24 December 2016

Ngobrol Soal Tubuh dan Seksualitas: Cerita Bergambar untuk Remaja dan Orangtua by Kristi Poerwandari & Atashendartini Habsjah



Judul: Ngobrol Soal Tubuh dan Seksualitas - Cerita Bergambar untuk Remaja dan Orangtua
Pengarang: Kristi Poerwandari & Atashendartini Habsjah
Ilustrator: Kristi Poerwandari
Jenis: Non Fiksi, Materi Sex Education
ISBN: 979-96205-3-8
Penerbit: Pusat Kajian Wanita Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia (dengan dukungan dari the Ford Foundation)
Tahun Terbit: 2006
Jumlah Halaman: 115++


BLURB

Masa remaja adalah masa "bergejolak". Remaja bukan lagi anak-anak, karena secara fisik mereka sudah tumbuh dan berkembang alat-alat seksual-reproduksinya. Ketertarikan dan hasrat seksual sudah mulai ada. Tetapi remaja juga belum dapat disebut orang dewasa, dan masih sangat memerlukan bimbingan bijaksan dari orang-orang dewasa di sekitarnya, khususnya orangtua.

Buku ini mengajak orangtua untuk bersikap terbuka pada anak perihal seksualitas, sehingga anak merasa nyaman bertanya dan bercerita bila ada hal-hal yang dibingungkan atau terjadi padanya. Dengan demikian anak tidak perlu lari pada pihak-pihak lain yang tidak jelas kepeduliannya, atau dipengaruhi secara negatif oleh bombardir mater-materi yang mengumbar seksualitas demi mengeruk keuntungan semata.

Percakapan membahas soal menstruasi, fertilitas dan infertilitas, bagaimana mengelola ketertarikan dan hasrat seksual, serta penyakit menular seksual. Juga dibahas pentingnya mengelola dan menghormati diri sendiri dan lawan jenis, utamanya yang terkait dengan bias-bias pemahaman mengenai seksualitas perempuan. Karenya, dibahas juga soal kehamilan remaja, kekerasan seksual, bagaimana remaja perempuan dapat mengembangkan asertivitas, dan pentingnya kebersamaan serta kesetaraan di antara suami dan isteri.


***



Ira Ingin Pacaran

Beberapa minggu terakhir Ira sering pulang sore, ayah ibu tidak tahu Ira melakukan apa dan ke mana, karena tidak seperti biasanya, Ira tidak mau berterus terang. Suatu pagi Ira tergesa-gesa berangkat naik sepeda ke sekolah, dan buku agendanya tertinggal di meja makan. Tanpa sengaja Ibu menjatuhkannya, dan sebuah suray kecil terbuka: "Ira sayang, nanti habis pertemuan OSIS, bisa ya kita ketemu di kantin depan gelanggang? Yang selalu kangen, Yudi."

Ira jadi sering melamun. Ia membayangkan Yudi yang ganteng, dikejar-kejar banyak teman perempuannya, ketua OSIS, jago olahraga, anak orang kaya. Wah, hebat sekali, cowok yang sempurna tidak ada kekurangan sama sekali. Dan yang lebih penting, Yudi bilang sayang pada Ira. Mengingat Yudi memegang tangan dan mencium pipinya saja Ira sudah gemetar dan dag-dig-dug...

Yudi is the best.
Begitu kata Ira.

Minggu pagi saat Ira bangun, ibu dan ayah sudah sibuk bekerja. Ibu membuat nasi goreng di dapur, sementara ayah sedang sibuk menguras kolam ikan di depan rumah. Ibu menyalami Ira, dan bertanya apakah buku Fisika titipan ibu sudah dibelikan Ira, dan bukankah kemarin Ira bilang mau mampir ke toko buku? Ira benar-benar kaget. Ia lupa. Ia sudah mabuk kepayang Yudi yang ketua OSIS. Ira meras menyesal sekali. Ibu bertanya, memangnya Ira kemana saja, seperti sibuk sekali? Ira merasa bersalah kalau ia harus membohongi ibunya. Akhirnya ia bercerita dengan jujur.

Memang cinta itu seperti apa sih Ira?

Ya... Kalau kita deg-degan gitu. Cuma ingat dia jadi deg-degan, apalagi kalau ketemu dna duduk berdekatan. Dia keren banget bu, banyak cewek naksir dia, tapi dia bilang cuma Ira yang dia sayang. Tiap hari pulang sekolah kita ngobrol dulu di kantin atau di mana saja deh tempat yang enak. Rasanya bangga sekali bisa pacaran dengan ketua OSIS SMP Bangun Indonesia...

Coba jelaskan ke ibu yang kamu sebut dengan pacaran itu seperti apa...

Ya kan cewek dan cowok yang saling cinta itu kan pacaran namanya bu. Ya jalan-jalan, pegangan tangan, cium-cium pipi boleh dong...
Benar cuma jalan-jalan, ngobrol bareng dan belajar bareng? Tidak lebih dari itu? Beberapa penelitian misalnya yang dilakukan di Yogya menunjukkan bahwa remaja ketika pacaran sudah melakukan hal-hal yang jauh daripada sekadar pegangan tangan dan ciuman pipi. Mereka juga ciuman bibir, malah ciumannya bisa sangat hot, jadi lalu keterusan. Coba keterusannya kira-kira bisa apa saja...

Ya mungkin raba-rabaan ya bu? Terus temanku ada yang bilang dia suka dipegang-pegang dadanya oleh pacarnya. Bu, petting itu apa sik?? Terus necking itu apaan?

Lha Ira sudah tahu istilah-istilah itu, pasti pernah baca atau pernah dikasih tahu teman. Dari yang Ira tahu, apa itu petting dan necking?

Iya aku memang pernah baca di majalah, tetapi tidak mengerti. Kata temanku petting itu kalau raba-rabaan sampai tangannya sudah masuk-masuk ke dalam celana, apa ke balik blus, megang-megang, mengelus, menciumi gitu badan kita, buah dada kita dan macam-macam. Terus alat kelamin kita juga diraba-raba. Mungkin juga sudah lepas baju begitu. Kalau necking aku enggak tahu maksudnya apa.

Ya, petting memang tindakan yang sudah sangat jauh, yang harus dihindari, karena begitu kita melakukannya, kita mungkin sudah tidak bisa mengendalikan nafsu kita. Cium-ciuman yang panas gitu, lalu meraba-raba. Ingat daerah buah dada dan alat kelamin kamu itu sensitif sekali. Kalau diraba-raba kamu bisa terangsang, dan nantinya jadi sulit sekali mengendalikan diri. Petting itu sampai saling menciumi dan meraba daerah-daerah yang sensitif itu, sering sudah tanpa baju, atau tangan kita masuk ke mana-mana di balik baju. Kalau neckingneck itu leher kan? Ya berarti orang dicium-ciumi di lehernya sampai bagaimana gitu. Itu juga bisa sangat membuat kita terangsang...

Jadi Ira mau pacaran yang bagaimana? Sekali kita melangkah melakukan tindakan tertentu, sering sulit untuk menyetop. Itu yang ibu khawatir. Umur Ira belum sampai 14 tahun. Kalian masih sangat muda, tapi secara biologis sudah mulai dewasa dan sudah tertarik pada seks. Jadi sudah mulai ada hasrat-hasrat untuk berpelukan, berciuman, dan macam-macam. Dan kalau sudah ke sana, nanti mungkin jadi ingin melakukan yang lebih lagi... Ibu khawatir Ira jadi tidak bisa berkonsentrasi lagi ke pelajaran dan aktivitas-aktivitas kamu yang bagus-bagus itu. Coba saja, buktinya Ira punya banyak waktu kemarin, tetapi lupa membelikan buku Fisika yang ibu minta kan? Boleh juga pacaran, tetapi jangan sampai mengganggu pelajaran, tahu batas-batas, dan tetap berteman dengan teman-teman yang lain juga ya?

Malu deh.
Batin Ira.

Bagaimana kalau Ira berteman dekat saja dengan Yudi? Jangan disebut pacaran deh, jadi teman istimewa saja. Jadi, Ira akan terhindar dari keinginan dan perilaku-perilaku yang riskan untuk dilakukan. Tetapi harus tetap berteman dengan banyak teman lain juga. Bisa?

Ira mengangguk. Bagaimanapun, kata-kata Ibunya ada benarnya. Ia berpikir-pikir bagaimana baiknya. Bagaimana kalau hubungannya dengan Yudi dianggap hubungan persahabatan "sangat istimewa" saja?


***


Cuplikan di atas merupakan salah satu adegan pembahasan antara tokoh ibu dan Ira. Di dalam buku ini, ada empat orang tokoh, yaitu Ira, Ari, Ibu dan Ayah.

Ira berumur 13,5 tahun. duduk di kelas II SMP Bangun Indonesia. Ira adalah seorang gadis hitam manis yang mulai beranjak dewasa, sangat aktif dalam kegiatan OSIS, membawahi bidang kesenian, dan senang bergaul. Ira senang sekali bahasa dan sudah jadi juara pidato berbahasa Inggris waktu baru berusia 11 tahun.

Ari adalah saudara laki-laki, sekaligus saudara kembar Ira. Jadi umurnya tentu saja sama, yaitu 13,5 tahun juga. Karena Ira dan Ari tidak mau bersekolah di sekolah yang sama, Ari bersekolah di SMP Peduli Bangsa. Ari sama pintarnya dengan Ira, tetapi memiliki sifat berkebalikan dari saudara kembarnya. Ari cenderung suka menyendiri, lebih senang membaca.

Nah, satu keluarga tersebut menjadi tokoh sentral di dalam setiap pembahasan mengenai hal-hal yang terkait dengan seksualitas dan organ reproduksi di dalam buku ini. Sesuai judulnya, Ngobrol Soal Tubuh dan Seksualitassetting di buku ini memang seputar "ngobrol santai". Dilengkapi dengan ilustrasi sederhana terkait setting tersebut.

Memang ada kesan menggurui di dalam percakapan yang ada di dalam buku, tetapi menurut saya wajar sekali. Posisi Ira dan Ari sebagai anak ayah dan ibu yang masih remaja sangat rentan untuk menerima informasi yang salah, jadi sangat wajar jika ayah dan ibu memberikan penjelasan yang menggurui supaya Ira dan Ari tidak salah melangkah. Tepat sasaran dan tanpa harus memberikan penjelasan yang berupa analogi, karena analogi akan berpotensi disalah-artikan oleh remaja seperti Ira dan Ari.

Beberapa pembahasan yang ada di dalam buku merupakan pembahasan yang sifatnya tidak sederhana tetapi penting untuk diketahui oleh remaja. Maka, wajar pula jika kesan menggurui terasa kental karena peran orangtua di dalam memberikan penjelasan sama seperti guru yang sedang mengajari siswanya mengenai materi yang baru bagi siswa mereka. Jika buku ini dibaca oleh remaja, maka informasi yang tepat dan bersifat mengajarkan ini penting sekali supaya tidak membuat mereka salah arah.

Selain itu, buku ini juga seperti "modul" bagi pendidik, orangtua, maupun orang dewasa ketika mengajarkan kepada remaja di sekitar. Jadi, informasi yang banyak diberikan dari sudut pandang orang dewasa.

Ada beberapa kesan dari teman-teman atau kenalan saya yang membaca buku ini. Menurut mereka ada pembahasan yang "terlalu vulgar". Bagi saya, tidak. Isu di dalam buku ini dan pembahasan-pembahasannya tidak vulgar, apalagi tabu. Penulisnya, Kristi Poerwandari atau akrab disapa Mbak Iput, merupakan dosen saya saat S1 dulu. Beliau memang banyak berkecimpung di dunia remaja dan perempuan. Aktif juga dalam mengkaji isu-isu terkait. Selain itu, dia dan Yayasan Pulih miliknya, sangat aktif memerangi isu-isu yang terkait dengan perempuan dan anak. Saya memiliki keyakinan bahwa buku ini dibuat juga dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman saat beliau menangani kasus-kasus yang terkait dengan pembahasan-pembahasan di dalam buku. Jadi, saya juga yakin jika isu-isu yang dibahas di sini memang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh remaja sekarang.

Dari pengalaman saya dalam menangani kasus serupa, tokoh Ira dengan pertanyaannya seputar aktivitas seksualitas remaja di atas merupakan tokoh yang pengetahuan dan pengalamannya ada di level basic. Pembahasannya bersama tokoh ibu merupakan pembahasan paling sederhana terkait dengan isu pacaran. Ini sama dengan kesan yang saya dapatkan ketika memberikan materi terkait pacaran yang sehat vs tidak sehat dalam pelatihan sex education di salah satu SMP di Depok tahun 2011. Siswa-siswi di sana bahkan lebih "polos" lagi. Bagi saya, sampai saat itu, mereka masih ada di posisi "aman", seperti Ira.

Bandingkan dengan pengalaman saya lainnya, terutama ketika masih aktif berkegiatan di penjara anak, menjadi konselor di child-help line, serta berkegiatan di beberapa komunitas anak dan remaja di Jakarta dan Bogor. Ditambah dengan beberapa pengalaman ketika menangani klien anak dan remaja saat saya kuliah profesi seperti sekarang. Sebagian besar kasus yang saya temui, anak dan remaja yang saya tangani saat itu berada di level medium, bahkan tidak sedikit yang sudah di level advance. Materi seperti yang dijelaskan oleh ibu kepada Ira pasti akan dianggap angin lalu oleh mereka. Jadi tentu saja diperlukan pendekatan dan materi yang menyesuaikan lagi. Kalau dari pengalaman saya berhadapan dengan anak dan remaja dengan level medium dan advance, tidak mempan jika mereka diberi pilihan untuk melakukan aktivitas berpacaran sehat, dalam arti tanpa aktivitas seksual apapun dan mementingkan akademik. Tidak mempan juga jika sekedar diingatkan dosa ini dan itu, apalagi jika berhadapan dengan yang di level advance, yang bahkan pengetahuan dan pengalamannya bisa jauh melebihi saya. Akan semakin tidak mempan ketika pembahasan serupa diberikan kepada mereka yang bekerja di bidang yang sangat riskan, ada kebebasan aktivitas seksual yang mungkin tanpa batas. Pendekatannya harus khusus lagi.

Bandingkan pula dengan pengalaman lain saat berhadapan dengan remaja SMP-SMA yang sampai harus menikah di usia tersebut karena "kecelakaan". Ini tentu butuh pendekatan lebih khusus lagi karena masalah yang mereka hadapi akan lebih kompleks.

Buku ini adalah bekal bagi saya saat berhadapan dengan remaja dan, sejauh ini, sangat bermanfaat. Paling tidak, saya tidak mau menjadi seperti salah satu orangtua klien saya, yang bercerita bahwa dia tidak tahu harus menjawab apa saat anaknya -- yang baru menginjak usia remaja -- tiba-tiba bertanya, "Ma, intercourse itu apa?". Lebih bingung lagi ketika anaknya, yang senang bermain online games dengan adegan kekerasan -- bahkan ada yang mengandung konten seksual yang sangat eksplisit -- bertanya, "Ma, kenapa pas orang ML harus begitu posisinya? (sambil menirukan adegan-adegan yang dia lihat)".

Buku-buku atau modul-modul dengan pemaparan seperti di buku ini jelas penting bagi kita supaya kita juga bisa siap menjelaskan saat ada anak dan remaja yang menanyakan isu-isu seputar seksualitas.



Cheers!
Have a blessed-day!















#SexEdu

Beberapa buku yang saya gunakan sebagai referensi ketika memberikan sex education kepada anak dan remaja.
  1. Partisipatory Research on Commercial Sexual Exploitation
  2. HIV & AIDS
  3. Ngobrol Soal Tubuh dan Seksualitas 
  4. EnSexclopedia 
  5. Bagaimana Harus Memulainya?
  6. Porno!