02 October 2016

Under the Southern Stars by Anida Dyah

Catatan
  1. Materi  pembahasan buku Under the Southern Stars karya Anida Dyah di bawah ini pertama kali dipublikasikan pada tanggal 1 Januari 2015 di Personal Library of Nia F. S. Kartadilaga.
  2. Tidak ada banyak tambahan untuk editan tanggal 2 Oktober 2016 ini.

***



Selamat datang 2015. Mari memulainya dengan me-review buku yang saya dapatkan secara gratis dari mengikuti giveaway di akun twitter @PergiDulu bulan Oktober 2014 dan  saya mendapatkan buku traveling dari @nidnod sebagai hadiahnya. Saat itu, buku Under the Southern Stars baru saja terbit.

Saya tiba-tiba teringat bahwa saya belum membaca buku ini ketika tadi salah satu teman membawa bukunya ke rumah. Berhubung bukunya ada di kos Bandung dan saya (yang sedang kehabisan bahan bacaan) masih liburan di rumah Bandar Lampung, maka saya membacanya saat itu juga dengan cepat. Untungnya, isinya memang membuat saya tertarik. Jadi inilah dia, secara resmi book review challenge 2015 dimulai.

***

[Edited: 14/01/15]

Judul: Under the Southern Stars - 4500 Km, 30 Hari, 4 Petualang, 1 Benua
Pengarang: Anida Dyah
Jenis: Personal Literature, Catatan Perjalanan
ISBN: 979-780-752-5 / 978-979-780-752-8
Penerbit: Gagas Media
Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halaman: 299++


BLURB

Aku mengulurkan tangan ke atas, menggapai udara. Berusaha meraih bintang di angkasa. Pikiranku seperti bintang-bintang itu. Tersebar secara bebas dan acak.

"Cantik, ya, cahayanya?" Thomas berkata dengan tenang dan pelan. "Ini adalah salah satu tempat terbaik di dunia untuk melihat jutaan bintang dengan mata telanjang," lanjutnya.

Aymeric menarik napas panjang. "Ribuan kilometer dari sini, teman-teman kita mungkin sedang makan malam di restoran atau menikmati sejuta kemewahan dan kenyamanan." Ia lalu tersenyum. "Tapi, aku lebih memilih kebebasan ini."

Aku mengangguk setuju.


Alam menawarkan kebebasan penuh untuk bertualang tanpa akhir. Mengarungi hutan, gunung, dan laut yang seakan tak bertepi.

Dengan penuh rasa penasaran, empat petualang memulai perjalanan road trip untuk menjelajah dunia yang belum mereka jejaki. Dengan penuh kebebasan -- Anida dari Indonesia, Thomas dan Aymeric dari Prancis, serta Judith dari Jerman -- mereka mengarungi alam Australia. Menjelajahi hutan eukaliptus, melintasi gurun, meniti patahan Antartika, hingga bertemu kanguru dan koala. Namun, kebebasan tiap individu mulai bersilangan ketika mereka memilih langit dan perjalanan yang berbeda.

Perjalanan telah mengajarkan mereka banyak hal tentang bertahan hidup, pertemanan, juga kebebasan yang bersyarat.

***

Under the Southern Stars memuat catatan perjalanan yang dilakukan oleh Anida Dyah setelah dia memutuskan untuk berhenti bekerja, dengan karir yang sudah cukup lumayan, dan mengambil Work and Holiday Visa (WHV) Australia pada tahun-tahun pertama ketika program WHV muncul. Jika ingin membaca pengalamannya untuk akhirnya memutuskan mengambil WHV, bisa dilihat di sini

Visa WHV merupakan visa yang memungkinkan warga Indonesia berusia 18-30 tahun untuk berlibur ke Australia sekaligus bekerja demi mendapatkan dana berlibur tersebut, asalkan sudah memenuhi syarat. Apa saja syaratnya? Bisa dilihat di website Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia.

Cerita perjalanan Anida dimulai dengan bagaimana dia merefleksikan pilihannya untuk memulai pengalaman baru ketika dia baru sampai di Australia, pasca meninggalkan karir di Indonesia (p. 2).
Ini bukan liburan. Setidaknya itu yang kulakukan. Berhenti bekerja kantoran di akhir usia dua puluhan dan membeli tiket sekali jalan ke Australia, pemberhentian pertama dari rangkaian perjalanan mengitari dunia.
Tapi, kenapa?
Kenapa meninggalkan karier yang telah dibangun bertahun-tahun demi sekadar jalan-jalan?

Menyesal?
Tidak.

Anida jelas mengetahui konsekuensi dari pilihannya dan sudah sangat mempersiapkan diri sejak sebelum menginjakkan kaki di Australia.

"Sebagai solo traveler, tidak ada tempat untuk berdiskusi selain diri sendiri"

Anida pun menyadari dengan benar bagaimana konsekuensi dari memilih menggunakan visa WHV dan bagaimana susahnya mendapatkan pekerjaan di Australia meskipun sudah mengantongi visa WHV. Sementara, mendapatkan pekerjaan adalah prioritas utama jika ingin bertahan hidup dan bisa berjalan-jalan sesuai rencana.
... Jika keuanganmu di level biasa-biasa saja dan tak tahu kapan akan kembali, berjalan-jalan di Australia tanpa uang yang cukup adalah bunuh diri, tercekik dengan nilai tukar dan harga barang yang sangat tinggi. Ketika melihat harga sepiring nasi goreng lebih dari seratus ribu rupiah dan harga sebotol air mineral 600 ml lebih mahal daripada harga satu liter bensin, aku tahu aku harus mencari pekerjaan sebelum melanjutkan perjalanan (p. 21).

Dan begitulah, ketika akhirnya Anida mendapatkan pekerjaan, maka pengalaman selama melakoni pekerjaan-pekerjaan dan menghayati petualangannya di Australia secara resmi dimulai. Begitu pula dengan pertemanan dan interaksi-interaksi baru yang dijalani oleh Anida selama di Australia.



Apakah semua lancar?
Tidak.

Apakah dengan mendapatkan pekerjaan, artinya semua sudah aman?
Tidak.

Apakah tidak ada masalah lainnya?
Tidak.

Ada saja hal-hal yang harus dihadapi oleh Anida selama di Australia. Mulai dari hal-hal terkait pekerjaan, pertemanan, dan perjalanan itu sendiri. Selayaknya sebuah lakon kehidupan, selalu saja ditemukan kejutan-kejutan baru yang menemani setiap langkah baru yang diambil, hingga akhirnya menemukan akhir dari sebuah perjalanan dan menjadi penanda untuk dimulainya perjalanan yang baru.
Hal-hal terbaik justru datang dari kesederhanaan yang selama ini tak pernah disadari. Bukan tempat indah yang menjadikan perjalanan menjadi berkesan, melainkan orang-orang yang ditemui di sepanjang perjalanan, upaya untuk beradaptasi dengan keadaan, dan kesempatan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam (p. 299).

***

Under the Southern Stars bukan sekadar catatan perjalanan layaknya sebuah diary. Ini adalah sebuah catatan hidup. Dengan konten seperti sebuah novel yang bercerita tentang sebuah petualangan, buku ini memang tepat untuk dianggap sebagai sebuah memoar, seperti yang tertulis di halaman awal buku ini.
Memoar ini ditulis berdasarkan catatan pada jurnal kecil yang selalu berada di dalam ransel, jika tidak sedang tersimpan di dalam saku. Jurnal itu digunakan untuk menandai urutan tempat, waktu, pikiran, kejadian menarik, serta percakapan yang membuat tertawa maupun tertohok dibuatnya. Tak hanya peristiwa, tercatat pula berbagai kesan akan rasa, suara, aroma, cahaya, hingga ekspresi wajah yang tidak tertangkap dalam ingatan dan kamera. Sebuah riset dilakukan untuk menunjang fakta dan sejarah dari tempat-tempat yang dilalui. Beberapa tokoh, kejadian, dan tempat dihilangkan untuk menjaga alur tanpa mengurangi kebenaran dan esensi cerita.

Untuk itulah, saya sangat menyukai konsep buku ini. Saya lebih menyukai catatan perjalanan yang dikemas seperti ini daripada buku-buku catatan perjalanan mainstream yang banyak beredar di luar sana. Walaupun tetap masih tertinggal jauh dan tidak sesempurna penilaian saya ketika membaca buku catatan perjalanan ala Sigit Susanto yang sangat filosofis lewat buku serial Menyusuri Lorong-lorong Dunia atau catatan perjalanan dan juga selaku jurnalis foto ala Agustinus Wibowo lewat buku Selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol.

Buku ini juga dilengkapi dengan beberapa ilustrasi peta wilayah-wilayah Australia yang sedang disinggahi. Ditambah pula dengan banyak sekali foto-foto koleksi pribadi dari Anida yang menggambarkan siapa saja yang terlibat di dalam perjalanan dan betapa mereka sangat menikmati perjalanan dan kebersamaan tersebut, lokasi-lokasi yang dikunjungi, serta pemandangan dari berbagai tempat yang mereka datangi selama menempuh perjalanan sejauh 4500 km selama 30 hari di Australia.

Overal 4/5

Cheers!
Have a blessed-day!