03 October 2016

The Shy by Triani Retno

Catatan
  1. Materi  pembahasan buku The Shy karya Triani Retno di bawah ini pertama kali dipublikasikan pada tanggal 12 November 2014 di Personal Library of Nia F. S. Kartadilaga.
  2. Tidak ada banyak tambahan untuk editan tanggal 2 Oktober 2016 ini.

***



The Shy by Triani Retno

Judul: The Shy - Aku Melihatmu, Apa Kamu Melihatku?
Pengarang: Triani Retno
Jenis: Noomic (Novel-Comic), Kumpulan Cerpen, Cerita Misteri Anak
ISBN: 978-602-286-019-8 / 602-286-019-9
Penerbit: Anak Kita

Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halaman: 112++


BLURB

Kamu lihat gadis berseragam lusuh itu? Ia datang menghampiri kerumunan temanku yang mulai menceritakan kisah hantu di rumah masing-masing. Tak ada yang menyadari keberadaannya... dan senyum mengembang di bibir gadis asing berkulit seputih kertas itu.

Tak lama kemudian, dua sosok asing lainnya pun muncul, ikut mendengarkan obrolan teman-temanku dengan tenang... dan salah satu di antara mereka, sepertinya sudah ratusan tahun tak menyisir rambut.

***

Spooky?
Nope...

Muehehe...

Ini pertama kalinya membaca Noomic alias Novel Comic, sebuah lini baru dari buku anak terbitan Anak Kita yang menyuguhkan kumpulan cerita pendek dengan ilustrasi komik, dan The Shy merupakan salah satu buku terbaru untuk genre Noomic tersebut.

Triani Retno bukan nama baru di dunia kepenulisan. Sudah banyak bukunya yang diterbitkan, baik sebagai penulisnya, ghost writer, serta editor. Secara khusus, Triani Retno juga pernah menjadi salah satu narasumber untuk kegiatan Klub Buku Bandung di tahun 2013 lalu. Di kegiatan tersebut, Teh Eno -- begitu ia disapa, banyak menceritakan bagaimana ia berproses menjadi penulis dan juga editor, serta bagaimana untuk menjadikan profesi tersebut sebagai profesi utama yang menghasilkan. 

Sebelum The Shy, saya membaca buku Teh Eno yang masuk ke dalam Seri Bluestroberi terbitan Ice Cube (lini Penerbit KPG). Bukunya berjudul Limit. Kalau boleh jujur, saya justru heran kenapa Limit hanya masuk sebagai nominasi naskah pilihan editor dan tidak sebagai salah satu dari tiga pemenang utama. Alur dan pemilihan kata di Limit jauh lebih baik, lebih runut, dan konsisten dibandingkan karya tiga pemenang. Kekurangannya, hanya terlalu kaku untuk menjadi bacaan remaja.

Nah, The Shy, masih ada kesan kaku untuk menjadi bacaan anak dengan karakter-karakter yang berusia remaja awal-pertengahan. Maksud kaku di sini adalah pilihan kata-katanya yang begitu baku, begitu formal. Bukan jenis kata-kata yang banyak digunakan oleh anak atau remaja. Sayang...

Jika pernah membaca buku-buku Teh Eno lainnya, kesan "kaku" ini sepertinya sudah menjadi trademark. Meskipun tidak terlalu menjadi masalah ketika buku yang dibaca adalah buku dewasa. Tetapi, akan menjadi sedikit ganjalan ketika buku tersebut adalah buku yang diterbitkan untuk menjadi bacaan anak dan remaja.

The Shy tidak sekaku Limit. Akan tetapi, ada yang janggal. Kurang greget. Sangat terasa kalau yang menulis cerita tersebut bukan seorang anak atau remaja. Ambil contoh dari penggalan paragraf di halaman 19 berikut ini...
Dari neneknya barulah Rio tahu bahwa puluhan tahun lalu tanah kosong di belakang rumah itu adalah ladang pembantaian. Puluhan orang dibunuh dengan sadis di sana. Jasad mereka dilemparkan begitu saja ke dalam sebuah lubang. Darah menggenang di mana-mana. Tanah pun seolah kehilangan warna aslinya yang cokelat, berubah menjadi merah. Merah oleh darah.

Menurut kalian, bagaimana?

***

The Shy terdiri dari tujuh buah cerita pendek, yang masing-masing juga dilengkapi dengan ilustrasi percakapan melalui bentuk komik pendek, dan sinopsis ceritanya sudah diberitahu sejak halaman awal kita membuka buku ini. The Shy sendiri merupakan salah satu judul dari tujuh cerita pendek yang disuguhkan. Coba dibandingkan yuk, dan rasakan mengapa saya menganggap pemilihan kata-katanya masih terkesan kaku.

Rumah Nomor 38. Bangunan angker tak selalu bernomor 13. Rumah angker di kompleksku bukan nomor 13, tetapu nomor 38. Oh, kamu sudah tahu? Mungkin rumahmu juga bernomor 38.

The Shy. Jin pemalu? Aneh, tapi itu yang kulihat. Ia tak pernah menakuti orang. Ia hanya tersenyum malu dan buru-buru bersembunyi jika tahu ada manusia yang bisa melihat keberadaannya.

Namaku Fayla. Aku tak mengerti mengapa teman-temanku mengatakan kelas kami angker. Mereka tak pernah berani daang sendiri ke kelas di pagi hari. Mereka selalu datang beramai-ramai. Mereka pun langsung meninggalkan kelas ketika jam pulang sekolah tiba. Mereka seharusnya percaya padaku, percaya bahwa kelas kami ini tidak seram. Soalnya sejak dulu aku tak pernah, tuh, melihat sesuatu yang mengerikan di sini.


Sleeping Girl. Aku tak peduli teman-teman menjulukiku si tukang tidur alias sleeping girl. Mereka tak tahu, aku memilih tidur daripada meihat peristiwa-peristiwa menyeramkan diputar di depan mataku. Peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Sungguh, aku tak sanggup memiliki karunia ini.

Kuntum-kuntum Mawar. Malam menjelang pameran seni rupa, aku dan teman-teman panitia terpaksa mendekorasi aula sekolah sampai malam. Kami menggunakan banyak bunga untuk dekorasi, sedikit pun tak teringat pada cerita seram "gadis-gadis pembawa bunga" yang pernah dilihat masuk ke sekolahku. Duh, dan aku mau tak mau harus ikut mendekorasi aula. Bagaimana ini?!


Garis Batas Dimensi. Seharusnya ada batas yang tak bisa dilampaui oleh makhluk yang berbeda dunia. Namun, aku terpaksa menerima kenyataaan ada makhluk alam lain yang bersikeras ingin berteman denganku... Kenapa aku harus bisa melihat mereka semua...?

Sang Pengawal. Tanpa kusadari, hal-hal buruk selalu terjadi pada orang-orang yang menyakiti dan mengecewakan aku. Rekan satu tim basketku, sahabat yang mencuri tiket konserku, teman yang meremehkanku. Sesuatu telah membalaskan sakit hatiku, kecewaku, dendamku. Sesuatu yang tanpa kukehendaki menjadi pengawalku. Sesuatu yang berasal dari dunia lain...

***

Tujuh cerita di dalam buku The Shy tidak melulu mengenai kisah horor yang biasa kita ceritakan bersama teman-teman di sekolah; ya kalau diingat-ingat, biasanya di sekolah sering berbagi kisah hantu di rumah atau di sekolah. Iya, kan? Hihi. The Shy ini juga menggambarkan tentang dunia remaja dan "drama" yang mereka hadapi di dalam hubungan pertemanan.

Salah satu dari tujuh cerita tersebut, menurut saya, justru tidak dapat dikatakan sebagai sebuah cerita horor anak-remaja, melainkan sebuah cerita thriller yang menimpa remaja. Coba, tebak, dari tujuh sinopsis di atas mana cerita yang saya maksud?

Sebagai sebuah buku, The Shy secara keseluruhan terlihat dipersiapkan dengan konsep yang matang. The Shy memiliki cover yang eye catchy, ilustrasi-ilustrasi komiknya digambar dengan baik meski tidak terlihat begitu smooth, pemilihan font huruf juga baik, dan design di bagian dalam buku juga menarik. Saya membayangkan, jika ilustrasi komik dibikin berwarna pasti akan lebih seru. Tetapi, ngg... harganya tidak mungkin dipatok di angka 30an ribu rupiah seperti harga sekarang.

Overal 4/5



Cheers!
Have a blessed-day!