05 October 2016

Wonderful Life by Amalia Prabowo

Motivasi saya membaca buku ini termasuk lame, kalau tidak bisa dibilang too lame. Semua berawal ketika saya melihat instagram feed mengenai Reading Challenge dari Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (@penerbitkpg) dan aplikasi iJakarta - Jakarta Digital Library (@ijakarta.id). Hanya saja, saat itu belum ada informasi detail, tetapi sudah terbersit keinginan untuk mencoba mengikutinya karena sudah lama sekali sejak saya terakhir kali terlibat di reading challenge. Kemudian saya sempat melupakan hal ini dan baru update setelah saling berkabar dengan salah satu teman. Saat itu, Penerbit KPG sudah mulai update mengenai Wonderful Life Reading Challenge dengan menyebarkan banner berikut di social medias mereka.



Ketika masa-masa saya sedang tidak update informasi mengenai Wonderful Life Reading Challenge, salah satu teman ketika kuliah profesi Psikolog di Depok meng-upload trailer sebuah film yang menceritakan tentang anak dengan disleksia ke dalam grup Whatsapp kami. Waktu itu, saya tidak memperhatikan judul dari filmnya. Saya hanya ingat di dalam trailer tersebut terlihat bahwa peran Ibu dari anak dengan disleksia dimainkan oleh Atikah Hasiholan. Beberapa dari kami ingin sekali menonton film tersebut saat filmnya secara resmi tayang di bioskop, simply dengan alasan karena film ini terasa dekat dengan dunia kami -- mengingatkan kami ke beberapa klien yang pernah dan/atau sedang kami tangani. Ada rasa nyess yang mampir di hati jika mengingat mereka. Saya sendiri teringat dengan anak-anak dari beberapa teman saya, klien yang pernah saya tangani dulu, serta pembahasan-pembahasan mengenai disleksia ketika saya sedang kuliah atau sedang mengajar mahasiswa. Saya juga flashback ke film-film yang saya jadikan materi ketika presentasi mengenai disleksia di depan salah satu dosen saya di Bandung sekitar tahun 2013 lalu; salah satu film yang dimaksud adalah film India yang tayang sekitar tahun 2007, yaitu Taare Zameen Par, yang mungkin kalian ketahui juga.

Belakangan, setelah saya lebih update lagi mengenai Wonderful Life, saya baru menyadari bahwa buku yang menjadi materi Reading Challenge dari Penerbit KPG serta trailer film yang saya dan teman-teman lihat di grup Whatsapp tadi adalah sebuah kesatuan. Film Wonderful Life diangkat dari buku Wonderful Life, yang menceritakan kisah Amalia Prabowo dan anaknya -- Aqil -- dalam berjuang menghadapi disleksia.

***


  

Sebelum saya mulai pembahasan mengenai buku Wonderful Life, coba kita lihat dulu cover depan dan belakang buku ini. Cantik, ya? Dengan tampilan cover yang seperti di atas, kita bisa berekspektasi untuk mendapatkan ilustrasi-ilustrasi cantik lainnya di dalam buku -- bahkan sebelum kita mulai membaca bukunya -- karena inilah salah satu tawaran menarik sekaligus salah satu kelebihan utama dari buku Wonderful Life; penuh dengan ilustrasi, yang dibuat langsung oleh Aqillurachman A. H. Prabowo atau akrab disapa Aqil -- pahlawan kecil kita yang memiliki bakat menggambar, terlepas dari kondisi dirinya yang suspek disleksia.

***

"Hidup adalah kumpulan lembaran kertas kosong. Setiap hari kita belajar untuk mengisinya dengan uluran tangan orang lain...", demikian Amalia Prabowo memulai ucapan terima kasihnya di dalam buku Wonderful Life, sebelum ia memulai kisah perjuangan dalam hidupnya kemudian.

"Namaku Amalia,
putri bungsu keluarga ningrat Jawa yang berpendidikan tinggi dan berkecukupan materi."
(p. 2)

(p. 3)

Amalia Prabowo dididik oleh sang Bapak dengan penuh disiplin dan dituntut untuk selalu rajin membaca. Setiap pagi, ketika sarapan tiba, Bapak akan mewajibkan anak-anaknya untuk duduk tegak, berpakaian rapi, sikap tertib, dan harus siap menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Bapak. Setiap pertanyaan harus dijawab dengan lancar, tanpa salah. Jangan sampai ada yang alpa karena berarti harus siap menghadapi suara menggelegar Bapak yang akan membuat anak-anaknya mematung dan tangan bergetar -- akan terasa lemas bahkan untuk menggerakkan sendok dan garpu.

"Membaca itu...", kata Bapak sambil menyeruput teh hangatnya, "... adalah jendela dunia,"
"Kamu akan menonjol di dalam pergaulan jika pengetahuanmu luas! Percaya dirimu akan tumbuh kuat jika engkau paham banyak hal!
Orang akan menghargai isi otakmu bukan penampilanmu!"
(p. 4)

Berkat didikan dari sang Bapak, Amalia Prabowo tumbuh sebagai orang dengan kebiasaan hidup yang serba teratur dan serba terencana. Ia selalu terbiasa plan-do-review. Berdasarkan didikan Bapak yang ingin segala sesuatu berjalan sempurna bagi anak-anaknya, ingin mereka berhasil dan menjadi yang terbaik, Amalia Prabowo juga belajar bahwa kendali kehidupan sepenuhnya ada di tangannya, bahagia atau sedih adalah pilihan sadarnya sendiri, dan tidak ada dalam kamus kehidupannya untuk terjatuh dalam kesulitan yang tak terduga.

(p. 9)
Hampir tidak pernah ia terjebak dalam situasi panik, terburu-buru, senewen dalam mengerjakan tugas. Mengutip pernyataannya, "Semuanya rapi jali aman terkendali." (p. 10)

Selain itu, kata "TIDAK" dari Bapak, yang berarti penolakan, tidak membuat Amalia Prabowo menyerah dan patah semangat, "Aku percaya penolakan hanyalah sebuah penundaan. Aku masih bisa membuat rencana baru, menjalankan, dan mengevaluasinya dengan seksama. Jika tidak sekarang, suatu hari nanti pasti akan kudapatkan." (p. 13)

Sikap dalam menghadapi penolakan dari Bapak sudah dipegang teguh oleh Amalia Prabowo sejak remaja. Dimulai ketika ia bersikukuh untuk masuk ke SMA negeri dan membayar kepercayaan Bapak yang akhirnya mengizinkan dia bersekolah di SMA negeri dengan masuk salah satu universitas terbaik dan bergengsi di Indonesia, tanpa melalui proses tes seleksi; ia berhasil masuk melalui program PMDK (Penelurusan Minat dan Kemampuan), sebuah program sebelum lulus SMA yang menyaring siswa berprestasi untuk masuk ke universitas terbaik.

Sikap mental yang dimilikinya pula, yang kemudian membuatnya berani mengambil keputusan untuk menikah dengan lelaki yang menurutnya mendekati sempurna, tidak lama setelah ia lulus kuliah. Meskipun saat itu ada "peringatan kecil" dari Bapak (sebagai seorang Ginekolog senior) mengenai hasil pemeriksaan pra-nikah yang dijalani oleh Amalia Prabowo dengan lelaki tersebut, mereka tetap tidak mundur. Berdua mereka mengarungi kehidupan pernikahan dan setelah itu mereka menapaki perjuangan meraih karir dengan mengadu peruntungan di Jakarta. 

Bukan hal yang mudah tentunya. Lagi-lagi Amalia Prabowo berhadapan dengan penolakan demi penolakan dalam menjajaki karir di Jakarta. Tetapi, bukan Amalia Prabowo namanya jika ia menyerah. Berkat kerja keras dan perjuangannya, justru ia berhasil melesat mencapai puncak kepemimpian tertinggi; menjadi CEO wanita pertama di sebuah perusahaan advertising multi-nasional di Indonesia. Ia mengalahkan pekerja lain yang berpendidikan luar negeri, bahkan mengalahkan pekerja asing yang umumnya menduduki posisi tertinggi di biro iklan asing di negeri ini.

"Aku Amalia -- anak daerah yang tak pernah mengenyam sekolah di luar negeri -- telah membuktikan bahwa impian tidak datang dari langit.
Impian kita harus diraih, diperjuangkan, dan dicintai."
(p. 29)

Ada harga yang harus ia bayar seiring dengan meningkatnya karir dan tanggungjawab; kehidupan pernikahan -- ditambah sebagai keturunan ningrat, keberadaan anak adalah penting, dan ada fakta yang dulu pernah diingatkan oleh Bapak kepada mereka berdua. Potensi mereka memiliki anak sangat kecil. Akhirnya, Amalia Prabowo melepaskan pernikahan pertamanya dan move on.

"Evaluasi dan perencanaan kembali adalah cara terbaik untuk move on.
Hidup adalah berkah."
(p. 35)

Dua tahun berlalu dan Amalia Prabowo menemukan warna baru. Ia bertemu lelaki yang membuatnya menyadari bahwa hidupnya selama ini "kering kerontang". Bersama lelaki ini, ia bagai menemukan sebuah pelangi dalam kehidupannya dan hadirlah dua malaikat cinta Aqil dan Satria sebagai wujud cinta mereka.

(p. 41)

Tetapi, hidup memang sejatinya adalah sebuah perjuangan...
Persis juga dengan yang selalu diingatkan oleh Ibu saya bahwa kita adalah pejuang bagi hidup kita sendiri.

Begitu pula, Amalia Prabowo mengingatkan bahwa hidupnya pun perjuangan...

Kehidupan manis di pernikahan yang ke-dua dan karir yang semakin baik adalah dua bentuk ujian lagi bagi dirinya. Peristiwa Wednesday Gate meruntuhkan karir yang susah payah dibangun oleh dirinya. Kemudian, pernikahan yang ke-dua juga harus ia relakan untuk berakhir pula. Beruntung, keluarga selalu ada bagi Amalia Prabowo.

(p. 56)

"Keluarga adalah salah satu sumber kekuatanku dalam menghadapi kejamnya kehidupan.
Kuatkanlah keluarga."
(p. 57)

Dan tepat ketika saya membaca bagian ini, saya teringat lirik lagu yang menjadi soundtrack sinetron Keluarga Cemara di tahun 1990an dulu. Liriknya diciptakan oleh salah satu penulis kesukaan saya, Arswendo Atmowiloto.

Harta yang paling berharga adalah keluarga.
Istana yang paling indah adalah keluarga.
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga.
Mutiara tiada tara adalah keluarga.

Siapa yang juga jadi teringat dengan lirik di atas? 

Kembali kepada kisah Amalia Prabowo...

Perpisahan dengan lelakinya yang ke-dua terasa begitu menyakitkan, namun juga begitu indah. Di dalam keterpurukan, ia memberikan ruang untuk merasakan kebesaran-Nya, dan ia justru menemukan welas asih dan sayang-Nya, "Tak apa, aku masih memiliki Aqil dan Satria, apalagi rasa nikmat yang masih bisa kusyukuri selain ini?" (p. 61)

Amalia Prabowo masih menjalani kehidupannya bersama kedua malaikat kecil Aqil dan Satria, dengan kehadiran Tuhan di antara mereka bertiga, ketika dimulailah masa-masa Aqil mulai belajar membaca, menulis, dan berhitung.

(p. 62)

Kendala yang dihadapi oleh Aqil terus berlanjut ketika ia masuk Sekolah Dasar, di mana Aqil semakin tertinggal dibandingkan teman-teman sebaya. Kondisi Aqil menjadi bentuk ujian lainnya (lagi) bagi diri Amalia Prabowo dan di awal kondisi Aqil semakin, ia justru memilih untuk menciptakan "jurang" antara hubungannya sebagai orang tua dengan Aqil. Hingga setahun lamanya Amalia Prabowo lebih memilih fokus mengembangkan usaha yang ia dirikan, sementara Aqil semakin "jalan di tempat". Ketika ia "kembali" ke Aqil, ia bertekad mencari tahu apa yang sebenarnya dialami oleh Aqil.

"Dengan berat hati, Bu. Setelah melewati berbagai tes dan pemeriksaan, saya harus menyampaikan bahwa Aqil suspek disleksia. Ia mengalami gangguan yang signifikan dalam menulis, membaca, dan berhitung.". Penjelasan ini membuat Amalia Prabowo merasa langit runtuh menimpa dirinya. Ia sempat denial dan menciptakan "jurang" lagi dengan Aqil. Butuh enam bulan untuk ia bisa mulai menerima kenyataan bahwa Aqil merupakan anak dengan disleksia. Satu demi satu klinik ia datangi namun tidak memberikan hasil yang memuaskan, hingga ia bertemu dengan seorang terapis yang membuatnya terkesan dengan sudut pandangnya.

(p. 77)

Bagaimakah kelanjutan kisah Amalia Prabowo setelah ia diberikan reminder seperti ini? Langkah apa yang kemudian ia ambil? Apakah ia berhasil dalam berjuang menghadapi kondisi Aqil? Apa saja kendala yang kemudian ia harus hadapi? Batu sandungan apa lagi yang kemudian harus ia lawan? Dan yang juga penting, apakah Amalia Prabowo akhirnya menyerah?

***

Menurut saya, membaca kisah Amalia Prabowo seperti kembali mendengarkan salah satu teman saya yang juga pernah bercerita mengenai perjuangannya dalam menerima kondisi anak dengan disleksia. Jatuh bangun yang dialami oleh Amalia Prabowo tidak jauh berbeda dengan jatuh bangun teman saya tersebut. Bahkan, ada kenalan saya lainnya yang akhirnya memutuskan untuk sekolah lagi, masuk Psikologi, demi belajar mengenai disleksia dan membantu anaknya. Bukan sebuah proses yang mudah untuk menerima kenyataan seperti ini, apalagi menyangkut anak sendiri -- anak yang pastinya disayang. Kelekatan emosional seorang Ibu dengan anak-anaknya sangat signifikan pengaruhnya dalam menghadapi kenyataan yang menimpa anak; bisa menjadi sumber yang melemahkan, sekaligus menguatkan. Maka, proses yang dihadapi oleh Amalia Prabowo beserta para Ibu dan orang tua lain yang mengalami kisah serupa saat pertama kali menerima fakta bahwa anak mereka merupakan anak yang berkebutuhan khusus, merupakan proses yang natural. Semua rasa tercampur; sedih, marah, menolak, kecewa, dan lainnya bersatu. Bukan berarti mereka marah kepada anak dan kondisi anak, bisa jadi justru marah kepada diri sendiri dan menganggap diri sendiri (sebagai Ibu atau orang tua) gagal dalam membesarkan anak. Belum lagi ketika harus berhadapan dengan stigma dan stereotype yang diciptakan oleh lingkungan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.

Benar sekali pernyataan yang disampaikan oleh Bu Linda, Terapis yang memberikan reminder kepada Amalia Prabowo di atas, "... yang perlu disembuhkan pertama kali justru orangtuanya, lingkungannya.".

Proses ini merupakan proses yang panjang. Proses acceptance atau menerima kenyataan baru merupakan langkah awal yang harus ditempuh setiap Ibu dan orangtua dengan anak berkebutuhan khusus seperti Aqil. Setelah itu, orangtua masih harus membantu anak dalam menjalani proses terapi yang tentunya membutukan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Ditambah pula dengan membantu anak dalam mengenali potensinya juga, dengan harapan semoga potensinya ini kelak dapat membantu mereka saat dewasa. Orang lain mungkin mencemooh potensi anak, tetapi jika orangtua bisa memberikan dukungan yang tepat pasti potensi itu bisa berkembang dan akhirnya membantu anak ketika dewasa juga.

Salah satu teman saya menyadari bahwa anaknya yang berkebutuhan khusus mahir di urusan komputer, bahkan tanpa diajari. Orang lain sempat mengatakan bahwa anaknya hanya bisa otak-atik komputer tanpa paham apa yang dilakukan. Mereka juga mengatakan bahwa itu hanya sekadar hobi, bukan bakat. Terbukti, bertahun kemudian, pernyataan mereka salah. Potensi inilah yang kelak membantu anak teman saya tersebut saat dewasa -- hingga bisa menghasilkan uang secara mandiri berkat potensinya ini. Hal sama juga yang dilakukan oleh Amalia Prabowo, terutama ketika menyadari bahwa Aqil memiliki potensi sangat baik dalam menggambar dan membuat ilustrasi. Orang lain, bahkan para ahli, sempat mencemooh, memandang sebelah mata, dan tidak mau mengakui potensi Aqil. Tetapi, Amalia Prabowo dan Aqil membuktikan sebaliknya. Buktinya, saat ini kita bisa menikmati ilustrasi-ilustrasi Aqil di dalam buku Wonderful Life...

 

Dan kisah inspiratif mereka bisa disampaikan ke audience yang lebih luas, bahkan sampai difilmkan. Aqil juga memperoleh penghargaan. 

(p. 146)

Mereka semua membuktikan bahwa perjuangan mereka, bantuan Tuhan, membuahkan hasil yang membanggakan.

 

***

Seperti yang sudah saya singgung di atas, kekuatan utama dari Wonderful Life adalah ilustrasi-ilustrasi yang dibuat oleh Aqil. Ilustrasi-ilustrasi yang justru merupakan daya tarik paling utama selama membaca buku ini. Saya banyak terkesima dengan kekuatan bercerita Aqil yang ia sampaikan melalui cerita; membuat saya teringat oleh seorang anak yang juga berkebutuhan khusus dan dulu pernah menjadi klien saya. Kesamaan mereka berdua adalah kemampuan mereka dalam mengolah apa yang ingin disampaikan, apa yang ingin diceritakan, melalui gambar imajinatif. Jenis gambar yang membuat saya sering menangis, bukan hanya karena begitu cantiknya, melainkan karena betapa penuh maknanya. Inilah kesan terkuat yang menjadi magnet saya dalam menikmati halaman demi halaman dari buku Wonderful Life

Kisah yang disampaikan oleh Amalia Prabowo sama seperti halnya kisah inspiratif yang diharapkan dapat memberikan motivasi dan membantu pembaca -- terutama yang memiliki kisah serupa; isinya pasti penuh dengan gambaran perjuangan hidup yang dimulai sejak kecil, hingga menjadi orang yang sekarang. Terkesan too typical. Tetapi, pada tulisan Amalia Prabowo ini saya menemukan bahwa bagaimana dia menyampaikan kisah hidupnya di masa kecil hingga remaja, bagaimana dia menggambarkan cara Bapak mendidik dirinya, adalah highlight dari semuanya. Poin-poinnya diperlihatkan sehingga kita bisa dengan mudah menemukan jejak dari semua didikan tersebut di dalam sikap mental yang dimiliki oleh Amalia Prabowo ketika dewasa, terutama ketika melalui jatuh bangun kehidupannya serta ketika ia harus menghadapi kondisi Aqil. Jejaknya begitu kuat dan signifikan mempengaruhi pilihan-pilihan sikap yang diambil oleh Amalia Prabowo ketika dia berhadapan dengan masalah. Dan itu, tidak disampaikan dengan narasi panjang seperti yang khas saya temukan di buku serupa lainnya, melainkan cukup disampaikan poin-poin utamanya saja.

Kekurangan utama dari buku ini adalah kurangnya eksplorasi mengenai apa itu disleksia dan seperti apa saja gambaran yang dialami oleh Aqil. Di bagian akhir memang sempat disebutkan sekilas mengenai disleksia, tetapi menurut saya itu masih kurang untuk bisa membuat orang yang awam disleksia bisa memahami disleksia, terutama jika buku ini diperuntukkan untuk umum. Selain itu, saya juga sangat terganggu dengan pemilihan font di buku ini. Saya bisa memaklumi pilihan font yang digunakan untuk memberikan highlight pada quotations, terutama yang disertai dengan gambar ilustrasi juga. Tetapi, mata saya terlalu lemah untuk berhadapan dengan font utama seperti berikut, apalagi saya membaca versi ebook

(p. 6)

Saking tidak kuatnya berlama-lama melihat di layar handphone, saya sampai membuat screenshoot satu per satu halaman buku, supaya bisa saya baca di layar televisi 32 inch, karena inilah jalan keluar yang terpikirkan oleh saya supaya mata saya bisa lebih nyaman dalam menyelesaikan membaca Wonderful Life. Kalau saja font yang digunakan lebih "biasa", mata saya masih lebih bisa tahan berhadapan dengan layar handphone dalam waktu yang lebih lama.

Saya paham bahwa buku Wonderful Life memang lebih diperuntukkan bagi Amalia Prabowo dan Aqil, tetapi saya juga ingin mengetahui tentang Satria, terutama terkait dengan interaksinya bersama Aqil. Saya sampai berharap akan muncul buku yang fokus pada kisah Satria, dengan ilustrasi dari Aqil, yang menceritakan tentang kehidupan sehari-hari mereka sebagai kakak dan adik. Tentunya, dari sudut pandang Satria.

Terakhir...

Apabila kalian berniat menonton film Wonderful Life, sempatkan diri untuk juga membaca buku yang menjadi sumber adaptasi dari film tersebut, ya. 

 

Judul Buku: Wonderful Life
Penulis: Amalia Prabowo
Ilustrator: Aqillurachman A. H. Prabowo
Bahasa: Indonesia
Jumlah Halaman: 169 + viii
ISBN: 978-879-91-0854-8
Terbit: April 2015
Penerbit: POP - Kepustakaan Populer Gramedia

***

Jika bukan berawal karena saya ingin mengikuti Wonderful Life Reading Challenge mungkin saya tidak akan se-niat ini dalam memanfaatkan aplikasi iJakarta - Jakarta Digital Library. Saya sudah download aplikasi ini sejak pertama kali mendengar bahwa Badan Perpustakaan DKI Jakarta mengeluarkan aplikasi digital library yang sudah dilengkapi dengan e-reader untuk membaca koleksi ebook yang ditawarkan. Tadinya hanya mendaftar saja, belum pernah digunakan untuk meminjam buku. Tetapi setelah saya mencoba meminjam Wonderful Life, saya sampai keranjingan untuk meminjam buku lainnya sampai hari ini.


Cheers!
Have a blessed-day!