15 November 2016

Being Henry David by Cal Armistead



BLURB

'Hank' tersadar di Stasiun Penn, New York tanpa ingatan. Pemuda berumur tujuh belas tahun itu tidak tahu namanya, siapa dirinya, dan dari mana ia berasal. Satu-satunya petunjuk yang ia miliki adalah sebuah buku berjudul 'Walden' karya Henry David Thoreau yang ada di tangannya.


***

Hal terakhir yang kuingat adalah 'sekarang'. (p. 1)

Jika kamu mengalami apa yang sedang dialami oleh Hank, apa yang akan kamu lakukan? Saya tidak berani membayangkan itu terjadi kepada diri saya. Hehehe. Rasanya terlalu menakutkan untuk menghadapi hal seperti itu. Tiba-tiba terbangun dengan kondisi amnesia bukanlah yang menyenangkan untuk dibayangkan. Apalagi membayangkan kemungkinan penyebab-penyebab seseorang bisa mengalami amnesia; lebih tidak menyenangkan untuk dibayangkan.


Duduk di ruang Thoreau di perpustakaan, aku membolak-balik buku-buku tentang ingatan dan kehilangan ingatan, berharap bisa mendapat petunjuk tentang bagaimana hal ini bisa terjadi padaku, dan mungkin, cara mengembalikan ingatanku. Aku tak yakin ada jawabannya dalam buku-buku ini, tapi Thomas tergila-gila tentang riset, jadi biarlah.
Amnesia bisa disebabkan oleh trauma fisik seperti pukulan di kepala, kata buku-buku itu. Atau, akibat trauma emosional. Seperti jika ada sesuatu yang benar-benar buruk terjadi, terlalu traumatis untuk dihadapi, otakmu memblokirnya. Otak melindungi dirinya sendiri, sebuah mekanisme pertahanan diri. Keren sekaligus aneh, kalau dipikir-pikir.
(p. 150

Boy...

Amnesia "terkesan" keren. Tetapi, tidak, itu tidak keren. Materi amnesia merupakan salah stau materi ajar saya ketika membahas tentang Memory. Jadi, ketika pertama kali membaca blurb mengenai Being Henry David pertama kali, saya langsung yakin bahwa saya akan menyukai buku ini.

Saya familiar dengan tema-tema amnesia di dalam buku -- bukan sinetron, please -- saat SD dulu pernah membaca sebuah manga, di mana peran perempuan di sana tiba-tiba mengalami episodic amnesia; sebuah kondisi di mana penderitanya kehilangan ingatan terkait pengalaman atau kejadian spesifik yang pernah terjadi di dalam kehidupannya. Biasanya ini dikaitkan dengan ingatan mengenai autobiographical events, yang juga dipengaruhi oleh kondisi emosional penderita pada saat autobiographical events itu berlangsung. Kondisi emosional inilah yang membuat otaknya memblokir ingatan mengenai kejadian tersebut karena kemungkinan besar dirasakan terlalu berat untuk dihadapi dan terlalu menyakitkan untuk diingat. Kondisi yang oleh Freud disebut sebagai bagian dari defense mechanism terhadap peristiwa traumatis. Kalau ada orang yang pernah mengalami kejadian traumatis dan dia melupakan data-data spesifik terkait kejadian tersebut, bahkan bisa jadi tidak mengingat kejadian tersebut, kemungkinan besar orang tersebut mengalami episodic amnesia ini.

Sejak saat itu, saya sangat tertarik dengan isu-isu terkait amnesia, terutama ketika isu tersebut dibahas di dalam sebuah kisah fiksi. Itulah kenapa saya sangat menyukai bagian-bagian awal dari kisah Hank di dalam buku Being Henry David karena penulisnya memberikan gambaran bagaimana Hank mengalami struggle dengan amnesianya secara baik. Ditambah, Hank dibikin related to Walden, karya Henry David Thoreau; salah satu karya klasik yang sangat saya sukai.

Hank yang tidak dapat mengingat masa lalu memutuskan untuk menjalani kehidupannya di masa sekarang. Berteman dengan seorang pustawakan dan juga siswi SMA, bahkan kemudian menyadari dirinya sangat ahli bermain gitar dan juga seorang pelari yang andal. Hingga kahirnya ia menemukan sebuah petunjuk mengenai siapa dirinya dan bagaimana dirinya yang dulu; hal yang ia lupakan, atau justru tidak ingin ia ingat dan dengan sengaja ia kubur dalam-dalam? Konflik pun berputar di sekitar ini. 

Apa yang sebenarnya terjadi pada Hank? Dapatkah ia akhirnya berdamai? Mampukah ia menemukan jawaban yang sebenarnya dengan bermodalkan clue; Danau Walden, di Concord, Massachusetts?


***

Plot di buku Being Henry David ini berlangsung dengan cepat. Fokus utamanya sejak awal adalah perjalanan Hank dalam menemukan siapa dirinya -- self-discovery. Dibumbui dengan beberapa kejadian-kejadian menegangkan. Ada juga bumbu romance -- it's a teenager story after all, tetapi porsinya tidak terlalu signifikan dan tidak membuat plot utama menjadi melenceng juga. Fokus cerita tetap Hank dan pencarian jati dirinya.

Karakter Hank digambarkan sebagai remaja yang sangat vulnerable. Rasanya ingin saya peluk. Dia digambarkan begitu rapuh, sekaligus mengundang simpati. Pada saat ingatan akan masa lalunya mulai bermunculan, dia digambarkan menjadi sangat ketakutan karena di momen itu ia menyadari bahwa sesuatu yang sangat buruk pernah terjadi dan melibatkan dirinya, sehingga dia merasa tidak sanggup untuk menghadapi itu. Dia menolak untuk mengingat kejadian tersebut sepenuhnya dia juga menyadari bahwa otaknya -- pikirannya, berusaha untuk melindungi dirinya dari ingatan tidak menyenangkan itu. Di sisi lain, ia juga ingin bisa mengetahui kebenaran. Inilah yang membulatkan tekadnya untuk ke Concord. Setakut apapun dirinya, Hank tetap berusaha untuk memberanikan diri. Thumbs up, boy...

Membaca Being Henry David sama halnya dengan membaca kisah seorang remaja pada umumnya, lengkap dengan segala kegundahan, ketakutan, dan keputus-asaan mereka. Salah satu ciri khas yang terjadi pada masa remaja adalah ini, sehingga masa remaja disebut sebagai masa penuh turbulensi di dalam proses perkembangan. Bedanya, apa yang terjadi pada Hank adalah hidupnya tidak "se-sederhana" remaja pada umumnya. ada "kekacauan" yang secara spesifik terjadi pada dirinya sehingga dia sampai mengalami amnesia. Proses Hank menghadapi fase ini di dalam hidupnya merupakan proses pendewasaan yang signifikan artinya bagi dirinya. Hal ini yang membuat saya memuji Hank karena dia mencoba untuk berani dan tidak dikuasai oleh ketakutan, meskipun dia mengetahui resiko jika bisa mengingat lagi siapa dirinya. 

Fans Henry David Thoreau, terutama yang sangat menyukai Walden seperti saya, pasti akan menyukai juga cara Cal Armistead menjadikan Walden sebagai guide bagi 'Hank' dalam menemukan kembali dirinya. Hubungan antara Hank dan Henry David Thoreau dijabarkan dengan sangat menarik sekali oleh penulis. Sama seperti kisah Hank di Being Henry David, kisah Walden juga sama-sama bersifat autobiography.

Saya sampai bertanya-tanya, bagaimana ya cara Cal Armistead dalam membuat buku Being Henry David sehingga bisa membuat keterkaitan yang sangat bagus terhadap kisah Hank dan Henry David Thoreau?

Pertanyaan saya membuat saya menemukan sebuah website, yang bisa membuat kita lebih mendalami korelasi antara kehidupan personal Cal Armistead, Hank, dan Henry David Thoreau. Kalian bisa membacanya di sini dan temukan jawabannya sendiri. Cerita yang disampaikan oleh Cal Armistead di sana, terlepas dari kisah Hank, sama-sama menarik juga untuk dibaca. Personally, background story mengenai terciptanya karakter Hank ini membuat saya semakin merasa terikat dan memahami Hank lebih mendalam lagi.


***

Satu hal yang juga saya sukai dari buku ini adalah bagaimana penulis mengajak pembacanya untuk berani -- untuk mau menghadapi diri sendiri dan apa yang ada di depan kita; tidak lari dari siapa kita yang sebenarnya dan bagaimana kita yang seharusnya. Apa yang seharusnya kita lakukan ketika kita tidak mengetahui siapa diri kita, tetapi kita juga menyadari ada hal buruk yang terjadi pada diri kita? Hadapi. Seperti Hank menghadapinya.
Setiap makhluk lebih baik hidup daripada mati, manusia dan rusa besar dan pohon pinus, dan dia yang memahami betul hal ini akan memilih mempertahankan hidupnya daripada menghancurkannya. (p. 272)


Cheers!
Have a blessed-day!