Mark Zuckerberg, atau Napoleon Bonaparte.
Supaya aku mengingatnya hanya sebagai informasi, bukan seseorang yang punya ikatan emosional denganku.
(p. 27)

Bahkan, di saat dia berusaha untuk mencari penyelesaian masalahnya secara logika, dia pun masih harus berhadapan dengan urusan hatinya. Salah satu dosen saya dulu pernah berkata bahwa saya cenderung mengutamakan logika -- otak saya selalu saya utamakan -- setiap kali saya mencoba menyelesaikan masalah. Akibatnya, saya mengesampingkan urusan perasaan. Dengan kata lain, saya tidak mengakui bahwa hati saya sedang mengalami kesakitan dan butuh perhatian. Seharusnya, pada saat itu saya mengutamakan urusan hati dulu -- kasarnya, ngalem-alemin hati dulu, memanjakan si perasaan yang sedang butuh diobati, dan bukannya terus memihak kepada logika. Tidak mengherankan jika kondisi saya tidak pernah tenang saat itu karena otak dan hati saya selalu bentrok. Ibaratnya, ya, ada orang sedang berteriak meminta tolong kepada saya, tetapi saya memilih cuek dan tidak peduli dengan kondisi orang tersebut. Jahat, yes?

Jadi, inilah yang saya bayangkan sedang terjadi pada Anya juga. Bedanya, Anya menyadari bahwa hatinya butuh perhatian lebih. Terlepas dari segala usaha yang dicoba dilakukannya untuk mengatasi masalah hati, terlepas dari segala usaha otaknya untuk mencari penyelesaian tercepat dengan mengandalkan logika, pada akhirnya Anya tetap memilih mengutamakan untuk memihak hati dan perasaannya.
... And who the fuck are all these psychologist talking about finish line? Ini bukan balap mobil atau perlombaan lari maraton yang harus ada garis finish-nya, dan aku di sini juga bukan untuk memenangkan medali apa-apa. Tidak ada gunanya buatku kalau aku finish first atau finish last, kan? (p. 275-276)
... And these bullshit about stages of grief? Persetan semua tahapan itu. Manusia mencoba menghadapi kehilangan dengan cara berbeda-beda, mustahil menggeneralisasi dengan tahapan apa pun, karena cara hati kita beroperasi juga tidak ada yang sama, bahkan jika kita terlahir dari rahim yang sama. (p. 276)

Saya tidak dapat sepenuhnya menyalahi Anya. Nope. Bahkan, semakin saya membaca ulang Critical Eleven berkali-kali, semakin saya memilih berpihak sepenuhnya kepada Anya. Apalagi, seperti yang saya sebutkan di atas, saya juga sedang menerima curhat dari seorang teman dengan pengalaman serupa Anya di momen saya membaca ulang ini. Ada pernyataan-pernyataan dari teman saya ini yang serupa dengan apa yang dialami oleh Anya. Salah satunya adalah merasa disalahkan oleh suami, sebagai penyebab utama mereka bisa mengalami kehilangan.

Mungkin pernyataan para suami bukan dimaksudkan untuk menyalahkan dan menuduh para istri sebagai penyebab utama kehilangan yang mereka alami. Akan tetapi, jika kita melihat kondisi fisik, emosional, dan kejiwaan para istri ketika mereka sedang dalam kondisi seperti Anya dan teman saya ini, kita akan bisa melihat kondisi para perempuan yang sedang mentally and physically drained. Mereka lho yang secara jiwa, raga, dan emosi menyatu selama berbulan-bulan dengan apa yang kemudian hilang itu; bukan para suami. Jadi, bukan hanya para suami yang berhak merasa sedih ketika mereka kehilangan, melainkan jelas para istri ini ada di posisi paling puncak untuk merasa kehilangan.
... Hatiku sudah terlalu sakit remuk redam karena kehilangan Aidan, aku nggak punya kekuatan apa-apa lagi untuk menghadapi rasa sakit yang dihunjamkan Ale dengan kata-katanya. (p. 248)

To be fair, bahkan Ale tidak selalu ada bersama Anya dan Anya dapat memaklumi itu. Sebagai perempuan, membayangkan Anya berbulan-bulan dalam kondisi perut membesar dan tetap bekerja sebagai career woman serta tidak dapat selalu meminta bantuan kepada suami ketika dibutuhkan, ini membuktikan bahwa Anya dapat diandalkan. She's tough... Jika Anya menjadi marah dan sakit hati terhadap Ale, ini jelas masuk akal. Jika Anya sulit memaafkan Ale, saya jelas dapat memakluminya.

Pada dasarnya, saya melihat bahwa cara Ale dan Anya ketika menyikapi momen kehilangan ini cenderung sama; sama-sama cenderung menyimpan sendiri. Hanya saja, pemaknaan mereka yang berbeda. Itulah yang membuat saya tidak menjadi heran ketika Ale dan Anya akhirnya mentok hanya saling diam dalam kesedihan masing-masing, tanpa ada satupun yang berusaha untuk memperbaiki hubungan, karena mereka susah untuk "nyambung". Balik lagi, pemaknaannya mereka berbeda. Di sinilah, keberadaan Ayah Risjad sangat signifikan dalam membuat salah satu dari mereka akhirnya melakukan real action untuk memperbaiki situasi.

And I adore this old man...


3. Ayah Risjad

Sebagai seorang purnawirawan jenderal dan pernah menjadi intel, saya tidak heran jika Ayah Risjad mampu melihat masalah yang sedang terjadi dan menganalisis kemungkinan-kemungkinan apa saja yang harus dilakukan, termasuk ketika ini menyangkut situasi pernikahan anak dan menantu kesayangannya. Bahkan, tanpa harus Ale dan Anya menceritakan langsung kepadanya, Ayah Risjad dapat merasakannya dengan jelas. Intuisinya terlatih.

Satu kekesalan utama saya terhadap karakter Ale adalah dia ini lemot sekali untuk benar-benar action. Jika bukan karena Ayah Risjad turun tangan menyadarkan Ale, saya tidak melihat bahwa Ale akan benar-benar berupaya sekuat tenaga untuk memperbaiki hubungan. Lama sekali Ale menemukan insight.
"Satu hal yang Ayah hargai dari kamu, Le, kalau kamu mau sesuatu, kamu akan perjuangkan habis-habisan. Sampai dapat. Nggak peduli kamu harus berkonflik dengan Ayah." 
Gue diam, mencoba menebak-nebak ke mana arah pembicaraan ini. 
"Pernikahan kamu dengan Tanya juga harus kamu perjuangkan dengan cara yang sama, Le."
(p. 54

I adore you, dear Risjad Sr!

Keren, lah, si om ini... Beliau bahkan mau mengakui kesalahan yang pernah dilakukannya dulu, ketika berhadapan dengan konflik bersama istri, dan bagaimana dia mengarahkan Ale untuk tidak melakukan kesalahan sama. Bedanya, dulu Ayah Risjad menemukan insight dengan sendirinya bahwa dia salah dan bersedia untuk segera melakukan action demi memperbaiki hubungan. Sementara, Ale lama sekali untuk "panas". Bahkan, Ale harus didorong dan diingatkan sedemikian rupa terlebih dahulu oleh orang lain, dalam hal ini oleh Ayah Risjad, baru kemudian dia action.

Sigh, Ale...
Sigh...

Anyway...

Saya suka sekali dengan analogi yang digunakan oleh Ayah Risjad dalam menggambarkan istri, dengan menggunakan analogi kopi. Menarik.
"Kemarin Ayah dapat Yirgacheffe, dibawain Harris. Sudah di-roast, kebetulan tanggal roast-nya sudah pas seminggu, jadi langsung Ayah coba. Ayah coba pour over pakai V60, susah dapat pasnya, Le. Yirgacheffe itu seperti perempuan. Sensitif. Tidak boleh diperlakukan sembarangan. Salah metode, rasanya langsung 'lari'. Awalnya Ayah coba pakai 12 gram, airnya 200 gram, suhu 100. Nggak keluar aroma buahnya. Ayah coba lagi besok kurangi air, suhu tetap. Makin parah. Akhirnya Ayah google saja, Le, metode yang paling pas bagaimana. Ayah ketemu videonya MAtt Perger. Ayah ikuti langkahnya, takarannya, suhunya. Matt pakai 12 gram kopi, air 200 gram dengan suhu 97, total waktu 2:20. Percobaan pertama masih agak meleset, tangan Ayah belum pas waktu menuangnya. Ayah coba lagi, baru yang kelima kalinya cakep, Le. Keluar aromanya, rasanya agak blackcurrant."
...
"Istri itu seperti biji kopi sekelas Panama Geisha dan Ethiopian Yirgacheffe, Le. Kalau kita sebagai suami -- yang membuat kopi -- memperlakukannya tidak tepat, rasa terbaiknya tidak akan keluar. Aroma khasnya, rasa aslinya yang seharusnya tidak keluar, Le. Rasanya nggak pas. Butuh waktu lebih dari dua tahun dulu baru Ayah merasa sudah memperlakukan ibu kamu sebagaimana seharusnya dia diperlakukan. Dari mana Ayah tahu sudah bisa? Dari perlakuan Ibu ke Ayah. Memang butuh belajar lama, butuh banyak salah dulu juga, tidak apa-apa. Yang penting kita tekun, sabar, penuh kesungguhan, seperti waktu kita membuat kopi, Le. Bedanya dengan kopi, kalau kita sudah bingung dan putus asa, bisa cari caranya di Internet. Tinggal google. Istri tidak bisa begitu, harus kita coba dan cari caranya sendiri."
(p. 55-56

Ah, ya...

Saya juga harus memberikan apresiasi kepada Tara dan Agnes. Jika Ayah Risjad menjadi pendorong bagi Ale untuk memulai action, maka kedua sahabat Anya ini menjadi pendorong supaya Anya mau mencoba memaafkan. Setelah Anya berani membuka diri mengenai masalahnya dengan Ale, kedua orang inilah yang meyakinkan Anya untuk menerima Ale kembali.
"Nya, orang yang membuat orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita." (p. 252)

***

Tema utama yang diangkat di dalam Critical Eleven sudah sering disebutkan di atas, yaitu kehilangan dan duka cita; grieving.

Ketika saya membaca Critical Eleven untuk pertama kalinya, bahkan ketika membaca ulang untuk kedua kalinya, itu saya sebenarnya cenderung netral terhadap apa yang dialami oleh Ale dan Anya. Saya fokus pada hal lain, soalnya. Hehehe. Namun, ketika membaca ulang untuk ketiga kalinya ini, saya merasa emotionally invested terhadap kisah mereka -- terutama dari sudut pandang Anya. Pengaruh dibarengi dengan momen teman saya curhat juga, sih ya...

Ika Natassa (melalui karakter Anya) beberapa kali menyebut nama Elisabeth Kubles-Ross; tokoh di balik teori The 5 Stages of Grief. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Elisabeth Kubler-Ross di dalam bukunya yang berjudul On Death and Dying pada tahun 1969.

Pada dasarnya, proses grieving dan berduka itu bersifat universal. Penyebabnya juga beragam. Pada kasus Ale dan Anya, penyebabnya adalah kematian kesayangan.

Perlu ditekankan bahwa The 5 Stages of Grief tidak plek-plekan pasti dilalui oleh semua orang dengan cara yang sama, ya. Tidak. Durasi yang dibutuhkan oleh setiap orang dalam melewati setiap tahapan itu berbeda, dengan intensitas yang juga berbeda. Bukan berarti bahwa setiap orang juga pasti akan melewati setiap tahapannya secara chronological order dan bukan berarti pula mereka tidak normal lho. Semua normal karena setiap orang melalui tahapannya masing-masing -- bahkan ada yang langsung bisa lompat ke tahap acceptance.

The 5 Stages of Grief hanyalah sebuah teori yang bisa membantu kita untuk lebih memahami proses berduka yang dialami oleh seseorang. Sekali lagi, pengalaman berduka tentu merupakan pengalaman yang sifatnya personal. Masing-masing orang memiliki tahapannya mereka sendiri, begitu pula Ale dan Anya di dalam Critical Eleven. Perbedaan antara Ale dan Anya terlihat sangat mencolok. Itulah yang menjadi penekanan saya tadi; bahwa pemaknaan Ale dan Anya terhadap momen kehilangan yang mereka rasakan itu berbeda. Padahal kejadian yang mereka alami itu sama. Iya, kan? Hal ini juga yang menjadi fokus dari teorinya Elisabeth Kubler-Ross; proses grieving setiap orang itu unik.

Poin lainnya, mengingat proses grieving merupakan hal yang sifatnya personal, maka tidak ada batasan waktu serta tidak ada aturan baku yang mengharuskan seseorang untuk pasti melalui hal-hal tertentu selama berproses ini. Jadi, ada orang yang bisa melalui prosesnya dengan cepat, namun ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama untuk move on. Apalagi, The 5 Stages of Grieving ini umumnya berlaku pada orang-orang yang berhadapan dengan isu-isu seputar kematian, terminal ilness, dan kehilangan yang sifatnya "berat" lainnya.

Sumber Gambar: A Life Less Physical

Tahap 1 - Denial
Denial yang terjadi setelah adanya kematian orang yang kita sayangi merupakan bentuk defense mechanism diri kita. Jadi, ini adalah sebuah reaksi yang sangat normal dan alamiah. Inilah caranya tubuh kita untuk menghadapi momen kehilangan. Kita pasti shock. Iya, dong? Nantinya, ini juga yang membantu kita untuk bisa menjadi lebih kuat.

Tahap 2 - Anger
Tahap ini merupakan tahap yang sangat penting ketika kita berproses untuk healing. Makanya, saya melihat kemarahan yang dialami oleh Anya merupakan hal yang sangat wajar karena itulah reaksi alamiah yang ditunjukkan oleh emosinya karena dia sedang berproses untuk menyembuhkan diri. Anya sampai mempertanyakan Tuhan, pun, itu merupakan hal yang lumrah terjadi. Namanya juga dia sedang menjalani healing process, pasti semua emosi harus dia curahkan. Justru bahaya kalau dia hanya memendam emosinya saja. Dan di balik kemarahan Anya tersembunyi rasa sakit yang luar biasa. Rasa sakit dan kemarahan inilah yang juga signifikan bagi kesembuhan Anya. Semakin dia mengenali rasa sakit dan marahnya, ini justru semakin bagus, karena berarti Anya menyadari bahwa ada yang perlu disembuhkan dari dirinya. Ini juga, kan, yang menggerakkan Anya untuk bergerak mencari cara menyembuhkan diri secara logis itu?

Ale juga berada di tahap ini. Bedanya, Ale cenderung mengarahkan kemarahannya selalu ke Anya sejak awal. Bahkan, sampai akhir, ketika dia menyadari bahwa Anya tidak pernah mengunjungi makam, Ale tetap mengarahkan kemarahan kepada Anya.

Tahap 3 - Bargaining
What if?
If only...

Terus saja seperti itu.

Tahap 4 - Depression
Saya hampir tidak melihat Ale mengalami tahap ini, kecuali fakta bahwa dia menolak untuk masuk kamar yang menjadi pelarian Anya setiap malam pasca momen kehilangan. Tetapi, semua perilaku yang ditunjukkan oleh Anya itu jelas berada di tahap depresi. Bukan berarti Anya mengalami gangguan depresi, ya. Hampir, mungkin saja. Siapa yang tidak akan menjadi emotionally depressed bila mengalami yang dialami oleh Ale dan Anya?

Tahap 5 - Acceptance
Penekanan dalam hal ini bukan berarti kita harus sudah melupakan dan sepenuhnya mengikhlaskan. Melainkan, lebih kepada mau menerima apapun yang terjadi sebagai bagian dari perjalanan hidup kita. Terkadang kita langsung beranggapan bahwa acceptance means totally move on dan harus langsung menjalani kehidupan normal dan bahagia lagi seperti sebelum momen kehilangan terjadi. Justru, acceptance merupakan proses awal dari move on. Ini merupakan periode awal dari masa tenang, setelah sebelumnya gonjang-ganjing -- atau istilahnya Ale; seperti gempa yang nggak berhenti mengguncang sampai hari ini.

Maka dari itu saya sepenuhnya okay dengan ending di buku Critical Eleven. Memang ada kesan bahwa setelah semua "drama" sepanjang ratusan halaman sebelumnya, kok penyelesaiannya begitu doang? Akan tetapi, jika kita melihat dari proses grieving, fakta yang terjadi pada Anya pada ending tersebut merupakan hal yang memperkuat kesediaan Anya untuk mulai memaafkan Ale dan menerima kematian the loved one, yang kemudian juga memperkuat kesediaan Ale untuk lebih membuka diri.

Bukan berarti semua sudah selesai atau dianggap selesai. Ini lebih kepada usaha Ale dan Anya untuk mencoba berbaikan terhadap satu sama lain, setelah selama berbulan-bulan sibuk dengan grieving masing-masing tanpa pernah berusaha melalui proses grieving itu bersama-sama. Jadi, yang baru selesai di sini adalah "marahan" antara Ale dan Anya, untuk kemudian mereka bersama-sama mencoba move on dengan saling membantu, saling support -- hal yang sebelumnya tidak mereka lakukan bersama.

By the way...

Saat ini sudah ada modifikasi dari teori Elisabeth Kubler-Ross ini. Jadi ada 7 tahapan, yaitu:
  1. Shock, dimasukkan ke dalam initial stage setelah menerima kabar buruk
  2. Denial
  3. Anger
  4. Bargaining
  5. Depression
  6. Testing, mencari solusi realistis
  7. Acceptance


***

Sumber Gambar: Hai-Online

Critical Eleven sudah diadaptasi ke dalam film layar lebar, dengan deretan pemeran yang sudah tidak asing lagi bagi penikmat film Indonesia. Reza Rahadian berperan sebagai Aldebaran Risjad dan Adinia Wirasti berperan sebagai Tanya Laetitia Baskoro. Film ini diproduksi oleh Starvision dan Legacy Pictures, serta digarap oleh Monty Tiwa dan Robert Ronny. Naskah film ditulis oleh Jenny Jusuf.

Agak di luar ekspektasi saya, sebenarnya, mengenai pemilihan Reza Rahadian sebagai Ale. Tapi, berhubung ini adalah pilihan dari Ika Natassa langsung, jadi harus tetap dihargai.

Poster filmnya, sih, yang paling membuat heboh duluan. 

Take a look...

Sampai ada yang sensor. Hahaha...


Saya sendiri lebih fokus pada latar yang menjadi background foto. Itu jembatan Brooklyn, kan? Berarti scene yang juga saya anggap penting terkait masa-masa bahagia Ale dan Anya akan tetap ada dong, ya... Ini sesuai dengan bayangan saya mengenai filmnya juga. Terbayang keseruan Ale dan Anya berburu kuliner. Hehehe.

Selain itu, ada beberapa poin harapan saya mengenai filmnya. Poin-poin ini saya harap tetap ditonjolkan di dalam film Critical Eleven.

Pertama, terkait dengan proses grieving yang dialami Anya sejak awal momen kehilangan terjadi, kemudian dilanjutkan dengan pernyataan Ale yang menyakiti Anya, lalu proses Anya menjalani proses grieving tersebut, serta bagaimana Anya berkutat dengan segala teori grieving demi menemukan solusi penyembuhan diri secara logis. Menurut saya, dan sudah saya singgung juga di atas, orang dengan pekerjaan seperti Anya sangat wajar jika berusaha mencari pendekatan logika ketika berusaha menyembuhkan diri, walaupun ini sebenarnya bertentangan dengan karakter Anya yang cenderung berpikir dengan merasakan. Inilah yang kemudian, jika dikombinasikan, menyebabkan terjadinya bentrok atau internal struggle antara otak dan hati Anya. Semua pendekatan logika yang dilakukan oleh Anya akan selalu bentrok dengan jiwa dan perasaannya, yang lebih menginginkan dukungan moral dan kasih sayang dari Ale

Nah, ini serunya...

Saya membayangkan ini diperlihatkan lewat slide demi slide dari setiap scenes yang memperlihatkan Anya sedang struggle antara menuruti logika atau menuruti perasaan. Ditambah dengan inner monolog dari orang ke-tiga, yang juga tersampaikan oleh Anya di dalam buku.
I'm starting to speak to myself in the third-person. This is not healthy. (p. 225)

Kedua, saya sudah menyebutkan bahwa Ayah Risjad merupakan favorit saya di Critical Eleven, belum? 

Seriously, saya ingin sekali keberadaan Ayah Risjad di dalam film tetap dibuat sangat signifikan perannya dalam mendorong Ale untuk segera melakukan real action. Saya sudah membayangkan percakapan antara Ale dan Ayah Risjad ini akan menjadi salah satu highlight di dalam film, sama ketika saya melihat percakapan mereka sebagai highlight di dalam buku.

Momen ketika Ayah Risjad menyadarkan Ale bahwa sebagai suami kepada istrinya, ada hal tertentu yang seharusnya dia lakukan ketika suami-istri berhadapan dengan konflik. Menurut saya, ini sangat penting untuk diperlihatkan karena momen ini merupakan turning point bagi Ale untuk benar-benar melakukan real action dalam memperbaiki hubungannya dengan Anya.

Reza Rahadian dan Adinia Wirasti

Ketiga, ketika Ale merasa hubungannya dengan Anya sudah membaik, sementara bagi Anya belum ada yang membaik. Ini menekankan tentang betapa berbedanya pemaknaan antara Ale dan Anya terhadap masalah mereka berdua. Cara mereka menyikapi masalah memang cenderung sama, menurut saya, tetapi bagaimana mereka memaknai masalah/konflik ini terlihat sekali berbedanya. Sehingga, ketika konflik terjadi maka proses untuk "nyambung" lagi itu terasa sulit bagi mereka -- terutama bagi Anya.

Keempat, ini major spoiler, maaf... 

Saya sudah menyampaikan juga bahwa saya okay saja dengan ending versi buku. Itu realistis bagi saya. Tapi, saya berharap ada penekanan lagi di dalam filmnya, bahwa bagaimanapun mereka tetapi masih pada fase berproses untuk memperbaiki hubungan. Bukan benar-benar sudah normal lagi hubungannya. Well, di buku tidak ada kesan hubungan sudah sangat normal seperti sebelumnya, sih. Makanya saya suka dengan ending tersebut. Ada beberapa teman yang menganggap ending terlalu "maksa". Kalau bagi saya, justru seperti itulah gambaran fase awal ketika pasangan yang bertengkar dalam waktu lama akhirnya mau berproses bersama untuk move on dari konflik. Bukan berarti semua sudah selesai, seperti yang saya sebutkan juga di atas, melainkan mereka baru memulai untuk bersama-sama move on. Jika sebelumnya mereka menjalani proses grieving sendiri-sendiri, maka sekarang mereka melalui proses acceptance bersama-sama.

But overall... Saya hanya berharap supaya filmnya mampu menerjemahkan bukunya dengan baik. Itu saja. Bagaimanapun juga, tema dari Critical Eleven ini sangat bagus untuk menyadarkan banyak orang bahwa pernikahan itu tidak melulu mengenai hal yang menyenangkan. Ada kalanya pasangan akan berhadapan dengan konflik, yang mungkin saja sangat berat, dan mengancam keberadaan pernikahan itu sendiri. Itulah yang membuat saya mengganggap Critical Eleven ini sebagai buku Ika Natassa yang temanya realistis dan mudah sekali ditemui di banyak kehidupan pernikahan.


***

Details
Identitas Buku
Judul: Critical Eleven
Penulis: Ika Natassa
ISBN: 978-602-03-1892-9
Halaman: 344+
Terbit: Maret 2016 (Cetakan kesebelas)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Katalog)
Harga: Rp 79.000

Alternatif Lokasi Pembelian Buku
Gramedia, Grobmart


***



Tulisan ini diikutsertakan di dalam Lomba Resensi Novel Critical Eleven - Ika Natassa yang diadakan oleh Gramedia.

Berikut ini adalah lokasi yang menjadi tempat saya menyebarkan link resensi Critical Eleven di semua media sosial saya:
  1. Blog
  2. Twitter
  3. Instagram - Intro, Personal Comment, Simple Trailer
  4. Facebok
  5. Fanpage
  6. Goodreads


Cheers!
Have a blessed-day!