23 December 2016

50 Great Myths of Popular Psychology by Scott O. Lilienfeld, Steven Jay Lynn, John Ruscio, Barry L. Beyerstein



Judul Asli: 50 Great Myths of Popular Psychology - Shattering Widespread Misconceptions about Human Behavior
Judul Terjemahan: 50 Mitos Keliru dalam Psikologi
Pengarang: Scott O. Lilienfeld, Steven Jay Lynn, John Ruscio, Barry L. Beyerstein
Jenis: Non Fiksi, Textbook 
ISBN: 978-602-8864-42-8
Penerbit: Bentang Pustaka (Mizan Media Utama Group)
Tahun Terbit: 2012 (Edisi Terjemahan) / 2010 (Edisi Asli)
Harga: Rp. 73.000,00


BLURB

Fakta mengejutkan!

Ternyata sebagian besar informasi Psikologi yang kita yakini selama ini, tidak benar. Akibatnya, kita sering kali salah memahami orang lain atau mengambil keputusan.

Mereka yang percaya bahwa kebahagiaan ditentukan oleh situasi besar di luar diri kita pasti hanya akan fokus pada faktor di luar diri sepanjang hidupnya. Padahal itu keliru, dan akibatnya fatal. Lalu, benarkah mitos-mitos yang selama ini kita percaya, seperti:
  1. sikap positif dapat mencegah kanker
  2. tulisan tangan menunjukkan kepribadian
  3. pelecehan seksual semasa kanak-kanak akibatkan gangguan kepribadian parah ketika dewasa
  4. mimpi memiliki makna simbolis
  5. memperdengarkan musik Mozart kepada bayi dapat meningkatkan kecerdasan
  6. masa remaja merupakan masa labil

Buku ini akan membeberkan semuanya, meluruskan kepercayaan yang sudah lazim, tetapi salah. Juga membekali pembaca dengan pengetahuan akurat yang bisa mereka gunakan untuk mengambil keputusan nyata yang lebih baik.

Tidak ingin "tersesat" dalam hidup, baca buku ini!


***



Saelaah~

Benarkah kita tidak akan dibuat tersesat karena membaca buku ini? Mari kita lihat, hahaha...

Hmm... 

Saya memilih Bab 2, yang membahas mitos terkait dengan musik Mozart. Soalnya, saya punya cerita lain terkait ini. Yuk, kita bahas.

Mitos 6
Memperdengarkan Musik Mozart kepada Bayi dapat Meningkatkan Kecerdasan Mereka

Jadi begini...

Kehebohan tentang ini dimulai sejak tahun 1993. Ketika itu ada sebuah artikel yang diterbitkan oleh salah satu jurnal ilmu pengetahuan paling bergengsi di dunia, yaitu Nature, yang melaporkan hasil penelitian dari tiga orang peneliti di University of California.

Di dalam artikel tersebut dilaporkan bahwa para mahasiswa yang mendengarkan sonata piano Mozart selama 10 menit saja menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam tes kemampuan spasial -- tes yang melibatkan kegiatan melipat dan menggunting kertas -- dibanding sekelompok mahasiswa lainnya yang mendengarkan musik relaksasi atau tidak mendengarkan musik apapun. Buktinya, ada peningkatan IQ sekitar 8-9 poin.

Gara-gara penelitian tersebut, lahirlah istilah Efek Mozart. Sebenarnya, istilah ini bukan istilah yang benar-benar baru muncul karena penelitian di tahun 1993. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Alfred Tomatis pada tahun 1991. Pasca penelitian 1993, istilah ini semakin mendunia ketika dipopulerkan oleh pendidik dan musisi yang bernama Don Campbell pada tahun 1997 -- untuk menyebut kemungkinan peningkatan kecerdasan setelah mendengarkan musik klasik.
FAKTANYA...

Temuan tahun 1993 itu TIDAK MENYEBUTKAN APAPUN TENTANG PENINGKATAN KEMAMPUAN SPASIAL YANG SIFATNYA JANGKA PANJANG, APALAGI SAMPAI MENINGKATKAN KECERDASAN SECARA UMUM.

Di dalam ulasan artikel itu sebenarnya cukup jelas disebutkan bahwa peningkatan HANYA terjadi pada satu tugas yang dikerjakan SEGERA setelah mendengarkan musik Mozart.

Temuan tersebut juga TIDAK MENYEBUTKAN APAPUN TENTANG EFEK MUSIK MOZART PADA BAYI karena penelitian aslinya, ingat, dilakukan kepada manusia.

Masalahnya...

MEDIA ATAU PERUSAHAAN MAINAN MEMANFAATKAN TEORI TERSEBUT.

Tadi disebutkan nama Don Campbell kan ya?

Nah, dia ini salah satu tersangka utama yang membuat isu efek Mozart ini menjadi semakin mendunia hahahaha. Dengan "pintar" dia meramu teori ini supaya CD Efek Mozart dia laku di dunia. Bayangkan... Laku terjual sampai 2 juta keping!

Dari awal, isu ini dikembangkan dengan keliru. Semakin ke sini, isu ini dibuat semakin berlebihan dan jelas, semakin menyesatkan. Lihat bagaimana media memborbardir dan membuat masyarakat menjadi semakin "gila".

Hasil penelitian dibuat semakin error. Contoh di buku ini adalah artikel dari surat kabar di China tahun 200 yang menuliskan bahwa "Berdasarkan studi yang dilakukan di Barat, bayi yang mendengarkan karya besar Mozart selama kehamilan kemungkinan lahir lebih pintar dibanding bayi lain". Padahal, tidak pernah ada penelitian di Barat maupun di dunia lainnya yang pernah meneliti efek musik Mozart pada bayi.

Gilanya lagi, bahkan di Amerika pun kehebohan ini sampai membuat Gubernur Georgia tahun 1998 menambahkan anggaran khusus agar setiap bayi yang baru lahir di sana dapat menerima CD atau kaset Mozart secara gratis. Hahahaha dunia!

Ingat lho...

Kegiatan yang dilakukan saat mendengarkan musik Mozart itu hanya kegiatan melipat dan menggunting kertas. Di mana korelasinya dengan kecerdasan secara umum? Tidak ada.

Ingat lagi...

Peningkatan kinerja yang tercatat di dalam penelitian tersebut adalah kinerja yang dilakukan segera setelah musik Mozart didengarkan.

Intinya...

Efek Mozart mungkin "nyata" dalam meningkatkan kinerja dengan cepat saat kita mengerjakan tugas berpikir tertentu, segera setelah kita mendengarkan musiknya ya... 

Tapi...

TIDAK ADA BUKTI YANG MENUNJUKKAN BAHWA PENINGKATAN KINERJA TERSEBUT TERKAIT DENGAN MUSIK MOZART ATAU MUSIK APAPUN.

Selain itu...
TIDAK ADA BUKTI YANG MENUNJUKKAN BAHWA MUSIK MOZART MENINGKATKAN KECERDASAN PADA ORANG DEWASA, APALAGI PADA BAYI.

Penelitian yang pernah ada hanya menyebutkan bahwa musik Mozart -- beberapa jenis saja, bukan berlaku untuk semua karyanya -- dapat meningkatkan semangat dalam beraktivitas.

Jadi...

Jangan ikut-ikutan gila dan dimanfaatkan oleh kebodohan global sehingga kita jadi bulan-bulanan para produsen mainan bayi ini-itu, musik bayi ini-itu, dan lainnya dengan iming-iming dapat menjadi pintar dan jenius karena telah mendengarkan musik Mozart atau musik lainnya.

Apalagi...

Kebanyakan para produsen tersebut memanfaatkan pernyataan dengan iming-iming bahwa tiga tahun pertama kehidupan merupakan masa yang sangat penting untuk perkembangan kecerdasan bayi.

Hell O!

Tidak pernah ada cukup bukti yang mendukung pernyataan ini lho...

Saking gilanya efek penyebarluasan pendapat ini sampai membuat para orangtua menjadi semakin sarap dengan memborbardir anak-anak mereka supaya belajar ini-itu, dengan harapan bayinya menjadi super jenius. Sampai mainan atau video "Baby Einstein" pun dicekoki ke anak-anak mereka. Padahal, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa mainan ini pun berdampak signifikan bagi bayi mereka.

Bayi harus dibiarkan bermain aktif daripada sekedar duduk belajar sampai bosan, apalagi kalau sampai dipaksa hanya duduk menonton video. Ckck.

Vygotsky menyatakan bahwa jika anak belum bisa menguasai keterampilan tertentu, maka dia harus dibantu oleh orang lain. Ini kaitannya dengan teori Vygotsky tentang "masa tumbuh kembang proksimal".

Apabila anak usia 3 tahun tidak memiliki kemampuan kognitif untuk belajar Matematika, maka belajar Matematika selama apapun tidak akan meningkatkan kemampuan mereka, apalagi sampai mengubah mereka menjadi super jenius. 

Kenapa?

Karena Matematika berada di luar masa tumbuh kembang proksimal mereka.

Jadi...

Anak tidak bisa belajar sampai pikiran mereka siap.


***


Dulu sekali, sepertinya sekitar tahun 2004-2005, pokoknya saya masih pertengahan S1 hihi -- saya membaca sebuah penelitian di Indonesia yang mencoba membandingkan si musik Mozart dengan  musik murottal, yang berisi alunan suara orang yang membaca Al-Quran dengan pembacaan yang benar dan merdu.

Penelitian tersebut ingin membuktikan kebenaran efek Mozart tadi.

Penelitian dilakukan kepada para ibu yang sedang hamil dan mereka diperdengarkan kedua musik tadi secara bergantian, bukan diperdengarkan sekaligus, dan diperbandingkan hasilnya.

Ternyata...

Kedua musik tadi sama-sama memberikan efek menenangkan kepada ibu dan bayi. Ingat ya... MENENANGKAN.

Dengan catatan, para ibu enjoy saat mendengarkan kedua musik tersebut. Bukan yang memaksa dirinya untuk mendengarkan dengan "enjoy".

Tetapi...

Tidak ada bukti bahwa kedua musik tadi memberikan efek peningkatan kecerdasan, baik kepada ibu maupun bayi.

So?

***

Buku ini menarik, sangat menarik.

Mitos-mitos yang ada di dalam Psikologi populer dibantah habis. Saya juga bisa dibilang membenci banyak pernyataan yang digaungkan oleh Psikologi populer, sejak dulu. Banyak sekali informasi yang berbasis logical fallacy, pseudoscience, parapsychology dan menyesatkan -- tetapi, oleh mereka "dipaksa" supaya informasi menyesatkan itu dianggap ilmiah oleh masyarakat.

Jadi, selama Psikologi populer masih berkeliaran dengan bebas tanpa ada sortir dan masyarakat juga tidak proaktif mencari tahu kebenaran dari informasi yang disebarkan oleh Psikologi populer, maka selama itu juga Psikologi akan dianggap tidak scientific oleh masyarakat.

Sayangnya, penyebar informasi yang menyesatkan tentang Psikologi bukan hanya "aktivis" Psikologi populer, melainkan oleh mereka yang mengaku orang Psikologi bahkan mengaku sebagai Ilmuwan Psikologi hahahaha. Psikologi dirusak oleh orang-orangnya sendiri.

Dosen-dosen saya selalu memaksa kami -- para mahasiswanya -- supaya mau update informasi seluasnya. Kalau bisa mendapatkan dari sumber utama, ya harus ketemu si sumber utamanya, jangan dari informan ke-sekian yang mungkin saja salah dalam menafsirkan informasi awal.

Nah, inilah yang juga dilakukan oleh para penulis di buku 50 Great Myths of Popular Psychology ini. Mereka tidak hanya menjabarkan mitos-mitos dan juga fakta-fakta di balik sebuah isu, bahkan juga menyebutkan sumber dari mana informasi tersebut mereka dapatkan. Layaknya sebuah tulisan ilmiah. Lebih jauh lagi, mereka juga memberikan sumber-sumber referensi yang bisa kita baca untuk menjadi rujukan utama terkait isu-isu tersebut.

Selain itu, buku ini juga memberikan sekilas informasi tentang mitos dan fakta terkait lainnya, tidak hanya mitos dan fakta utama yang sedang dibahas. Hal ini membuat pembacanya, paling tidak saya, tergerak untuk juga mencari tahu tentang mitos dan fakta tambahan yang sedang mereka bahas ini.

Sumber-sumber utama yang mereka gunakan untuk membuat buku ini pun disebutkan di dalam halaman Daftar Pustaka. Jadi, kita bisa juga untuk menjadi bahan referensi mereka kalau kita ingin mencari tahu lebih jauh dan lebih mendalam lagi.

Buku ini sangat layak untuk dibaca, terjemahannya juga cukup baik.

Overal 5/5


Cheers!
Have a blessed-day!