16 November 2016

Everything Everything by Nicola Yoon



BLURB

Penyakitku langka, dan terkenal. Pada dasarnya, aku alergi terhadap seluruh dunia.  Aku tidak bisa meninggalkan rumahku, dan belum pernah keluar dari rumah selama tujuh belas tahun. Orang yang aku temui hanyalah Ibuku dan Carla, perawatku.

Tapi suatu hari, sebuah truk pindahan tiba di rumah sebelah. Aku melongok keluar dari jendela dan aku melihat cowok itu. Dia tinggi, kurus, dan mengenakan baju serba hitam. Dia memergokiku sedang menatapnya dan dia balik memelototiku. Namaannya Olly.

Mungkin kita tidak bisa mempeerkirakan masa depan, tapi kita bisa memperkirakan satu atau dua hal. Seperti misalnya, aku yakin aku akan jatuh cinta pada Olly. Tapi, hal itu hanya akan menjadi bencana.


***


Jika familiar dengan David Phillip Vetter -- beberapa tahun lalu sempat ramai lagi dibahas (termasuk pernah juga dibahas di grup WA Klub Buku Indonesia) -- pasti kalian akan teringat tentang David ketika kalian membaca kisah Madeline Whittier di buku Everything, Everything. Mereka berdua memiliki kesamaan; penyakit langka. David, sang bubble boy, merupakan clue di balik pengobatan penyakit tersebut di masa sekarang. Jika kalian berhasil menemukan apa yang diderita oleh David, kalian akan mengetahui penyakit apa yang diderita oleh Madeline atau Maddy.

Maddy yang tidak pernah bisa bebas melakukan kontak sosial, banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah. Dia tidak pernah keluar dari rumah dam belum pernah meninggalkan rumah selama tujuh belas tahun, sebagai bagian dari karantina penyakitnya. Menurut Ibunya, Maddy pernah hampir meninggal sewaktu bayi. Untuk itulah ia harus menjalani karantina.

Sebagai  orang yang tidak pernah keluar dari rumah dan tidak pernah melakukan aktivitas apapun selain yang dilakukan di dalam rumah, Maddy menemukan teman dalam bentuk buku. Dari halaman awal saja kita sudah disuguhkan dengan "celotehan"-nya mengenai buku.
Aku sudah membaca buku lebih banyak darimu. Tidak peduli berapa banyak buku yang kau baca, buku yang kubaca pasti lebih banyak. Percayalah. Aku punya banyak sekali waktu.
Di dalam kamarku yang putih, di rak-rak buku putih berkilauan yang menempel pada dinding yang juga putih, punggung-punggung buku menjadi satu-satunya yang menyumbangkan warna. Buku-buku itu semuanya buku hardcover yang masih baru -- aku tidak suka buku softcover bekas yang penuh kuman. Semua buku dikirim kepadaku dari Dunia Luar, sebelumnya melewati proses desinfeksi, lalu dibungkus plastik kedap udara. Aku ingin melihat mesin yang melakukan ini. Aku membayangkan setiap buku melaju di ban berjalan putih menuju pos-pos persegi panjang putih tempat tangan-tangan robot membersihkan, menggosok, dan menyemprot, atau dengan kata lain, mensterilkan buku sampai dinyatakan cukup bersih untuk dikirimkan kepadaku. Saat sebuah buku baru tiba, tugas pertamaku adalah membuka bungkusnya, proses yang melibatkan gunting dan lebih dari sekadar satu kuku yang patah. Tugas kedua adalah menulis namaku di bagian sampul depannya.
(p. 5

Membaca bagaimana Maddy harus menjalani karantina sepanjang ia hidup, saya merasa bahagia ia menemukan buku adalah pengisi waktu luangnya. Bayangkan menjadi Maddy yang mudah sakit karena terpicu apapun.
... Apa saja bisa memicu tubuhku menjadi sakit. Penyebabnya bisa dari bahan kimia di cairan pembersih yang dipakai untuk mengelap meja yang baru kusentuh, parfum yang dipakai seseorang, atau bumbu eksotis makanan yang baru kumakan. Penyebabnya bisa salah satu, atau semuanya, atau bukan semua itu, melainkan sesuatu yang sama sekali berbeda. Tidak ada yang tahu apa pemicunya, tapi semuanya tahu apa konsekuensinya. (p. 8)

Kondisi penyakit langka yang diderita oleh Maddy itulah yang membuat Maddy harus menjalani pemeriksaan kesehatan, dan pastinya memiliki catatan kesehatan harian.

(p. 9)

Bahkan, napas per menit dan kondisi suhu ruangan pun harus selalu terjaga. 

(p. 10-11)

Basically, Maddy can't do anything normal people can do

Maka wajar saja ketika Maddy menemukan alasan dan kekuatan untuk bisa keluar dari bubble-nya, keinginan tersebut menjadi begitu kuat dan membuatnya mencoba untuk berani melakukan itu. Dimulai dari mencoba kepo dengan kehidupan tetangga baru.

(p. 22-23)

Berlanjut dengan stalking observasi mendalam mengenai akitas tetangga baru. Hahaha.

(p. 28-29)

Dan kemudian bisa menjalin kontak dengan Olly melalui dunia maya. Ciyeee~

(p. 53)

Anyway...

Seperti halnya Levi dan Cath di Fangirl, Olly dan Maddy juga pasangan yang saling melengkapi di atas kekurangan masing-masing. Being perfect in imperfection and imperfection perfect.

Semakin lama, keinginan Maddy untuk bisa keluar dari dunia sempitnya semakin membesar dan tidak dapat terbendung lagi.

... Aku terus-terusan membayangkan diriku melayang tinggi di atas bumi. Dari ujung ruang angkasa aku bisa melihat seluruh dunia sekaligus. Mataku tidak terhalang dinding atau pintu. Aku bisa melihat permulaan dan akhir waktu. Pandanganku dari sana tidak terbatas.
Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, aku menginginkan lebih dari yang kupunya. 
(p. 88

Girl, I feel you...
Be strong.

(p. 89)

Puncaknya adalah ketika Maddy memutuskan untuk melakukan sesuatu setelah ia melihat foto dirinya dan keluarganya di Hawai. Ada konsekuensi, pastinya, karena setelah itu kita sampai di halaman 254-255 dan menemukan kenyataan bahwa sesuatu terjadi. Temukan halaman tersebut dan kalian akan mengerti maksud saya.

Saya sampai memutuskan untuk berhenti membaca sementara saat saya sampai di kedua halaman tersebut. Saya tidak ingin, setelah semua yang dilakukan oleh Maddy, di situlah dia harus berhenti.

No!
Tidak boleh.

Tapi, memang dasar penulisnya bisaan, dia menyiapkan twist yang lebih membuat saya berteriak; DAMN!

Seharusnya saya sudah menduga ketika saya (seperti halnya Maddy) menemukan fakta-fakta mencurigakan.


***


Meskipun sentral cerita Everything, Everything adalah Maddy, namun buku ini bukan hanya berkisah tentang Maddy; buku ini mengisahkan banyak hal. Setiap karakter memiliki kisahnya tersendiri dan semuanya sangat menarik. Bagi saya, buku ini perfect. Sangat perfect. Kisah Mom juga menempati ruang tersendiri di dalam hati saya -- entah kenapa akhir-akhir ini buku yang saya baca mengingatkan saya ke klien dan pasien yang pernah saya hadapi. Begitu juga Mom. Setiap karakter utama saling terkait dan saling menunjang satu sama lain dalam menjalani proses dan kesulitan hidup masing-masing.

Ada banyak pesan yang ingin disampaikan. Meskipun tidak semua "pesan" berhasil disampaikan oleh setiap karakter dengan baik dan sempurna se-ideal yang digambarkan oleh sebuah konsep -- bukan pesan dari penulis, ya, maksudnya -- tetapi kita bisa menemukan sendiri pesan maupun alasan di balik sebuah perilaku yang ditunjukkan. Salah satu yang saya maksud dengan "pesan" yang tidak disampaikan dengan baik adalah terkait dengan apa yang terjadi pada Mom dan alasan ia melakukan hal-hal yang ia pilih untuk ia lakukan. Kita kembali lagi ke isu insting protektif seorang Ibu, seperti yang terjadi pada tokoh-tokoh Ibu di buku Holy Mother karya Akiyoshi Rikako; cara mereka saja yang berbeda, tetapi poin utamanya ada di insting protektif seorang Ibu yang tidak ingin kehilangan anak. Bagian ini justru ada klimaks dari semuanya, bukan "klimaks" di halaman 254-255 tadi. 

Saya terenyuh ketika menemukan klimaks. Bagian yang kemudian mengingatkan saya juga ke salah sau pasien dengan isu serupa. Duh, jadi sedih.


***

Konsep di dalam buku ini sangat unik. Pola percakapan dan juga ilustrasi-ilustrasi penunjangnya sangat unik dan menggambarkan kondisi Maddy maupun kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Maddy sehari-hari. Ilustrasi-ilustrasi di dalam buku Everything, Everything dibuat langsung oleh suami Nicola Yoon lho.

Misalnya, ini.

Perhatikan judul dan footnotes.

Kemudian, ini -- yang mengingatkan saya ke masa muda belia belum berlumur noda dulu. Pret. Saat SMP-SMA, saya dan teman-teman satu genk sering membuat kartu ucapan dari karton maupun kardus bekas yang sudah dihias segala rupa dan kemudian diisi kata-kata yang ditulis seperti ini. Hahaha.

(p. 250)

Lalu, ada lagi ini.

(p. 267)

Dan masih ada banyaaaaaak sekali keunikan ilustrasi seperti di atas tadi yang ada di dalam buku Everything, Everything. Makanya, ayo beli sendiri bukunya. Hihihi.

By the way...

Sekali lagi, deh, ya.  Soalnya ini sangat ingin saya lakukan kalau ingin membuat review buku; RESENSI SPOILER OLEH MADELINE. Hahaha.

(p. 264)

Mungkin, saya bisa langsung mencoba membuat RESENSI SPOILER OLEH NIA. Setelah ini.

Kalau mau....

Hahaha.


***

Buku ini bukan tanpa kekurangan, jika ini bisa disebut sebagai kekurangan. Ada tiga halaman sendiri yang mungkin terkesan vulgar bagi remaja. Sama seperti yang terjadi pada buku Fangirl karya Rainbow Rowell, buku Everything, Everything juga mengandung konten seksual. 

Contohnya adalah ini.

(p. 36-37)

Selain itu, ada percakapan terkait seks dan perilaku seksual, sekaligus praktiknya. Berhalaman-halaman ini dibahas di dalam buku. So, beware, bagi yang mudah terganggu dengan pembahasan terkait aktivitas seksual ini.



Cheers!
Have a blessed-day!