19 December 2016

Mending Wounded Minds: Seeking Help for a Mentally Ill Child by Beth Henry & Vincent L. Pastore




Judul Asli: Mending Wounded Minds - Seeking Help for a Mentally Ill Child
Judul Terjemahan: Anakku Seorang Skizofrenik - Hidup Bersama Anak dengan Gangguan Jiwa
Pengarang: Beth Henry & Vincent L. Pastore
Jenis: Non Fiksi, Memoar
ISBN: 979-3269-31-6
Penerbit: Qanita (Mizan Media Group)
Tahun Terbit: 2005 (Cetakan 1, Terjemahan) / 2004 (Edisi Asli))
Jumlah Halaman: 349++


BLURB

Sebuah jeritan yang menyayat hati memecah udara musim gugur yang sejuk. Jessica berlari masuk rumah dengan napas tersengal-sengal, tangannya menekap jantungnya. Dia menjerit histeris, "Tommy menusuk dadaku dengan gunting." Aku cepat-cepat menarik kemejanya dan tergagap. Luka memar tampak di dadanya.

Hidup Beth Henry berubah drastis ketika suara hari, dia menerima kedatangan dua anak tirinya. Bobby, si kecil, tampaknya tidak berkembang normal sebagaimana anak seusianya. Sementara Tommy, kakaknya, bagaikan bom waktu yang setiap saat bisa meledak. Sifatnya yang sangat temperamental dan mengarah ke skizofrenik menyiratkan kepedihan dan trauma yang dialami pada masa lalu.
Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, Beth melakukan segala cara untuk menolong kedua anak tirinya, sekaligus menjaga keutuhan keluarga barunya.


***



Mending Wounded Minds: Seeking Help for a Mentally Ill Child memaparkan tentang kisah Beth Henry, seorang Ibu dari enam orang anak -- kandung maupun tiri. Kedua anak tirinya sangat bermasalah secara mental.

Sejak menikah dengan Mark dan bertemu dengan kedua anak Mark dari perkawinan sebelumnya, yaitu Tommy dan Bobby, hidup Beth menjadi seperti sedang menaiki roller-coaster. Saat pertama kali bertemu, usia Tommy baru empat tahun dan usia Bobby baru dua tahun. Namun perilaku keduanya menunjukkan keanehan-keanehan yang spesifik. Keduanya mudah sekali tantrum, menyerang orang lain bahkan hingga brutal, dan terlihat begitu menakutkan. Perilaku-perilaku tersebut, semuanya, mengarah ke gejala-gejala psychosis. Perjuangan hidup yang roller-coaster ini terus berlangsung hingga lima tahun lamanya.

Ketika Mark berperang memenangkan hak asuh mutlak terhadap Tommy dan Bobby, Beth memutuskan untuk ikut aktif mengasuh Tommy dan Bobby selayaknya. Saat pertama kali pengasuhan beralih ke mereka berdua, kondisi Tommy dan Bobby begitu mengenaskan. Keduanya terlihat mengalami malnutrisi dan sangat jelas, keduanya diasuh dengan sangat tidak baik oleh ibu kandung (Gayle) dan kekasih baru ibunya (Rod). 

Belakangan, setelah Beth mengalami keguguran yang pertama kalinya, baru diketahui bahwa Tommy dan Bobby ditolak keberadaannya oleh Gayle dan Rod. Bukan itu saja, Tommy dan Bobby juga mengalami kekerasan fisik dan seksual dari Gayle dan Rod.

... Tommy memberitahu kami bahwa Rotelah mengunci dirinya, Bobby, dan anak lain yang sedang diasuhnya di dalam kamar mandi dalam keadaan telanjang bersama-sama.

Dampak dari pengasuhan oleh ibu kandung dan ayah tiri tersebut membuat Bobby menjadi sangat pendiam, pasif, dan sangat lunak. Sementara, Tommy menolak perhatian dan kasih sayang dari Beth dan Mark, serta sangat disiplin. Sikap patuh yang terasa begitu ganjil. 

Tommy memberi kami gambaran yang hidup tentang Rod yang mengenakan monster Halloween dan masuk ke dalam kamar Tommy dan Bobby untuk menakuti mereka saat tidur. Dia memberi tahu kami bahwa Rod suka memasukkan jarinya jauh ke dalam dubur Tommy. Dengan berurai air mata, Tommy menggambarka bagaimana Rod menarik keluar tinja dari duburnya saat serangan itu. Tommy berkata bahwa Rod suka menunjukkan itu kepadanya. Dia bilang Rod suka kencing di mulutnya dan seluruh badannya juga Bobby. Saat kami mendengarkan dengan perasaan ngeri, Tommy menggambarkan bagaimana Rod memasukkan penisnya ke dalam mulutnya dan menyuruh Tommy mengisapnya. Dengan jelas dia menggambarkan zat yang keluar dari penis Rod, meskipun dia menyebutnya "pipis". "Pipis" itu "putih", menurut Tommy. Ejakulasi penis berwarna putih bukan sesuatu yang bisa dimengerti oleh seorang anak usia empat tahun yang normal. Begitu pula penetrasi anal. Rod mengatakan kepada Tommy bahwa jika dia tidak menjaga "rahasia" mereka, dia akan membunuh mereka.


Beth sempat "ambruk". Dia merasa nyaris gila. Belum selesai kesedihannya karena baru saja kehilangan sepasang anak kembar, dia juga harus menghadapi pengakuan memilukan dari Tommy tentang bagaimana ayah tirinya memperlakukan dia dan Bobby. Beth bahkan memilih membuat janji dengan seorang Psikiater dan Psikiater tersebut menyatakan bahwa Beth "hanya" sedang kewalahan. Belum lagi, peperangan untuk memenangkan hak asuh Tommy dan Bobby terasa masih sangat panjang. Kekacauan ini masih ditambah pula dengan segala tagihan yang menggunung dan mendesak untuk dibayar, terutama terkait dengan pengeluaran untuk menghadapi proses hukum dalam usaha mengambil alih hak asuh atas Tommy dan Bobby. Beruntung, ayah Mark bersedia menanggung biaya pengacara yang dibutuhkan untuk mengambil-alih pengasuhan Tommy dan Bobby, bahkan sampai mengirimkan bantuan dengan meminta seorang pengacara yang sangat berpengaruh supaya mewakili Mark dan Beth di proses tersebut.

Kondisi Tommy jauh lebih buruk dibandingkan Bobby. Jika Bobby terlihat mengalami pertumbuhan yang semakin baik sejak diasuh oleh Beth, maka Tommy tidak. Tommy seolah terlambat ditangani dan perilakunya semakin berkembang ke arah psychosis. Tommy dibawa ke Dr. Benson dan diberikan Ritalin. Selain itu, Tommy semakin sering menceritakan apa saja pengalaman traumatis yang pernah dia alami.

... Dia menggambarkan bagaimana tinja dimasukkan ke dalam sereal sarapannya, dan mengulang-ulang cerita penyiksaan seksual yang dilakukan oleh orang-orang yang mestinya melindungi dia. Karena Tommy menghidupkan kembali penyiksaan seksual itu, nyaris setiap hari, semakin banyak yang dia ingat, semakin buruk keadaannya.

Bobby yang bertubuh begitu mungil terdiagnosa mengalami perkembangan mental dan sosial yang jauh berada di bawah rata-rata anak seusianya. Tommy pun begitu, dia mengalami keterlambatan perkembangan, serta perilakunya berganti-ganti antara agresif dan depresif. Tommy maupun Bobby mengalami Post-Traumatic Syndrome Disorder. Bobby sudah mengalami kemajuan, sementara Tommy semakin mengalami kemunduran.


Namun, Tommy dalam kesedihannya bertingkah makin lama makin ganas. Dia mulai meludahi anak-anak di prasekolah dan menjadi semakin agresif. Tommy menggigir seorang anak di sekolah. Dia terus menerus bercerita tetang seorang anak yang memarahinya pada waktu pelajaran. Ketika aku menyampaikan hal ini kepada gurunya, dia memberi tahu kami bahwa anak yang diceritakan Tommy tidak pernah mengganggu siapa pun dan sangat pasif. Ditambahkannya bahwa Tommy-lah yang memarahi anak itu.

Kegelisahan dan kemarahan Tommy tampaknya semakin menjadi setiap hari. Dia menunjukkan alat kelaminnya saat marah. Dia membersihkan tenggorokannya dengan suara keras yang berlebihan...

Beth sempat mencoba mengabaikan perilaku Tommy, dengan harapan bahwa pada akhirnya Tommy akan berhenti dengan sendirinya. Namun, Tommy ternyata melakukan sesuatu yang membuat Beth tidak dapat mengabaikan perilaku ganjil dari Tommy lagi.
Saat memeriksanya pada jam tidur siang, aku tergagap. Dia telah memelintir seprai tempat tidurnya menjadi seperti tali dan melingkarkannya kuat-kuat pada lehernya. Mataku tidak ingin memercayai apa yang sedang kulihat. Tommy berbaring diam di tempat tidur, seprai itu telah membuatnya sulit bernapas, sementara "tali" mengikatnya semakin kuat. Tommy melawan ketika aku berusaha melepaskan ikatan itu. Sambil membawa seprai, aku meninggalkan kamarnya dalam keadaan benar-benar panik, dan menelepon Dr. Benson. Dia menyuruhku untuk menghentikan Ritalin secepatnya dan membawa Tommy menemuinya.

Bagaimana mungkin seorang anak lima tahun ingin mati?

Dr. Benson memberikan obat anti-depresan. Namun, obat tersebut membuat Tommy semakin agresif. Bahkan, Tommy mulai sering menyerang Jessica -- anak bungsu Beth dari perkawinan sebelumnya -- secara teratur. Jessica merusaha keras untuk menjadi kakak bagi Tommy dan Bobby. Dia bahkan secara sukarela mengajukan diri untuk mengawasi Tommy saat Tommy menunggu bus sekolah. 

Perilaku Tommy di sekolah pun tidak lebih baik. Dia meninju rahang seorang anak saat berada di dalam kamar mandi laki-laki. Ya, Tommy yang masih TK menyerang anak kelas dua di sekolah. Akibatnya, tidak ada yang mau bermain dengan Tommy di sekolah. 

Mark dan Beth, bekerjasama dengan Dr. Benson, mencoba memberikan pengertian kepada pihak sekolah untuk memberikan perlakukan khusus kepada Tommy. Misalnya, rutinitas Tommy di sekolah jangan diubah karena anak menimbulkan gangguan emosional lebih lanjut bagi Tommy. Perubahan jadwal membuat Tommy merusak kamarnya, memecahkan mainan, dan melemparkan berbagai barang ke arah Mark dan Beth. 

Tetapi, karena masalah dana, pihak sekolah mengeluarkan Tommy dari program pendidikan khusus yang hanya setengah hari. Perubahan aktivitas sekolah ini membuat Tommy semakin meledak. Hal yang dilakukan Tommy adalah menusuk dada Jessica -- yang saat itu mengawasinya saat menunggu bus sekolah -- dengan gunting yang diambil dari sekolah.

Anak-anak Beth lainnya, Jeff, Kyle, dan Jessica juga tidak mau membawa teman-temannya ke rumah karena khawatir dengan keselamatan teman-teman mereka. Selain itu, mereka bertiga juga tidak mau meninggalkan Beth bersama Tommy saja karena khawatir bahwa Tommy akan menyerang Beth dan adik bayi mereka. Saat itu, Beth belum lama melahirkan bayi bernama Jack.

Dr. Benson mengatakan bahwa Tommy tampaknya memendam kebencian mendalam terhadap kaum wanita. Kemungkinannya akibat perlakukan buruk yang diterimanya dari Gayle dulu. Kemarahan terhadap wanita ini yang membuat Tommy menyerang Jessica, pihak yang dianggap Tommy lebih mudah disakiti. Sementara itu, terhadap Beth, Tommy memiliki dualisme sikap. Ada rasa sayang karena perhatian dan perlakuan Beth sebagai Ibu yang baik, tetapi juga memendam kebencian karena kebaikan Beth sebagai Ibu juga mengingatkan Tommy akan ibu kandungnya yang memperlakukan dia dengan buruk.

Dr. Benson menambahkan obat kepada Tommy, bahkan memberikan obat-obatan baru. Tetapi tidak ada yang bisa menghentikan ledakan keberingasan Tommy. Akhirnya, Dr. Benson menyarankan supaya Tommy dirawat di rumah sakit agar bisa stabil. Namun, saran itu tidak segera dilakukan oleh Mark dan Beth karena tidak tega membayangkan Tommy yang masih berusia lima tahun dirawat di rumah sakit jiwa.

Dr. Benson akhirnya menyarankan Tommy untuk dibawa ke Psikolog bernama Dr. Williams. Tommy, yang bisa berakting "manis" menunjukkan perilaku yang benar-benar baik saat menjalani pemeriksaan bersama Dr. Williams. Akibatnya, Dr. Williams sama sekali tidak melihat perilaku aneh Tommy dan bahkan menyatakan bahwa tidak ada masalah serius pada Tommy. Yang tidak disadari oleh Dr. Williams saat itu, Tommy sudah menyerang Jessica di saat mereka berdua dibiarkan tanpa pengawasan di ruang tunggu ketika Dr. Williams memberikan hasil evaluasi pemeriksaan kepada Beth. Rupanya, Tommy sudah mengambil pensil di kotak mainan yang ada di ruang tunggu Dr. Williams dan menyerang bagian bawah mata Jessica.

Hopeless...

Mark dan Jessica melaporkan kembali kondisi Tommy kepada Dr. Benson dan Tommy diberikan obat-obatan lagi dengan dosis yang lebih tinggi. Namun, tetap tanpa hasil.

Puncaknya, saat Tommy menyerang Beth ketika Beth sedang berada di dapur untuk memanaskan makanan bayi untuk Jake.

Dia berteriak, "Aku benci kamu, jalang busuk!" Dia mengepalkan tinjunya dan memukulku. Aku mencoba mempertahankan keseimangan tubuhku sementara Tommy melesat kembali ke kamarnya.

Saat itulah, Beth menghubungi Mark dan memintanya untuk memasukkan Tommy ke rumah sakit. Beth juga menelepon Dr. Benson dan Dr. Benson setuju bahwa Tommy membutuhkan terapi lebih banyak daripada yang dapat diberikan di rumah. Setelahnya, Beth berpikir keras. Apakah yang dilakukannya benar? Apakah dia menyerah? Bisakah Tommy ditolong? Apa lagi yang dapat diberikan untuk Tommy pada tahap ini?

Punya anggota keluarga menderita penyakit mental itu seperti menaiki tangga spiral yang tidak ada ujungnya. Kita merasa bahwa kita hanya berputar-putar dalam lingkaran dan tidak pernah sampai pada pertolongan. Kita menyimpan banyak harapan bahwa sementara menaiki tangga kita akan meninggalkan penyakit itu, tetapi penyakit itu tampaknya akan selalu menunggu kita pada putaran berikutnya.

Saat akhirnya Tommy dibawa ke rumah sakit, itulah pertama kalinya rumah terasa tenang sejak 18 bulan terakhir. Anak-anak juga menunjukkan ketenangan. Bobby dan Jake bahkan bermain bersama.

Mark dan Beth mengunjungi Tommy di rumah sakit. Di sana, perilaku Tommy terlihat baik sehingga para staf merasa terkesan. Perilaku yang berhasil menipu para dokter di sana. Bahkan, Tommy "hanya" didiagnosa ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder). Tommy dinyatakan menunjukkan perilaku yang hiperaktif dan kurang mampu memberikan fokus perhatian. Diagnosa ini, tentu saja, mengagetkan Mark dan Beth. Mereka memang bukan dokter, tetapi mereka tahu persis bahwa masalah Tommy bukan sekedar masalah ADHD. Mark dan Beth kecewa dengan pihak rumah sakit tersebut.

... Bagaimana mungkin seorang ahli terlatih tidak melihat apa yang ada di balik tindakan Tommy, terutama setelah berkonsultasi dengan Dr. Benson?

Perilaku Tommy tidak ada yang berubah. Bahkan semakin beringas. Tommy bisa mengangkat tubuh Mark yang lebih dari 100 kg ketika dia sedang marah. Dia juga bisa membuat jemari Jessica bengkok secara tidak wajar sampai harus ketika sedang kesal. Benar-benar mengerikan. Mark dan Beth sangat khawatir dengan perilaku Mark yang sudah berada di tahap sangat serius. Mereka ngeri sendiri membayangkan bagaimana Tommy dewasa nanti jika sekarang saja dia sedemikian menakutkan, sama sekali tidak menunjukkan empati dan penyesalan.

Dr. Benson merujuk Tommy kepada Dr. Ritter -- seorang Psikiater terhormat yang juga disegani oleh Dr. Benson.
Dr. Ritter sangat ahli dan tidak mudah tertipu oleh perilaku Tommy. Sikapnya juga tenang dan humoris. Tommy diberikan obat baru, yaitu Anafrranil, ditambah dengan obat-obatan sebelumnya; Haldol dan Clonadine. Awalnya, perilaku Tommy sedikit membaik. Mark dan Beth dipenuhi harapan bahwa Tommy akan segera pulih. Namun, ternyata tidak. Bahkan, di hari ulang tahunnya, Tommy mengamuk dengan sangat beringas. Dia juga menghajar Jessica hingga hidung Jessica memar dan bengkak.

Menjelang Natal, Tommy menghancurkan semua mainan baru yang dibelikan untuknya dengan alasan karena dia tidak menyukai mainan-mainan tersebut. Tommy juga mengancam akan membunuh setiap orang di rumah, dan Beth yakin, jika ada kesempatakan maka Tommy benar-benar akan melakukannya.

Mark sempat meminta maaf kepada Beth karena sudah memutuskan untuk mengambil alih pengasuhan Tommy dan Bobby. Sebelumnya, Mark tidak pernah mengetahui bahwa Tommy akan menjadi seperti sekarang. Namun bagi Beth, itu bukan masalah besar karena paling tidak, mereka harus menyelamatkan Tommy dan Bobby dari perlakuan yang salah.

Tepat tiga hari setelah Natal, Tommy kembali dibawa ke rumah sakit. Perjalanan saat itu begitu menakutkan. Tommy membenci aktivitas di rumah sakit. Dia mengeluarkan sumpah serapah, memukul, dan menendang dengan ganas.

Di sana hadir juga Nona Roberts, yang dikirim oleh Dr. Ritter untuk menolong Tommy. Biasanya, Tommy selalu bersikap manis saat berhadapan dengan pihak rumah sakit. Namun saat itu, Tommy langsung menatap Nona Roberts dengan galak dan mengatakan, "Aku ingin menggorok lehermu." Nona Roberts sempat kaget sebelum akhirnya dia bertanya mengapa Tommy ingin berbuat begitu. Tommy menjawab, "Karena aku ingin meminum darahmu!"

Ucapan Tommy membuat semua orang di sana menjadi membeku.

Di perawatan kali ini, Tommy menjalani dengan pengalaman yang berbeda dari perawatan di rumah sakit sebelumnya. Tommy menyampaikan kepada Dr. Ritter tentang tokoh pemarah. Tokoh pemarah ini dinamakan sebagai "Rod". Menurut Tommy, "Rod" mencoba membunuhnya dengan cara memegangi Tommy di dalam bak air. Tokoh pemarah ini merupakan musuh Tommy. Selain itu, Tommy juga menceritakan pikiran-pikiran bunuh dirinya, bahkan hingga yang terkelam sekali pun, kepada Dr. Ritter.

Dr. Ritter memberikan obat baru lagi kepada Tommy, obat yang sama dengan yang akhirnya menyembuhkan Ken di cerita The Day the Voices Stopped -- yaitu Risperdal. Namun, perilaku Tommy masih benar-benar membuat Beth begitu sedih. Bahkan, Dr. Benson menyatakan bahwa Tommy merupakan anak paling sakit yang pernah dia temui.

Selama berada dalam perawatan Dr. Ritter, Tommy akhirnya memperoleh kepastian tentang sakit yang dideritanya; Tommy menderita disorganized schizophrenia 

Disorganized schizophrenia merupakan jenis yang tidak teroganisir. Penderita  schizophrenia  jenis ini mengalami pikiran-pikiran yang sangat tidak beraturan. Mereka juga tidak mampu untuk melakukan aktivitas sehari-hari, walaupun aktivitas tersebut merupakan aktivitas yang rutin dilakukan, seperti tidak mampu berpakaian serta tidak bisa mandi dan sikat gigi sendiri.
Benarkah?

Pada dasarnya, tidak mudah menentukan diagnosa schizophrenia pada anak-anak. Dulu, saya juga hanya "sampai" menyampaikan kepada orangtua salah satu klien saya bahwa anaknya menderita child onset schizophrenia. Belum benar-benar mendiagnosa klien saya tersebut mengalami schizophrenia, namun "sedang dalam perjalanan" menuju ke arah sana. Hasil pemeriksaan positif ke arah schizophrenia, dan klien saya tersebut memang sangat berpotensi mengalami gangguan mental ini karena ada riwayat genetis dari ayahnya yang menderita schizophrenia.

Dr. Ritter pun, saat menyampaikan diagnosanya terhadap Tommy, sempat menyatakan bahwa Tommy masih terlalu muda untuk didiagnosa schizophrenia. Namun, Dr. Ritter merasa bahwa Tommy memang mengalami gangguan tersebut karena melihat sejarah pemberian obat-obatan medis yang pernah dikonsumsi oleh Tommy. Berdasarkan teori dari Dr. Ritter, reaksi Tommy terhadap obat-obatan anti-depresan menunjukkan bahwa dia menjadi semakin brutal. Hal ini sesuai dengan sifat dari obat-obatan jenis ini, di mana obat anti-depresan akan membuat penderita schizophrenia yang mengkonsumsinya menjadi semakin kejam. Buktinya lagi, keadaan mental Tommy yang menjadi kacau dan pemikirannya yang semakin mengarah ke psychosis, merupakan gejala alamiah yang ditunjukkan penderita schizophrenia setelah mengkonsumsi obat anti-depresan.

Disorganized schizophrenia yang diderita oleh Tommy comorbid dengan PTSD. Seperti yang dijelaskan di dalam buku, Tommy memiliki banyak sekali pengalaman traumatis terkait dengan kekerasan fisik dan seksual yang dilakukan oleh Gayle dan Rod. Saking traumatisnya pengalaman tersebut, Tommy sampai "membentuk" tokoh antagonis bernama "Rod", dengan kekejaman yang sama persis dengan Rod. Makanya, "Rod" bagi Tommy adalah musuhnya.


***


Buku ini memuat pengalaman personal Beth saat menghadapi Tommy, beserta masalah-masalah penyerta lainnya. Di sini, Beth secara terbuka menjelaskan tentang seberapa besar pengorbanan dana yang harus ditanggung Mark dan dirinya dalam proses mengobati Tommy. Hal ini menjelaskan bahwa pengobatan untuk masalah-masalah mental memang membutuhnya biaya yang sangat banyak. Obat-obatannya juga mahal.

Dan, lagi-lagi, seperti halnya pengalaman Ken di The Day the Voices Stopped, Beth untuk secara gamblang menyebutkan bahwa masih ada perbedaan yang besar dalam pemberian hak asuransi kesehatan fisik dan mental. Bahkan, Beth sempat mengalami penolakan ketika dia mengajukan supaya asuransinya membantu mem-backup biaya pengobatan Tommy. Sampai akhirnya, Beth bisa menemukan sebuah program yang mau membayar perawatan intensif yang dibutuhkan Tommy.

Buku ini sangat menarik. Bukan hanya menceritakan pengalaman Beth dan suka-dukanya dalam menghadapi Tommy. Tapi, dia ikut memberikan gambaran -- step by step -- yang dapat dilakukan oleh orangtua ketika menghadapi anak yang mengalami gangguan mental. Tentang bagaimana orangtua mencari bantuan yang aman dan tepat bagi anak-anak dengan gangguan mental tersebut. Mulai dari mencari informasi secara online, menghubungi para ahli terkait yang terdekat dengan lokasi kita, secara intensif fokus untuk memperjuangkan hak dan kesejahteraan anak yang menderita gangguan mental supaya diperlakukan setara dengan anak-anak yang menderita sakit fisik -- termasuk berupaya untuk mencari jalan keluar terbaik jika anak harus dirawat di rumah. 

Pengalaman Beth yang sangat personal ini mengingatkan kita bahwa ada banyak orangtua lain yang juga mengalami hal yang sama dengan Beth, ketika mereka harus berjuang untuk memberikan pengobatan yang layak, tepat sasaran, dan terbaik bagi anak-anak mereka yang menderita gangguan mental. Apalagi, kalau orangtua tidak memiliki bekal yang cukup untuk bisa segera mengetahui apa masalah utama yang sedang dialami oleh anak-anak tersebut.

Sama seperti beberapa pengalaman orangtua yang saya kenal, yang mereka memiliki anak-anak dengan gangguan psikologis atau mental, mereka sama-sama mengalami perasaan bersalah ketika anak-anak mereka tidak juga membaik dan merasa gagal sebagai orangtua. Mereka pun sama-sama mencari jalan keluar supaya bisa menyelesaikan masalah penyerta sesegera mungkin, supaya bisa fokus pada pengobatan anak. Bagaimanapun, masalah penyerta pasti akan muncul, terutama yang terkait dengan masalah dana.

Buku ini sangat jelas dalam menjabarkan peristiwa yang dialami oleh Tommy, yang memberikan wawasan kepada pembacanya tentang bagaimana gambaran anak-anak yang mengalami gangguan mental itu. 

Tidak hanya memberikan gambaran tentang kondisi anak, tetapi juga memberikan gambaran tentang stress yang mungkin juga dihadapi oleh orangtua. Apalagi ketika harus melihat bahwa anak-anaknya sempat mengalami kesalahan diagnosa, kesalahan treatment, dipegang oleh orang-orang yang tidak kompeten, serta hambatan-hambatan hukum dalam upaya mencari keadilan atas peristiwa yang juga menjadi penyebab akar masalah anak.
Menariknya...

Buku ini memberikan gambaran yang sangat realistis. Tidak ada yang namanya magical happy ending. Ini berbeda dengan gambaran yang ada di dalam kisah Ken di The Day the Voices Stopped. Menurut saya, kondisi Tommy yang digambarkan semakin parah dan tidak lagi dapat berfungsi di dalam rumah -- apalagi kehidupan sosialnya, bahkan Tommy juga dikatakan berpotensi sangat berbahaya bagi orang lain, merupakan gambaran yang fair. Bukan berarti memutus harapan para pembaca bahwa Tommy suatu saat akan sembuh, bahwa anak-anak lainnya suatu saat akan sembuh -- seperti Ken mengatakan bahwa dirinya bisa sembuh meski memakan waktu selama 32 tahun, orang lain juga pasti bisa sembuh juga -- namun Beth dan juga Psikolog Klinis yang juga ikut menulis di dalam buku ini, yaitu Vincent, mengingatkan kita bahwa gangguan mental ini sangat serius. Kita hanya dapat terus berusaha untuk melakukan alternatif pengobatan yang bisa dilakukan, tanpa bisa mengetahui dengan pasti apakah kondisi penderita akan semakin membaik atau memburuk, serta tidak diketahui juga apakah akan cepat pulih atau tidak.

Selain itu, penggambaran yang realistis ini membuka lebar-lebar mata kita, untuk membuat kita segera sadar bahwa gangguan mental dapat dialami oleh anak-anak, sama halnya seperti yang dialami oleh orang dewasa. Dampaknya bisa sama kuat, bukan berarti yang dialami orang dewasa akan lebih berat. Nope. Baik orang dewasa maupun anak-anak memiliki peluang yang sama untuk mengalami gangguan mental.

Di sisi lain, buku ini juga membuka mata kita bahwa ada banyak sekali orangtua yang memiliki anak dengan gangguan mental. Para orangtua ini dapat saling terhubung untuk dapat saling membantu. Paling tidak, orangtua tidak perlu merasa sendirian. Ada jutaan orangtua lain yang mungkin menghadapi kesulitan yang sama.

Vincent -- Psikolog Klinis Anak dan Remaja yang mendampingi Beth dalam proses penulisan buku ini -- juga memberikan kontribusi dalam menjelaskan beberapa hal yang terkait dengan gangguan ini. Termasuk memberikan pengantar tentang bagaimana dia melihat Beth dan keluarganya, dalam upaya membantu Tommy.

Buku ini nyaris sempurna. 

Saya yakin edisi aslinya jauh lebih baik lagi. Edisi terjemahan ini memiliki beberapa kelemahan, terutama terkait dengan penerjemahan beberapa istilah. Saya tidak tahu apakah yang menerjemahkan buku ini memiliki kualifikasi yang cukup terkait dunia psikologi atau psikiatri. Yang jelas, ada penerjemahan yang sangat mengganggu bagi saya karena sangat berpotensi menimbulkan misleading dan misperception bagi pembaca yang awam.

Salah satu yang sangat mengganggu adalah ketika menerjemahkan ADHD.

ADHD, Attention Deficit and Hyperactivy Disorder, diterjemahkan sebagai Gangguan Hiperaktif dan KURANG PERHATIAN.

Astaga!

Attention deficit bukan kurang perhatian.

Kurang perhatian itu lebih kepada pengasuhan -- custody, dan terkait dengan ada atau tidak adanya afeksi, kasih sayang, cinta.

Sementara, attention deficit artinya kurang mampu memberikan fokus perhatian atau konsentrasi. Biasanya terkait dengan perilaku yang muncul ketika sedang melakukan pekerjaan atau tugas.

Jadi, saran saya, membaca buku edisi terjemahan ini -- termasuk buku-buku terjemahan lain yang mengambil genre yang sama, dengan kasus-kasus medis maupun psikologis, atau membaca buku lokal lain yang mengambil tema yang sama -- fiksi maupun non fiksi, harus sangat berhati-hati. Apalagi kalau kita tidak begitu menguasai pembahasan dan tidak juga mengerti dengan istilah-istilah yang terkait. Hal ini dilakukan supaya kita terhindar dari kesalahan persepsi, kesalahan dalam memahami isi bacaan secara keseluruhan.

Dulu, saya membeli buku ini sebagai salah satu rujukan personal untuk mata kuliah yang terkait dengan Psikologi Abnormal, Perkembangan Anak, dan terutama kasus-kasus klinis anak saat saya masih S1.

Sebelumnya, saya pernah mengatakan bahwa buku The Day the Voices Stopped digunakan untuk materi analisa tugas kuliah ya. Nah, buku ini saya harapkan dapat memberikan penjelasan untuk kasus yang sama, schizophrenia, namun dari dua sampel yang berbeda yaitu anak-anak versus orang dewasa. Tetapi di sini, saya dibikin sering mengomel dan nyaris frustrasi menghadapi beberapa istilah yang tidak tepat penerjemahannya.

Saya jadi ingat pernyataan banyak dosen saya dulu, lebih baik jangan membeli buku terjemahan untuk buku-buku yang terkait dengan ranah ilmu Psikologi -- apalagi textbook -- kalau penerjemahnya bukan dari orang-orang yang kompeten, karena berpotensi mengacaukan penyampaian materi dari buku tersebut.

Ya, seperti yang saya alami saat membaca buku ini.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, buku ini nyaris sempurna, kalau saja tidak direcoki oleh kesalahan seperti yang barusan saya contohkan.

Overal 3,5/5





Cheers!
Have a blessed-day!