07 November 2016

Corat-coret di Toilet by Eka Kurniawan

  


Corat-coret di Toilet merupakan salah satu dari buku-buku pertama karya Eka Kurniawan yang saya baca (dan koleksi). Buku yang saya miliki pertama kali adalah buku dengan cover seperti yang tertera di atas, sesuai dengan tampilan buku tersebut di aplikasi iJakarta - Jakarta Digital Library (@ijakarta.id). Jadi, ketika ada tantangan membaca buku ini dari Penerbit Gramedia (@Gramedia) dan iJakarta - Jakarta Digital Library (@ijakarta.id), saya merasa senang karena merasa terobati untuk melihat lagi tampilan buku dengan cover tersebut -- milik saya sudah hilang dan saya juga lupa siapa yang meminjamnya. Sehingga saya langsung membeli bukunya lagi ketika buku Corat-coret di Toilet keluar dengan cover baru, yang berwarna hijau itu.

***


Judul Buku: Corat-coret di Toilet
Penulis: Eka Kurniawan
Bahasa: Indonesia
Jumlah Halaman: 125
ISBN: 978-602-03-0386-4
Terbit: April 2014
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


BLURB

"Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya kepada dinding toilet"

***

Judul buku ini mengambil judul dari cerita pendek yang penggalannya menjadi blurb di atas; itu merupakan salah satu scene yang ada di dalam cerita pendek berjudul Corat-coret di Toilet

Corat-coret di Toilet merupakan buku kedua dari Eka Kurniawan yang saya baca sekitar tahun 2014. Saya cukup telat berkenalan dengan karya-karya Eka -- dimulai dari Cantik Itu Luka yang saya baca pertama kali di tahun 2006 (buku ini pertama kali terbit pada tahun 2004). Jadi, ada jeda waktu yang cukup lama bagi saya untuk membaca buku Eka, terhitung dari pertama kali saya membaca Cantik Itu Luka hingga periode saya membaca Corat-coret di Toilet; sekitar 8 tahun.


Periode tahun 2012-2014 merupakan masa-masa di mana saya merasa bahwa nama Eka Kurniawan semakin sering disebut dan karyanya dibahas oleh orang-orang di sekitar saya, terutama pada tahun 2014 -- tahun di mana saya kemudian berkenalan (yang terlambat) dengan Kumpulan Budak Setan (buku yang saya miliki merupakan cetakan tahun 2010), Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (buku yang saya miliki merupakan cetakan tahun 2015), dan Lelaki Harimau (buku yang saya miliki merupakan cetakan tahun 2016). Saya tiba-tiba seperti keranjingan untuk membaca karya-karya Eka -- well, saat itu, di tahun 2014 itu, saya masih sering modal meminjam milik teman. Baru di tahun 2016, menjelang O terbit, saya membeli buku Eka tanpa menunda lagi. Sekalian saya melengkapi koleksi untuk buku-buku yang sebelumnya saya baca bermodalkan pinjam tadi. Khusus O, saya bahkan mendapatkan kaosnya juga. 

Sayangnya, kaos tersebut masih di laundry karena baru saya pakai, dan belum diantarkan oleh petugas ketika saya menyelesaikan review ini. Saya akan update buku O berikut dengan kaosnya setelah saya menerima kiriman baju bersih dari laundry langganan.

Kembali ke buku Corat-coret di Toilet.

Corat-coret di Toilet merupakan buku yang berisi kumpulan 12 cerita pendek dengan segala tema. Berdasarkan catatan, 12 cerita pendek ini ditulis pada rentang tahun 1999-2000. Judul-judul dari ke-12 cerita tersebut, yaitu:
  1. Peter Pan 
  2. Dongeng Sebelum Bercinta
  3. Corat-coret di Toilet
  4. Teman Kencan
  5. Rayuan Dusta untuk Marietje
  6. Hikayat Si Orang Gila
  7. Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam
  8. Siapa Kirim Aku Bunga?
  9. Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti
  10. Kisah dari Seorang Kawan
  11. Dewi Amor
  12. Kandang Babi

Masih berdasarkan catatan...

Sepuluh cerita pertama merupakan di buku ini merupakan versi yang sama dengan cerita-cerita yang terbit di Corat-coret di Toilet (Yayasan Aksara Indonesia, 2000). Kecuali "Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti", cerita-cerita tersebut diterbitkan kembali dengan versi yang sedikit berbeda dalam kumpulan Gelak Sedih (Gramedia Pustaka Utama, 2005). "Dewi Amor" dan "Kandang Babi", ditulis di masa yang sama dengan kesepuluh cerita lainnya, belum pernah diterbitkan di buku lainnya dan ditambahkan ke edisi ini. (p. 123)

Secara umum, saya menyenangi tulisan Eka Kurniawan karena biasanya mengangkat isu-isu yang saya memang peduli. Secara lebih khusus -- personally, saya lebih menyukai tulisan Eka yang berbentuk novel karena saya suka sekali dengan cara Eka dalam mengeksplorasi kedalaman cerita. Saya senang membaca sekaligus merasakan kedalaman tulisan Eka melalui eksplorasi yang dibuatnya, terutama di dalam novel Cantik Itu Luka. Sementara itu, saya merasa bahwa cerita pendek yang ia buat terkadang hit, terkadang miss bagi saya. Masalah preferensi personal saya, sih. Ini bukan soal saya tidak menyukai cerita pendek buatan Eka, melainkan saya yang lebih menyukai tulisan Eka yang berbentuk novel dibandingkan cerita pendek.

Meskipun demikian, saya tetap bisa merasakan upaya Eka dalam mengajak kita untuk peka dan peduli terhadap kejadian atau isu-isu yang terjadi di sekitar kita melalui cerita-cerita pendeknya -- begitu pula dalam kumpulan cerita pendek Corat-coret di Toilet ini -- seperti yang saya rasakan ketika saya membaca novel-novel buatannya.

Setiap cerita di Corat-coret di Toilet mewakili beberapa fragmen dari kehidupan kampus dan mahasiswanya, kehidupan rumah tangga, hubungan orangtua dan anak, kejadian politik, kejadian sosial, sejarah masa lalu yang terjadi di Indonesia, bahkan kejadian yang sifatnya lebih personal lagi. Kita mungkin seperti diajak untuk mengingat catatan ketika belajar sejarah (di manapun itu), rumor yang menimpa orang di sekitar kita, gosip-gosip yang kita temui saat di kampus, berita-berita di media massa, bahkan bisa jadi teringat dengan kisah personal kita sendiri, dan lainnya. Atau mungkin kita justru jadi belajar hal baru melalui buku ini -- yang kesemuanya dikemas layaknya sebuah dongeng sarat makna. Ada juga catatan-catatan mengenai tahun pembuatan atau tahun ketika tulisan-tulisan tersebut dipublikasikan pertama kali.

Berikut ini adalah beberapa cerita yang saya pilih untuk saya berikan gambaran isinya.

Peter Pan, cerita pertama di buku ini, diterbitkan pertama kali di Media Indonesia, pada 1 Oktober 2000. Kisahnya mengingatkan kita pada cerita-cerita mengenai aktivis-aktivis sosial dan politik yang hilang dan tidak pernah jelas di mana rimbanya. Kisah ini berkesan bagi saya karena dituturkan lewat kisah seorang aktivis pergerakan yang tidak juga menyelesaikan studinya, tetapi juga merupakan seorang pembaca buku yang senang menulis puisi, sekaligus juga pencuri buku. Jumlah buku yang dicuri olehnya mencapai ribuan. Analogi yang digunakan oleh Eka dalam menggambarkan kisah Peter Pan ini pasti akan mengingatkan kita pada sebuah nama penyair dan aktivis sosial, yang kisah hidupnya terus menjadi penyemangat bagi supporter dan sesama aktivis lainnya untuk terus menolak lupa pada nama tersebut -- yang kabarnya hingga saat ini tidak jelas dan masih dinyatakan hilang sejak belasan tahun yang lalu.
Bahkan ketika sang diktator akhirnya tumbang oleh aksi-aksi jalanan, oleh kerusuhan yang melanda kota-kota karena ribuan buruh dipecat dari pabrik-pabrik, dan oleh perang antara tentara dan mahasiswa yang membanjirkan darah di layar televisi dan surat kabar, kami tak juga menemukan Peter Pan. Bahkan bau mayatnya pun tak tercium oleh hidung kami. Peter Pan lenyap, hanya menjadi legenda dan mitos di antara kami yang menjadi tak berdaya. (p. 8-9)

Dongeng Sebelum Bercinta ditulis pada tahun 2000 dan belum pernah diterbitkan sebelumnya. Kisah ini sedikit banyak mengingatkan saya pada kisah Scheherazade, putri pertama dari The Grand Vizis, yang diminta untuk menikah dengan Sultan Schahriar
Beberapa saat sebelum pernikahannya, Alamanda meminta kepada calon suaminya untuk mendengarkan dongeng sebelum mereka bercinta di malam pertama. Dan karena begitu jatuh cinta kepada Alamanda, sang calon suami mengabulkan permintaan itu. Ia bahkan menambahkan permohonan aneh tersebut sebagai mas kawinnya. (p. 11)

Siapapun yang familiar dengan Kisah 1001 Malam atau Tales from the Arabian Nights pasti akan merasa bahwa kisah Alamanda di cerita ini mengadaptasi kisah Scheherazade, tetapi dengan plot yang berbeda. Saya sendiri lebih teringat pada kisah salah satu teman, yang kurang lebih memiliki isu serupa; pernikahannya dijodohkan dan dia masih dibayang-bayangi pula dengan kisah dengan masa lalunya. Terkadang kita tidak memiliki pilihan selain mengikuti tradisi perjodohan antar keluarga, termasuk dijodohkan dengan keluarga dekat. Sepertinya tidak banyak orang tua seperti orang tua saya, yang justru anti perjodohan, meskipun saya yang berulang kali meminta dijodohkan. Berkali-kali saya menawarkan diri untuk dijodohkan, berkali-kali pula keinginan saya ditolak oleh orang tua dan keluarga dekat. Hahaha.


Corat-coret di Toilet pertama kali terbit di Media Indonesia, pada tanggal 23 April 2000. Cerita ini mengingatkan saya pada coretan-coretan di dinding toilet sekolah, yang penuh dengan sapaan dan percakapan saling berbalas -- entah antar siapa saja. Ketika kuliah, saya cenderung menemukan toilet yang bersih dari coretan, tidak seperti yang diceritakan pada kisah ke-tiga dari buku ini. Rentetan "percakapan" di dinding toilet dikemas secara menarik, dengan melalui sudut pandang dari masing-masing "penulis" dinding toilet. 
Semua orang tahu belaka, toilet itu dicat agar tampak bersih dan terasa nyaman. Sebelumnya, ia menampilkan wajahnya yang paling nyata; ruangan kecil yang marjinal, tempat banyak orang berceloteh. Dindingnya penuh dengan tulisan-tulisan konyol yang saling membalas. (p. 27-28

Dengan setting kampus dan mahasiswa yang memiliki segala kepentingan di toilet, termasuk dengan latar belakang dan aktivitas mereka sebagai mahasiswa, percakapan di toilet pun menjadi lebih hidup. Bukan sekadar coretan penuh flirting seperti yang sering saya temukan di dinding toilet sekolah dulu -- meskipun di sini ada juga coretan berjenis flirting -- melainkan juga menjadi ekspresi kegelisahan dari mahasiswa terhadap isu dan kejadian di sekitar mereka. Meskipun dinding toilet sudah pernah dibersihkan, tetapi tetap tidak berhasil membendung aspirasi para mahasiswa. Tidak ada rotan, dinding toilet pun jadi.
Karena kemudian menjadi tampak kumuh, sang dekan sebagai pihak yang berwenang di fakultas, memutuskan untuk mengecat kembali buku harian milik umum itu. Tapi seperti kemudian diketahui, tulisan pertama mulai muncul, lalu ditanggapi pula oleh tulisan kedua, dan ramailah kembali dinding-dinding toilet dengan ekspresi-ekspresi yang mencoba menyaingi kisah-kisah relief di dinding candi. (p. 28)

Teman Kencan pertama kali terbit di Hai No. 44, tanggal 12 November 1999. Kisahnya, duh, seperti halnya kisah yang ditampilkan meme mengenai para jomblo di malam Minggu. Pedih, perih, dan nggg... Aktivis yang begitu ngenes nasibnya. Jiwa sebagai aktivis membuatnya tidak mudah menyerah, berusaha untuk mendapatkan kembali yang terasa "hilang", dan berakhir dengan nggg... Baca sendiri, dan rasakan betapa perih hidupnya. Halah! Hahaha.
Presiden yang menyebalkan itu tumbang sudah. Terharu aku dibuatnya, seolah lembar-lembar Tumbangnya Seorang Diktator Gabriel Garcia Marquez menjelma. Bagaimana tidak, berbulan-bulan, bahkan dua atau tiga tahun lamanya, telah banyak yang kukorbankan untuk peristiwa indah ini. Kuliahku terbengkalai, ayah dan ibu dan adik-adikku lama tidak aku jumpai, dan yang lebih menyedihkan: kekasihku minggat. (p. 30)

Rayuan Dusta untuk Marietje pertama kali terbit di Hai No. 37, pada tanggal 8 September 2000. Kisahnya agak mirip dengan pola pada Teman Kencan, hanya saja dengan setting waktu dan tempat yang berbeda, serta dengan ending yang berbeda. Setidaknya yang ini tidak perih, lah, ya. Hahaha.
Kata orang, yang kudengar dari mulut ke mulut, Hindia Belanda menjanjikan segalanya. Tanah menghampar, tak ada bandingannya dengan Belanda yang cuma sepijakan kaki. Juga emas, belum ada yang menggali. Juga permata-permatanya. Terutama rempah-rempahnya. Aku tergiur benar untuk datang demi mengubah nasibku. Dan begitulah hingga akhirnya kakiku menjejak tanah Hindia Belanda. Di sini segalanya cukup menyenangkan, kecuali satu: aku tak punya pacar! (p. 39)

***

Saya cantumkan gambaran untuk lima cerita saja, ya. Selebihnya bisa kalian baca sendiri. Masih ada Hikayat Si Orang Gila yang pertama kali terbit di Bernas, tanggal 14 November 1999. Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam, yang terbit pertama kali di Hai No. 10, tanggal 10 Maret 2000. Ada pula Siapa Kirim Aku Bunga?, Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti, dan Kisah dari Seorang Kawan yang belum pernah diterbitkan sebelumnya, seperti yang sudah disebutkan di awal tadi. Kemudian, ada Dewi Amor yang pertama kali terbit di Hai No. 45, tanggal 3 November 2000. Terakhir, ada Kandang Babi yang pertama kali terbit di Kumpulan Cerpen Balairung, pada tahun 2000, dengan judul Kandang Babi, Rendezvous.

Jika tidak punya bukunya, tenang saja, kalian bisa membacanya di aplikasi iJakarta - Jakarta Digital Library (@ijakarta.id). 

Aplikasi ini sangat mudah digunakan. Jika kalian menggunakan smartphone atau tab, kalian cukup download aplikasi iJakarta dan kemudian mendaftar sebagai anggota. Kalian bisa memilih pendaftaran dengan melalui akun Facebook maupun akun Email. Saya sendiri memilih menggunakan alamat email


Setelah itu, kalian tinggal melengkapi data yang ingin kalian cantumkan di dalam profile.



Kalian lihat tulisan Bookworm di atas? Nah, itu adalah level saya saat ini. Saat baru mendaftar, yang tercantum adalah level Newbie. Kalian tinggal melengkapi tahapan untuk bisa naik level. Bagaimana caranya? Kalian tinggal klik tulisan terkait level ini, misalnya berdasarkan profile saya di atas, berarti klik tulisan Bookworm. Nanti akan muncul tahapan yang harus kalian penuhi jika ingin naik level. Jika sudah terpenuhi, maka kalian akan otomatis naik level. Ini salah satu keseruan membaca di aplikasi iJakarta. Hihihi. Saya hanya tinggal melalui satu tahapan lagi, yaitu memiliki jumlah followers lebih dari 10, untuk bisa naik level menjadi Socializer.  Ayo kita saling follow, ya! Hahaha.

Proses meminjam buku di iJakarta juga mudah sekali. Kita bisa mencari berdasarkan genre atau bisa juga dengan searching menggunakan nama penulis yang kita cari. Setelah itu, kita tinggal melakukan proses peminjaman buku.



Lihat tulisan Pinjam yang berwarna orange di atas? Kalian tinggal klik tulisan tersebut untuk memulai proses pinjam. Kemudian, akan tampil pilihan tempat kalian bisa meminjam buku tersebut. Kalian tidak perlu mengantri untuk meminjam buku karena ada 54 copies jumlah salinan. Jumlah yang sangat banyak, ya, itu. Ada buku-buku yang bahkan jumlah salinannya 0 copy. Huhu, sedih. Untuk buku-buku seperti ini, yang berarti belum tersedia, kalian bisa melakukan donasi lho. Jumlah nominal donasi berbeda untuk setiap buku.


Jika kalian ingin meminjam melalui e-pustaka Reading Challenge Gramedia (untuk tantangan membaca sekarang, saya meminjam melalui e-pustaka ini), maka kalian tinggal klik pilihan yang ke-2 seperti tertera pada foto di atas. Jika ingin meminjam bukunya dari Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah DKI Jakarta berarti kalian tinggal klik pilihan yang ke-1.


Apabila kalian belum terdaftar sebagai anggota dari e-pustaka yang menyediakan salinan buku yang kalian ingin pinjam, maka akan muncul pop-up notification seperti di atas. Kalian tinggal klik Daftar Sekarang dan muncul lagi pop-up notification seperti di bawah ini.


Kemudian, kalian cukup masukkan ulang password kalian dan tampilan akan menjadi seperti berikut.



Setelah itu, kalian akan diarahkan untuk mengisi data yang dibutuhkan selanjutnya, teruskan hingga proses download selesai dan tulisan Pinjam berubah menjadi Baca; yang artinya ketika kalian klik tulisan Baca maka kalian bisa langsung membaca ebook yang kalian pinjam tersebut. Lama peminjaman berbeda-beda. Rata-rata dari pengalaman saya, sih, antara 2-3 hari. Tergantung bukunya.

Okay...

Selanjutnya saya akan menunjukkan tampilan ketika membaca ebook di aplikasi iJakarta.

 

Lihat perbedaan di pojok kanan atas? Yak! Itu adalah bookmark. Jika kalian klik logo tersebut, maka logo akan berubah warna menjadi putih. Ketika kalian sedang berhenti membaca, bookmark ini menandakan halaman terakhir yang kalian baca. Jadi, kalian tidak perlu repot mencari halaman terakhir yang kalian baca saat ingin melanjutkan membaca, karena saat kalian membuka ebook maka ebook akan otomatis terbuka pada halaman yang kalian berikan bookmark.

Kalian juga bisa mengatur tampilan ebook yang kalian inginkan selama membaca di aplikasi iJakarta. Ada tiga pilihan, yaitu transisi ke bawah yang merupakan default setting, transisi ke samping, dan transisi kertas curl. Kalian bisa atur pula ingin layar gelap atau layar terang. Karena saya lebih menyukai layar terang, maka saya buat pengaturan latar gelap menjadi off. Klik icon berbentuk kacamata di kanan-bawah untuk memunculkan pop-up pengaturan tampilan ini.


Tampilan dari Transisi Ke Bawah adalah seperti ini, seperti ketika kita membuka file dengan format .pdf ya. Ini adalah tampilan yang paling tidak saya suka karena saya harus scrolling down secara manual saat ingin lanjut ke halaman berikutnya. Such a rempong, kan, jadinya. Hehe.



Ini adalah tampilan untuk pengaturan Transisi Ke Samping, jika layar saya posisikan portrait.


Sementara, ini adalah tampilan Transisi Ke Samping, dengan layar dalam posisi landscape. Meskipun saya bisa menampilkan beberapa halaman sekaligus, tetapi mata saya tidak kuat cyiin menghadapi ukurannya.



Naahh...

Ini adalah favorit saya, membaca dengan tampilan Transisi Kertas Curl karena jadi seperti membaca buku fisik. Bebas juga untuk membuka halaman selanjutnya dari pinggiran kanan atas atau kanan bawah, seperti se-bebas kita jika membuka halaman selanjutnya pada buku fisik. Kalian juga bisa kembali ke halaman sebelumnya, dengan cara yang sama. Tinggal geser sisi sebelah kiri saja.

 

Next...

Kalian lihat garis-garis pada pojok kiri atas? Jika itu di-klik maka akan muncul tampilan mengenai keseluruhan isi buku, seperti daftar isi. Kalian tinggal klik jika ingin melompat ke halaman atau judul bab tertentu. Seperti tampilan pada powerpoint jika kita ingin skip ke slide tertentu, gitu...

So...
Seru, kan? Seru, kan? 
Tunggu apa lagi? 

Ayo segera download aplikasi iJakarta jika kalian belum memiliki aplikasi ini di smartphones atau tabs kalian. Proses meminjam semuanya GRATIS, lho. Tersedia banyaaaaaaak sekali judul buku pilihan, yang bisa kalian pinjam hingga tiga buah buku per hari. Saya sendiri jadi keranjingan meminjam buku begitu saya menemukan banyak sekali judul yang dulu pernah saya baca di beberapa rental buku di Depok dan saya tidak memiliki buku-buku fisiknya. Sudah saya masukkan judul-judul tersebut ke dalam daftar buku yang akan saya pinjam selanjutnya. Howreee~


***

Tulisan ini diikutsertakan dalam event Reading Challenge dari Penerbit Gramedia (@Gramedia) dan iJakarta - Jakarta Digital Library (@ijakarta.id)



Cheers!
Have a blessed-day!