12 December 2016

1984 by George Orwell

Cover Edisi Terjemahan Bahasa Indonesia

Judul: 1984 (Nineteen Eighty-Four)
Pengarang: George Orwell
Jenis: Fiksi
ISBN: 978-6022-91003-9
Penerbit: Bentang Pustaka (Mizan Group)
Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halaman: 344++
Harga: Rp. 64.000,00


BLURB (Edisi Terjemahan)

Sepanjang hidupnya, Winston berusaha menjadi warga negara yang baik dengan mematuhi setiap aturan Partai meski jauh di dalam hati dan pikirannya bersemayam antipati terhadap kediktatoran yang ada di negaranya. Walaupun begitu, Winston tidak berani melakukan perlawanan secara terbuka.

Tidak mengherankan, karena Polisi Pikiran, teleskrin, dan mikrofon tersembunyi membuat privasi hanya serupa fantasi. Bahkan, sejarah ditulis ulang sesuai kehendak Partai. Negara berkuasa mutlak atas rakyatnya. Yang berbeda atau bertentangan akan segera diuapkan.

1984 merupakan satire tajam, menyajikan gambaran tentang luluhnya kehidupan masyarakat totalitarian masa depan yang di dalamnya setiap gerak warga dipelajari, setiap kata yang terucap disadap, dan setiap pemikiran dikendalikan. 




***



Ini adalah kisah tentang Winston Smith, anggota dengan pangkat rendahan dari sebuah partai yang berkuasa di London -- tepatnya di wilayah Oceania. Ke mana pun Winston pergi, bahkan meski di rumahnya sendiri, partai akan memantau aktivitas Winston melalui telescreens. Jadi, di mana pun Winston berada, dia akan melihat penampakan wajah dari sosok petinggi partai yang Maha Mengetahui, dan lebih dikenal sebagai Big Brother.

Big Brother is watching you!

Partai ini mengendalikan semua hal yang terjadi di Oceania, bahkan sejarah dan bahasa yang digunakan oleh penduduk pun dikendalikan oleh partai!

Saat ini, partai memaksa untuk menciptakan alat sadap bahasa, yang disebut sebagai Newspeak. Dengan adanya newspeak maka diharapkan akan dapat mencegah pemberontakan atau kudeta politik dengan cara menghilangkan semua kata yang berhubungan dengan hal tersebut. Bahkan sekedar terpikir untuk memberontak sudah merupakan hal yang ilegal. Thought-crime, memikirkan pemberontakan tadi dianggap sebagai hal terburuk dari semua jenis kejahatan.

Winston bekerja di Ministry of Truth (Kementerian Kebenaran), tepatnya di Departemen Catatan. Tugasnya adalah mengubah informasi-informasi mengenai sejarah partai (beserta Big Brother) dengan tujuan untuk memperlihatkan sisi-sisi partai dan Big Brother secara lebih baik. Jadi, Winston diwajibkan memasok surat kabar, buku, film, dan lainnya kepada masyarakat (terutama masyarakat Oceania) yang sesuai dengan berita atau hiburan yang diinginkan oleh partai. Semua hal berada di bawah kendali partai, termasuk segala hal terkait informasi yang untuk diberikan kepada masyarakat.

Winston merasa sangat frustrasi menghadapi tekanan dan juga peraturan partai yang begitu mengikat dirinya. Dia tidak hanya dilarang untuk berpikiran bebas -- apalagi memikirkan sebuah pemberontakan, melainkan juga dilarang untuk berhubungan seksual dan mengekspresikan kebebasan individu.

Pada dasarnya, Winston sangat menolak peraturan dari partai. Di depan semua orang, terutama orang-orang partai, dia memuji partai dan mengutuk perlawanan terhadap partai. Tetapi, pikirannya tidak. Akhirnya, dia menulis sebuah diary, di mana dia menuliskan semua pikiran-pikirannya di sana. Pikiran-pikiran yang pasti dianggap ilegal oleh partainya.

Selain terikat dengan segala jenis peraturan partai, Winston juga terikat pada sosok bernama O'Brien. Sosok ini merupakan tokoh yang sangat kuat, powerful, dan dikenal sebagai salah satu penguasa partai. Bagian dari inner circle partai, tidak seperti Winston yang merupakan bagian dari outer circle.

Tetapi, Winston juga percaya bahwa O'Brien merupakan bagian dari kelompok rahasia Brotherhood -- kelompok Persaudaraan, sebuah kelompok misterius dan sangat legendaris, yang bekerja untuk menggulingkan kekuasaan partai.

Di kementerian inilah dia juga bertemu dengan Julia, yang saat itu disebut Winston sebagai "gadis berambut gelap". Awalnya, Winston menganggap Julia sebagai mata-mata, informan rahasia yang akan membeberkan rahasia mengenai diary berisi thought-crime Winston.

Belum lagi, Winston sedang berhadapan dengan masalah karena kuasa partai untuk mengendalikan Sejarah. Jadi, selain wilayah Oceania, ada pula wilayah Eastasia dan Eurasia. Partai menganggap bahwa selama ini Oceania dan Eastasia bersekutu untuk melawan Eurasia. Namun, menurut Winston, hal ini tidak benar.

Partai juga menganggap bahwa Emmanuel Goldstein, yang diduga keras sebagai pemimpin kelompok Brotherhood, merupakan orang paling berbahaya di dunia. Namun, Winston juga merasa hal ini tidak mungkin.

Semua hal ini membuat Winston semakin frustrasi. Dia sering memandang sekelilingnya dan membandingkan dirinya dengan orang-orang kebanyakan, para kaum proletar yang hidup dengan bebas tanpa ada kendali dari partai.

Hingga suatu hari...

Julia mengirimkan catatan kecil kepada Winston, yang berbunyi "I love you" dan menyatakan bahwa namanya adalah Julia. Sejak saat itu, Winston dan Julia menjalin affair. Mereka sering menyewa ruangan di atas toko barang bekas di wilayah tempat tinggal kaum proletar, yang merupakan tempat Winston membeli diary. Mereka mencoba bersikap hati-hati supaya tidak terkena radar kendali dari partai. Winston sendiri yakin bahwa cepat atau lambat, mereka akan ketahuan. Kebencian Winston semakin membesar sejalan dengan semakin intimnya hubungan dia dengan Julia.

Tiba-tiba, O'Brien memanggil Winston untuk bertemu. Akhirnya, Winston dan Julia mengunjungi O'Brien di apartemennya -- sebuah kemewahan yang menjadi fasilitas inner circle partai dan tidak pernah terbayangkan oleh Winston. Di sinilah O'Brien memberikan konfirmasi bahwa dia memang anggota kelompok Brotherhood dan membenci kebijakan partai, sama seperti kebencian yang dirasakan oleh Winston dan Julia.

O'Brien juga mendoktrin Winston dan Julia supaya bergabung bersama Brotherhood, bahkan memberikan copy buku manifesto Brotherhood yang merupakan karya dari Emmanuel Goldstein. Buku ini berisi tentang amalgram dari beberapa bentuk kelas sosial yang berlandaskan pada konsep teori sosial abad 21. Manifesto ini selalu dibahas dan mencakup sejumlah ide-ide terkait konsep sosial-demokratis, bersamaan dengan ide mengenai pemikiran-pemikiran fasisme yang pernah ada.

Ketika Winston sedang membacakan buku tadi kepada Julia -- saat mereka berada di ruangan yang biasa mereka sewa untuk berhubungan itu -- mereka disergap oleh sekumpulan pasukan. Ternyata, pemilik toko tersebut merupakan anggota Thought Police atau Polisi Pikiran.

Winston ditahan secara terpisah dari Julia. Dia dibawa ke Ministry of Love. Di sini pula dia menjadi sangat terkejut saat mengetahui bahwa selama ini dia dijebak oleh O'Brien. Diam-diam, O'Brien menjebak Winston dengan berpura-pura menjadi anggota kelompok Brotherhood. Padahal, yang sebenarnya, O'Brien merupakan mata-mata partai yang bertugas untuk menjebak Winston karena secara terbuka telah menyatakan pemberontakan untuk melawan kebijakan partai. Pemberian buku manifesto sebelumnya, merupakan cara O'Brien untuk menguji kesetiaan Winston terhadap partai.

Sejak ditangkap, Winston disiksa dan dicuci otaknya oleh O'Brien. Tetapi, Winston tetap bertahan. Dia tidak pernah mau mengakui bahwa dirinya bersalah terhadap pemerintah dan partai. Pada akhirnya, Winston dikirim ke Room 101, ruang terakhir yang diperuntukkan bagi para pemberontak partai. Winston diketahui sangat fobia terhadap tikus, jadi dia disiksa dengan cara diberikan kandang yang penuh berisi tikus dan diletakkan di atas kepala Winston. Jika tali kandang tersebut dilepas, maka tikus-tikus tersebut akan mengerumungi wajah Winston. Akibatnya, Winston menyerah. Dia bahkan sampai memohon supaya siksaan seperti itu diberikan kepada Julia saja, jangan kepada dirinya.

Winston menyerah, tidak hanya terhadap dirinya sendiri, melainkan juga menyerah terhadap hubungannya dengan Julia. Jiwanya menjadi sangat rapuh. Sejak saat itu, Winston dibebaskan dan menjadi masyarakat biasa, seperti penduduk kebanyakan. Dia tidak lagi  melawan tekanan pemerintah. Winston juga kembali bertemu dengan Julia, namun tidak terlihat seperti pernah memiliki perasaan dan hubungan khusus dengannya. Anehnya, Winston menjadi jatuh cinta dengan poster Big Brother yang dia lihat, seperti menerima partai sepenuh jiwa raga.


***


1984 merupakan sebuah novel klasik dengan tema dystopia.

Dystopia adalah salah satu bentuk tulisan (atau karya sastra) yang mengeksplorasi kehidupan politik dan sosial. Perwujudan kisah yang dieksplorasi di tema ini menceritakan tentang konsep sebuah dunia yang sangat jauh dari ideal, seperti sebuah mimpi buruk, dan sangat berbeda dengan konsep Utopia yang menggambarkan dunia sebagai dunia ideal dan menggambarkan masyarakat sebagai sebuah masyarakat yang ideal. Di dalam kisah dystopia, kita akan diajak untuk membayangkan sebuah konsep terburuk dari hal terburuk yang dapat terjadi di dalam kehidupan sosial kita, sehingga kita diajak untuk tidak menjadi masyarakat yang seperti itu.

Biasanya, karya dystopia akan mengangkat kisah tentang sebuah sistem sosial yang memegang kendali penuh di kehidupan masyarakat, tidak ada kebebasan berpikir dan berekspresi, serta ada peperangan dan penindasan.

Karya lain yang juga mengisahkan tentang konsep dystopia, yaitu R.U.R (Rossum's Universal Robots) karya Karel Capek sebuah novel lawas yang mengenalkan konsep mengenai robot, bahkan mengenalkan kata robot untuk pertama kalinya di dalam sebuah karya sastra.

Robots of the world!
The power of man has fallen!
A new world has arisen: the Rule of the Robots!
March!

Ada lagi yang sangat terkenal dan juga sudah difilmkan, antara lain Brave New World karya Aldous Leonard Huxley; Fahreinheit 451 karya Ray Bradbury; A Clockwork Orange karya Anthony Burgess; The Hunger Games series karya Suzanne Collins; Logan's Run karya Willian F. Nolan dan George Clayton Johnson; Soylent Green karya Richard Fleischer; Divergent series karya Veronica Roth; serta The Iron Heel karya Jack London.

Kembali ke 1984...





George Orwell mempublikasikan 1984 pada tahun 1949 dan dianggap sebagai novel terbaik Orwell. Orwell sendiri menuliskan novel ini bukan tanpa sebab. Dia menjadi salah satu saksi mata yang melihat dampak otoritas politik yang bersifat absolut di Spanyol, Jerman, dan Uni Soviet saat itu. Itulah yang dia gambarkan secara gamblang di dalam novel 1984.

Otoritas politik yang seperti apa?

Jika kita kulik informasi sejarah dunia di masa itu, kita tentu akan diingatkan tentang bagaimana kekuasaan Nazi Jerman bercokol dan menjadi salah satu penyebab utama munculnya Perang Dunia II. Hitler dengan isu anti-Yahudi menyulut kemarahan dan peperangan di mana-mana. Inggris juga dikuasai oleh Partai Buruh, sebagai partai penguasa saat itu, yang membuat sistem birokrasi pemerintahan cenderung terpusat dan membuat frustrasi. Selain itu, kekuasaan komunisme di Spanyol dan Uni Soviet, bahkan China juga, membuat dunia politik di Barat menjadi blangsakan. Politik Barat merasa kekuasaan mereka sedang sangat terancam, sehingga kestabilan politik dunia dibuat mencekam oleh kemungkinan bahwa kekuasaan politik akan beralih ke Politik Timur dengan komunismenya tadi.


***


1984 banyak dibandingkan dengan novel A Brave New World karya Aldous Leonard Huxley. Keduanya sama-sama bergenre dystopia dan sama-sama memberikan dampak luar biasa ke dalam pemikiran masyarakat sejak awal kedua novel tersebut terbit, bahkan hingga kehidupan kita saat ini. Dan Orwell sendiri memang terinspirasi oleh novel terbitan tahun 1932 itu.

Hebatnya, sekali lagi, Orwell melukiskan kisah di dalam novel ini pada tahun 1949. Tahun di mana masyarakat dunia belum "dikuasai" oleh televisi. Di dalam novelnya, Orwell membayangkan ketakutan bahwa hal ini sudah mulai "berkuasa" di tatanan kehidupan sosial pada tahun 1984, sekitar 35 tahun kemudian. Dan ya, bahkan televisi -- disamakan dengan telescreen yang selalu mengintai kehidupan Winston -- hingga saat ini memang "menguasai" kehidupan masyarakat dunia.

Orwell juga terinspirasi oleh karya Jack London yang berjudul The People of the Abyss. Buku ini mengisahkan petualangan London saat ia berada di perkampungan kumuh di kota London. Detail inilah yang diangkat Orwell di dalam 1984, saat dia menceritakan bagaimana Winston membeli barang-barang seken dan hidup di antara kaum proletar London.

Orwell sendiri datang dari kaum terpelajar di Inggris. Dia memperoleh pendidikan dan juga beasiswa dari sekolah-sekolah bergengsi di sana. Pengalaman belajarnya inilah yang membuatnya merasakan bahwa dia tidak pernah merasa betah berada di dalamnya, di mana Orwell selalu merasa tertekan dan marah dengan kendali ala diktator yang dialaminya di dalam sekolah. Begitu selesai bersekolah di Eton, dia kemudian memutuskan untuk tidak kuliah dulu dan bekerja sebagai polisi di wilayah kerajaan Inggris yang ada di Myanmar. Di sana, dia semakin membenci tugasnya yang harus selalu mengikuti perintah politik dan aturan hukum yang ketat. Akhirnya, dia memutuskan kembali ke Inggris karena ternyata dia juga mengalami masalah kesehatan di sana. Sejak itulah, dia memutuskan berhenti sebagai polisi kerajaan dan menjadi penulis.

Kisah-kisahnya saat berhubungan dengan sistem politik, kekuasaan rezim tertentu, serta bagaimana sebuah hukum dan aturan yang ketat dapat sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat inilah yang banyak memberikan inspirasi di dalam karya-karya Orwell. Salah satunya, terlihat di dalam novel 1984 ini.

1984 ditulis Orwell dengan gaya liberal dan cenderung menganut paham socialism. Karya ini ditulis segera setelah masa Perang Dunia II usai. Bahkan, novel ini dianggap sebagai salah satu tulisan dengan dampak terbesar dalam upaya melawan konsep totalitarian yang dianggap membahayakan masyarakat dunia, di mana setiap menit kehidupan kita dimonitor secara terpusat dan membuat kita tidak akan mampu bertindak sesuai keinginan. Menurut Orwell, jika konsep pemerintahan totalitarian ini dipadukan dengan kemajuan teknologi, maka akan muncul konsep totalitarian yang benar-benar sempurna dan secara ekstrem akan menguasai kehidupan modern melalui kekuasaan yang sepenuhnya absolut.

Berdasarkan konsep perfect totalitarian inilah, Orwell mengajak kita -- para pembacanya -- untuk mengetahui bagaimana konsep kehidupan modern di masa depan akan sangat menakutkan. Untuk itulah, konsep ini harus dilawan -- seperti upaya yang dilakukan oleh Winston, dan sayangnya gagal total itu.

Orwell menggambarkan keadaan, di mana kendali penuh dari pemerintah yang mengontrol setiap aspek kehidupan manusia, dapat benar-benar membuat kita berpikir bahwa jika kita "tidak setia" dengan aturan yang berlaku maka kita akan dianggap melawan hukum. Perilaku memberontak, seperti yang dilakukan oleh Winston, merupakan perilaku yang menentang dan di luar batas. Di sini, Orwell menggambarkan bahwa kekuasaan absolut, apalagi yang absolut sempurna, merupakan sebuah konsep yang akan membuat masyarakat menjadi masyarakat paranoid. Membuat kita menjadi paranoid, merupakan cara yang digunakan penguasa yang menginginkan sistem perfect totalitarian.

Jadi, Orwell mengajak kita berpikir kritis. Kita diajak untuk menyadari bahwa pemerintah yang memberikan manipulasi psikologis kepada masyarakatnya, menghambat aktivitas masyarakatnya secara fisik, mengendalikan informasi dan sejarah kehidupan masyarakat, bahkan hingga mengendalikan pikiran dan juga informasi bahasa masyarakatnya, merupakan pemerintah yang sedang berupaya menuju sistem perfect totalitarian.

Fakta-fakta inilah yang menarik dikaji. Orwell menyajikan narasi di setiap halamannya untuk mengingatkan kita tentang betapa bahayanya -- sangat sangat berbahaya -- jika masyarakat dunia sampai ke dalam kendali pemerintah yang perfect totalitarian. Apesnya, memang sudah lama terlihat ke arah sana. Apalagi, jika kita mengkaji segala jenis teori konspirasi dunia. Horor.

Bagaimana dengan Indonesia?

Hmm...

Masa Orde Baru cukup dapat disamakan dengan penggambaran Orwell di dalam 1984. Kita tentu mengingat bagaimana kekuasaan absolut orde baru berlangsung selama 32 tahun, dengan Presiden "tetap" yaitu Soeharto dan Golkar sebagai partai tunggal. Di depan kita, masyarakat Indonesia, memang ada partai "pendamping" yaitu PDI dan PPP. Tetapi, siapapun paham bahwa setiap kali Pemilu, masyarakat ditekan untuk memilih Golkar (nomor urut 2). Orangtua saya, keduanya merupakan pegawai negeri. Jadi, saya bisa merasakan betul bagaimana pegawai negeri ditekan untuk memilih Golkar. Jika tidak, ada konsekuensi yang harus ditanggung.

Selain tekanan politik, apa lagi yang sama dengan penggambaran Orwell?

Tulisan.

Ambil contoh, tulisan karya Pramoedya Ananta Toer. Tulisan karya Pram dianggap terlalu "kiri" dan "berbahaya" sehingga dilarang beredar. Pada masa kekuasaan orde baru, tulisan Pram tidak akan mudah ditemui seperti sekarang. Paling mujur, seperti seorang kenalan saya, hanya mendapatkan copy dari buku-buku Pram. Jadi, membaca karya Pram seperti membaca harta karun terlarang. Harus sembunyi-sembunyi. Saya sendiri baru bisa menikmati karya Pram di tahun 2000an, saat sudah berkuliah dan mendapat pinjaman dari banyak kenalan. Baik yang berupa buku maupun copy.

Masih banyak lagi kesamaan masa orde baru dengan karya Orwell ini.

Apa yang digambarkan oleh Orwell terjadi di tahun 1984, masih relevan dengan apa yang kita alami sekarang... di tahun 2014 ini, saat novel terjemahan edisi bahasa Indonesia kembali diperbincangkan di negara kita tercinta dan menjadi sebuah novel yang sangat ditunggu kemunculannya di toko buku manapun.




Versi film sudah pernah muncul sejak tahun 1956, seperti yang saya masukkan di atas. Sayangnya, eksekusi film ini tidak se-WOW novelnya. Saya juga mencoba melihat bagaimana komentar reviewer di luar sana, dan sebagian besar yang saya baca mengeluhkan hal yang sama.

Saya belum membaca edisi terjemahan bahasa Indonesia. Dulu bermodalkan pinjam buku edisi berbahasa Inggris milik orang lain, seperti biasa. Dan usaha recalling memories terhadap isi buku ini dengan bermodalkan donlot ebook yang bertebaran di luar sana. 

Alkisah, menurut testimonial beberapa teman, edisi terjemahan bahasa Indonesia ditulis dan diterjemahkan dengan baik. Bahkan, teman-teman yang saya tanyakan ini, semuanya menyatakan bahwa mereka sangat menyukai novel 1984.

Novel 1984 sendiri bukan tanpa kekurangan. Hingga pertengahan, saya masih merasakan greget dalam membaca kisah Winston. Namun, menjelang akhir, well... the ending was too predictable dan membuat saya kehilangan greget dalam menyelesaikan novel ini.

Overal 3,5/5 dari saya.




Cheers!
Have a blessed-day!