13 December 2016

Momo by Michael Ende



Judul: Momo
Pengarang: Michael Ende
Jenis: Fiksi, Fantasi
ISBN: 979-22-0943-3
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1973 (Edisi Asli) / 2004 (Edisi Terjemahan Indonesia)
Jumlah Halaman: 320++ (Edisi Terjemahan Indonesia)


***


Dalam gelap terpancar sinarmu
Dari mana asalnya, ku tak tahu.
Sepertinya dekat, tapi sekaligus jauh
Ku tak tahu siapa namamu.
Tapi, apapun engkau:
Bersinarlah, bintang kecilku!


Momo adalah seorang gadis yatim piatu dan dianggap aneh. Dia memiliki "rumah" dari bekas bioskop di sebuah kota tak bernama -- di kawasan pinggiran yang sangat ramai -- amphitheater. Momo memiliki berkah yang sangat unik, yaitu kemampuan untuk mendengarkan. Momo merupakan seorang mediator yang sangat ahli dan mampu untuk mengalahkan argumen apapun tanpa harus mengucapkan sepatah kata. Meski kemampuannya tidak setara dengan kemampuan para superhero, tetapi Momo benar-benar pendengar yang sangat baik.



Momo akan membiarkan orang-orang berbicara tentang apapun masalah yang sedang mereka hadapi. Momo mendengarkan tanpa memberikan penilaian apapun. Dia membantu orang dewasa maupun anak-anak. Momo tidak akan menyalahkan siapapun, dia hanya akan mendengarkan semua yang mereka ceritakan tanpa terburu waktu. Di sinilah "kekuatan" Momo. Kebiasaannya untuk mendengarkan orang lain dengan baik, langsung, dan juga tidak terburu waktu menjadikan kehidupan di sekitar Momo terjalin dengan harmonis.

Dunia Momo menjadi terancam ketika datang The Grey Men (Tuan Kelabu), pria-pria kecil misterius yang menjanjikan kekayaan dan juga kesuksesan kepada orang-orang yang mau bergegas memanfaatkan waktu se-efisien mungkin dan menyimpan waktunya di Timesaving Bank (Bank Waktu). Menurut para Tuan Kelabu, hidup kita terbuang percuma jika digunakan untuk tidur, mengobrol, bermalas-malasan, dan hal-hal "tidak penting" lainnya. Bahkan mereka menggunakan perhitungan Matematika dalam berargumen. Sayangnya, masyarakat di sana terkena tipu daya Tuan Kelabu. Mereka terpesona pada daya pikat penghitungan yang dilakukan Tuan Kelabu sehingga memilih untuk "menabung" dan mengekang pengeluaran waktu mereka supaya tidak sia-sia, dan berharap supaya mereka dapat menggunakan "simpanan tabungan" waktu mereka di kemudian hari.

Sama seperti analogi menyimpan uang yang biasa kita lakukan.

Masalahnya...

"menyimpan waktu" sangat berbeda dengan menyimpang uang.

Waktu bukan merupakan hal yang dapat diganti atau ditukar, seperti layaknya uang. Momo menyadari bahwa kehadiran Tuan Kelabu membuat semua waktu yang berharga, bahkan hidup kita sendiri, akan menjadi penuh resiko. Berapa pun jumlah waktu yang kita simpan akan tetap terbuang percuma jika tidak kita gunakan sebaik mungkin.

Momo melihat dampak-dampak dari penghitungan waktu ala Tuan Kelabu ketika menyaksikan bagaimana teman-temannya kehilangan kesabaran untuk mau mendengarkan kisah atau cerita dan ketika menjalin hubungan pertemanan itu sendiri.

Akhirnya, Momo memutuskan untuk melakukan sebuah misi berbahaya untuk mengalahkan Tuan Kelabu dan berharap bahwa masyarakat di sana akan menyadari bagaimana caranya menikmati setiap waktu yang kita miliki secara produktif.


***


WOW!

Momo sudah melewati masa 40 tahun semenjak pertama kali terbit dan masih menjadi bahan analisa di mana saja. Saya pertama kali membaca buku edisi terjemahan saat masih semester awal di kuliah S1 dulu. Selain membaca terjemahannya, saya juga membaca edisi bahasa Inggris (ebook).

Ada sedikit perbedaan dalam menggambarkan setiap bab di dalam novel ini. Namun, perbedaan tersebut tidak signifikan. Salah satu yang berbeda hanya di penamaan setiap bab.

Ende menjelaskan mengenai ide utama di cerita ini; WAKTU dengan sangat baik. Untuk memberikan kesan tentang bagaimana Momo memanfaatkan waktunya dengan bijak, Ende tidak memberikan deskripsi langsung dengan menyatakan bahwa Momo begini atau begitu. Ende justru mengisahkannya lewat aktivitas yang Momo lakukan bersama teman-temannya. Misalnya, ketika Momo dan teman-temannya bermain peran di bekas bioskop yang menjadi "rumah" Momo, yaitu amphitheater tadi.

Membaca kisah Momo yang berinteraksi dan menggunakan waktunya seolah membaca bagaimana Ende menikmati waktunya dalam menggarap novel ini.

Begitu kurang lebih bunyi salah satu review yang dulu pernah saya baca saat mencoba melihat bagaimana pembaca lainnya menginterpretasikan pengalaman mereka saat membaca kisah Momo.

Kisah Momo mungkin dianggap sekedar kisah anak-anak, penuh fantasi. Tetapi, sebenarnya buku ini merupakan gambaran bagaimana dunia anak dan dewasa dapat begitu berbeda.

Misalnya, penggambaran mengenai dunia Momo merupakan penggambaran bagaimana "dunia anak" berlangsung. Coba kita ingat bagaimana masa kecil kita dulu, di mana kita bebas bermain dan berinteraksi dengan teman tanpa terkungkung oleh waktu. 

Kemudian, bandingkan dengan kehidupan kita sekarang -- kehidupan ala "dunia dewasa" yang membenani kita untuk melakukan banyak hal sehingga membuat kita menjadi seperti robot, hidup ala autopilot. Tidak heran, jika di dalam konsep Positive Psychology, orang-orang yang seperti ini dikatakan sebagai orang-orang yang mindlessness. Hidup hanya sekedar menjalankan rutininas yang sudah terjadwal setiap harinya. Konsep inilah yang digambarkan Ende sebagai karakteristik dari Tuan Kelabu, sebuah konsep tentang bagaimana tuntutan dan tanggung jawab sebagai orang dewasa menuntut kita untuk menggunakan waktu se-efisien mungkin. 

Tanpa kita sadari, konsep "efisiensi waktu" ini menjadi racun di dalam kehidupan humanis kita dan membuat hubungan dengan orang lain dapat terasa hambar karena tidak memiliki kelekatan emosional. Bahkan, hubungan dengan keluarga dan teman dekat pun menjadi "korban" dari efisiensi waktu yang kita jalani. 

Karakter-karakter di dalam novel ini sangat menarik, semuanya merupakan personifikasi dari waktu. 

Keren.

Semua karakter mewakili konsep-konsep terkait waktu dan ini sangat unik jika dibandingkan dengan novel fantasi lainnya. Banyak dari karakter lain, di novel fantasi lain, yang terkesan tidak realistis. Namun, karakter-karakter di dalam novel ini terlihat sangat realistis dan memang ada di dalam kehidupan sehari-hari kita.

The present only exists because the future turns into the past.

Kisah Momo dan petualangannya inilah yang membuat para kritikus sastra menyatakan bahwa Momo bukan sekedar buku fantasi anak-anak, dan ya saya setuju. Kita, orang dewasa (apalagi orang tua) wajib membaca buku ini. Bukan sekedar untuk dibacakan kepada anak-anak, melainkan juga untuk meresapi inti dari ceritanya dan melakukan evaluasi terhadap hubungan kita dengan orang di sekitar -- terutama kepada keluarga dan teman.

Momo pernah difilmkan pada tahun 1986 lalu dan filmnya sangat menarik, sama seperti novelnya. Bahkan, Ende turut serta secara langsung dalam penggarapan film ini.



Dan ada Michael Ende berakting di film tersebut!

Kalau mau berkenalan dengan lebih dekat dengan Michael Ende, bisa berkunjung ke website-nya. Di situ ada banyak sekali informasi mengenai Michael Ende, termasuk karya-karyanya.

Overal 5/5




Cheers!
Have a blessed-day!