01 December 2016

Grasindo Blogtionship Casual Lunch and Gathering


Pada postingan saya sebelumnya, saya sempat mengatakan bahwa saya diundang oleh Penerbit Grasindo untuk menghadiri acara Grasindo Blogtionship. Nah, pada hari Minggu, tanggal 27 November 2016 kemarin saya pun datang dengan harap-harap cemas. Pret.

Berhubung saya sudah lama sekali tidak ke daerah Kemang -- terakhir pada tahun 2012 lalu kalau tidak salah, tidak lama sebelum saya pindah ke Bandung deh ya... Hihi -- jadi agak bingung juga dalam memutuskan sebaiknya saya berangkat dari Salemba Tengah jam berapa supaya tidak terlambat datang ke lokasi. Ya, sudah, saya pun memutuskan naik ojek online dan berangkat dari kos sekitar pukul 08.30 WIB dan tiba di lokasi pukul 09.00 WIB.


***



A photo posted by Nia F. S. Kartadilaga (@niafajriyani) on


Yak!

Ternyata saya datang terlalu cepat. Hahaha. Padahal waktu itu saya sudah sempat mampir ke minimarket untuk membeli roti, tissue, dan air mineral. Jaga-jaga. Just in case Kedai 89, yang menjadi lokasi kegiatan, belum buka dan saya kelaparan -- yang ternyata benar, Kedai 89 belum mulai beroperasi ketika saya datang. Saat itu mereka masih berbenah, masih menyapu, mengepel, dan mengelap meja serta segala piranti. Bahkan, orang dari Penerbit Grasindo yang datang berbarengan dengan saya, pun, baru satu orang; bernama Mbak Dwi, dan tinggal di daerah Jatinegara. Well, setidaknya saya ada teman mengobrol deh ya. Hehehe.

Meja masih kosong melompong ketika saya datang. Seperti ini.

Krik-krik...

Menjelang pukul 10.00 WIB, peserta, panitia, dan Kang Maman Suherman yang menjadi pemateri sudah berdatangan. Meja mulai diisi dengan tanda pengenal dan juga daftar menu, serta alas meja makan. Kursi-kursi mulai terisi penuh juga oleh para peserta. Pertanda acara Grasindo Blogtionship siap sekali untuk dimulai.

Sebelum acara resmi dimulai, peserta ada yang sibuk saling berkenalan, ada yang sibuk mengobrol, dan ada satu lagi -- Ipeh Alena -- yang sibuk otak-atik kamera saya dan mengambil beberapa foto seperti ini. Hahaha.

  


Sementara itu, panitia sibuk mengurus daftar hadir dan pembagian goodie bag, termasuk menyiapkan hadiah untuk kuis di akhir kegiatan. Itu lho, yang kotak-kotak kecil di atas meja. Salah satunya, kemudian menjadi milik saya. Ahhey! Saya jadi punya dua, setelah sebelumnya mendapatkan hal yang sama ketika menonton Wonderful Life bersama member Gramedia lainnya.

 

Saya sedang apa saat itu?
Ngg... 
Tidak terlalu ingat. 

Tetapi, salah dua hal yang saya lakukan saat itu pasti update ini...

A photo posted by Nia F. S. Kartadilaga (@niafajriyani) on


Dan memfoto ini... Hahaha.

Goodie Bag

Blocknote-nya cantik sekali...

***

Finally... Acara dimulai.

Acara dibuka oleh MC, yaitu Mbak Ika Citra. Orangnya humoris dan menggemaskan. Hahaha. Pembawaan dia yang seperti itu yang membuat acara berjalan dengan fun. Ditambah, Mbak Ika juga bisa sangat mengimbangi pembawaan Kang Maman yang koplak. Guyonan mereka berdua itu crunchy, sebenarnya, tapi entah kenapa terasa pas saja dengan suasana. Hahaha.


Sebelum acara bincang santai dengan Kang Maman dimulai, Mbak Ika mengajak Ketua Pelaksana kegiatan Grasindo Blogtionship untuk memberikan sambutan. Ketua Pelaksana kegiatan bernama Mbak Septiana, yang juga merupakan editor fiksi di Penerbit Grasindo


And then... 

Kang Maman kemudian secara resmi diperkenalkan kepada para peserta. Kami pun mulai terlihat siap menyimak materi dan update di social media masing-masing. 



Selama kegiatan, saya lebih banyak update di akun Twitter @niafajriyani dengan tagar #GrasindoBlogtionship.

Saat ini, Kang Maman mungkin lebih banyak dikenal sebagai notulen di acara Indonesia Lawak Club. Saya sendiri sudah mengenal beliau sejak tahun 2012 lalu melalui kegiatan-kegiatan Klub Buku Indonesia atau obrolan santai di mall atau cafe bersama Kang Maman dan teman-teman pengurus Klub Buku Indonesia. Saat itu, saya sudah mengetahui tentang Kang Maman yang memiliki latar belakang pendidikan dari Kriminologi Universitas Indonesia -- satu almamater dengan saya, bedanya saya di Psikologi dan Kang Maman di FISIP. Bersebelahan, deh, ya. Hahaha.

Lewat obrolan-obrolan dengan Kang Maman dulu pula, terutama di momen B.O.K.I.S 1 baru terbit, saya mendengar kisah-kisah Kang Maman tentang bagaimana beliau bisa mendapatkan cerita-cerita di balik buku tersebut berdasarkan profesi Kang Maman sebagai seorang jurnalis selama belasan tahun -- profesi yang kalau saya tidak salah ingat, sudah digeluti oleh Kang Maman semenjak beliau masih berstatus mahasiswa. Kang Maman juga pernah menjadi Managing Director di sebuah agency. Nah, pekerjaan terakhir ini sempat disinggung oleh Kang Maman sebagai pekerjaan yang terakhir digelutinya sampai tahun 2011. Setelah itu, Kang Maman memutuskan untuk "solo career" dan tidak terikat menjadi pekerja kantoran lagi.

***

But anyway...

Fokus pembahasan yang diberikan oleh Kang Maman, kepada kami para book blogger, bukan mengenai latar belakang profesi Kang Maman seperti yang saya sebutkan di atas, melainkan tentang dunia buku dan blogger buku pada umumnya.

Kang Maman memulai materi dengan menyebutkan beberapa fakta mengenai "dunia buku" di Indonesia. Misalnya, mengenai fakta yang sudah sejak tahun 2012 sering sekali saya dengar. Bahkan, pembahasan serupa pernah dibahas di Kelas Literasi Pak Moko, yang biasa diadakan di American Corner Perpustakaan Pusat Institut Teknologi Bandung setiap Jumat siang, dengan membahas dan membedah buku serta dunia literasi pada umumnya -- terkadang dilanjutkan dengan menonton dan membedah film juga; bahwa Indonesia menduduki posisi ke-60 dari 61 negara, dalam hal literasi. Unicef said...

Di dalam salah satu sesi bersama Pak Moko saat itu, beliau concern pada fakta bahwa banyak kelompok atau komunitas masyarakat yang belum bisa membaca. Lebih jauh lagi, tidak paham tanda baca. Hal ini menyebabkan banyak orang, terutama anak-anak, yang ketika membaca itu nadanya sangat datar. Tidak ada intonasi yang menyelaraskan dengan keberadaan tanda baca di dalam bacaan. Hal ini yang membuat Pak Moko ketika kembali ke Indonesia -- beliau sebelumnya sudah puluhan tahun menjadi researcher di salah satu kampus bergengsi di Amerika Serikat -- memutuskan untuk membuka kelas literasi tadi, dengan merangkul generasi muda, yang nantinya diharapkan dapat terjun langsung ke lapangan dan membantu mengatasi masalah literasi di masyarakat; terutama mengatasi masalah membaca dan juga mengajarkan expressive reading atau dramatic reading kepada masyarakat, khususnya kepada anak-anak. 

Ilmu yang saya dapatkan dari Pak Moko ini sejalan dengan apa yang saya temui ketika berhadapan dengan klien anak-anak, terutama usia awal Sekolah Dasar, yang bermasalah di area membaca dan menulis. Mulai dari masalah pemenggalan kata dan spasi (khususnya di tulisan), serta pengucapan kata dan ejaan yang salah. Terkait dramatic reading, anak-anak ini kemungkinan juga akan bablas begitu saja melewati segala tanda baca yang tertera di tulisan ketika diminta untuk membaca -- dengan intonasi, yang jelas datar tadi. Wajar jika akhirnya kondisi akademik mereka secara keseluruhan menjadi bermasalah, terutama pada area-area yang mengharuskan mereka untuk memiliki kemampuan membaca dan menulis. Hal yang semakin membuktikan bahwa apa yang disampaikan oleh Pak Moko merupakan fakta, bukan hoax.

Bagaimana menurut Kang Maman?

Mengapa Indonesia terpilih menjadi sample di dalam penelitian Unicef tadi? Menurut Kang Maman, Indonesia akan selalu masuk ke dalam penelitian terkait literasi karena jumlah penduduk Indonesia yang banyak. Indonesia sangat layak menjadi sample penelitian seperti ini.

Kembali lagi ke soal; apakah benar Indonesia memiliki minat baca rendah? 

Masih menurut Kang Maman, pertimbangan survey terkait ini selalu dari jumlah buku yang terjual. Jumlah buku yang terjual adalah indikator minat baca

Misalnya, ada banyak orang ke toko buku atau toko buku selalu terlihat ramai. Jika pengunjung toko buku ini memilih membaca di tempat dan tidak membeli buku, atau pengunjung yang datang ke toko buku benar-benar tidak membaca buku di tempat apalagi membeli buku, maka bisa dikatakan bahwa keberadaan mereka tidak mempengaruhi jumlah buku yang terjual. Artinya, keberadaan mereka yang "banyak" sama sekali tidak berperan dalam meningkatkan jumlah penjualan buku. 

Dengan posisi jumlah buku yang terjual berperan signifikan dalam menjadi indikator survey mengenai tinggi atau rendahnya minat baca di sebuah negara, maka, jika jumlah buku yang terjual di sebuah negara tidak banyak, artinya minat baca di negara tersebut rendah.

Terlihat tidak adil, ya, survey-nya? 
Tidak valid dan reliable, ya?

Namanya juga survey. Terserah penyelenggara survey mau menggunakan indikator apa saja dan menggunakan sample dari populasi yang mana saja. Hihi. Kita bisa saja membuat survey tandingan, dengan indikator yang berbeda, untuk melihat hal yang sama. Kalau mau...

Next...

Masalah literasi yang menjadi concern bagi Kang Maman adalah fakta bahwa jumlah perpustakaan di Indonesia merupakan yang terbesar di ASEAN, serta menempati urutan ke-38 di dunia. Tetapi, keberadaan perpustakaan di Indonesia ini seperti menjadi tempat "horror" ke-dua setelah kuburan.

Mengapa?

Coba ingat lagi bagaimana image perpustakaan secara umum di Indonesia, deh. Kaku; harus hening, tidak boleh berisik, tidak boleh acak-acakan. Harus selalu rapi. Kesannya jadi "dingin", bahkan "spooky". Sama seperti kuburan. Maka wajar jika anak-anak dan pelajar pada umumnya cenderung malas untuk ke perpustakaan karena "horror" tadi.

Artinya, tercipta kesenjangan antara buku dan manusia. Hal yang kemudian menciptakan jarak membentang luas antara buku dan pembaca potensialnya. Bukan minat baca yang menjadi sasaran "kesalahan" di sini. Minat baca selalu ada. Tetapi, terciptanya jarak antara buku atau bacaan dengan kita -- sebagai pembaca, adalah isu yang lebih utama. Jadi, PR utama dalam hal ini adalah bagaimana kita -- terutama penggerak literasi dan juga para blogger buku -- berupaya untuk mendekatkan jarak antara buku dan pembaca.

So...

Apa yang bisa kami -- para blogger buku -- lakukan, menurut Kang Maman?


***

Sebagai seorang blogger buku, Kang Maman menekankan kami supaya bisa merangkul pembaca blog kami supaya bisa "menggerakkan" pembaca untuk tertarik dan ikut membaca pula. Inilah pentingnya peran review buku yang kami berikan di dalam blog kami.

Berhubung saya selama ini menulis di blog just for fun, dalam arti sesuka saya dan semau saya, ya saya jadi banyak mendapat masukan juga dari Kang Maman untuk bisa meningkatkan kemampuan saya dalam menulis dan me-review sebuah buku. Selama ini, junjungan saya dalam melakukan review adalah Sparknotes, Shmoop, dan Cliffsnotes yang sungguh canggih-canggih sekali itu. Hasilnya, saya keburu mabuk duluan kalau mau menyamai mereka, ya. Hahaha. Makanya, saya membuat versi saya yang lebih apalah-entah-ya-sudahlah di sini.

Daripada memusingkan tiga websites tadi, saya mendapat catatan yang lebih sederhana versi Kang Maman. Kuncinya, hanya satu; membaca. Karena untuk bisa menulis, tentunya harus terlebih dahulu bisa membaca.

Rumus 5W + 1H dalam melakukan review adalah:
  1. Judul
  2. Nama Penulis
  3. Nama Penerbit
  4. ISBN
  5. Jumlah Halaman
  6. Plus: Foto Cover Depan dan Belakang

5W + 1H di atas harus ada dalam melakukan review buku karena itu semua adalah tonggak pertama mengenai identitas dari buku yang kita review.

Selain itu, bedakan antara resume dan review. Resume merupakan rangkuman; ada sinopsis dan sedikit penjabaran mengenai isi buku. Sementara, review atau resensi pasti ada perbandingan yang dimasukkan ke dalam pembahasan; baik dibandingkan dengan buku bertema serupa, atau dibandingkan dengan karya-karya penulis tersebut sebelumnya. Jadi, di dalam membuat review harus ada analisis, yang bentuknya bukan hanya analisis mengenai isi buku, melainkan juga analisis terhadap buku lain dengan tema serupa atau buku lain yang ditulis oleh penulis tersebut ketika membandingkan semuanya. Jelas, review akan menghasilkan tulisan yang lebih mendalam.

Sampai di sini, mulai berpikir kan ya mengenai so-called-book-review yang selama ini kita lakukan? Kalau saya, jelas iya. Hahaha. 

Urusan resume vs review ini sudah sering dibahas oleh saya dan teman-teman di Klub Buku Indonesia, to be frank.

Blog saya jelas masih jauh dari sempurna, "review" yang saya lakukan juga jauh dari sempurna. Saya juga belum menemukan blogger Indonesia yang banyak memberikan analisis di dalam "review" mereka; dalam arti analisis mendalam, seperti yang banyak saya temui dari blog maupun websites di luar negeri. Lebih membutuhkan usaha, yang jelas, untuk bisa mencapai seperti mereka. Dan biasanya, sih, saya menyerah duluan. Hahaha. Di blog ini lho yang subhanallah keburu malas lelah duluan kalau harus melakukannya. Live di grup saja, ya, saya pernah sampai harus melakukannya selama 7 jam non stop. Tidak terbayang kalau itu dikemas ke dalam bentuk tulisan di blog akan seperti apa. Hahaha.

Hal lainnya, yang juga penting dilakukan adalah jangan memberikan spoiler. Ini dia yang saya sering bablas juga. Seharusnya, biarkan pembaca mencari-tahu sendiri di dalam bukunya. Jadi, yang harus kita lakukan sebatas ajakan untuk membaca lebih lengkap di dalam bukunya. Misalnya,
Penasaran? Cari tahu lebih lengkap di bukunya, ya.
Ingin tahu lebih lengkap soal ceritanya? Baca, yuk, di bukunya langsung.

Begitu...

Kang Maman juga menekankan pentingnya mencoba membedah sebuah buku, dengan dikaitkan ke latar belakang pendidikan maupun profesi kita, karena ini bisa memberikan nilai tambahan ke dalam review yang kita tulis. Kita bisa memadukan ilmu yang kita miliki dengan buku yang sedang kita bedah.

Lalu, tambahkan hashtag unik, yang ketika orang melihat hashtag tersebut maka mereka akan otomatis teringat dengan kita. Ini bisa membuat tulisan kita menjadi lebih menarik juga.

Dan poin maha penting di era kekinian ini adalah; blogger harus terus mengikuti perkembangan. Blogger tidak boleh gagap teknologi.

Next...

Biasanya, para blogger buku akan berhadapan dengan penulis atau fans penulis tersebut, yang tidak terima jika karya si penulis dinilai tidak baik atau jelek. Malah ada penulis yang terang-terangan mengatakan bahwa sebelum menulis buku, maka tidak boleh melakukan review buku. Nggg...

Kang Maman memberikan pernyataan yang bagus sekali di sini. Kurang lebih seperti ini bunyinya.
Buku mengajarkan kerendah-hatian, bukan arogansi
Salah satu fungsi membaca adalah reflecting. Membaca buku membuat kita bisa melihat dari berbagai sudut pandang. Kita bisa melihat bahwa sudut pandang yang beda bukan berarti salah, ini kita ketahui melalui buku. Bahkan, JK Rowling tidak pernah merendahkan pembedah buku.

Bukan hanya sekali saya mendengar cerita teman-teman yang di-block oleh beberapa penulis lokal ketika memberikan rating rendah terhadap karya penulis yang dimaksud. Beberapa bahkan sampai konon di-bully oleh penulis-penulis itu, termasuk di-bully oleh para fans mereka. Ini immature sekali. Sangat immature. Penulis, lho, katanya mereka itu. Hahaha.

Saya sendiri pernah "diomeli" oleh salah satu penulis lokal ketika saya mention yang bersangkutan di salah satu akun social media saya sekitar dua tahun lalu, saya cantumkan juga link blog saya yang berisi review salah satu buku dia. Isi review saya tidak menjatuhkan, ya. Saya mencoba jujur menyampaikan apa kekurangan dari buku tersebut, saya jabarkan alasan-alasan saya juga. Selebihnya, berisi poin-poin yang sangat saya apresiasi. Oleh yang bersangkutan, saya dianggap beginilah begitulah; yang jadinya, kok, memojokkan saya untuk poin kecil yang saya sampaikan -- hanya karena poin kecil ini berisi kekurangan yang saya rasakan selama membaca. Dia seperti lupa kalau selebihnya, yang saya berikan, adalah apresiasi semua. Hahaha. No hard feeling, kalau saya. We can't please everyone, darling. Cuma lucu saja jadinya.

Lebih lucunya lagi... Saat itu, saya punya beberapa alter account di social media. Akun-akun ini khusus saya gunakan untuk melihat "pemetaan" dunia buku di social media. Makanya, akun-akun tersebut saya gunakan salah satunya untuk follow banyak sekali penulis lokal. Lewat salah satu akun ini, saya mencoba menggunakan pendekatan yang berbeda kepada penulis yang sama. Saya berikan pujian terhadap karya-karyanya, tanpa mencatumkan kekurangan sama sekali. Hasilnya, akun saya di-follow back dan saya selalu diberikan update mengenai karya-karya terbaru dia. Bahkan, saya -- melalui akun tersebut -- juga pernah diberikan buku gratis yang merupakan buku terbaru dia saat itu. Saya jadi kasar sekali berpikir tentang perilaku penulis tersebut; so shallow, so lame... 

Andai dia tahu kalau yang dia hadapai saat itu adalah orang yang sama, yaitu saya. 

So far, itulah satu-satunya pengalaman unik saya menghadapi penulis yang ngambek ketika dikritisi. Padahal, mengkritisi itu bukan berarti menjatuhkan. Ketika kita memberikan penilaian positif yang berisi kelebihan sebuah buku, ini pun namanya mengkritisi. Mengkritisi, ya, idealnya bisa memberikan penilaian yang berisi kekurangan dan kelebihan dari apa yang kita baca tho? Selama kuliah, dosen-dosen saya selalu mengarahkan untuk menganalisis dan mengkritisi jurnal internasional; harus selalu bisa memberikan penilaian terhadap kekurangan, kelebihan, dan saran terhadap jurnal tersebut. Di sini saya belajar mengenai apa yang dimaksud dengan mengkritisi sebuah bacaan. Makanya, saya sangat bingung kalau ada penulis yang bukannya berterima-kasih karena sudah dibaca dan dikritisi karyanya oleh para pembaca yang sudah jelas-jelas meluangkan waktu dan mengeluarkan uang untuk membeli karya mereka, tetapi malah ngambek ketika ditunjukkan kekurangannya.

Saelaaah...
Gaya banget, ya, tulisan saya?
Hahaha...

Kembali ke materi dari Kang Maman...

Alternatif lain apa yang bisa dilakukan untuk bisa "menghaluskan" kritik yang diberikan terhadap buku yang kita baca? Dengan harapan, penulis tidak menjadi terlalu marah atau sakit hati ketika dikritisi.

Poin utamanya, jangan hanya mengatakan buku tersebut jelek. Setahu saya, sih, saya sudah melakukan ini. Tapi, mungkin gaya sehari-hari saya yang cenderung cablak suka terpancar melalui tulisan-tulisan saya ketika review buku, ya. Saya jadi berpikir lagi ke penulis di atas tadi. Berhubung saya pernah berhadapan langsung dengan dirinya, saya melihat memang dia cenderung sensitif dan -- kalau kata anak kekinian -- mudah baper. Saya pernah melihat teman saya dimarahi oleh dia yang ngambek ke teman saya, soalnya. Ehehehe. Bisa jadi, dia sangat tersinggung ketika saya menunjukkan kekurangan di karya dia, sementara (mungkin) pembaca lain tidak ada yang menunjukkan adanya kekurangan di buku tersebut. Mungkin. Hal ini masih misteri Ilahi bagi saya. Halah.

Apa, dong, yang harus dilakukan?

Kang Maman mengatakan, sebaiknya kita fokus memberikan penjabaran, bukan label, selama mengkritisi. Misalnya, jangan mengatakan, "Bukunya gak layak dibaca.". Melainkan, "Saya merasakan bahwa buku ini... Saya berharap... Jika disampaikan dengan cara begini, mungkin hasilnya akan jauh lebih menarik.". Intinya, ya, menyampaikan alasan-asalan secara umum, jangan langsung mengerucut secara khusus menuju label negatif tertentu terhadap buku tersebut.

***

Last, but not least...

Kang Maman memberikan kunci untuk membuat kita memiliki blog yang bagus. Kita bisa menggunakan kunci-kunci ini untuk upgrade blog kita.

Here they are...

6 Golden Rules untuk menjadikan blog kita sebagai blog yang menarik:
  1. Know your audience. Ketahui target audience kita.
  2. Select the theme. Poinnya di sini, generalist is okay. Tapi kita harus coba untuk juga stick to the theme and create your personality.
  3. Choose your blog name. Utamakan isi, jaga kemasan.
  4. Choose your color, font, logo, and tagline. Inilah tema dan identitas kita.
  5. Choose your image. Cantumkan sumber image jika kita mengambil dari milik orang lain.
  6. Invest to build your brand.

PR saya, yang jelas, ada banyak sekali untuk bisa membuat blog saya menjadi jauh lebih menarik dan menjadikan review saya menjadi review yang juga jauh lebih baik.

Di bawah ini...

Bagi kalian yang tidak bisa hadir di acara Grasindo Blogtionship, kalian juga bisa melihat video yang dibuat oleh Penerbit Grasindo berikut.



Sekali lagi, terima kasih kepada Penerbit Grasindo bekerjasama dengan Scoop yang telah mengundang saya untuk hadir di kegiatan Grasindo Blogtionship, serta terima kasih kepada Kang Maman Suherman yang telah memberikan banyak sekali ilmu. Saya suka sekali dengan blogger gathering penuh ilmu seperti ini. Sangat membantu dalam memberikan masukan terhadap amateur blogger seperti saya supaya bisa lebih baik lagi dalam menulis di blog.

Semoga kita bertemu kembali di lain kesempatan. Saya tunggu undangan selanjutnya. Ehehe~


Cheers!
Have a blessed-day!

4 comments:

  1. Lengkap banget penjelasan nya mba Nia :D makasih ya :) hahaha iya banyak yang nyangka kalau kita sebagai reviewerngga suka berarti bukunya jelek padahal mah ngga cocok aja. Lagipula kita ngga bisa nyenengin semua orang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa... Sama-sama, Hana. We can't please everyone, indeed. Tapi, ya suka gemes aja kalo denger temen-temen yang kok malah seperti jadi "korban" penulis-penulis arogan ini. Kan, malah membuat image mereka jadi makin jelek, terutama di kalangan orang-orang yang tahu banget bagaimana kelakukan mereka terhadap orang yang memberikan kritik dan menunjukkan kekurangan dari karya mereka tadi. Dan macem delusional juga kalo anggap orang yang kontra mereka atau menunjukkan kekurangan itu adalah haters. Duh, please deh. Hanya karena berbeda dengan pendapat mereka yang pro dan menunjukkan kelebihan, bukan berarti yang kontra dan menunjukkan kekurangan adalah haters. Toh, yang pro dan menunjukkan kelebihan mereka juga bukan berarti lovers atau fans mereka. Jangan GR :))

      Delete
  2. Jadi inget ada yang bilang, "We are reader, not cheerleader."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, Kak Ran. Kita posisinya reader, bukan cheerleadernya penulis. Hahaha.

      Delete