11 November 2016

Series - The Lunar Chronicles by Marissa Meyer



Ada beberapa hal yang saya suka dari serial The Lunar Chronicles. Seperti sebagian besar fans serial ini yang saya tahu, saya juga suka dengan fairy tale retelling di The Lunar Chronicles. Selain itu, saya juga suka dengan cerita yang plot-driven dengan perkembangan cerita dan perkembangan karakter yang well-written seperti ini. 

Serunya lagi, The Lunar Chronicles juga diisi dengan karakter-karakter perempuan yang tangguh -- bukan jenis karakter damsel in distress yang sedikit-sedikit harus diselamatkan oleh karakter laki-laki. 

***

Akan tetapi, hal yang paling saya sukai dari serial ini adalah tokoh antagonis utama yang memiliki latar belakang kompleks dan perilaku yang juga kompleks. Jadi, bukan sekadar villain jahat yang melakukan kejahatan karena murni jahat. Melainkan karena dipengaruhi oleh kompleksitas karakter, perilaku, dan latar belakang yang memperkuat kemunculan perilaku tersebut. Menurut saya, kompleksitas karakter antagonis inilah yang menjadi daya tarik utama dari The Lunar Chronicles dan Marissa Meyer apik sekali dalam membuat karakter Levana Blackburn

Karakter Levana dibesarkan di dalam keluarga manipulatif, mengalami bullying oleh kakak sendiri ketika ia masih sangat kecil dan menyebabkan cacat permanen pada dirinya, serta selalu berada di bawah bayang-bayang kakak hingga ia remaja. Meskipun lebih mudah bagi kita mengatakan bahwa pada akhirnya setiap pilihan sikap dan perilaku itu adalah pilihan diri sendiri dan Levana punya pilihan untuk menjadi pribadi yang baik, bukannya memilih untuk menjadi jahat, tapi dengan latar belakang seperti itu sih saya lihat wajar jika Levana tumbuh menjadi pribadi yang kejam, haus kekuasaan, dan memiliki kepribadian yang kompleks. Luka di dalam hati dan jiwanya sudah terlalu mendalam, dan didikan keluarganya membuat pola pikir dia twisted. Alasan inilah yang membuat buku Fairest: Levana's Story menjadi spesial dan saya berharap Penerbit Spring juga akan menerjemahkan buku ini.

Karakter Levana merupakan alasan utama saya bisa begitu terikat dengan The Lunar Chronicles. Bukan berarti karakter lainnya tidak menarik -- semua menarik. But, I was completely captivated more by Levana's character growth.

***

Saya memulai petualangan di serial The Lunar Chronicles baru setelah terjemahannya diterbitkan oleh Penerbit Spring. Sebelumnya, saya sudah sering melihat Cinder berseliweran di Instagram karena para bookstagrammer di luar negeri ramai sekali membahas ini. Beberapa forum dan website yang rutin saya kunjungi juga sibuk membahas Cinder dan The Lunar Chronicles secara umum. Hanya saja, saya sudah terlalu banyak dikecewakan oleh serial serupa -- distopia modern, fantasi modern, yang ujung-ujungnya lebih banyak fokus di romance saja. Makanya, saya memulai Cinder dengan less expectation.

Hasilnya, ternyata di luar dugaan.

Cinder masih seorang Cinderella yang jatuh cinta kepada seorang pangeran. Tetapi, sebagai seorang mekanik cyborg, dia begitu tangguh dan mampu melawan ketidak-adilan.

Saya selalu menyukai versi retold dari semua fairy tales. Apalagi jenis fairy tale yang mengedepankan karakter-karakter damsel in distress a.k.a karakter-karakter perempuan yang terlalu lemah, menya-menye; tipikal protagonist and supposedly being our heroine, tapi sedikit-sedikit harus selalu dilindungi, dijaga, dan dibela oleh our hero. Kan, jadi stress sendiri melihat karakter perempuan seperti itu -- seolah perempuan tidak akan pernah bisa berdiri di atas kaki sendiri, saja. 

Konsep Disney mengenai Cinder (Cinderella), Scarlet (Little Girl Riding Hood), Cress (Rapunzel), dan Winter (Snow White) adalah yang paling parah menurut saya. Sehingga, penggambaran karakter-karakter utama di The Lunar Chronicles yang mengadaptasi dan membentuk ulang karakter dari fairy tales yang sudah lebih umum dikenal ini menjadi sangat menarik dan poin utama yang disukai oleh banyak penggemar serial ini. Saya yakin.

Kesan pertama yang begitu menggoda inilah yang membuat saya semangat sekali dan membentuk high expectations ketika membaca Scarlet. Sayangnya, saya agak kecewa di sini. Hahaha. Saya berharap lebih di plot, tetapi itu tidak saya temukan. 

Karakter Scarlet juga agak membingungkan sebenarnya. Dibandingkan dengan Cinder yang memang berusaha untuk melawan bentuk diskriminasi dan juga prejudice, agak mengingatkan ke girl crush saya; Elizabeth Bennet a.k.a Lizzy dari buku Pride and Prejudice karya Jane Austen, Nah, Scarlet ini, ngg... Gimana, ya? She's trying too hard to be tough. sebagai orang pilot luar angkasa, saya berharap karakternya lebih sesuai ekspektasi saya. Cinder ini lebih muda, tapi di beberapa hal saya lihat lebih bisa berpikir lebih matang dibandingkan Scarlet.

Di buku ke-tiga, Cress, karakternya ya khas gadis yang lama terkurung; polos nan naif. Namun di balik itu semua, tersimpan karakter yang tough enough. Seorang hacker yang cool. Meskipun saya masih mengalami sedikit kekecewaan yang sama seperti ketika saya membaca Scarlet; soal plot, setidaknya di sini saya jadi lebih bisa mendalami karakter-karakter utama kita. Cress juga lebih banyak diceritakan di sini.

Nah, puncak-puncak semuanya memang di Winter; di mana Winter digambarkan sebagai seorang Putri yang ingin melawan kedzaliman Ibu tiri yang menolak konsep happily ever after. Halah.

Sepertinya, Marissa Meyer memang sengaja agak melambat di buku Scarlet dan Cress, untuk kemudian tancap gas di WinterIni asumsi saya, sih. Hahaha. Asumsi yang amat sangat sotoy sekali. Hal-hal yang saya inginkan untuk terjadi di buku ke-dua dan ke-tiga, banyak bermunculan di buku terakhir ini. Plot twist di Winter ini seru sekali dan membuat saya semakin menggembar-gemborkan The Lunar Chronicles kepada teman-teman, yang saya tahu sangat menyukai cerita fantasi dan/atau konsep distopia, tetapi belum membaca serial ini.

Tapi, saya berharap sebelum Winter diterjemahkan, ada Fairest: Levana's Story lebih dulu yang diterjemahkan oleh Penerbit Spring -- sesuai urutan penerbitan buku aslinya, dengan alasan yang sudah saya sebutkan di atas tadi mengenai Levana. Kisah latar belakang Levana sejak kecil, serta pengalaman apa saja yang terjadi di masa lalu, itu dibahas lebih mendalam di Fairest: Levana's Story. Sehingga, kita dapat memperoleh gambaran utuh mengenai triggering events yang menjadi pencetus semua perilaku jahat Levana di kemudian hari.


Cheers!

Have a blessed-day!