28 December 2016

And My Very First Book Was...

Jadi begini...

Kalau diminta untuk bercerita tentang buku pertama, jelas saya kebingungan total hahaha. Saya tidak ingat buku apa yang pertama kali saya baca atau buku mana yang pertama kalinya dibacakan kepada saya. Kita asumsikan saja, saya mulai membaca dan/atau dibacakan buku itu ketika saya berusia 2-3 tahun (dengan asumsi bahwa saya dibacakan dan/atau mulai membaca buku saat saya sudah lancar berbicara), maka kejadiannya sudah 26-27 tahun yang lalu hahaha. Ditambah dengan kemungkinan bahwa yang membacakan atau membantu saya membaca adalah Ayah - Ibu - Andung (panggilan saya untuk Nenek dari pihak Ibu) - Uncu (Tante bungsu dari pihak Ibu) yang saat itu secara aktif mengasuh saya, maka ada banyak sekali kemungkinan jenis bacaan yang saya "lahap" pertama kali. Apalagi, Ayah/Ibu/Andung/Uncu sama-sama senang bercerita dan memiliki hubungan yang dekat dengan saya, dan beliau berempat tadi memiliki latar belakang yang berbeda-beda yang pastinya akan turut mempengaruhi bacaan yang dicekoki ke saya, jadi saya menjadi semakin tidak yakin jenis bacaan seperti apa yang saya terima pertama kali, hahaha.


Ayah, kemungkinannya akan "meracuni" saya dengan segala jenis koran yang beliau baca (terutama yang terkait dengan berita politik dan pemerintahan). Dengan latar belakangnya sebagai lulusan IAIN, ada kemungkinan juga bahwa saya "dihajar" dengan bacaan terkait agama Islam. Mulai dari Juz Amma, buku Iqro, atau dongeng terkait cerita agama. Atau... lebih nganu lagi kalau ternyata yang beliau sodorkan kepada saya pertama kali adalah buku tafsir Al-Qur'an yang sering saya baca dulu selama SMA, hahaha. Saya sih yakin, dengan karakter Ayah, saya memang dicekoki dengan buku-buku tersebut. Paling tidak, saya dibacakan dan/atau diajak membaca koran-koran langganan beliau, mengingat saya pernah cinta mati dengan koran fisik hingga SMA. Setelah kuliah, saya masih cinta dengan koran hingga sekarang, tetapi tidak lagi cinta mati karena saya berpaling ke koran-koran online juga. Halah.

Ibu, sebagai guru Sejarah, kemungkinannya akan membuat saya membaca dan/atau dibacakan buku-buku terkait Sejarah, hahaha. Minimal, hmm, terkait dengan legenda-legenda nusantara. Tetapi, mengingat betapa senangnya beliau untuk "memaksa" saya membaca textbook Sejarah sejak saya SD hingga SMA (terutama terkait profesi beliau sebagai guru Sejarah tingkat SMA) setiap kali saya mempunyai PR di pelajaran Sejarah (ya, saya sempat mengalami pelajaran bernama PSPB juga hahaha), ditambah beliau adalah tipe yang menolak keras untuk memberikan saya kunci jawaban secara langsung, maka saya agak yakin bahwa buku pertama saya kemungkinannya adalah textbook Sejarah. Sounds nganu? Sebenarnya okay saja bagi saya hahaha. Yang jelas, ini sangat jelas, Ibu saya senang bercerita. Jadi, saya lebih yakin bahwa Ibu mengenalkan cerita kepada saya pertama kali bukan melalui buku, melainkan melalui cerita-cerita langsung. Baik cerita yang merupakan pengalaman Ibu sehari-hari atau kisah-kisah masa muda beliau, atau cerita-cerita yang mungkin Ibu ciptakan sendiri.

Tante bungsu alias Uncu, nah ini mungkin akan lebih random lagi. Beliau, saat ikut secara aktif mengasuh saya hingga saya berusia 4-5 tahun, sedang menjalani kehidupan sebagai mahasiswi jurusan Bimbingan dan Pendidikan (yang kemudian berubah nama menjadi Bimbingan dan Konseling). Ditambah perawakan Uncu yang mungil dan karakter yang cheerful, dan Uncu juga senang bernyanyi, maka kemungkinan besar buku-buku yang diperkenalkan pertama kali ke saya terkait dengan buku cerita anak, buku dongeng, buku anak-anak yang juga berisi lagu-lagu ini dan itu, serta buku sejenis lainnya. Ini juga sejalan dengan apa yang saya alami ketika mulai masuk TK. Selain itu, Uncu juga tipikal yang sangat senang bercerita, sama seperti Ibu, dengan kemungkinan jenis cerita yang lebih beragam. Seperti kakak, begitulah adiknya, hahaha. Jadi, ada juga kemungkinan bahwa cerita yang pertama kali saya dengar dari Uncu juga bukan dari buku, melainkan dari cerita-cerita yang beliau sampaikan langsung kepada saya.

Sementara Andung... Nah, ini... Seperti Ibu dan Uncu, Andung juga senang bercerita. Seperti Ibu, begitulah anak-anaknya, hahaha. Semasa saya kecil, terutama hingga saya berusia 4 tahun dan kemudian Andung meninggal, setiap pagi saya pasti digendong di punggung Andung. Saya mendengarkan cerita beliau sambil menikmati udara pagi di halaman depan rumah lama yang ditumbuhi banyak bunga-bunga. Untuk buku bacaan, hmm, saya benar-benar tidak dapat mengingat kira-kira buku apa yang diberikan Andung kepada saya, hahaha. Kemungkinannya sih, terkait dengan cerita daerah Lampung atau fable. Khusus fable, saya agak yakin karena Andung seringkali mengajak saya untuk berinteraksi dengan hewan-hewan. Ketika Andung mengajak saya ke halaman pun, pasti tidak pernah lepas dari kegiatan bersama kupu-kupu, burung, capung, kepik, dan serangga kecil lain yang sering hinggap di pepohonan.

So...
My very first book was... 

Sungguh Misteri Ilahi sekali wujud dan penampakannya apa. Jangankan judul bukunya, saya bahkan tidak ingat lagi wujudnya yang seperti apa, hahaha.

Maaf yaa...

Tetapi, mengingat betapa kerennya rada nganu-nya saya terkait aktivitas membaca dan bercerita, saya yakin sekali kalau beliau Ayah-Ibu-Andung-Uncu beserta dengan segala jenis bacaan yang mereka perkenalkan kepada saya di masa toddler dulu adalah kunci untuk anu saya tadi. Tidak mungkin saya bisa membentuk kebiasaan membaca seperti sekarang, kalau keluarga tidak mendukung ke arah sana sejak saya muda belia belum berlumur dosa. Iya, kan?! Hahaha...

Dari pada saya semakin ngalay, bercerita penuh kebingungan anu-anuan tidak jelas, jadi lebih baik saya menceritakan buku pertama yang saya beli saja... Ini lebih jelas, hahaha.

Seingat saya, buku pertama yang saya beli dengan harga super murah dan tanpa harus bersusah-payah menyisihkan uang saku adalah...

Cekidot...

Familiar dengan buku-buku ini?

Atau kenal dengan nama Tatang S?

Yak!

Buku-buku pertama yang saya beli dengan bermodal uang saku adalah buku-buku Tatang S, terutama buku-buku tentang kisah Petruk dan Gareng seperti di atas, hahaha. Harganya sangat murah, saya tidak perlu menabung untuk bisa membeli buku-buku tersebut di mamang-mamang yang bertebaran di depan SD saya dulu, berjajar bersama segala jenis jajanan berupa makanan dan mainan lainnya. Di depan SD saya dulu memang banyak sekali penjual ini dan itu, mungkin karena berdekatan dengan dua SD lainnya dan sekolah saya sendiri memiliki murid dari TK-SMP. Jadi, memang sangat wajar kalau di depan sekolah bertebaran aneka jajanan seperti itu. Belum lagi letaknya yang di pusat kota. Strategiiiiisss untuk berjualan, hahaha.

Serial Petruk dan Gareng (penerbit TB Gultom Agency, Jaya Agency, Cahaya Agency, atau Tatang S Agency) sebenarnya agak nganu ya, mengingat ceritanya tidak untuk dikonsumsi anak-anak, hahaha. Pantas saja dulu orang tua saya sering mengomel jika saya ketahuan membeli buku-buku ini. Isinya seringkali penuh adegan dewasa berbumbu mistis, drama, dan kejahilan kurang ajar. Meskipun ada juga terselip kisah-kisah heroik (yang terkadang berakhir sial) di antara empat tokoh utamanya (empat tokoh Punakawan: Petruk, Gareng, Semar, dan Bagong). 

Apapun itu, yang jelas buku Tatang S yang ini laku keras di pasaran dan saya sangat menyukainya. Sepanjang SD, saya pasti membelinya. Jadi, seharusnya jumlah koleksi saya tidak terhitung, ya? Seharusnya. Kalau saja koleksi-koleksi tersebut masih ada, hahaha. Setahu saya, sudah tidak ada sisa-sisa keberadaan serial Petruk-Gareng di rumah Bandar Lampung. Lenyap tak bersisa entah ke mana. Apalagi, saya dulu belum tertarik untuk mengoleksi dan hanya senang membeli buku. Gambar-gambar Petruk-Gareng di atas juga saya ambil dari website Hobijadul karena tidak ada satupun komik Tatang S yang saya pegang sekarang, apalagi di kos hahaha.

Tatang S mengenalkan saya kepada sebuah komik yang bercerita tentang humor, satir, dan kekonyolan akibat (entah) karakter polos atau lugu atau bodoh dari tokoh-tokohnya. Dulu saya hanya sekadar membaca, tanpa sepenuhnya memahami setiap makna dari kisah-kisah Petruk-Gareng yang ditawarkan oleh Tatang S. Beberapa hal bahkan tidak saya mengerti, terutama ketika ceritanya sudah berbau misteri dan adegan yang vulgar bagi anak-anak di bawah umur. Tetapi, semakin saya dewasa dan berkenalan dengan tulisan genre sejenis dari orang lain, terutama penulis-penulis baru, bagi saya tidak ada yang menandingi kapabilitas Tatang S dalam meramu cerita. 

Tatang S menawarkan paket lengkap. Segala ide cerita seolah ada dan disuguhkan kepada pembacanya melalui lika-liku kehidupan Petruk-Gareng, dan hebatnya, suasana yang ditampilkan benar-benar tentang keseharian hidup kita. Tidak heran jika, konon, Tatang S pada masanya pernah menjadi penulis dengan bayaran termahal di Bandung! Bahkan sampai menjadi pioneer kemunculan penulis-penulis lain yang namanya berakhiran "S" lainnya. 

Mungkin kalau dianalogikan di masa sekarang, booming Tatang S di masa itu seperti booming Kang Abik pasca Ayat-ayat Cinta, sehingga memunculkan penulis lain dengan gaya penulisan yang terkesan "meniru" gaya Kang Abik dan membuat nama pena berbau "Al" atau "El" seperti nama lengkap Kang Abik; Habiburrahman El Shirazy. Tetapi, bagi pembaca setianya, tidak ada nama-nama serba "Al" atau "El" lainnya dengan kualitas penulisan yang mampu menandingi Kang Abik. Nah, begitu juga bagi pembaca karya-karya Tatang S. Pasti pencinta karya Tatang S akan merasa bahwa karya penulis serba "S" lainnya -- saya tidak ingat siapa saja, yang jelas pernah menemukan karya-karya mereka terselip di antara tumpukan buku Tatang S yang dijual di mamang-mamang depan SD saya dulu -- mereka itu tidak akan pernah menyaingi kemampuan Tatang S.

Salute...

Oh, jangan lupa dengan quote yang sangat khas di buku Petruk-Gareng, yaitu...
"Salam manis tak akan habis, salam sayang tak akan hilang buat semua pencinta karya saya"

Ihhiw!!!

Selain itu...

Coba lihat gambar berikut ini. Siapkan nyali! Hahaha...

Here we go...

Hayoloo!!!

Tidak lengkap membahas Tatang S jika sebatas serial Petruk-Gareng saja, hahaha. Karya-karya Tatang S itu ada banyaaaaaak sekali. Yang saya "garap" sepanjang SD, ya termasuk juga komik Surga-Neraka, dan ini termasuk ke dalam buku-buku pertama yang saya beli berbarengan dengan serial Petruk-Gareng di atas. Semua buku Tatang S yang saya beli dulu memiliki satu kesamaan; MURAH MERIAH, hahaha. Wajar lah dengan kualitas cetakan yang memang terkesan seadanya itu, kertas koran. Saya tidak akan membahas karya-karya Tatang S lainnya. Hanya komik Petruk-Gareng dan Surga-Neraka yang masuk jajaran buku-buku pertama yang saya beli dulu. Karya Tatang S lainnya, saya ketahui di kemudian hari, ketika saya sudah semakin addict untuk mencari-tahu semua karya Tatang S. Saya sampai beberapa kali memesan secara khusus kepada mamang-mamang penjualnya jika mereka memiliki stok karya Tatang S yang lain, hahaha.

Komik Surga-Neraka sebenarnya merupakan mimpi buruk bagi anak SD seperti saya dulu, hahaha. Tatang S memang bukan satu-satunya komikus yang membuat komik Surga-Neraka (tulisan terkait sejarah komik Surga-Neraka bisa dilihat di sini dan di sini), sama seperti Tatang S bukanlah satu-satunya komikus yang membuat kisah Petruk-Gareng dan punakawan lainnya. Tetapi, saya sepakat dengan komentar banyak pihak bahwa komik karya Tatang S merupakan yang paling memorable, termasuk untuk serial komik Surga-Neraka. Bukannya apa-apa, Tatang S menggambarkan kondisi Surga-Neraka dengan detail. Hasil akhirnya, ya mengerikan untuk dilihat bagi anak cemen seperti saya. Lebih mengerikan dari pada ketika saya mulai berkenalan dengan Majalah Hidayah, hahaha.

Saya selalu ketakutan setengah hidup setiap kali membaca komik Surga-Neraka, jauh lebih ketakutan dari pada menghadapi komik Petruk-Gareng yang edisi mistis. Tetapi, entah kenapa saya malah penasaran dan selalu saja tidak kapok untuk membeli lagi dan lagi. Wajar saja kalau Ayah-Ibu sakit kepala menghadapi ulah saya dulu. Menurut mereka, anak-anak lain lebih banyak menghabiskan uang jajan dengan membeli makanan atau mainan, saya malah lebih sering menghabiskannya untuk membeli komik-komik Tatang S sepanjang enam tahun saya menempuh pendidikan SD hahaha. Apa ya, detail Tatang S dalam menggarap komik-komiknya itu outstanding bagi saya saat itu. Apalagi karena saya juga membaca manga Jepang dan membandingkannya. Jelas beda level, hahaha. Manga Jepang yang saya baca saat itu tidak ada yang penulisnya memiliki seupil saja kemampuan Tatang S dalam mendramatisir adegan. Tatang S jelas lebih spektakuler bagi saya.  

Da sapalah akoh ini sok-sokan bahas beginian...

DRAMA!!!
Hahaha...

Jangan tanya bagaimana nasib komik Surga-Neraka yang pernah saya beli-beli itu. Nasibnya kurang lebih sama dengan nasib komik Petruk-Gareng, sangat misteri Ilahi keberadaannya sekarang hahaha. Tidak ada lagi di rumah. Mungkin sudah jadi butiran debu, mungkin sudah jadi bungkus gorengan di zaman antah barantah dulu, mungkin sudah didaur ulang entah menjadi apa, atau mungkin sudah menjadi sampah "pupuk" di dalam tanah.

Baidevai...

Membahas manga Jepang, maka saya jadi teringat dengan komik Jepang pertama yang saya beli. Kali ini harus dengan menabung karena harganya mihhil untuk ukuran kantong saya sepanjang SD, hahaha. Manga ala serial cantik seperti Candy-candy dan Topeng Kaca sih saya dapatkan dari pinjam di sana sini atau dibelikan. Begitu juga dengan Doraemon, Dragon Balls, dan entah apa saja dulu. Hanya satu judul saja yang saya sampai niat sekali menabung untuk membelinya sepanjang saya SD itu.

Let's take a look...

Kenal?

Ahaks!

Buku pertama yang saya beli dengan menabung dulu adalah komik Kungfu Boy, hahaha. Awalnya saya tertarik membeli setelah sekitar tahun 1995, waktu saya peralihan dari kelas IV ke V, saya ikut lomba mewarnai di Gramedia. Lomba tersebut bertema Kungfu Boy, hahaha. Bahkan kaus peserta dan segala atribut lomba lainnya pun bergambar Chinmi. Kungfu Boy memiliki judul asli Tekken Chinmi dan dikarang oleh Takeshi Maekawa. Kungfu Boy mengupas kisah petualangan Chinmi dalam menjadi pendekar. Mulai dari kehidupan awalnya bersama kakak, dan bagaimana mereka mengurus warung makan. Sampai kemudian bakat Chinmi "ditemukan" oleh seorang biksu dan sejak itu Chinmi belajar kungfu di Kuil Dairin secara profesional. Hingga akhirnya, di edisi-edisi akhir, mengisahkan tentang perjalanan Chinmi yang sudah menjadi seorang guru dan memiliki murid bernama Gunte. 

Saya yang ikut lomba hanya demi unyu-unyuan semata dan tidak ada niat serius, apalagi kemudian saya harus meladeni curhat seorang gadis kecil seusia saya tentang kegalauan hidupnya karena dikelilingi oleh keluarga besar yang segala agama dan kepercayaan ada di dalamnya sehingga dia bingung kalau sudah dewasa harus memeluk agama apa, maka... dari pada saya sakit kepala memikirkan persoalan hidup gadis kecil tersebut yang sungguh jauh di luar nalar saya saat itu karena saya lahir dan besar dan tumbuh di dalam keluarga besar beragama Islam sehingga tidak akan bingung ingin memeluk agama apa, saya pun memutuskan "hura-hura" dengan mengulik koleksi komik Kungfu Boy di dalam toko Gramedia. 

Memang dasar niat setengah matang, dan mungkin kualat karena hanya bisa bengong dalam menanggapi curhat si gadis kecil tadi bahkan sampai berniat melarikan diri dari problematika hidup dia dengan "hura-hura" di Gramedia, akibatnya saya harus menelan pin pahit berupa ALANGKAH MAHALNYA KOMIK KUNGFU BOY UNTUK KANTONG SAYA SAAT ITU ALLOHUAKBAR!!!

Saya lalu bertekad menabung, sedikit mengurangi jatah belanja komik-komik Tatang S demi mengadopsi komik Kungfu Boy edisi perdana. Duh, sayang hih. Lagi-lagi sudah tidak ada jejak-jejak keberadaan komik tersebut di tangan saya. Seingat saya, di rumah masih ada sisa komik Kungfu Boy, entah edisi ke-berapa dan entah sekarang masih ada di dalam kamar saya atau sudah berpindah tempat, hahaha. Saya bertekad, kalau nanti beranak-pinak, saya harus jamin buku-buku anak saya dalam posisi aman terkendali. In case saya memiliki anak dengan kelakuan seperti emaknya ini, jadi saya harus sedikit "mengendalikan" masa depan dia dari kegalauan seperti saya sekarang akibat kehilangan banyak buku memorable karena buku-bukunya tidak dia jaga dengan baik hahaha.

Kungfu Boy merupakan komik pertama yang kisahnya saya anggap sangat layak dibaca. Berbeda sekali dengan manga lainnya, Kungfu Boy mengisahkan banyak nilai edukasi hahaha. Kalau dibandingkan dengan manga yang saya baca bersamaan; Doraemon yang cenderung memanjakan Nobita dan Nobita yang begitu dependent-spoiled-kid, kisah Candy-candy dan Topeng Kaca yang menurut saya terlalu "cewek banget" dan terlalu cengeng bagi standar saya saat itu sehingga sering membuat saya kesal ketika membacanya, Dragon Balls yang membuat sakit kepala karena sedikit-dikit "seolah" hanya tentang revenge dan nganu, dan entahlah apa lagi serial manga yang saya icip-icip dulu (baik yang serialnya saya ikuti maupun yang sekadar brief reading kisah di awalnya saja)... saya sampai pada kesimpulan bahwa hanya Kungfu Boy yang menjaga kewarasan saya saat itu dari segala gempuran karakter tokoh-tokoh di manga yang membuat saya sakit kepala, hahaha. Karakter Chinmi itu sangat positif. Mulai dari suka menolong tanpa pamrih, ramah, jujur, dan pekerja keras. Most favorite itu kisah Chinmi dari awal hingga dia menjalani pendidikan di Kuil Dairin. 

Rugi deh kalau belum pernah mencoba membaca Kungfu Boy, hahaha.

Sudah ah ya, sudah banyak yang saya ceritakan hahaha. Ini iseng-iseng menulis tentang buku pertama karena si Dwi membuat GA khusus untuk anggota grup WA Klub Buku Indonesia #1, saya jadi tertantang untuk mengorek kenangan ingatan tentang buku-buku apa saya yang saya baca pertama kali dulu. Neng, sudah di-follow by email tuh blog-nya, hahaha.

Sayangnya, saya gagal mengingat yang di masa toddler dan hanya sanggup mengingat buku-buku apa saja yang saya beli pertama kali dengan modal uang saku atau menabung, hahaha.

Seeyaa~

Jangan lupa ingat-ingat buku apa yang pertama kali kamu baca dulu atau buku apa yang pertama kali dibacakan ke kamu dulu atau buku apa yang pertama kali kamu beli dengan uang saku dulu atau buku apa yang pertama kali kamu beli dengan menabung dulu...

Atau...

Berceritalah tentang pengalaman kamu membaca dan mengulik bacaan, seperti "curhat colongan" saya yang ada di mana. Bisa dibaca di sini atau di sini, hahaha.

Cheers!

Have a blessed-day!