05 November 2016

Holy Mother by Akiyoshi Rikako



BLURB

Terjadi pembunuhan mengerikan terhadap seorang anak laki-laki di kota tempat Honami tinggal. Korban bahkan diperkosa setelah dibunuh. 

Berita itu membuat Honami mengkhawatirkan keselamatan putri satu-satunya yang dia miliki. Pihak kepolisian bahkan tidak bisa dia percayai. 

Apa yang akan dia lakukan untuk melindungi putri tunggalnya itu?


***

Saya sangat tertarik membaca buku Holy Mother dengan blurb seperti itu. Awalnya saya pikir ini akan lebih mengenai usaha Ibu untuk melindungi anak, yang sama seperti konsep yang saya miliki berdasarkan konsep naluriah seorang Ibu pada umumnya. Saya seolah lupa bahwa ini adalah karya Akiyoshi sensei.

Ketika saya membaca dua bab pertama, saya diingatkan bahwa Akiyoshi sensei tidak mungkin membuat isu di buku ini sederhana; saya juga flashback ketika membaca ulang Girls in the Dark dan The Dead Returns beberapa minggu lalu, ketika saya mulai mengenali pola-pola plot twist yang dibuat oleh sensei. Dan bang! Hasil akhirnya, saya masih sulit sekali move on dari Holy Mother meski sudah lewat sepekan saya membaca ini. Padahal saya sedang membaca buku-buku lainnya, termasuk textbook. Sudah lama sekali saya tidak mengalami ini. Bahaya... 


Setelah beberapa saat, pria itu sudah berganti pakaian dengan seragam berwarna kuning dan keluar lagi. Dia sudah menggiring mobil yang ingin mengisi bensin. 
Artinya.... Honami menjilat bibirnya yang kering.
(p. 186)

Siapa yang bisa menghalangi tekad Honami untuk melindungi putrinya? Apapun akan dilakukan oleh Honami untuk melindungi putrinya. Apapun.



Saya menangkap kesan black selama membaca novel ke-3 dari Akiyoshi Rikako yang saya baca. Ketiganya diterbitkan oleh Penerbit Haru semua. Black yang saya maksud adalah kesan suram, sedih, dan hati yang selalu tidak tenang. Dengan latar belakang yang dialami oleh tokoh utama kita, dia bisa bertahan hidup dan menjalani keseharian dia itu sudah merupakan hal hebat dan luar biasa. Saya banyak bertemu dengan survivor yang memiliki latar belakang sama dan sebagian besar dari mereka tetap saya kagumi hingga sekarang. Rasanya saya ingin memeluk mereka, dan mengatakan, "All is well. All is well..." sambil berkaca ke diri sendiri.


***

Tolong sampaikan terima kasih saya untuk Akiyoshi-sensei karena sudah membuat cerita Holy Mother. Saya diingatkan akan banyak hal, saya juga diingatkan dengan beberapa klien lama, dan saya jadi lebih bersiap diri ketika nanti menjadi Ibu akan menjadi Ibu yang seperti apa. Rasanya sulit untuk menyatakan apakah yang dilakukan oleh Ibu di dalam cerita ini merupakan hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Jika dilihat secara garis besar, semua kembali kepada insting protektif seorang Ibu terhadap anaknya. Siapa yang berani melawan atau menyalahkan jika insting protektif Ibu yang sedang dihadapi?

"Sudah, tidak ada yang perlu kau risaukan." (p. 276
Makoto yang sudah dibebaskan dari semua beban, berjalan ke pintu depan... (p. 277)


Biasanya karakter heroine digambarkan sebagai perempuan yang sempurna atau mendekati sempurna, nyaris tanpa celah dan kekurangan. Nah, Holy Mother menunjukkan karakter yang justru bersifat anti-heroine.

Ibunya yang kuat, yang senyumnya tidak pernah putus...
... Sosok ibunya yang matanya terus bersinar, selalu mengarahkan antenanya kepada Makoto sehari 24 jam...
Yang menjadi kawannya, bukanlah surga.
Yang menjadi kawannya...
(p. 276)

Hero/heroine identik dengan karakter baik hati, cinta damai, berjiwa ksatria, endebra endebre lainnya. Anti-hero/anti-heroine kurang lebih memiliki sifat yang sama, hanya saja in twisted ways -- mereka ini adalah para flawed-hero/flawed heroine. Jadinya pasti lebih complicated dan generally menjadi lebih menarik dibahas jika ini ada di cerita fiksi karena kita melihat mereka dari dua sisi yang saling kontradiktif, tapi semuanya tetap bisa membuat kita berempati ke mereka. Bahkan, karakter heroine/hero bisa saja lebih kita kesampingkan dan kita anggap tidak menarik untuk dibahas karena cenderung flat perkembangan karakternya, dibandingkan karakter anti-hero/anti-heroine.

Buku lainnya yang juga menunjukkan isu serupa; anti-heroine dan juga membahas insting protektif seorang Ibu, serta baru-baru ini juga saya baca adalah Everything, Everything karya Nicola Yoon.

Kalau Holy Mother masih ramai dibahas di beberapa grup komunitas buku, apalagi di Goodreads, jelas tidak mengherankan -- terutama bagi saya yang memang sudah membacanya. Memang masih ada beberapa yang mengaku masih terlalu takut untuk membaca Holy Mother, beberapa lainnya tidak menyarankan buku ini dibaca oleh anak berusia di bawah 17 tahun... Saya sendiri lebih ingin buku ini dibaca oleh para Ibu, terutama yang memiliki anak usia bayi hingga remaja; saya ingin tahu pendapat mereka jika berada di posisi para Ibu di Holy Mother, apa yang akan mereka lakukan?



Sedikit intermezzo...

Ada hal menarik lain yang saya temukan selama membaca buku Holy Mother; hal yang mengingatkan saya pada percakapan demi percakapan dengan teman yang memiliki background hukum ketika kami berhadapan dengan kasus terkait anak bermasalah dengan hukum, yang tersandung kasus pelecehan dan kekerasan seksual, di pekerjaan kami.

"Jika korbannya adalah pria, hal itu tidak bisa disebut kasus pemerkosaan. Tidakkah ini aneh?" (p. 77)

Di dalam buku ini bertaburan sekali istilah forensik dan kedokteran. Berhubung kedua bidang ini juga beririsan dengan bidang yang saya jalani, rasanya seru saja. Jadi banyak flashback juga dengan kasus-kasus yang pernah atau sedang saya hadapi; baik terkait dengan profesi maupun di kehidupan sehari-hari.


***

Buku ini meninggalkan perasaan yang tidak karuan di sana-sini. Saya mengalami book-hangover. Buku Holy Mother ini benar-benar terlalu kuat magnetnya. Ah, Akiyoshi-sensei aku padamu... Makin bertambah alasan saya untuk menyukai karya Akiyoshi sensei. Padahal dulu saya biasa saja ketika membaca Girls in the Dark untuk pertama kalinya; menarik tapi ya berlalu begitu saja. 



Kemudian menemukan benang merah dan pola yang seru dari karya-karyanya ketika membaca The Dead Returns -- hal yang membuat saya memutuskan untuk membaca ulang kedua buku ini beberapa minggu lalu. Setelah menemukan benang merah keduanya, baru saya merasakan ketertarikan untuk membaca karya Akiyoshi-sensei yang lain. And I totally adore her setelah baca Holy Mother. Will gladly wait for her next works to be translated  karena saya tidak mengerti bahasa Jepang, cyiin

In Penerbit Haru I trust.

By the way...

Saya penasaran. Jika terjemahan dari Penerbit Haru mengalir begini, bagaimana dengan bahasa aslinya, ya? Saya merasakan ketegangan, keresahan, rasa miris, rasa takut dan khawatir, terkadang spooky juga selama membaca buku ini. Bahkan di kedua buku Akiyoshi sensei sebelumnya, saya tidak sebegininya. Sayangnya saya tidak menguasai bahasa Jepang. Biasanya, jika saya menyukai sebuah buku dan versi berbahasa Inggris dari buku tersebut mudah didapatkan, saya suka membandingkan keduanya. Bagaimana mungkin saya mau mencari yang versi berbahasa Jepang jika mengerti pun tidak. Hahaha. Sedih, ih...

Siapapun ilustrator cover buku ini, Anda keren sekali. Pasti bukan hanya saya yang mengatakan bahwa cover buku ini sangat tepat dalam mengambil poin utama isu di buku ini. Insting protektif seorang Ibu tidak bisa diremehkan, ya. Setiap kali isu serupa seperti yang dibawa di buku ini muncul di kisah lain, atau bahkan di dalam berita di media massa, sepertinya saya akan terus teringat dengan Holy Mother.

Selamanya.

***



So, you guys, who haven't read Holy Mother or who haven't finished it yet, you better read it asap! 

Berhubung sudah hapal pola plot twist a la Akiyoshi sensei, jadi ending-nya sudah tahu akan seperti itu. Tapi tetap saja seru mengikuti perkembangan cerita Holy Mother sejak halaman pertama hingga terakhir, non stop 3 jam saja.

Berdasarkan profil Akiyoshi Rikako, saya mendapatkan informasi bahwa Akiyoshi-sensei merupakan lulusan Fakultas Sastra Universitas Waseda dan mendapatkan gelar Master dalam bidang layar lebar dan televisi dari Universitas Loyola Marymount - Los Angeles. Impressive! 

Akiyoshi-sensei juga pernah mendapatkan Penghargaan Sastra Yahoo! JAPAN yang ketiga melalui cerita pendek yang berjudul Yuki no Hana. Pada tahun 2009, naskah Akiyoshi-sensei mendapatkan penghargaan. Bersamaan dengan itu, Akiyoshi-sensei melakukan debut pula melalui kumpulan cerita pendek berjudul Yuki no Hana

Keren, ya? Iya. 

No wonder kalau kemampuan menulis Akiyoshi-sensei sangat mumpuni. I'm a proud fan... I adore her talent. Holy Mother ini benar-benar membuat saya menjadi fangirl Akiyoshi-sensei. Hahahaha.

Jadi ingin membaca kumpulan cerita pendek sensei yang berjudul Yuki no Hana. Kira-kira akan diterjemahkan oleh Penerbit Haru, gak ya? Hmm...


Cheers!
Have a blessed-day!