24 December 2016

Porno! A-Z about Ponography by Azimah Soebagijo



Judul: Porno! A-Z about Ponography
Pengarang: Azimah Soebagijo
Ilustrator: Telia
Jenis: Non Fiksi, Materi Sex Education
ISBN: 979-793-138-2
Penerbit: Femmeline (Syaamil Cipta Media Group)
Tahun Terbit: 2006
Jumlah Halaman: 156++



Pernah nggak kamu bayangkan semua ini?
Lelaki yang kamu harapkan akan selalu menyayangi, menjaga, dan melindungi kamu, justru menjadi monster menakutkan.


***



Pernah nggak suatu kali teman kamu ngajak "belajar bersama" mengenai pendidikan seks? Padahal yang sebenernya temen kamu maksud adalah ngajak kamu nonton VCD porno bareng. Biasanya dilakukan saat di rumah lagi nggak ada orang. Awalnya ikut-ikutan, lama-kelamaan malah jadi acara rutin. Bahanya bila sampai dipraktikkan. Benarkah perilaku demikian disebut pendidikan seks?

Hmm...

Pendidikan seks itu apa dong?
Bedanya pendidikan seks dan pornografi apa?

Hal-hal terkait pertanyaan itulah yang, oleh penulisnya, berusaha diangkat di dalam buku Porno! ini.

Buku Porno! tidak hanya mengajak kita berpikir, melainkan juga memberikan data-data mengenai apa saja materi yang terkait dengan pornografi dan pendidikan seks. Tidak hanya dari data yang secara umum sudah banyak beredar, melainkan juga lewat contoh-contoh kasus.

Misalnya, ada data ilmiah yang disampaikan bahwa mengkonsumsi pornografi akan memunculkan efek yang bertahap, yaitu:
  1. Tahap addiction. Sekali menyukai pornografi maka akan ketagihan. Seseorang yang ketagihan, sekali saja tidak mengkonsumsi pornografi, maka dia akan gelisah.
  2. Tahan escalation. Ada kebutuhan terhadap materi seks yang lebih eksplisit, lebih "menyimpang" dari yang biasa dikonsumsi.
  3. Tahap desensitization. Materi seks yang tadinya dianggap tidak bermoral dan melecehkan martabat manusia akan dianggapnya menjadi sesuatu yang biasa. Contoh yang sering banyak terjadi, ketika ada pelaku pemerkosaan yang dibela oleh orang-orang yang sudah menjadi begitu adiksi pada pornografi. Bahkan mereka tidak segan menyatakan bahwa yang bersalah adalah korban dan meminta supaya pelaku tidak layak diberikan hukuman berat.
  4. Tahap  act-out. Di sini, dia tidak lagi hanya menjadi "penonton" tetapi juga sampai mempraktekkan langsung.
Masih banyak data lainnya yang disampaikan di dalam buku ini, baik dari data ilmiah maupun contoh kasus dan semuanya menarik.

Hanya saja, penulis cenderung lebih berpihak pada korban anak dan perempuan. Bukan menjelaskan bahwa kasus-kasus yang terjadi, misalnya kekerasan seksual, juga bisa menimpa korban laki-laki dan lagi-lagi, bukan hanya anak laki-laki yang berpotensi menjadi korban, melainkan laki-laki dewasa juga.

Selain itu, pemaparannya juga terlalu "dewasa", dalam arti diperuntukkan bagi orang dewasa. Walaupun ada "klaim" bahwa bacaan ini cocok untuk remaja, tetapi lebih banyak mengeksplor penemuan di dunia dewasa.



Cheers!
Have a blessed-day!















#SexEdu

Beberapa buku yang saya gunakan sebagai referensi ketika memberikan sex education kepada anak dan remaja.
  1. Partisipatory Research on Commercial Sexual Exploitation
  2. HIV & AIDS
  3. Ngobrol Soal Tubuh dan Seksualitas 
  4. EnSexclopedia
  5. Bagaimana Harus Memulainya?  
  6. Porno!