20 December 2016

Mitologi Aztec by Michael A. Schuman


Judul Asli: Mayan and Aztec Mythology
Judul Terjemahan: Mitologi Aztec
Pengarang: Michael A. Schuman
Jenis: Non Fiksi, Mitologi
ISBN: 978-602-96828-8-1
Penerbit: Oncor Semesta Ilmu
Tahun Terbit: 2011 (Cetakan 1, Terjemahan) / 2001 (Edisi Asli))
Jumlah Halaman: 118++

BLURB

Bangsa Aztec, pendiri sebuah peradaban besar namun singkat di daerah Mexico bagian tengah, merupakan keturunan suku Toltec, suku yang senang berperang. Pada abad 10 M, suku Toltec membangun sebuah kota besar bernama Tula sampai ke daerah yang sekarang ini disebut Mexico. Sementara itu, bangsa Maya memiliki sejarah yang lebih panjang dari bangsa Aztec. Peradaban bangsa Maya telah mencapai titik puncaknya selama Periode Klasik, berlangsung semenjak tahun 300-900 M. Selama periode ini, orang-orang Maya telah membangun kota-kota besar, kuil, monumen, piramida, dan istana.



***



Pada saat bumi muncul dari laut dan matahari naik ke langit, hiduplah seekor Macaw bernama Itzam-Yeh, yang diterjemahkan sebagai Tujuh Macaw

Tujuh Macaw merasa dirinya sangat istimewa jika dibandingkan dengan yang lain, karena matanya adalah permata dan giginya bersinar bagai matahari sehingga ia yakin bahwa dirinya adalah matahari. Dengan sombongnya ia berkata bahwa suatu saat nanti ia akan menjadi bulan juga.

Hunahpu dan Xbalanque merasa bahwa Tujuh Macaw terlalu sombong dan memberikan pengaruh yang buruk kepada masyarakat. Jelas ia bukan matahari. Akhirnya saudara kembar itu menyimpulkan bahwa Tujuh Macaw harus dihukum.

Akhirnya Hunahpu dan Xbalanque berencana membidih Tujuh Macaw hingga mereka bisa mengganggu burung yang berwarna-warni itu. Ketika mendapatkan waktu yang tepat melakukannya, ketika Tujuh Macaw sedang makan siang di atas pohon Nance -- pohon yang hingga saat ini masih tumbuh di pedalaman Yucatan dan terkenal dengan buahnya yang lezat -- Hunahpu menembak Tujuh Macaw dengan butiran peluru yang dibidik menggunakan sumpit. Peluru tersebut merobek mulut Tujuh Macaw, mematahkan rahangnya, dan melukai matanya yang sangat berharga. Permata di mata dan mulutnya rusak parah. Tembakan peluru tadi menyebabkan Tujuh Macaw jatuh dari pohon nance. 

Tetapi, Tujuh Macaw masih sangat berbahaya.

Ketika Hunahpu mendekatinya, burung yang sombong itu menggigit lengan Hunahpu dan Xbalanque sampai putus dan membawanya lari. Ketika Tujuh Macaw sampai di rumah, ia menggantung lengan itu di atas api.

Hunahpu dan Xbalanque mencari jalan untuk mendapatkan lengan mereka kembali. Setelah bertemu dengan para sesepuh lelaki dan wanita yang keriput, beruban, dan bungkuk, mereka mendapatkan sebuah rencana. Pasangan tua itu setuju untuk mengaku sebagai kakek-nenek Hunahpu dan Xbalanque dan mereka berempat bersama-sama mencari Tujuh Macaw. Ketika mereka sampai di rumah Tujuh Macaw, kakek itu mengatakan bahwa Hunahpu dan Xbalanque adalah cucu-cucu mereka. Ia juga menambahkan bahwa dirinya adalah ahli dalam menyembuhkan rahang yang patah dan mengobati mata yang rusak. Seperti yang diharapkan oleh si kembar, Tujuh Macaw kemudian meminta kakek itu mengembalikan batu permata ke bagian tubuhnya.

Pertama-tama, kakek itu mencabut batu permata dari mata dan mulut Tujuh Macaw dan menggantikannya dengan butiran jagung putih. Ketika kakek itu menyelesaikan pekerjaannya dan batu permata berkilauan telah dipindahkan dari wajahnya, ia tidak bisa lagi mengklaim bahwa ia adalah matahari. Sekarang ia kelihatan seperti burung biasa. Karena kehilangan sumber kecongkakan dan kesombongannya, Tujuh Macaw tidak punya alasan lagi untuk hidup. Ia jatuh pingsan dan mati. Setelah Tujuh Macaw mati, Hunahpu mengambil lengannya di atas perapian dan mengembalikan pada tubuhnya. Lengan itu tersambung kembali dengan sempurna.

***

Pernah mendengar kisah tentang Hunahpu dan Xbalanque?

Hunahpu dan Xbalanque adalah pahlawan kembar yang sering ditemukan dalam mitos Mesoamerika. Konon, orang-orang Mesoamerika takut pada hal-hal yang bersifat kembar karena, bagi mereka, kembar berarti abnormal.

Mereka percaya jika kembar mempunyai nilai keagamaan yang sangat signifikan dan menonjolkan kejadian-kejadian penting. Mereka biasanya digambarkan sebagai pembantai monster dan pahlawan yang menjalankan perintah.

Kisah di atas hanyalah kisah pembuka dari mitos tentang Pahlawan Kembar; Hunahpu dan Xbalanque. Masih ada kisah lanjutan yang berpusat pada pembalasan dendam dan pemerolehan kejayaan, serta pengorbanan.

Di akhir kisah tentang Hunahpu dan Xbalanque bahkan akan ditemukan kisah di balik keberadaan milky way dalam mitologi Maya.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, mitologi Maya merupakan bagian dari kebuadayaan di Mesoamerika. Di sana ada mitologi terkait kembar, baik pada manusia, hewan, dan lainnya. Kembar identik dengan dualisme, simbol yang saling berkebalikan. Bisa juga sebaliknya, seperti kisah Hunahpu dan Xbalanque -- kembar merupakan simbol pahlawan.

Pahlawan Kembar seperti kisah Hunahpu dan Xbalanque, yang diceritakan juga di dalam Papal Yuh (Popol Vuh) -- catatan kuno yang sudah seperti kitab suci paling penting bagi bangsa Maya -- dan juga pada monumen kuno, keramik, dan teks hieroglif sebagai simbol tertinggi dan juga makhluk yang suci.

Tidak banyak informasi yang bisa kita peroleh mengenai mitos kembar di kebudayaan Mesoamerika dalam kajian-kajian Etnografi. Mitologi Maya cenderung lebih sedikit dibahas dibandingkan mitologi Yunani  dan Romawi. Tetapi, dari sebagian besar informasi yang dapat kita peroleh di dalam kajian mitologi Maya, sebenarnya, kembar lebih sering dipandang secara negatif dan dianggap sebagai simbol ketidak-beruntungan.

*** 

Permulaan buku Mitologi Aztec ini berisi tentang pengantar yang cukup panjang menjelaskan tentang perbedaan serta persamaan antara mitologi Maya dan Aztec. Keduanya sama-sama kebudayaan awal yang muncul di Mesoamerika -- wilayah yang secara geografis sekarang mencakup Meksiko, Guatemala, Belize, dan beberapa bagian lain di Amerika Tengah.

Bangsa Maya dan Aztec di masa lampau sering bertemu karena perdagangan, migrasi, dan penaklukan wilayah. Hal ini membuat bangsa Maya dan Aztec memiliki beberapa karakteristik yang sama, misalnya kepercayaan dan mitos yang memiliki tema-tema serupa.

Contoh persamaan itu antara lain:
  1. Mereka tertarik dalam hal waktu. Ini membuat mereka sama-sama mengembangkan sistem penanggalan yang rumit, yang mereka gunakan untuk memprediksi berbagai peristiwa penting seperti perubahan musim dan gerhana matahari atau bulan. Mereka percaya, dengan mengetahui kapan hal-hal tersebut terjadi, maka mereka dapat memberikan persembahan kepada para dewa -- kekuatan dan kejahatan yang mengontrol kehidupan mereka.
  2. Mereka memiliki sistem kepercayaan dengan mengorbankan manusia di dalam praktek-praktek kepercayaan tersebut. Mereka percaya bahwa darah dan hati manusia diibaratkan sebagai makanan persembahan kepada para dewa.
  3. Mereka mengembangkan sistem tulisan hieroglif, yang didasarkan pada gambar. Hieroglif yang kita temukan di berbagai kajian Antropologi atau Etnologi membantu kita mengenali bagaimana kedua bangsa ini hidup dan berpikir.
  4. Mereka mendirikan sistem pemerintahan yang rumit. Kedua bangsa ini membangun kota-kota besar beserta kuil dan monumen di dalamnya, memakai sistem pertanian yang canggih, mendirikan pasar-pasar besar dengan beragam barang dagangan dan makanan.
  5. Mereka memiliki beberapa kelas sosial. Lapisan teratas, bangsawan, memiliki kekayaan yang berlimpah. Sebaliknya lapisan terbawah, rakyat biasa seperti petani dan pekerja, hidupnya sangat miskin.
Sementara itu, perbedaan mencolok antara kebudayaan Maya dan Aztec terlihat pada beberapa hal berikut ini:
  1. Peradaban bangsa Aztec berkembang di bagian Meksiko, yang saat ini merupakan kota Meksiko. Bangsa Maya berkembang jauh di bagian Selatan, di daerah yang sekarang dikenal sebagai Guatemala Utara dan Belize.
  2. Bangsa Maya memiliki sejarah yang lebih panjang dibandingkan bangsa Aztec, dengan kebudayaan yang juga lebih berkembang dibandingkan kebudayaan Aztec.

Khusus mengenai kebudayaan ini...

Kebudayaan Maya
Kebudayaan Maya sudah berkembang sejak tahun 1800 S. Hingga tahun 1500 SM, mereka sudah mengenal pola pertanian yang baik dan sudah membuat desa-desa yang permanen. Bahkan, desa-desa tersebut sudah berisi rumah berkamar satu dan beratap jerami, disusun sedemikian rupa agar dapat digunakan untuk ritual.

Puncak kebudayaan Maya berada selama Periode Klasik, sekitar tahun 300-900 M, di mana bangsa Maya sudah membangun kota besar, piramida, kuil, monumen, istana, dan lapangan bola.

Bangsa Maya membuat catatan rinci, bahkan paling rinci di antara semua mitologi yang ada di dunia ini. Catatan mengenai sejarah, ritual, dan mitos dalam hieroglif tersebut tersebar di pahatan yang ada di tiang batu, pintu masuk, dan tangga. Naskah asli dari catatan paling epic mereka -- Popol Vuh -- tidak pernah ditemukan sampai sekarang. Tetapi, naskah tersebut telah disalin ke dalam bahasa Quiche sekitar tahun 1550an.

Mereka juga mengembangkan sistem astronomi, sehingga dapat memprediksi dengan tepat kapan terjadinya gerhana matahari dan bulan. Jauh sebelum penemuan alat astronomi modern, bangsa Maya telah membuat peta jalur lintasan planet Merkurius, Venus, dan Mars. 

Sayangnya, sekitar tahun 800-900 M, kebudayaan Maya mulai mengalami kemunduran dengan alasan tepat yang belum diketahui sampai sekarang. Orang-orangnya mulai banyak yang meninggalkan kota, dan membuat banyak bangunan belum selesai berdiri dan ditinggalkan begitu saja.

Kepunahan peradaban dan kebudayaan Maya dimulai ketika bangsa Spanyol menyerang Maya sekitar tahun 1500an. Pada saat itu, sebagian besar penduduk Maya sudah bermigrasi ke Semenanjung Yucatan di Mexico Utara. Apa yang ditemukan oleh bangsa Spanyol hanya sisa-sisa kejayaan bangsa Maya. Bangsa Spanyol membutuhkan lebih dari 180 tahun untuk bisa menaklukkan bangsa Maya karena bangsa Maya terus memberikan perlawanan. Kota terakhir yang ada di Maya jatuh ke tangan Spanyol pada tahun 1697, setelah itu desa-desa kecil lainnya masih melakukan perlawanan.


Kebudayaan Aztec
Peradaban Aztec termasuk besar, namun hanya berlangsung singkat. Mereka merupakan keturunan suku Toltec, sebuah suku yang senang berperang.

Alkisah, suku Toltec membanguan sebuah kota besar bernama Tula sampai ke daerah Utara (sekarang merupakan kota Meksiko) pada abad 10 M. Namun, pada pertengahan abad ke-12, suku Toltec ditaklukkan oleh suku pengembara bernama Chichimeca. Suku Toltec kemudian menyebar ke segala penjuru, meninggalkan warisan legenda dan tradisi keagamaan yang kemudian menjadi unsur penting di dalam budaya Aztec.

Bangsa Aztec percaya bahwa kampung halaman mereka adalah Aztlan, para peneliti sendiri meragukan kebenaran keberadaan pulau ini.

Pada tahun 1325 M, bangsa Aztec mendirikan kota Tenochtitlan, yang letaknya tidak jauh dari kota Meksiko. Kota ini menjadi ibukota Aztec dan keberadaannya semakin berkembang pada tahun 1400an.

Dewa perang Aztec, yang juga menjadi simbol matahari; Huitzilopochtli, yang telah memandu mereka untuk sampai mendirikan kota tersebut. Konon, mereka melihat seekor elang sedang terbang sambil menjepit ulat di paruhnya. Elang itu menyuruh mereka membangun kuil di tempat itu dan memberi persembahan manusia kepada matahari. Gambar elang dengan paruh menjepit ular ini menjadi salah satu gambar yang ada di bendera Meksiko sekarang.

Bangsa Aztec juga cerdas.

Mereka mengembangkan teknik tingkat tinggi dan kekuatan militer yang besar. Jalan lintasan dan untuk kendaraan dibangun sebagai penghubung kota mereka yang ada di pulai dengan daratan. Kanal dan terowongan air dibangun untuk memindahkan angkutan barang dan orang. Dan demi mengamankan daerah, sekaligus memperluas kekaisaran, para penguasa Aztec berperang dan membentuk aliansi dengan suku lainnya.

Ketika bangsa Spanyol tiba di Aztec pada tahun 1500an, orang-orang Aztec telah menjadi penguasa dari sebuah kekaisaran yang wilayahnya luas.

Bangsa Aztec juga membangun kuil dalam bentuk piramida, yang diletakkan di ibukota. Kuil paling terkenal adalah Kuil Besar, bangunan besar yang dihiasi dua tangga kembar saling berdampingan. Di puncak Kuil Besar ada dua ruang suci bagi dewa terkuat bangsa Aztec, yaitu dewa Huitzilopochtli (matahari) dan Tlaloc (hujan). Di sanalah upacara persembahan manusia dilakukan.

Selain Huitzilopochtli dan Tlaloc, dewa lain yang juga penting adalah Quetzalcoatl (angin dan kehidupan) serta Tezcatlipoca (ilmu sihir dan malam). Raja-raja Aztec selalu mengklaim diri mereka sebagai perwujudan dewa Tezcatlipoca di bumi.

Peradaban Aztec berkembang pesat sampai tahun 1400an, ketika mereka membentuk aliansi "segitiga" dengan Texcoco dan Tlacopan. Aliansi ini menaklukkan dua penduduk lokal lainnya pada tahun 1487 dan menjadi kekuatan utama selama lebih dari 30 tahun.

Kehancuran Aztec dimulai tahun 1519 ketika mereka diserang Spanyol. Kehancuran ini pun cenderung konyol. Penguasa Aztec saat itu, Montezuma II, menolak kehadiran pasukan Spanyol yang dipimpin oleh Cortez. Namun, sebagian besar orang Aztec justru menyambut kehadiran mereka, karena menganggap Cortez -- yang berparas tampan dan berjanggut -- sebagai dewa Quetzalcoatl. Situasi ini dimanfaatkan oleh Cortez dengan mengambil kekayaan dan emas milik bangsa Aztec. Setelah itu, Cortez melakukan gerakan militer dengan menangkap Montezuma. Di tahun 1520, sekelompok orang Aztec melakukan pemberontakan terhadap pasukan Cortez. Di pertempuran inilah Montezuma gugur dan pasukan Cortez berhasil dipukul mundur dari Tenochtitlan. Setahun kemudian, Cortez kembali mengepung kota itu. Setelah tiga bulan masa pengepungan, kota Tenochtitlan jatuh ke tangan Spanyol pada 13 Agustus 1921. Sejak saat itu, kekaisaran Aztec dihancurkan.

***



Selain memuat sejarah kebudayaan Maya dan Aztec, bagian selanjutnya dari buku ini adalah delapan bab yang berisi mitos-mitos yang ada di ke-dua kebudayaan tersebut. Kisah Hunahpu dan Xbalanque hanyalah satu dari kisah-kisah lain yang ada di kebudayaan Maya.

Setiap bab menceritakan mitos penciptaan manusia, asal usul pria maupun wanita, kelahiran seni musik, dan juga intrik-intrik yang ada di dalam legenda suku Maya dan Aztec. Setiap kisah yang terurai akan membawa kita pada perkenalan terhadap budaya dan keyakinan yang ada di mitos-mitos suku Maya dan Aztec. Dilengkapi pula dengan beberapa ilustrasi terkait penggambaran orang-orang di sana dan ritual yang dilakukan, dan lainnya.

Di balik setiap kisah itulah kita akan menemukan beberapa kesamaan dan perbedaan yang sudah banyak dijelaskan sejarahnya di bagian pengantar. Sampai-sampai, memang benar seperti yang dituliskan di pengantar, kita diajak berpikira bahwa jangan-jangan suku Maya dan Aztec memang merupakan satu keturunan saking banyaknya kesamaan mitos di antara mereka. Walaupun, Peter Vanderloo yang merupakan seorang profesor di Northern Arizona University serta pakar kebudayaan Maya dan Aztec meragukan jika kedua suku ini berasal dari keturunan yang sama.

Overal 4/5

Sedikit kekurangan pada gaya bercerita yang disampaikan oleh penerjemah dan -- saya dengar -- buku edisi terjemahan ini tidak selengkap edisi aslinya. Di edisi asli, katanya, ada banyak penjelasan para ahli di setiap babnya.



Cheers!

Have a blessed-day!