29 December 2016

Hari Setelah Kita Jatuh Cinta by Halluna Lina



BLURB

Saat membatalkan pernikahannya sendiri, Rasi merasa langit runtuh dan mengubur dirinya di kedalaman bumi hingga mustahil dirinya bangkit lagi. Akan tetapi, Tuhan tidak kehabisan kejutan. Di saat Rasi selesai membenahi hati dan kembali menjalani hidup, hadirlah Reuben. Lelaki itu membuat Rasi berpikir apakah dia hadir sebagai tiket untuk bisa bangkit kembali dan jatuh cinta? Rasi berpikir demikian saat tangan Reuben terulur, menawarkan kebersamaan, dan tanpa sadar member Rasi mimpi.

Rasi menyerahkan segala kepercayaan dan menyilakan Reuben masuk pada bagian dirinya yang tidak pernah dibagi pada sembarang orang. Tapi, di saat sama, Rasi tahu bahwa Reuben bukan datang padanya sebagai kesempatan untuk kembali jatuh cinta. Reuben justru datang untuk menggenapkan pengalamannya patah hati. Di titik itulah, Rasi terlembat menyadari bahwa penyakit yang selama dua tahun ini susah payah disembuhkan, nyatanya kembali datang. Penyakit yang membuatnya lupa, bahwa patah hati ada untuk dihadapi, bukan dihindari.


***
Jatuh cintalah saat siap, bukan saat kamu kesepian.

Demikian bunyi tagline di buku Hari Setelah Kita Jatuh Cinta karya Halluna Lina.

Rasi Bintang, seorang penulis novel. Salah satu novel buatannya bahkan menjadi tesis mahasiswa Psikologi di universitas nomor satu di Surabaya. Dia memiliki Geng Masakan Nyokap; sebuah geng yang beranggotakan Rasi dan sahabat-sahabat terbaiknya, yang selalu siap standby menjadi support system bagi Rasi apapun kondisinya, yaitu Freyja, Hannah, dan Relung. Dia juga memiliki Aga, sahabat Rasi lainnya. Tetapi, ada satu rahasia kelam yang menghantui hidupnya, bahkan membuatnya melupakan episode-episode tertentu di dalam hidup Rasi. Rahasia yang juga mendorong sahabat-sahabat Rasi untuk membantu Rasi dan menyembuhkan dirinya.

Ada apa dengan Rasi? Apa yang sebenarnya dihadapi oleh Rasi? Peristiwa apa saja yang pernah terjadi pada dirinya hingga Rasi membentuk sebuah benteng, setiap kali ia menghadapi rasa sakit; melupakan?

Ide-ide di atas adalah yang ditawarkan oleh penulis.
Jatuh cintalah saat siap, bukan saat kamu kesepian.

Tagline  tersebut menipu saya.

Awalnya saya berpikir ini adalah sekadar cerita romansa, seperti pada umumnya. Tetapi, penulisnya ternyata memberikan kisah lebih sebagai latar belakang kisah cinta yang dihadapi oleh Rasi.


***

Hidup Rasi tidaklah mulus. Ia memiliki peristiwa yang ia anggap sebagai tragedi. Peristiwa yang cukup membuatnya takut jika tragedi yang sama harus terulang lagi; rasa takut yang kemudian berkembang menjadi pengalaman traumatis. Sebegitu besarnya dampak peristiwa tersebut bagi Rasi, sehingga Rasi akan otomatis melakukan blocking ketika ia berhadapan dengan kondisi tertentu, salah satunya adalah ketika Berlin melamarnya. Konsekuensi dari blocking yang dilakukan oleh Rasi tidak hanya menyakiti Berlin, melainkan juga sangat menyakiti Rasi. Dan sayangnya, Rasi terlambat untuk menyadari bahwa efek samping dari blocking tersebut berdampak sangat buruk bagi kestabilan dirinya. Lebih jauh lagi, juga sampai membuka segala macam luka yang pernah Rasi alami di masa lalu; luka yang sudah ia simpan jauh-jauh di dalam lubuk hati dan pikirannya, namun kemudian membuncah dan keluar lagi hingga berceceran dan menyebabkan jiwanya goyah. Itulah momen Rasi menyadari untuk pertama kalinya bahwa luka yang ia rasakan merupakan luka yang begitu dalam menggerogoti jiwanya. Momen luka yang membuat Rasi menjauh dari semua orang, termasuk dari sahabat-sahabatnya.

Kegoyahan jiwa Rasi kembali terusik ketika dua tahun pasca kejadiannya bersama Berlin, Rasi bertemu lagi dengan masa lalunya dan pertemuan itu membawa dampak besar bagi diri Rasi. Ia bahkan sampai tidak sadarkan diri selama dua hari. Ketika dia sadar, ada sesuatu terjadi dan merupakan hal baru bagi Rasi, yaitu proses defense mechanism yang dipilih oleh tubuh Rasi supaya ia tidak lagi mengalami rasa sakit; melupakan. Bukan sembarang melupakan karena hal ini sampai membuat Rasi menyadari untuk pertama kalinya bahwa ada yang "salah" pada dirinya, dan dia sangat membutuhkan bantuan. Untuk itulah, ia mencari pertolongan kepada Dokter Chintya. Kali ini, sahabat-sahabat Rasi menolak untuk membiarkan Rasi sendirian.

Seolah itu semua belum cukup untuk dialami oleh Rasi, dua tahun kemudian Rasi harus berhadapan dengan cobaan berikutnya. Sialnya, cobaan ini datang tepat ketika Rasi sudah jauh lebih stabil dan ingin kembali membuka diri. Cobaan itu bernama Reuben. Nah, inilah puncak peristiwa yang ingin diceritakan oleh penulisnya; apakah Reuben menjadi "obat" bagi Rasi, ataukah Reuben menjadi trigger bagi kegoyahan jiwa Rasi selanjutnya?

To be frank, saya senang bahwa keberadaan Reuben tidak digambarkan terlalu tipikal dan sederhana. Dalam arti, meskipun kita tahu kemungkinan apa saja yang berpotensi menjadi akhir kisah Rasi di buku ini, namun keberadaan Reuben tidak dimunculkan langsung sebagai katalis dalam hidup Rasi

Melainkan juga menjadi...

Ah, tidak seru jika saya ceritakan. Hehehe.


***

Sebagai sebuah karakter, Rasi merupakan karakter yang menurut saya cukup tough. Di beberapa narasi memang dia terlihat lemah, lembek, dan mudah putus asa. Tetapi, jika menelisik ke dalam pengalaman hidupnya, peristiwa apa saja yang pernah dia alami setidaknya hingga empat tahun sebelum dia bertemu Reuben, maka mudah untuk kita berempati pada Rasi. Dengan pengalaman masa lalu seperti itu, saya tidak heran jika Rasi menjadi seperti ini. Dia bisa bertahan, inilah yang seharusnya diapresiasi.

Rasi memang bukan perempuan yang digambarkan sempurna dan dia menyadari hal ini, meski sayangnya, Rasi begitu tenggelam dalam pusaran pengalaman pahit hidupnya hingga ia terlanjur memandang dirinya negatif di beberapa hal yang menyangkut pengalaman hidupnya tersebut. Dengan pengalaman masa lalu seperti itu, saya tidak heran jika Rasi menjadi seperti ini. Tetapi, sebagai orang yang telah dewasa, seharusnya (dan idealnya bagi semua orang) Rasi tidak boleh tenggelam di dalam penilaian negatif yang dipercaya olehnya.

Dengan mudah saya simpulkan, sebagai orang yang juga memiliki trauma pengalaman masa lalu, saya dapat membayangkan bagaimana Rasi in real life dan bagaimana struggle-nya dia ketika harus face to face berhadapan dengan hal-hal yang traumatis. Bagaimana menggilanya Rasi saat relapse itu dapat dengan mudah saya bayangkan juga. Setidaknya, saya tidak sampai harus membangun benteng se-ekstrem Rasi demi melindungi diri dari godaan setan yang terkutuk dari pengalaman masa lalu yang terkutuk dan melelahkan jiwa-raga. 

Girl... sini peluk sini sini...

Penulisnya memang tidak secara spesifik membuat narasi tentang apa yang sedang dialami oleh Rasi. Saya sendiri membayangkannya bahwa benteng yang dibentuk oleh Rasi, itulah defense mechanism yang ia pilih -- baik ia sadari maupun tidak disadari. Tubuh (terutama otak) Rasi memilih untuk melakukan repression setiap kali Rasi berhadapan dengan luka. Bahkan, otaknya bertindak lebih jauh lagi hingga pada saat setiap kali Rasi relapse, maka otaknya memerintahkan diri Rasi untuk melupakan; dissosiative amnesia. Hal yang umum terjadi ketika otak memblokir informasi-informasi tertentu, yang biasanya terkait dengan kondisi yang stressful dan traumatis. Cara membuat Rasi keluar dari sini adalah dengan membuatnya mendapatkan trigger terkait apapun yang membuatnya stress dan trauma, dan Rasi diarahkan untuk mau menghadapi trigger tersebut dengan harapan supaya nantinya Rasi pun berani untuk melawan semua pengalaman traumatis yang pernah dan/atau sedang dia hadapi, maupun yang baru akan terjadi di masa depan dan nantinya berpotensi membuat Rasi relapse.

Untuk itulah, keberadaan Freyja, Hannah, dan Relung sangat signifikan dalam hal ini. 

FreyjaHannah, dan Relung bukannya tidak memiliki masalah mereka masing-masing. Di sela-sela membantu Rasi, mereka juga berhadapan dengan konflik di personal life masing-masing juga. Tapi, mereka ini yang menjadi support system utama Rasi karena mereka memiliki emotional bonding yang sangat kuat dengan Rasi. Emotional bonding inilah yang membuat mereka merasa menjadi bagian dalam hidup satu sama lain. Hal yang membuat mereka menolak untuk membiarkan salah satu dari mereka sendirian saat berhadapan dengan masalah, terutama jika itu menyangkut Rasi.

Sementara itu, Aga dan Reuben, dua laki-laki ini... Well...

Aga dan Reuben memiliki porsi masing-masing di dalam hidup Rasi, be it in positive or negative ways, dan mereka juga memiliki signifikansi masing-masing di dalam perjalanan hidup Rasi. Bahkan, Dokter Chintya pun memiliki porsinya tersendiri dalam kehidupan Rasi.



***

Hari Setelah Kita Jatuh Cinta membawa isu yang saya concern. Tetapi, bukannya tanpa kekurangan. Ada beberapa kekurangan yang saya temukan. Misalnya, alur di beberapa scenes itu ada yang membingungkan, termasuk momen sebelum kondisi Rasi dibuka secara lebih blak-blakan untuk pertama kalinya. Saya sampai bolak-balik dari halaman pertama sampai Bab 4 untuk memastikan tidak ada yang saya lewatkan. Isu-isu yang dibawa di Bab 4 ini juga yang menjadi kekurangan lainnya bagi saya; terlalu banyak kesan "serba kebetulan". Salah satu yang mengganggu bagi saya adalah "kebetulan" bahwa Reuben dan Dokter Chintya memiliki hubungan dan berkat adanya hubungan ini ditambah dengan "kebetulan" bahwa ada signifikansinya terhadap kondisi Rasi yang "kebetulan" juga sedang relapse, maka Dokter Chintya langsung mengambil sebuah sikap yang melibatkan Reuben dan menurut saya itu "kebetulan" adalah bentuk pelanggaran kode etik profesi jika dieksekusi dengan cara seperti itu. Hehehe.

Secara teknis, novel ini juga bertabur kekurangan yang mengganggu, yaitu segala typo dan grammar error. Untuk typo, seperti yang ditunjukkan di halaman 16 di mana kata "pengantin" ditulis "penganton", ini okelah ya saya tidak terlalu terganggu sebenarnya. Bisa mudah sekali dimaklumi error kecil seperti ini. Tetapi, jika kata "thanks" berkali-kali ditulis "thank's", ini saya yakin bukan typo. Setidaknya yang tercatat (sebelum saya akhirnya menyerah untuk membuat catatan terkait ini), ada di halaman 12 dan 18 untuk penulisan "thank's" tadi. Hal inilah yang menjadi pemantik dan sangat mengganggu saya ketika lebih banyak bermunculan typo(?) dan grammar error lainnya. 

Saya berikan beberapa contoh:
  1. quote/quotes ditulis quote's - "Dengan kaus yang selalu ada quote's-nya..." (p.18)
  2. we're gonna/going to miss you ditulis we gonna miss you - "I love you so much, Hannah Ananta. We gonna miss you." (p. 28)
  3. your speech ditulis you're speech - "So deep," komentarnya sambil tersenyum. Rasi menoleh dan menatap cowok itu tak mengerti. "You're speech. Pasti..." (p. 29)

Banyak sekali contoh-contoh yang bisa saya masukkan, kalau mau lebih detail lagi. Hahaha. I'm not a grammar nazi nor perfect in grammar. Apalah saya, ya. Tetapi, saya selalu merasa terganggu dengan error kecil seperti ini, terutama jika dituliskan di dalam novel yang tokoh-tokohnya seringkali menyelipkan kalimat dalam bahasa Inggris ketika berkomunikasi antara satu sama lainnya secara lisan maupun tulisan. Apalagi jika error terjadi di penggunaan simple English. Dan berkali-kali pula kejadiannya. Terus terang saja, mood saya mudah terdistraksi ketika berhadapan dengan error sejenis ini ketika membaca buku-buku lokal yang menyelipkan percakapan dalam bahasa Inggris.

Dua orang penulis Indonesia yang saya respect di persoalan menyelipkan kalimat berbahasa Inggris di dalam tulisan-tulisan mereka adalah Primadonna Angela dan Ika Natassa. Kalau pernah membaca karya-karya kedua penulis tersebut, pasti akan bisa membandingkan kualitas percakapan dalam bahasa Inggris maupun penggunakan bahasa Inggris secara keseluruhan di dalam tulisan mereka dengan di novel Hari Setelah Kita Jatuh Cinta ini. Saya yakin. Terlepas dari bagaimana penilaian personal saya terhadap karya-karya dari kedua penulis tadi, saya tidak pernah sekali pun mempermasalahkan percakapan dalam bahasa Inggris, maupun monolog dalam bahasa Inggris yang mereka sampaikan melalui tulisan-tulisan mereka. Bahkan, saya cenderung menikmatinya.

Bukan berarti di urusan teknis ini tidak ada yang bagus, lho. Tokoh-tokoh di dalam novel Hari Setelah Kita Jatuh Cinta memiliki latar belakang sebagai orang-orang Cirebon. Jadi, ada beberapa percakapan dengan menggunakan bahasa Cirebon yang dilakukan oleh beberapa tokoh. Untuk membantu pembaca, disiapkan footnote yang berisi terjemahan dan penjelasan. Contohnya...
Wis, beres poko'e, Nok.
Dodok ning kene, Senok'e.
(p. 17

Jika tanpa bantuan footnote, saya pasti sudah sakit kepala memikirkan apa arti dari kata-kata yang saya garis bawahi di atas. Hahaha. Saya tidak familiar dengan bahasa daerah, hanya sedikit paham dengan bahasa daerah Lampung. Itupun karena saya orang Lampung yang murtad, alias bodoh deh ya kalau sudah berurusan dengan bahasa Lampung. Apalagi bahasa daerah lainnya. Iya, kan? Keberadaan footnote membantu saya memahami bahwa kata "Nok" berarti panggilan untuk anak gadis yang lebih muda dalam bahasa Cirebon dan, "Senok'e" -- karena ditujukan masih kepada orang yang sama -- berarti kamu/kamunya.

Terlepas dari beberapa kekurangan yang saya sebutkan, saya menemukan beberapa poin menarik yang pastinya juga menarik untuk dibahas. Hal yang bagi saya sangat menjadi kekuatan di dalam buku ini adalah terkait gambaran persahabatan Geng Masakan Nyokap.
"Tapi tahu nggak, guys ada satu hal lagi yang baru gue sadari kenapa kita berempat bisa cocok satu sama lain?" Rasi tersenyum dan kembali menatap ketiga sahabatnya yang juga menatap dirinya. "Kita adalah empat gais yang tumbuh tanpa keberadaan seorang Ayah. Tapi, kita baik-baik aja, dan tetap bisa hidup sampai hari ini." (p. 28

Geng Masakan Nyokap memiliki emotional bonding, yang terbentuk karena adanya persamaan "nasib". Persamaan yang kemudian membuat mereka merasa memiliki kemiripan dan akhirnya tak terpisahkan. Masing-masing memiliki peran tersendiri terhadap satu sama lain; peran yang semuanya signifikan dan bermakna bagi satu sama lainnya juga. Misalnya adalah bagaimana keberadaan Hannah signifikan bagi Rasi, Freyja, dan Relung. Bisa disimak dari ucapan Rasi berikut ini.
"Buat gue, lo udah kayak nyokap yang bisa ngingetin gue akan hal baik dan sebaliknya. Bagi Freyja, lo udah kayak tetangga yang bisa diandelin kapan aja. Untuk Relung, lo udah kayak kakaknya yang selalu melindungi. Lo adalah orang yang paling tepat untuk melengkapi kekurangan kami." (p. 28)

Keberadaan Hannah sebegitu bermaknanya, sehingga Rasi, Freyja, dan Relung pun siap untuk dicari kapanpun Hannah membutuhkan mereka. Kedalaman hubungan mereka inilah yang membuat Geng Masakan Nyokap adalah support system terhadap satu sama lain. Rasanya baru kemarin saya membahas mengenai support system, ketika saya membahas buku The Girl on Paper karya Guillaume Musso. Sama seperti Tom, yang memiliki support system berwujud sahabat-sahabatnya, Rasi juga memiliki support system berwujud sahabat-sahabatnya; FreyjaHannah, dan Relung -- orang-orang yang paling berperan aktif dalam membantu Rasi melewati masa terburuknya dan yang paling mendukung Rasi ketika dia paling membutuhkan pertolongan. Signifikansi keberadaan para sahabat Rasi ini terus digambarkan hingga akhir. Peran aktif mereka juga yang membantu Rasi untuk belajar mengikhlaskan apapun peristiwa pahit yang pernah dia alami, dan move on dari bayangan kekelaman masa lalu yang terus menghantuinya.

Kekelaman masa lalu inilah isu yang juga menarik untuk dibahas.

Sebagai orang dengan traumatic experiences dan sampai detik ini juga sangat berpotensi untuk relapse jika saya tidak hati-hati menjaga kestabilan jiwa-raga, saya bisa merasakan apa yang Rasi rasakan terhadap masa lalunya tersebut. Ada beberapa kejadian di mana Rasi bukanlah "korban" secara langsung, melainkan menjadi "korban" karena posisinya sebagai saksi mata. Ini sama beratnya dengan menjadi the victim yang mengalami langsung -- peristiwa traumatis yang saya alami juga salah satunya karena saya di posisi yang sama seperti Rasi. Ditambah ada rentetan peristiwa lainnya, di mana Rasi menjadi "korban" secara langsung -- sama, saya pun memiliki kejadian serupa tapi tak sama dengan Rasi. Inilah mengapa saya bisa merasa mudah untuk masuk ke dalam kondisi kejiwaan Rasi. Terapi apapun yang sedang Rasi jalani bukanlah proses yang mudah dan menjadi kunci utama kesembuhan Rasi, terutama jika dia harus berjuang sendirian. Untunglah, Rasi memiliki sahabat-sahabatnya. Keluarga Rasi pun supportive.

Support dari orang-orang terdekat sangat penting dalam membantu para survivors untuk bisa move on, ikhlas, dan menerima peristiwa-peristiwa traumatis yang dialami oleh para survivors sebagai bagian dari perjalanan hidup dan pengalaman yang harus dijalani. Move on bukan berarti melupakan karena move on adalah proses di mana kita menerima dan mengikhlaskan. Artinya, seseorang harus berani menghadapi dan melawan apapun hal traumatis yang terjadi pada dirinya untuk bisa move on, bukannya menghindar atau lari dari kenyataan. Di dalam novel ini, sahabat-sahabat Rasi patut diacungi jempol karena berani mengingatkan Rasi dan mengajak Rasi untuk menghadapi ketakutannya sendiri.
"Cobalah hadapi itu, sekali lagi. Lawan rasa sakit dan takut itu, Ras. Demi kita. Demi lo sendiri." (p. 196)

Meski demikian, saya juga mengacungkan kedua jari jempol tangan saya untuk Rasi. Dibandingkan saya yang saya anggap terlambat menyadari masalah traumatis yang menimpa diri saya, Rasi secara sadar menemukan insight bahwa dia butuh ditolong dan dia juga sangat aktif dalam mencari bantuan sejak ia pertama kali menyadari bahwa ada yang "salah" pada dirinya. Ini kerennya Rasi. Kalau saya dulu, begitu saya menyadari ada yang error pada diri saya, malah saya sibuk denial dan menolak habis-habisan bahwa saya butuh bantuan. Hahaha. Dan karena Rasi merupakan sebuah karakter yang diciptakan oleh penulisnya, maka saya wajib mengapresiasi Halluna Lina karena membuat karakter seperti Rasi. Ini juga yang membuat saya mengapresiasi Rasi, lebih daripada saya mengapresiasi Tom di The Girl on Paper. Saya agak bosan dengan pola cerita, di mana harus orang lain yang menyadarkan tokoh yang butuh dibantu bahwa dia membutuhkan pertolongan; seperti Tom. 

Tom itu, nggg... Untunglah dia memiliki Milo dan Carole.

Saya juga menyukai bagaimana penulis, melalui karakter Dokter Chintya, juga mengarahkan Rasi untuk menulis. Ini bentuk terapi yang bagus bagi Rasi. Ditambah lagi, sebelum Rasi menjalani sesi-sesinya bersama Dokter Chintya, Rasi sudah merupakan seorang penulis. Bedanya, menulis bagi Rasi adalah bentuk pelarian, sementara Dokter Chintya mengarahkan Rasi untuk menulis supaya mengingat kejadian dan pengalaman yang dia jalani sehari-hari sebagai bentuk terapi yang signifikan porsinya bagi kesembuhan Rasi.
Dokter Chintya menaruh piringnya, lalu menyesap teh sebelum bicara, "Oh, ya, Ras, aku punya tugas untuk kamu."
"Oke, Dok. Apa yang harus kulakukan?" tanya Rasi siap sedia.
"Catatlah kegiatanmu dari jam bangun sampai saat akan tidur. Boleh seperti kamu membuat cerpen atau prosa. Aku selalu suka tulisan kamu. Apa saja yang kamu lakukan, siapa yang kamu temui, ke mana saja kamu pergi. Tak perlu rahasiakan apa pun." 
(p. 154-155)

Sayangnya, penulis kurang halus dalam menerjemahkan isu-isu yang dihadapi oleh Rasi, tidak lancar juga dalam memberikan narasi, sehingga saya gregetan sekali dalam hal ini mengingat materi yang dia miliki itu oke. Bagusnya adalah, penulis tidak terjebak untuk mendiktekan dan memberikan judgement atau label tertentu, terkait kondisi Rasi. Saya pernah bertemu beberapa penulis lokal yang "royal" dalam memberikan judgement dan label-label tertentu, serta mengatakan bahwa karakter yang dia buat mengalami disorder tertentu sementara narasi terkait disorder tersebut bertentangan dengan symptoms atau gejala-gejala yang ditunjukkan oleh orang-orang dengan disorder tersebut. Epic. Itu ngaco-nya epic.

Apa yang saya sebutkan di atas, terkait apa yang Rasi alami beserta segala label yang saya sebutkan adalah hasil interpretasi sotoy saya terkait apa kira-kira yang dialami oleh Rasi, berdasarkan latar belakang profesi dan pengalaman personal maupun pengalaman orang-orang yang saya ketahui. Tentunya, terbuka sekali untuk dikritisi. Ehehe~


***

Ssstt...

Menurut saya, judul Hari Setelah Kita Jatuh Cinta ini sangat on point dalam menggambarkan pengalaman hidup Rasi terkait pengalaman jatuh cinta.

Hal yang juga on point adalah ilustrasi-ilustrasi di dalam buku, yang juga menjadi semacam early spoilers bagi narasi selanjutnya yang ingin digambarkan. Berikut ini adalah beberapa yang saya sukai.

Ketika Rasi dan Reuben jalan dan makan bareng. Ini ternyata adalah lokasi yang mereka pilih sebagai meeting point.

(p. 37)

Ketika Rasi dan Reuben membahas tattoo. Nggg... ada grammar error yang mengganggu bagi saya juga di scene ini. Tapi, lupakan itu dulu karena ini adalah Jane Austen my ultimate girl's crush! Ini bukan sekadar quote karena ini ada kaitannya dengan signifikansinya perilaku yang ditunjukkan oleh Rasi terkait tattoo.

(p. 66)

Ketika sesuatu kembali terjadi pada diri Rasi dan bagaimana perilaku Rasi mengenai puppy ini merupakan salah satu perilaku signifikan yang menunjukkan bahwa sesuatu telah terjadi dan itu kembali membuat significant people yang menjadi support system Rasi juga kembali waspada.

(p. 101)

Bukan sekadar ilustrasi pemanis, eh? Hihihi.

Ending yang dipilih oleh penulis juga cenderung realistis bagi saya. Saya suka.


***

Details
Identitas Buku
Judul: Hari Ketika Kita Jatuh Cinta
Penulis: Halluna Lina
ISBN: 978-602-375-520-2
Halaman: 248+
Terbit: Juni 2016
Penerbit: Grasindo (Katalog)
Harga: Rp 62.000

Alternatif Lokasi Pembelian Buku
Gramedia, Bukalapak, Tokopedia, Parcel Buku


***

Last Edited:
30 Desember 2016


Cheers!
Have a blessed-day!