25 December 2016

Mom, I Love You: Kumpulan Pemenang Lomba Esai Remaja by Unicef & Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia


Judul: Mom, I Love You - Kumpulan Pemenang Lomba Esai Remaja
Pengarang: Unicef & Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia
Ilustrator: Mantox
Jenis: Non Fiksi, Esai
ISBN: 979-752-110-9
Penerbit: DAR! Mizan (Mizan Media Group)
Tahun Terbit: 2004
Jumlah Halaman: 269++



BLURB

Anak-anak mungkin tidak pernah menggugat. Mereka mungkin terlihat diam dan seolah menerima keadaan, pasrah, menurut, karena keputusan mereka hampir selalu ditentukan orang dewasa.

Ya, di tangan orang dewasalah -- salah satunya orangtua -- kebanyakan nasib dan hak anak bergantung. Sayangnya, banyak orang dewasa yang tidak bijak; buta mata-buta hati, tuli, dan menagnggap sepele persoalan anak-anak. Buku ini mengajak kita menelusuri protes dan frustrasi anak-anak menghadapi sikap orang dewasa yang bebal, yang menganggap urusan anak-anak tidak lebih penting daripada urusan negara. Huh!


***



Anak Belajar dari Kehidupannya
(Children Learn what They Live by Dorothy Law Nolte)

Jika anak dibesarkan dengan celaan,
ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan,
ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian,
ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan,
ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman,
ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan,
ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.


Namanya Endang Rukmana.Katanya, Siapa Pewaris Sah Republik Ini?

Dia yang memasukkan tulisan Dorothy Law Nolte di dalam esainya. Rangkaian kalimat favorit saya, dan semakin sering saya baca dan temukan di berbagai buku, bahkan  flyer, sejak saya kuliah.

Endang memulai kisahnya dengan bercerita tentang Rumah Dunia, sebuah tempat yang terletak cukup terpencil di Serang - Banten. Tepatnya di Kampung Ciloang. Rumah Dunia menjadi tempat anak-anak Kampung Ciloang untuk belajar membaca, menulis, menggambar, bermain, juga berekspresi dalam pembacaan puisi dan pementasan teater anak. Menurut Endang, tempat tersebut merupakan representasi dunia anak.

Kita yang masih memiliki nurani pasti akan tersentuh melihatnya. Melihat sebuah dunia kecil bersahaja yang dibandung untuk anak-anak agar mereka memperoleh dunianya, hak-hak yang terlalu banyak terampas, terabaikan.

Endang juga mengkritisi fenomena "jalanan", yang menurutnya menjadi salah satu ancaman yang dihadapi anak-anak. Di luar sana, katanya lagi, banyak ancaman lain yang mengintai, bagai gurita yang memiliki banyak tentakel.

Ini adalah sebuah realitas, keseharian yang kita lihat bersama bahwa begitu banyak permasalahan yang dihadapi anak-anak, baik anak-anak yang hidup di jalanan maupun yang tinggal di rumah mewah.

Endang mengambil judul esainya berdasarkan adaptasi dari judul sajak karya Taufiq Ismail yang berjudul Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini. Kita di dalam sajak tersebut bermakna "rakyat". Jika direvisi sedikit judulnya, kata pemilik diganti dengan kata pewaris, maka siapakah "pewaris sah" Republik Indonesia?

Begitu, renung Endang.

Bagi saya, anak-anaklah yang menjadi "pewaris sah" Republik Indonesia karena anak-anak adalah masa depan bangsa.

Momen perlombaan esai ini berdekatan dengan akan dilakukannya Pemilu 2004. Di akhir esainya, Endang berujar bahwa dia akan memilih partai yang menjadikan "perlindungan dan jaminan terhadap hak-hak anak" sebagai visi dan misi partainya, partai yang memiliki kepedulian terhadap dunia anak -- seperti yang telah dilakukan di Rumah Dunia, serta partai yang ikhlas dan sungguh-sungguh memperjuangkan dunia dan hak-hak anak bukannya malah menjual isu hak anak sebagai komoditas publik.


Ada lagi esai dari Annasikhah, yang judul esainya dijadikan judul sentral di dalam buku ini, "Mom. I Love You": Menjadikan Ibu sebagai Agen Damai bagi Anak.

Anna banyak menyoroti berbagai konflik yang ada di Indonesia, baik konflik Aceh, Timor Timur, Maluku, Sampit, Sanggau Ledo, Poso, dan sebagainya. Dia menekankan bahwa di dalam konflik tersebut  juga ada anak-anak yang menjadi korban. Konflik tersebut menjadi trauma mendalam para diri anak, menjadi sebuah memori hitam ketika ia melihat adegan kekerasan, penculikan, pembunuhan, dan tidak anarkis lainnya dengan mata kepalanya sendiri. Sama halnya dengan nasi anak-anak yang hidup di wilayah konflik di dunia, seperti konflik di Irak, Palestina, Kashmir, Chechnya, Bosnia, dan Filipina. Konflik-konflik tersebut juga menjadi akar permasalahan bagi anak-anak, bak fenomena gunung es. Di balik itu semua, dia mengatakan... paling tidak bagi anak-anak...

Saat kita merasa takut, khawatir, marah, dan kecewa -- dengan keadaan yang menimpa kita -- masih ada tumpuan untuk tetap tegak berdiri, yaitu ibu yang selalu menyayangi anak-anaknya.


***


Esai Endang dan Anna hanyalah 2 dari 20 esai yang ada di dalam buku Mom, I Love You karya asli dari remaja pilihan di seluruh Indonesia, yang di tahun 2004 itu masih duduk di bangku SMP atau SMA. Endang Rukmana, bahkan menjadi pemenang karya terbaik untuk tingkat SMA.

20 esai tersebut dipilih dari ratusan esai kiriman remaja di seluruh Indonesia yang menjadi peserta lomba menulis tingkat nasional, yang memperebutkan piala UNICEF untuk Penulis Muda Indonesia. Tema lomba adalah Mewujudkan Dunia yang Layak bagi Anak.

Bagi yang berkecimpung di dunia anak, "jargon" ini merupakan ikrar yang muncul pertama kali pada tahun 2002, saat para pemimpin dunia menghadiri Sidang Khusus Perserikatan Bangsa-bangsa. Tujuannya, untuk memperbaikin kehidupan anak di seluruh dunia.

Dunia utopia, yang sampai sekarang masih terasa sebagai sebagai mimpi dan konsep ideal. Sayangnya, belum tercapai. Tetapi, paling tidak, sudah ada beberapa kota di Indonesia yang mendapat label "Kota Ramah Anak". Jika kalian melihat tidak banyak LSM lokal maupun internasional yang berkegiatan untuk anak-anak di kotamu, ada kemungkinan kota kamu termasuk pada kategori "ramah anak". Minimal, kita masih memiliki harapan untuk mewujudkan dunia yang layak bagi anak tadi.

Banyak sekali isu-isu terkait anak yang dibahas di dalam buku ini. Bukan isu yang fresh, mengingat isu tersebut selalu saja menjadi pembahasan setiap hari hingga sekarang. Tetapi, yang menarik, isu tersebut disampaikan langsung oleh 20 remaja yang berani mengeluarkan pendapat mereka melalui tulisan. Bukan sekedar dikeluarkan oleh orang-orang dewasa yang ribet dengan usaha mereka untuk mewujudkan dunia layak bagi anak.

Inilah kenapa saya sangat suka buku ini.

Dulu saya membacanya pertama kali dengan bermodalkan pinjam milik teman yang sempat bekerja di YKAI. Bentuk fisiknya berbeda dengan buku saya ini, yang dipinjamkan kepada saya masih berupa draft. Makanya, begitu menemukannya di salah satu toko buku di Depok, saya langsung membelinya tanpa pikir panjang. Saya suka dengan cara para remaja ini menyampaikan pendapat mereka. Saat itu saya merasa tersindir. Di tahun 2004 -- saat buku ini terbit -- saya juga masih remaja tanggung, remaja akhir yang baru melewati tahun pertamanya di universitas. Saya hanya dipenuhi kegalauan "sepele", sibuk pacaran "sepele", dan belum begitu antusias untuk terjun di dunia anak dan remaja. Bahkan, cenderung selfish. Saya baru benar-benar terlibat langsung di dunia anak dan remaja melalui beragam aktivitas yang saya lakukan saat itu, beberapa masih saya lakukan sampai sekarang, di tahun 2005. Saat saya sudah menginjak usia 20 tahun, bukan lagi remaja, melainkan sudah masuk tahap dewasa muda.

Saya, sangat salut dengan 20 remaja yang namanya tercantum di dalam buku ini.

Prokprokprok!!!

Banyak quote bagus yang ada di dalam esai para remaja tersebut. Saya coba menjabarkannya di sini ya...


Kita terlanjur terjebak pada stigma bahwa hak anak hanyalah "hak" anak miskin (Demam "Anak" Berdarah karya Adkhilni Mudkhola Sidqi)

Selama ini, sepertinya pendidikan di negara kita hanya mengajarkan kemampuan menghafal, tidak merangsang keingintahuan serta kreativitas anak, dan lemah dalam membangun karakter kepribadian (Hak-hak Anak: Sudahkah Memperoleh Perwujudan yang Memadai karya Anggita Paramesti)

Di manakah perlindungan bagi anak-anak sekolah? Kepada siapa mereka bisa mengadu? Adakah wajah polisi yang ramah terhadap mereka sehingga mereka berani mengadu kalau menjadi korban kejahatan di jalan raya? (Angkutan Umum yang Layak Bagi Anak Sekolah karya Azis Pumayudha)

Bagaimana generasi sekarang mampu membangun negara sendiri pada masa yang akan datang jika tidak memiliki kesempatan menuntut ilmu setinggi-tingginya? (Dunia Anak Dunia Masa Depan karya Ferina, pemenang kelompok usia SMP)

Begitu miskinkah negeri yang subur makmur, zamrud khatulistiwa, yang bukan lautan tetapi kolam susu ini sehingga "memaksa" ibu-ibu kami menambang real, mendulang dolar di negeri orang? (Anak-anak Menggugat Karya Fitri Rose Utami)

Apakah kira-kira kegiatan yang ideal bagi anak-anak desa yang bermasalah? Yang utama, tentunya memberlakukan wajib belajar 9 tahun secara efektif dan konsekuen (Anak Desa Harus Dibanggakan karya Galuh Pawestri Prameswari)

Mereka sebenarnya ingin berubah, tetapi adakah yang memerhatikan mereka? Adakah yang ingin menolong mereka? Adakah yang mau memberikan kesempatan kepaeda mereka? Stempel kepada mereka seolah-olah sudah disahkan. Mereka sudah dicap sebagai sampah masyarakat (Anak-anak yang Terbelenggu Peradaban dan Budaya karya John Kennedy Murib)

Bila anak mendapatkan sentuhan cinta yang hangat pada awal kehidupannya, ia akan merasa "dunia yang baru" adalah dunia yang aman, sama seperti ketika ia masih berada di rahim ibunya (Mewujudkan Sebuah Dunia "Totto-chan" karya Kundarti Ari)

Menurut para orangtua, masa kanak-kanak adalah masa paling indah dan menyenangkan. Boleh jadi ada benarnya, tapi ada juga tidaknya. Beban kami ada dalam kata "belajar" yang membuat kami merasa "repot" dan "tersiksa" (Duniaku Bukan Sekadar Impian karya Livia Suria)

Sebaiknya, orangtua memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih apa yang mereka sukai selama hal itu dirasakan baik. Orangtua cukup memberikan pengarahan saja jika dirasakan perlu. Jika dirasakan masih ada yang tidak berkenan di hati orangtua, sebaiknya anak diberikan pengertian secara berkala, tetapi ingat jangan memaksa! (Mewujudkan Dunia yang Layak bagi Anak karya Marsya Sinarani)

Bagaimana menciptakan dunia yang layak bagi anak, di tengah dunia yang makin kejam ini? Siapa yang mampu jadi induk jutaan anak yang tak mampu tersebut? Siapa yang sanggup memeluk mereka sekaligus? (Bukan Dunia Fantasi karya Nathania Setiawan)

Pada saat anak-anak lain sedang tertawa, bermain, tidur, atau pergi ke sekolah, ada banyak anak yang harus berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang layak (Bukan Lagi Zaman Arie Hanggara karya Nova Ayu Maulita)

Proses kreativitas yang mandek menjadikan impian-impian indah para remaja hancur berkeping-keping. Tanpa kemauan (goodwill) pemerintah dan anggota masyarakat yang prihatian, cita-cita para remaja tetap suatu fatamorgana (Taman Kota karya Pratitou Arafat)

"Masa depan suatu bangsa berada di tangan anak-anak", kalimat itu pada akhirnya hanya menjadi semacam ungkapan yang sering diucapkan namun luput dipikirkan, jangan harap untuk diwujudkan (Saya Anak Indonesia karya Raisa Aurora)

Coba kita perhatikan! Sekarang semua pemimpin kita sibuk sendiri berkampanye. Dulu, mereka berkampanye dengan jani yang hampir sama: membela wong cilik (Dunia yang Kuimpikan karya Ria Wibowo)

Apakah menjadi orang dewasa itu, berarti telah mengetahui segalanya? Apakah mereka tahu arti hutan itu bagi anak-anak? (Mewujudkan Dunia yang Layak bagi Anak karya Riza Anggriyashati Adara)

Dunia yang layak bagi anak adalah dunia tempat semua anak mendapat awal kehidupan yang sebaik-baiknya, bebas dari eksploitasi, kekerasan, penyakit, perang, kemiskinan; dunia yang memberi pendidikan yang bermutu; serta kesempatan untuk berkembang dalam lingkungan yang aman; dan mendukung anak untuk berpartisipasi secara aktif (Rumus Termudah Mewujudkan Dunia yang Layak bagi Anak karya Shinta Dewi Indriani)


Overal 5/5



Cheers!
Have a blessed-day!