24 November 2016

Reasons Why We Must Read



I am an avid reader and really love books since my childhood. I read all genres, but my ultimate crush is classics. It is not because other genres are bad, it is just because I feel more engaged to classics. I also read both; books from local publishers (from Indonesian authors and/or translated books) and English books from foreign publishers. I am actively being a book-collector for more than 12 years and have more than a thousand books, and still counting. I am also a collector for some of official and unofficial merchandises related to books; cards, pins, mugs, bookmarks, pillows, totebags, etc. Basically, I love books and everything in between, and can't live without books. Even my parent, families, and friends know about my addiction to books and kind of understand if I choose to go to a bookstore instead of do shopping with them whilst in malls -- they support me really well.

Classics is my ultimate bias

I'm obsessed to read any kind of world classic literatures since 2000, when I first read The Prophet by Gibran Khalil Gibran and Gone with the Wind by Margaret Mitchell. But long before, I found myself fond to Indonesian classic literatures and local classic folklores. It happened since my early childhood in 1990s, and I always spent my time in school libraries to brought them. I even went to public libraries too. At that time, the books published by Balai Pustaka were my most favorite to be brought, as they provided any kind of Indonesian classic literatures (poems or novels of Pujangga Lama and Pujangga Baru) also classic folklores (Cerita Rakyat series). 

I love classics more than modern literatures. I still read modern literatures and any popular books with many kind of genres, though. I read everything. 

***




As my love for books is growing bigger, I made some changes and personally styling my blog (www.niafajriyani.com) and my two personal accounts in Instagram to be more integrated since months ago, since I was (and still I am) actively activate my accounts to be more segmented; here is where I post my love for local and translated books, and another one @library.of.nia is where I post my love for English-books. All of the photos with my signature here and there are absolutely mine. Changing my photo's style for #bookstagram truly needs efforts, but I am addicted to it now.

I am still an amateur #bookstagrammer and my two accounts are also still growing. The love for the books must be spread. 


***



Membaca itu kebutuhan. Bukan hanya kebutuhan jiwa, seperti yang dirasakan oleh para pencinta buku; pencinta buku bisa galau jika tidak membaca, merasa hidupnya hampa jika tidak membaca buku. Jika dilihat dalam cakupan yang lebih luas, sebenarnya membaca merupakan kebutuhan dasar setiap orang -- bukan kebutuhan eksklusif pencinta dan pembaca buku saja. Mengaktifkan ponsel, belanja, mencari alamat, mencari tahu isi pesan yang kita terima, bahkan mencari lowongan pekerjaan, semuanya butuh kemampuan membaca. Menghitung uang, itu juga butuh kemampuan membaca -- setidaknya untuk bisa membedakan bentuk dan nominal angka yang tertera di setiap mata uang hahahaha. Itu juga kan yang membuat program supaya setiap orang bisa mendapatkan akses untuk bisa membaca konon terus dijalankan? Karena membaca adalah kebutuhan dasar. 

Otak dan pikiran itu butuh dilatih agar bisa berkembang lebih maksimal. Cara melatihnya adalah dengan membaca. Semakin kita sering membaca, maka semakin kita dilatih untuk berpikir dan berimajinasi; being as smart as possible. Ada pula penelitian yang menunjukkan bahwa dengan membaca berarti kita tetap menjaga supaya otak kita terus aktif. Hal ini bisa membantu kita supaya tidak mudah terserang Alzheimer maupun Dementia. Kegiatan membaca menjadi stimulan agar otak kita terus terlatih supaya tetap terjaga, tetap sehat. Setiap materi yang kita baca juga akan menjadi ingatan baru bagi kita. Kemudian, setiap ingatan baru yang terbentuk akan memunculkan synapse baru -- bahkan menguatkan synapse yang sudah ada. Ini yang nantinya akan memudahkan kita untuk melakukan recall terhadap ingatan jangka pendek, maupun jangka panjang. Keren, kan? Kalau teorinya disebutkan semua, ini nanti akan panjang sekali. Berasa lagi mengajar jadinya. Hahahaha. Selain itu, semakin kita sering membaca, maka semakin juga kita terlatih untuk berpikir lebih kritis, serta semakin kita memiliki kemampuan dalam tata bahasa dan pemahaman secara umum. Kemampuan tata bahasa dan pemahaman ini sangat vital dalam kehidupan sehari-hari. 


Dengan kita mengetahui bagaimana caranya membaca, kita akan mudah memahami apa maksud dan tujuan dari tulisan yang kita baca. Ada banyak sekali contoh kegagalan dalam memahami instruksi maupun ucapan yang disampaikan secara tertulis karena gagal dalam memahami tata bahasa. Ujung-ujungnya, ya, menjadi kesalah-pahaman, dan mungkin sekali menjadi penyebab kehancuran sebuah hubungan, dan lainnya. Bahkan, saya merasa bahwa awal mula saya belajar untuk melatih empati itu melalui bacaan, jauh sebelum saya belajar Psikologi, dengan mempelajari karakter pada bacaan yang saya baca. Itulah kenapa saya sangat suka dengan tulisan yang penulisnya paham sekali dalam mengolah karakter buatannya. 


Beberapa tahun lalu saya membaca beberapa artikel yang membahas mengenai ADVANTAGES VS DISADVANTAGES OF READING a.k.a keuntungan vs kerugian dari membaca. Beberapa lebih spesifik membahas jika kita terlalu banyak membaca. Ada yang mengatakan bahwa mereka merasa teredukasi berkat membaca, sebaliknya ada yang mengatakan bahwa membaca membuat mereka hanya sekadar teredukasi tapi nihil yang menjadikan mereka bisa benar-benar action menerapkan hasil edukasi tersebut (penekanannya; mau membaca sejuta buku pun, jika tidak ada action -- bentuk tidak nyata dari so-called hasil belajar -- hasilnya tetap nol). Di salah satu forum, hal ini menjadi perdebatan sekali. Belum lagi ada yang mencontohkan beberapa kasus kriminal yang dikaitkan dengan "hasil" dari membaca sebuah karya. Saya menyimpulkan sendiri, membaca itu tetap merupakan sarana kita mengedukasi diri; be it in good or bad ways, be it in twisted ways ya. Kita tahu sebuah bacaan itu memberikan efek positif atau negatif, itu kuncinya ada di kita kan? Kita tahu sebuah bacaan itu bacaan yang bagus atau jelek, juga dari hasil pengalaman personal kita juga kan ya? Jadi, apakah bacaan akan leading kita untuk melakukan sebuah tindakan atau tidak, real action sebagai hasil atau tidak, itu kuncinya ya memang hanya ada di diri sendiri; pilihan diri kita sendiri. Poinnya tetap pada porsi buku sebagai sarana edukasi. Buku yang isinya tidak baik pun tetap menjadi sarana kita mengedukasi diri. Balik ke pemaparan saya di post sebelumnya, sih. Idealnya, banyak membaca buku itu membuat kita menjadi lebih kritis. Jadi, ketika kita tahu sebuah buku itu adalah buku yang apa banget, isinya najis banget, atau mengajarkan pembacanya untuk sesat pikir -- dengan kata lain, berpotensi membuat pembacanya menjadi bodoh -- kita tetap memperoleh nilai edukasi dari buku tersebut; bahwa itulah buku yang mungkin lebih banyak mudharat. Sampai sekarang saya juga masih membeli buku yang bahkan saya amat sangat jijik sekali dengan jenis bacaan seperti itu supaya saya lebih bisa tahu bacaan jelek itu seperti apa; bukan mengandalkan "katanya" saja, dan kelak anak-anak juga bisa merasakan sendiri pengalaman membaca buku-buku itu seperti apa.


 Cheers!
Have a blessed-day!