01 October 2016

Twice-Told Tales and Other Short Stories by Nathaniel Hawthorne

Catatan
  1. Materi  pembahasan buku Twice-Told Tales and Other Stories karya Nathaniel Hawthorne di bawah ini pertama kali dipublikasikan pada tanggal 2 Januari 2015 di Personal Library of Nia F. S. Kartadilaga.
  2. Tidak ada banyak tambahan untuk editan tanggal 1 Oktober 2016 ini.
***




Judul: Twice-Told Tales and Other Short Stories
Pengarang: Nathaniel Hawthorne
Jenis: Sastra
ISBN: -
Penerbit: A Washington Square Press Book
Tahun Terbit: 1960
Jumlah Halaman: 430++


BLURB

A leader in the development of the short story as a distinctive American genre, Hawthorne wrote masterpieces of romantic fiction with an emphasis on moral significance. In these famous tales, as in his novels, Hawthorne shows in an imaginative and allegorical fashion his concern with the result of the Puritanism that was at the roots of the culture of his time.

Nathaniel Hawthorne (1804-1864), perhaps more than any other writer, summed up the New England Puritan tradition. His great-great-grandfather, Major William Hathorne (the spelling was later changed to Hawthorne), came from England to America on the ship that brought the charter of the Massachusetts Bay Colony. His great-grandfather was one of the judges in the witchcraft trials. Both his sea captain father and his mother were lean-jawed Puritans.

***

Saya mengenal nama Nathaniel Hawthorne pertama kali melalui bukunya yang berjudul The Scarlet Letter; sebuah buku yang mengemas isu moral dengan begitu menarik dan membuat saya terus mencari buku-bukunya yang lain. Sejauh ini, selain The Scarlet Letter, buku-buku Hawthorne yang sudah saya baca adalah The Marble FaunThe House of the Seven Gables, dan yang terbaru -- kumpulan cerita pendek Twice-Told Tales and Other Short Stories. Dulu saya sempat mengira bahwa Nathaniel Hawthorne merupakan seorang penulis perempuan, hahaha. Ternyata, saya salah menduga...

Hawthorne berasal dari keluarga yang cukup berpendidikan tinggi dan keluarganya juga dikenal sebagai Puritarians yang taat; sangat menjunjung moral, berpegang teguh pada peraturan sosial dan tata susila yang berlaku di masyarakat. Kalau pernah membaca The Scarlet Letter, maka kemungkinan besar bisa merasakan "kesan" Puritarism di dalamnya.

Ketika membaca blurb di atas, kita mengetahui bahwa nama keluarganya adalah Hathorne, bukan Hawthorne. Perubahan nama ini dilakukannya supaya orang tidak mengaitkannya dengan sejarah masa lalu yang melibatkan nama John Hathorne; seorang hakim terkemuka di daerah Salem, Massachussets.

Jika kalian familiar dengan nama-nama berikut; Louisa May Alcott (Little Women), Henry David Thoreau (Walden), dan Ralph Waldo Emerson (The Conduct of Life), nama-nama tersebut adalah nama penulis-penulis dunia yang memiliki hubungan dekat dengan Hawthorne serta sesama American Transcendentalists; kelompok yang menganut pemahaman bahwa semua orang, laki-laki maupun perempuan, memiliki kedudukan yang sama. Mereka menganut ini bukan seperti seseorang menganut sebuah agama, hanya mempercayai bahwa kesetaraan merupakan prinsip yang harus dianut ketika menjalin hubungan dengan orang lain. Jika ingin lebih mengetahui tentang kelompok yang disebut sebagai American Transcendentalists, bisa membacanya di sini. Sementara George Eliot (Silas Marner), yang memiliki nama asli Mary Ann Evans, merupakan penulis yang sangat dikagumi oleh Hawthorne.

Twice-Told Tales merupakan karya kedua Hawthorne yang dipublikasikan. Sebelumnya, dia pernah menerbitkan novel pertamanya yang berjudul Fanshawe pada tahun 1828, tetapi dengan menggunakan nama pena. Atas masukan dari temannya, akhirnya dia menggunakan nama asli ketika menerbitkan Twice-Told Tales ini di tahun 1837, dan berakhir dengan sukses besar. Padahal saat itu, Hawthorne masih dianggap rookie writer; belum ada yang mengenal namanya di kancah sastra Amerika, apalagi sastra dunia. Pada tahun 1842, secara resmi, Hawthorne mulai menuai pujian di bidang sastra Amerika melalui kumpulan cerita pendeknya ini. Bahkan, seorang Edgar Allan Poe menyebutnya sebagai "one of the few men of indisputable genius to whom our country has as yet given birth." Hal ini yang kemudian menjadikan kumpulan cerita ini dibuat dua volumes, tadinya hanya terdiri dari satu volume saja. Buku yang saya miliki merupakan versi plus-plus lagi karena ditambah dengan empat cerita pendek dari yang tidak jadi dimasukkan ke dalam koleksi tahun 1842, ditambah pula dengan tiga cerita pendek yang baru dimasukkan lagi di buku yang terbit setelah tahun 1842, serta ada pula kata pengantar yang bersumber dari edisi yang terbit pada tahun 1851. Such a bless!

Twice-Told Tales sendiri, sebagai sebuah buku, melalui proses yang cukup panjang untuk akhirnya mulai dikenal oleh banyak orang. Bergerilya mulai dari majalah dan buku tahunan, terutama semasa Hawthorne masih kuliah, hingga akhirnya terbit sekitar 10-12 tahun setelah Hawthorne lulus kuliah.
These stories were published in magazines and annuals, extending over a period of ten or twelve years, and comprising the whole of the writer's young manhood, without making (so far as he has ever been aware) the slightest impression on the public. One or two among them -- "A Rill from the Town Pump" in perhaps a greater degree than any other -- had a pretty wide newspaper circulation; as for the rest, he has no grounds for supposing that, on their first appearance, they met with the good or evil fortune to be read by anybody... (p. xiii)
***

Twice-Told Tales and Other Short Stories terdiri dari tiga bagian, dengan total sejumlah 35 cerita pendek. Salah satu dari cerita pendek tersebut dibagi lagi ke dalam empat bagian. Untuk lebih jelasnya, berikut gambaran judul cerita-cerita tersebut beserta tahun terbitnya.

Part One: Twice-Told Tales (1837)
  1. The Gray Champion
  2. The Wedding Knell
  3. The Minister's Black Veil
  4. The Maypole of Merry Mount
  5. The Gentle Boy
  6. Mr. Higginbotham's Catastrophe
  7. Wakefield
  8. A Rill from the Town Pump
  9. The Great Carbuncle
  10. The Prophetic Pictures
  11. David Swan
  12. Sights from a Steeple
  13. The Hollow of the Three Hills
  14. The Tollgatherer's Day
  15. Fancy's Show Box
  16. Dr. Heidegger's Experiment

Part Two: Twice-Told Tales (1842)
  1. Legends of the Province House: Howe's Masquerade, Edward Randolph's Portrait, Lady Eleanor's Mantle, Old Esther Dudley
  2. The Haunted Mind
  3. The Village Uncle
  4. The Ambitious Guests
  5. The Sister Years
  6. Snowflakes
  7. The Seven Vagabonds
  8. The White Old Maid
  9. Peter Goldthwaite's Treasure
  10. Chippings with a Chisel
  11. The Shaker Bridal
  12. Night Sketches
  13. Endicott and the Red Cross
  14. Footprints of the Seashore
  15. Edward Fane's Rosebud
  16. The Threefold Destiny

Part Three: Other Short Stories
  1. Young Goodman Brown (From Mosses from an Old Manse)
  2. My Kinsman, Major Molineux (From The Snow Image)
  3. Ethan Brand (From The Snow Image)

***

Cerita yang paling sukai -- sekaligus (ternyata) dianggap paling terkenal pula jika berdasarkan beberapa review yang pernah saya baca mengenai Twice-Told Tales, adalah The Minister's Black Veil. Cerita ini sifatnya benar-benar psikologis!

Kisah bermula dari perilaku seorang Pendeta bernama Hooper, yang dikenal begitu pendiam, tiba-tiba mulai sering memakai kerudung hitam di sekitar kepala -- hingga menutupi sekitar wajahnya -- tanpa penjelasan apa pun. Kebiasaan barunya ini memunculkan banyak gosip, dugaan, dan berakhir menjadi skandal yang menyelimuti lingkungan di sekitar Hooper; ia dianggap sudah bertindak memalukan, bahkan ada yang menyebutnya sudah menjadi gila.
"I cant't really feel as if good Mr. Hooper's face was behind that piece of crape," said the sexton.
"I don't like it," muttered an old woman, as she hobbled into the meetinghouse. "He has changed himself into something awful only by hiding his face."
"Our parson has gone mad!" cried Goodman Gray, following him across the threshold.
(p. 21

Tidak ada yang menyadari bahwa para pendosa, justru yang begitu "tertarik" untuk "mendekat" kepada Pendeta Hooper. Di sini pembaca seolah diajak bahwa ketika kita menyadari bahwa kita memiliki keterkaitan terhadap sebuah simbol tertentu, dalam hal ini simbol yang membuat kita teringat akan dosa yang pernah kita lakukan, maka kita akan secara sukarela -- tanpa sadar -- turut serta untuk "bergosip" mengenai simbol tersebut. Pada kasus Hooper, kerudung hitam yang dikenakannya juga membuat orang-orang "mendekat" kepadanya, mulai dari yang sekadar bergosip -- kerudung hitam menjadi simbol dari dosa-dosa mereka yang "tertarik" untuk membahas gosip-gosip dan perkiraan absurd terkait kerudung hitam tersebut -- serta "membawa" para pendosa yang sedang sekarat hingga orang-orang asing lainnya juga ikut mendekat ke Hooper ketika mereka ingin curhat, bahkan secara langsung, karena mungkin mereka tidak perlu khawatir harus bertatapan muka dengan wajah Hooper yang sebagian besar ditutupi oleh kerudung hitam, serta memberikan kesan simpatik pada diri Hooper, dan mengingatkan para pendosa terhadap wajah mereka sendiri. Dengan kata lain, meskipun di satu sisi kerudung hitam telah membuat Hooper menjadi bahan gunjingan, tetapi di sisi lain juga membantu Hooper dalam menjadikan perannya sebagai pendeta menjadi lebih efisien.
Among all its bad influences, the black veil had the one desirable effect of making its wearer a very efficient clergyman. By the aid of his mysterious emblem -- for there was no other apparent cause -- he became a man of awful power over souls that were in agony for sin. His converts always regarded him with a dread peculiar to themselves, affirming, though but figuratively that, before he brought them to celestial light, they had been with him to sympathize with all dark affections. Dying sinners cried aloud for Mr. Hooper, and would not yield their breath till he appeared; though ever, as he stooped to whisper consolation, they shuddered at the veiled face so near their own. Such were the terrors of the black veiled face, even when the Death had bared his visage! Strangers came long distances to attend service at his church, with the mere idle purpose of gazing at his figure, because it was forbidden them to behold his face. But many were made to quake ere they departed! 
(p. 30

Hingga Hooper meninggal, kerudung hitam tersebut tidak pernah dilepaskan dan kerudung tersebut ikut dimakamkan bersamanya.

Jika kita mencermati lebih mendalam, sebenarnya Hooper sedang "mengajak" jamaahnya untuk merenungi dosa masing-masing; berkontemplasi terhadap segala salah yang pernah dibuat. Di akhir hayatnya, Hooper menjelaskan bahwa kerudung hitam tersebut memang merupakan simbol "sifat jahat" yang lumrah ada di dalam setiap manusia. Akan tetapi, "pesan" yang justru ditangkap adalah kisah "horor" penyertanya. Hal seperti ini mengingatkan saya pada kejadian-kejadian yang berkaitan dengan orang-orang yang sudah meninggal, dengan "pesan" yang disampaikan melalui kejadian sebelum hingga kematian mereka, tetapi orang-orang yang masih hidup justru fokus pada -- entah -- cerita mistis yang di-ada-ada-kan keberadaannya, misalnya. Begitu pula kisah kerudung hitam Hooper. Orang lebih berfokus pada kisah yang bukan menjadi "pengingat utama". Hal-hal seperti ini memang terkadang lebih sering diinterpretasikan secara salah, dan membuat kita seperti sedang menghina atau melecehkan akal sehat sendiri karena lebih percaya pada misinterpretasi tersebut.

Hebatnya Hawthorne, dia membuat sebuah kisah yang memperlihatkan bagaimana permainan kondisi psikologis seseorang kita berperan, ketika kita sedang berhadapan pada rasa bersalah dan dosa-dosa yang pernah dilakukan. Coba saja merefleksikan diri sendiri sambil membayangkan jika kita yang sedang dikuasai rasa bersalah atau begitu malu dengan dosa, kita akan bersikap seperti apa. Mungkin tidak akan se-ekstrim Hooper, but... who knows? Hehehe...

Cerita lain yang juga mengangkat konsep serupa adalah Wakefield dan The Ambitious Guest.

***

Berhubung di atas tadi sempat menyebut A Rill from the Town Pump, maka saya juga akan memasukkan ini ke dalam pembahasan. 

Jika kita menilik dari judulnya, yes, A Rill from the Town Pump berkisah tentang pompa air yang juga ditulis berdasarkan sudut pandang sang pompa air. Ini mungkin lebih tepat disebut sebagai sebuah esai enam halaman, bukan sekadar cerita pendek; yang mengkritisi kehidupan sosial di sekitarnya, bahkan mengkritisi kecintaan kita terhadap alkohol, teh, dan kopi! Hahaha.

A Rill from the Town Pump
(SCENE -- The corner of two principal streets*. The Town Pump talking through its nose)

(*)
Essex and Washington Streets, Salem.
... The title of "town treasurer" is righ-fully mine, as guardian of the best treasure that the town has. The overseers of the poor ought to make me their chairman, since I provide bountifully for the pauper, without expense to him that pays taxes. I am at the head of the fire department and one of the physicians to the board of heath. As a keeper of the peace, all water-drinkers will confess me equal to the constable. I perform some of the duties of the town clerk, by promulgating public notices when they are posted on my front. To speak within bounds, I am the chief person of the municipality, and exhibit, moreover, an admirable pattern to my brother officers, by the cool, steady, upright, downright, and impartial discharge of my business and the constancy which I stand to my post ... (p. 99-100)

Pada narasi di atas, Sang Pompa Air menyatakan dirinya bahwa dirinya telah dipilih sebagai "bos" oleh para pengemis karena telah memberikan banyak "hadiah" kepada mereka, tanpa meminta pajak hadiah. Dalam hal ini, menurut saya, Hawthorne benar-benar menunjukkan sisi moralitas manusia; dalam hal ini seperti "menyentil" perilaku kita ketika berhadapan dengan orang yang kehidupannya serba kekurangan. Jika sebuah "pompa air" saja bisa begitu bermakna bagi pengemis, mengapa kita yang sesama manusia, justru tidak bersikap murah hati kepada mereka? Dan saya kemudian membela diri, kalau jenis pengemis yang dihadapi adalah pengemis-pengemis penipu dan pemalas seperti yang sering saya jumpai -- terutama di Jakarta -- rasanya sangat mungkin kalau saya jadi tidak bisa semurah hati pompa air dan bersikap skeptis duluan ketika berhadapan dengan pengemis. Maaf, ya, Opa Hawthorne.

Opa Hawthorne juga merujuk pada fenomena sosial, yang begitu lekat dengan kebiasaan di mana pun; menempelkan pengumuman di tiang listrik, dinding bangunan, atau -- dalam cerita ini -- di pompa air, hahaha. Wajar jika akhirnya sebuah pompa air dengan berani mengklaim dirinya sudah seperti menggantikan peran town clerk, profesi juru tulis/notulen, yang memberikan pengumuman ke seluruh kota. Memang benar, dari segala kertas yang ditempelkan pada mereka, kita bisa melihat beragam pengumuman' mulai dari informasi lowongan kerja, tempat tinggal, pelayanan jasa tertentu, bahkan informasi mengenai orang hilang.

Itu baru secuil kutipan dari paragraf pertama saja, lho. Isinya sudah sepadat itu. Bayangkan betapa padatnya isi dan makna tersirat yang ada di dalam keseluruhan cerita A Rill from the Town Pump, yang secara kasar diartikan sebagai aliran dari pompa air. Saya membayangkan makna "aliran" tersebut sebagai "muntahan" curhat dari sebuah pompa air.

A Rill from the Town Pump bukanlah satu-satunya yang lebih bersifat esai dibandingkan cerita pendek fiksi. Sights from a SteepleThe Sister YearsSnowflakesNight Sketches, serta Footprints of the Seashore juga berupa esai. Meskipun bentuknya serupa esai, tetapi Hawthorne menuliskannya dengan begitu baik dan membuat saya seperti sedang membaca sebuah dongeng. Hawthorne, memang dikenal sebagai seorang pencerita yang sangat baik; dari sebuah ide yang sederhana, bisa dikemas menjadi paket lengkap yang berisi banyak sekali gambaran atau kritik sosial, terkadang berbau horor, dan penuh pula dengan isu-isu moralitas; thoughtful! Bahkan, mengangkat mitos-mitos lokal yang dikemas dan diceritakan ulang, dengan isi yang tetap dapat relevan sepanjang zaman.

***

Sebagai sebuah kumpulan cerita, saya tidak menemukan kekurangan dari buku ini, sempurna. Keseluruhan isinya menarik sekali untuk dibaca, sekaligus direnungkan. Tetapi, sebagai sebuah buku yang hanya sebesar 15x10 cm, ditambah dengan ukuran font yang super mungil, ditambah dengan margin space yang super mepets... tentu saja saya ingin berteriak protes, hahaha. Mata saya sungguh sakit ketika harus berhadapan dengan tulisan di buku yang seperti itu. Belum ditambah fakta bahwa ini merupakan buku lama yang, tentu saja, kertasnya sudah kecoklatan, sehingga sedikit menambah "beban" ketika harus membaca rentetan huruf di dalamnya.

Oh, iya... Hawthorne terinspirasi dari Shakespeare ketika membuat judul Twice-Told Tales; di mana istilah tersebut berasal dari buku The Life and the Death of King John. Saya belum membaca buku tersebut, sehingga belum bisa berkomentar lebih, hehe.
"Life is as tedious as a twice-told tale, vexing the dull ear of a drowsy man"

Overal 5/5

Cheers!
Have a blessed-day!