15 October 2016

The Girl on Paper by Guillaume Musso


Catatan

  1. Review di bawah ini juga merupakan rangkaian Blog Tour The Girl On Paper yang diselenggarakan oleh Penerbit Spring
  2. Selain saya, ada empat akun dan/atau blog yang juga menjadi bagian dari Blog Tour The Girl On Paper dan kami posting secara serentak di blog serta akun social media masing-masing pada hari ini (15/10). 
  3. Pastikan kalian selalu update informasi di akun Penerbit Spring dan tetap memantau akun social medias saya di instagramtwitter, maupun facebook selama tanggal 15-22 Oktober 2016 supaya kamu tidak ketinggalan informasi mengenai giveaway-nya juga.
  4. Baca baik-baik review The Girl on Paper karya Guillaume Musso berikut ini karena hints untuk jawaban di giveaway saya ada di dalam review.

***

The Girl on Paper by Guillaume Musso

Jika ada dari kalian yang mengikuti blog buku saya, kemungkinan sudah familiar dengan bagaimana saya mengapresiasi buku-buku yang diterjemahkan oleh Penerbit Spring, terutama ketika saya pertama kali membahas Fangirl karya Rainbow Rowell pada tahun 2014 lalu -- dan Fangirl merupakan buku pertama yang diterjemahkan oleh Penerbit Spring lho. Jadi, sudah sekitar dua tahun saya menjadi fans buku-buku yang diterjemahkan oleh Penerbit Spring. Hihi. Saya termasuk jarang bisa menyukai terjemahan sebuah buku karena memang tidak semua penerjemah bisa mengadaptasi feel yang sama dengan penulis aslinya. Apalagi ada perbedaan bahasa, gaya berbahasa, dan lainnya. Sejak Fangirl saya sangat menyukai bagaimana Penerbit Spring bisa menjaga supaya pembaca tetap bisa menikmati buku terjemahan dengan cara yang menyenangkan dan proses membacanya pun menjadi pengalaman yang menyenangkan. 

Nah...

Pengalaman yang sama juga saya temukan ketika saya membaca buku-buku Penerbit Spring lainnya. Sebut saja Attachment dan Landline karya Rainbow RowellTo All the Boys I've Loved Before dan P. S. I Still Love You karya Jenny Han, buku 1-4 The Lunar Chronicles karya Marissa Meyer, dan termasuk juga The Girl on Paper karya Guillaume Musso ini. 
In Penerbit Spring we trust...

Saya belum tahu untuk buku Being Henry David karya Cal Armistead karena saya belum membaca buku teranyar dari Penerbit Spring yang ini, serta buku Simon vs. the Homosapien Agenda karya Becky Albertalli yang masih proses cetak.

Penerbit Spring juga dikenal dengan eksekusinya yang bagus terkait cover buku dan juga bookmark yang didesain spesial. Coba deh lihat lagi foto buku dan bookmark The Girl on Paper di atas. Bahkan, bisa jadi cover dan bookmark yang didesain oleh Penerbit Spring terlihat lebih baik dan lebih niat dibandingkan cover dan bookmark versi aslinya. Jadi, saya tidak heran kalau kalian juga menyukai cover dan bookmark The Girl on Paper versi Penerbit Spring juga. Atau bahkan menyukai SEMUA bookmarks dari Penerbit Spring seperti saya dan beberapa teman yang sering membahas betapa unyu-nya bookmark mereka? 

Dasar cewek!
Hahaha.

But then, again...
In Penerbit Spring we trust...
***

Secara umum, saya melihat bahwa The Girl on Paper merupakan buku dengan storyline yang baik. Cara penulisnya membuat prolog juga sangat saya sukai. Jadi pembaca tidak perlu harus diberikan narasi yang panjang untuk bisa memahami apa yang ingin dikatakan oleh penulis. Cukup dengan memberikan cuplikan-cuplikan berita, semua gambaran yang ingin disampaikan sudah terangkum semua.

Selain itu, saya juga suka dengan "pengantar" pada setiap bab, yang berisi quotations dari banyak sekali penulis, sebelum dimulai narasi untuk bab tersebut. Saya berikan salah satu contohnya, yang merupakan salah satu quotation yang paling saya sukai dari semua quotations di dalam buku The Girl on Paper, pada Bab 23 yang bertema Kesendirian.
Kesendirian adalah fakta terdalam dari kondisi manusia. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang menyadari dirinya sendiriand an mencari orang lain. - Octavio Paz

Meski demikian, saya menemukan beberapa poin yang membuat saya menganu selama menyelesaikan proses membaca.

Pertama, penulisnya -- Musso -- sering sekali melompat-lompat dalam bercerita. Ini bukan masalah lompatan point of view yang berubah-ubah, misalnya dari pov 1 tiba-tiba berubah jadi pov 3. Bukan pula soal scene yang melompat kadang di sana kemudian di situ, atau sekarang di present day kemudian flashback ke masa lalu. Bukan yang seperti itu maksud saya. Toh, ini juga bukan pertama kalinya saya membaca buku dengan multiple pov serta multiple setting.

Lompatan yang saya maksud adalah lompatan ide, yang membuat saya merasa bahwa Musso ingin memasukkan begitu banyak narasi, begitu banyak gambaran, dan menceritakan lebih banyak lagi hal ke dalam buku The Girl on Paper. Hal ini yang membuat saya beberapa kali memilih untuk berhenti sejenak, stop sebentar dari aktivitas membaca, karena saya ngedumel.
"Maumu opo tho?"

Kedua, percakapan antara Tom dan Billie itu seru. Saya membayangkannya, pasti asyik kalau bisa mendengarkan percakapan mereka secara live -- terutama ketika Billie berani membantah Tom dan ujung-ujungnya malas untuk mendengarkan ocehan Tom. Hahaha.

Tom ini ketika sedang bersama Billie itu luar biasa nagging-nya. Kalau kalian ada yang mengikuti variety show (Korea) Running Man pasti familiar dengan image salah satu member Running Man yang bernama Kim Jong-kook yang terkenal sebagai laki-laki doyan nagging, terutama ketika member lain atau guests yang satu kelompok dengannya tidak melakukan apa yang diarahkan olehnya atau tidak mengikuti sarannya; hobi menyalahkan orang lain juga jika orang lain tersebut menjadi sumber kekalahan kelompok mereka. Persis begitulah Tom bagi Billie, terutama ketika Billie dianggap melakukan kesalahan bagi Tom dan tidak menuruti perintah atau arahakn Tom. Makanya Billie sering melawan pendapat Tom dan malas jika Tom sudah kumat naggingTom juga begitu ketika menghadapi Billie yang kumat cerewetnya, karena Billie bisa terus berbicara tanpa henti dan membuat Tom sakit kepala. Hahaha.

Gambaran rasa malasnya mereka ini digambarkan dengan unik di buku The Girl on Paper. Lihat foto di bawah ini ya...

p. 160

Cukup terlihat tidak tulisannya?

Sebagai gambaran... Pada paragraf terakhir terlihat bahwa ada perubahan ukuran font yang semakin ke bawah ukurannya semakin kecil. Awalnya saya pikir itu apa. Begitu ada pengulangan pola yang sama di halaman terakhir, baru deh semakin terlihat bahwa itu adalah cara Musso dalam menunjukkan betapa malasnya karakter-karakternya (dalam hal ini antara Tom atau Billie terhadap satu sama lain) ketika salah satu sudah harus mendengarkan salah lainnya yang terus berbicara non-stop. Di dalam percakapan di atas, terlihat bahwa Tom malas dalam mendengarkan Billie yang terus berbicara tiada henti, sehingga makin lama suara Billie semakin berlalu dan mengecil, hingga sama sekali tidak dipedulikan oleh Tom. Bisa juga itu diinterpretasikan berbeda, jika kita pakai contoh yang di halaman terakhir, di mana saat itu lagi-lagi karakter Billie terus mengoceh panjang lebar kepada Tom sampai suaranya seolah terdengar mengecil dan akhirnya tidak terdengar lagi. Bayangkan seperti kita skip banyak pernyataan dari orang lain, yang menjadi lawan bicara kita, karena kita tidak terlalu mendengarkan atau bahkan sengaja tidak ingin mendengarkan apa yang dibicarakan oleh mereka. Sampai kita berada di titik, di mana kita benar-benar tidak tahu apa saja yang sedang dibahas atau baru selesai dibahas. Begitulah kira-kira analoginya.

Terlepas dari keunikan tersebut, di sisi lain mata saya bereaksi terhadap ukuran font yang semakin mengecil itu. Mata saya memang lemah. Hahaha. Saya agak trauma dengan jenis font dan ukuran font yang digunakan di dalam sebuah buku. Saya pernah menyesal sudah "rela" membeli buku lokal yang astaghfirullah sekali font dan ukuran font-nya. Saya bisa memaklumi jika font dan ukurannya dibuat se-ajaib mungkin apabila kebutuhannya untuk quotations. Tetapi, saya istighfar jika itu digunakan di setiap halaman, untuk menggambarkan narasi pula. Sakit mata cyiin lihat font yang meliuk melambai melenggang berhalaman-halaman seperti pada buku yang membuat saya trauma tadi. Itulah sebabnya mata saya shock melihat ukuran font yang semakin mengecil di atas. Ditambah, sama seperti yang saya katakan ketika membahas Fangirl; di buku The Girl on Paper pun margin juga mepets. Jadi, makin menganu sebenarnya mata saya. Ehe~

Ketiga, perhatikan foto di bawah ini.

p. 164

Jika dicermati di paragraf terakhir... Di situ ada perbedaan jenis font juga kalimat "ada kamar kosong". Ini juga unik, ya, menurut saya. Untuk memberikan penekanan pada sebuah situasi, dalam hal ini sebuah tanda, maka dibuatlah tulisan dengan font berbeda dan tulisan tersebut kemudian di-bold pada kalimat tersebut. Tetapi, lagi-lagi karena mata saya lemah, hal seperti ini justru memperanukan mata sekali.

Keempat, saya juga berharap The Girl on Paper bisa dicetak hardcover mengingat betapa kusutnya buku saya sekarang, terutama bagian cover-nya yang sudah keriting tidak karuan. Padahal ini tidak pernah sengaja dilipat atau terlipat karena dibawa tidur dan sebagainya, lho... Hahaha. Tangan saya terlalu kekar, sepertinya...

Bagaimana kesan saya terhadap isi bukunya secara keseluruhan? Yuk, kita mulai membahasnya secara lebih spesifik.

***

BLURB

Gadis itu terjatuh dari dalam buku...

Hanya beberapa bulan yang lalu, Tom Boyd adalah seorang penulis miliarder yang tinggal di Los Angeles dan jatuh cinta pada seorang pianis ternama bernama Aurore. Namun, setelah putusnya hubungan mereka yang terekspos secara publik, Tom menutup dirinya, menderita writer's block parah, dan tenggelam dalam alkohol dan obat terlarang.

Suatu malam, seorang gadis asing yang cantik muncul di teras rumah Tom. Dia mengaku sebagai Billie, karakter dalam novelnya, yang terjatuh ke dunia nyata karena kesalahan cetak dalam buku terakhir Tom.

Meskipun cerita itu gila, Tom harus percaya bahwa gadis itu benar-benar Billie. Akhirnya mereka membuat perjanjian. Jika Tom mau menulis novel agar Billie bisa kembali ke dunianya, Billie akan membantu Tom untuk mendapatkan Aurore kembali.

Tidak ada ruginya, kan? Iya, kan?

***

Iya, kan?
Well...

Selama saya mengikuti akun instagram Penerbit Spring, saya menemukan banyak sekali komentar yang menyatakan bahwa kisah Tom dan Billie mengingatkan mereka ke drama Korea berjudul W - Two Worlds yang kebetulan sedang airing ketika terjemahan The Girl on Paper mulai secara resmi dirilis. Jadi, saya akan mencoba membahas buku The Girl on Paper dengan membandingkan buku ini dengan drama Korea W - Two Worlds.

Keduanya sama-sama membawa tema tentang tokoh dari dunia fiksi yang bisa muncul di kehidupan nyata, hidup seperti manusia pada umumnya, dan kehadirannya menimbulkan dampak-dampak tertentu pada kehidupan orang di dunia nyata yang terkait dengan si tokoh fiksi tersebut. Pada The Girl on Paper berarti kehadiran Billie mempengaruhi keberlangsungan hidup dan memberikan dampak signifikan pada kondisi personal Tom sebagai pencipta karakter Billie, sementara kehadiran Kang Chul berdampak signifikan pada kehidupan Oh Sung-moo sebagai penciptanya serta Oh Yeon-joo sebagai anak dari penciptanya dan orang yang juga mencintai Kang Chul sebagai karakter maupun sebagai manusia di dalam drama W - Two Worlds.

Signifikansi antara kedua tokoh utama (Tom dan Billie, serta Oh Yeon-joo dan Kang Chul) di dalam kedua cerita fiksi tersebut bukan hanya sebagai "pasangan". Dalam arti, bukan hanya sebagai figur untuk romantic relationship saja. Melainkan, juga memberikan dampak menyeluruh pada kehidupan jiwa-raga dan kondisi psikologis masing-masing. Atas nama personal preference, saya lebih respect pada bagaimana kisah Tom dan Billie mengalir.

The Girl on Paper bukanlah sebuah thriller, seperti W - Two Worlds. Bukan pula yang mengedepankan kisah lovey dovey antara Tom dan Billie di kehidupan nyata. Tetapi, saya melihat justru kisah Tom dan Billie jauh lebih manusiawi, lebih humanis, dan lebih realistis. Saya bisa dengan mudah menemukan Tom dan Billie di kehidupan sehari-hari saya. Percayalah...

Ending The Girl on Paper menurut saya predictable, sesuai dengan ekspektasi saya ketika membaca buku ini sejak halaman-halaman pertama. Ending seperti itulah yang saya sukai, tidak ada kesan memaksa dan tidak meninggalkan bad taste in my mouth yang berpotensi membuat saya mengomel tak karuan a.k.a mengatai buku ini sepanjang ada yang mengajak saya membahas buku The Girl on Paper. Hahaha.

Jujur saja, di awal membaca The Girl on Paper, kerjaan saya yang mengomeli karakter Tom. Usia Tom adalah 33 tahun. Tapi, kok. Nggg... Pada akhirnya, saya bisa menghargai kondisi dia. Nanti kita bahas asalannya ketika kita membahas mengenai karakter, ya.

Ditambah dengan ending seperti itu, saya menjadi lebih bisa memastikan bahwa tema besar dari buku ini memang seperti dugaan saya ketika tokoh-tokoh yang menjadi teman-teman Tom (Milo dan Carole) mulai diperkenalkan kepada pembaca.

Apakah itu?

***

Karakter-karakter utama di dalam buku The Girl on Paper bisa dikatakan tidak ada yang sempurna. Benar-benar realistis.

Tom merupakan orang yang cenderung lebih mudah memberikan motivasi dan membantu menyelesaikan masalah orang lain, dibandingkan masalah dirinya sendiri. Dia memiliki masa lalu yang cukup kelam dan masa lalunya ini memotivasi dirinya untuk membentuk beberapa konsep ideal tentang hidup, yang kemudian konsep ini dicoba untuk dia realisasikan -- salah satunya terkait dengan konsep cinta antar pasangan. Inilah yang membuat dia bisa sebegitunya tergila-gila pada Aurore dan menjadi luar biasa doyong ketika putus cinta dengan Aurore. Keseluruhan hidupnya menjadi ambyar ketika konsep idealnya akan hidup bersama Aurore menjadi ambyar karena tidak berjalan sesuai dengan konsep yang sudah dibentuknya. 

Kesannya Tom apabanget ya, putus cinta langsung syupergalau. Tapi kalau melihat bagaimana konsep ideal Tom terkait pasangan, dan itu yang dia jejalkan dalam hubungan rapuhnya bersama Aurore, maka wajar jika sisa kepercayaan diri, daya juang dan keinginan untuk bertahan hidup, bahkan mimpi-mimpinya menjadi ambyar pula ketika putus.
... Ketika Aurore pergi, dia membawa serta semua daya hidup dalam diriku; harapanku, kepercayaan diriku, dan keyakinanku pada masa depan. Doa membuat darahku mengering, melenyapkan tawa dan warna dari hidupku. Tapi, yang paling parah, dia membuat hatiku mati rasa, merampas semua keinginan untuk mencintai lagi. Sekarang kehidupan batinku serupa dengan bumi yang terbakar hangus. Tak ada pohon dan tak ada burung, selamanya beku dalam musim dingin berkepanjangan. Aku tak punya selera makan atau keinginan, mencoba menumpulkan semua indraku, menjejali diriku dengan obat-obatan demi menekan kenangan yang terlalu menyakitkan untuk dihadapi. (p. 233-234)

Daya tahan hidup Tom pada dasarnya lemah, gan! Konsep idealnya juga practically kopong. Dalam arti, terkesan terlalu ideal tetapi tidak realistis.
Dengan keyakinan yang salah bahwa aku bukanlah diriku kalau tidak bersamanya, akhirnya kukatakan kepada diriku sendiri bahwa cinta kami akan bertahan selamanya, bahwa kami akan berhasil ketika orang lain telah gagal. Tapi, sebenarnya, Aurore tidak membuatku menjadi versi terbaik dari diriku sendiri. Dia justru menghidupkan aspek-aspek yang paling kubenci dalam karakterku, sifat-sifat yang sudah lama kulawan: kecenderungan bersikap posesif, tertipu oleh kecantikan fisik, percaya bahwa jiwa yang indah selalu ada di balik wajah malaikat, dan kebanggaan pada diri sendiri karena berhasil mengalahkan semua pria lain dari jenisku dengan mendapatkan seorang gadis yang begitu cantik.

Apa yang dia tampilkan oleh Tom, sebelum kisah percintaannya dengan Aurore berakhir, hanya merupakan secuil gambaran tentang bagaimana dia aslinya. Untuk itulah dia butuh partner yang tidak selfish seperti Aurorebisa mengimbangi dirinya, siap membantu dirinya, dan ada untuk dirinya anytime.

Dengan demikian, orang seperti Milo dan Carole sudah tepat menjadi teman-teman terdekat Tom.

Milo dan Carole sama seperti Tom, mereka hidup dengan dibayangi masa lalu kelam. Kelekatan emosional antara Tom, Milo, dan Carole terbentuk sejak mereka masih remaja. Milo dan Carole melihat Tom sebagai hero mereka -- pahlawan yang sudah menyelamatkan mereka berdua dari pengalaman masa lalu yang sangat tidak menyenangkan. Inilah yang membuat Milo dan Carole tidak bisa tinggal diam ketika melihat kondisi Tom pasca putus dari Aurore. Padahal, menurut saya, justru keberadaan Milo dan Carole yang membuat hidup Tom menjadi lebih hidup. Keberadaan Milo dan Carole yang memotivasi Tom untuk menjalani hidup lebih baik, dan mengajak mereka berdua untuk juga hidup lebih baik. 

Dengan kata lain, mereka bertiga saling melengkapi antara satu dengan lainnya. Mereka bertiga merupakan support system untuk satu sama lain. Terlepas dari cara yang menjadi support system disukai atau tidak disukai oleh yang diberikan support, sebuah dukungan dan bantuan tetaplah dukungan dan bantuan -- yang diharapkan dapat mendukung dan membantu.

Socrates pernah menyatakan bahwa pada diri setiap manusia terpendam jawaban mengenai berbagai persoalan dalam dunia nyata. Artinya, setiap orang bisa menjawab semua persoalan yang dihadapi. Masalahnya, kita sering tidak menyadari bahwa di dalam diri kita sudah terpendam jawaban bagi persoalan hidup; kita tidak menyadari bahwa kita mempunyai potensi untuk menyelesaikan masalah dan jawabannya, bahkan, ada di diri kita sendiri. Untuk itulah kita membutuhkan orang lain yang bisa ikut mendorong diri kita supaya mampu mengeluarkan ide atau jawaban yang masih terpendam tadi.

Begitulah posisi dan fungsi support system bagi kita, bagi setiap orang. Ketika kita ada masalah yang sifatnya depresif, selama kita masih memiliki support system, maka kita akan tetap ada di jalur aman karena artinya masih ada orang-orang yang bersedia untuk membantu kita kembali ke track. Sesulit apapun kehidupan yang kita rasakan, serta se-hopeless apapun kita terhadap kehidupan, support dari orang di sekitar adalah obatnya. Kepedulian dari orang di sekitar kita adalah bantuan utama yang kita butuhkan.

Tom, Milo, dan Billie adalah sekumpulan orang yang bisa saling memberikan dukungan moral dan emosional untuk satu sama lain. Singkatnya, dalam kondisi apapun mereka tidak akan saling meninggalkan; mereka justru akan saling menguatkan, saling mengingatkan, saling membantu, dan saling mendukung. Bahkan, bisa juga saling mencela dan berani mengatakan salah ketika salah satu lainnya memang dalam kondisi salah. Berani untuk jujur apa adanya. Bukan jenis hubungan yang fake, seperti halnya hubungan antara Tom dan Aurore.

Sementara itu, Aurore?

Ngg... Aurore itu fake. Dia memilih untuk fake lebih tepatnya. Orang seperti Aurore tidak tepat bagi Tom karena Tom melihat segala sesuatu cenderung hitam dan putih -- kaku; kalau tidak bisa dibilang bahwa dia ini cenderung naif, ya. Tom bisa mempercayai begitu saja dan memberikan kepercayaan begitu saja pada orang-orang seperti Aurore. Inilah bahayanya. Jadi, keberadaan karakter seperti Billie adalah yang lebih baik bagi Tom.

Billie ini blak-blakan. Sangat blak-blakan. Meskipun Tom dan Milo kadang terkesan kasar dan blak-blakan juga, pada dasarnya mereka berdua masih "kalah" blak-blakan dibanding Billie. Sehingga, hanya karakter seperti Billie yang bisa benar-benar "melawan" Tom dan kemudian mengarahkan Tom untuk bisa lebih fleksibel, tidak kaku, tidak monoton, dan yang paling penting -- tidak judgemental berdasarkan penilaian hitam dan putih saja. Saya melihat Billie ini seperti seorang guru atau pemandu bagi Tom, yang bisa membuat Tom membuka mata, hati, dan pikirannya supaya lebih lebar dalam melihat dunia. Bukan berarti karakter Billie ini sempurna, ya. Justru karakter Billie sama seperti Tom, Milo, dan Carole -- imperfect

Dan karena mereka berempat imperfect inilah maka mereka perfect ketika menjadi support system. Mereka jadi mudah sekali untuk bisa memahami kondisi dan situasi yang dialami oleh satu sama lain, terutama ketika salah satu sedang membutuhkan bantuan. Well, minus Tom ketika dia yang sedang dalam kondisi doyong itu, sih. Hehehe. Milo juga, deng, ketika tidak-berpikir-panjang-sebelum-action dia kumat.

Jika ditanyakan mana karakter yang paling saya sukai, maka saya akan secara tegas mengatakan Carole. Sejak awal karakter Carole diperkenalkan, saya sudah menduga bahwa karakter Carole akan menjadi karakter kesukaan saya dan keberadaan dirinya lebih dari sekadar sahabat bagi Tom, seperti halnya Milo juga sahabat bagi Tom dan Carole.

Dugaan saya terbukti kemudian ketika pengalaman masa lalu Carole adalah kunci bagi keberhasilan Tom sebagai seorang penulis. 

Ssstt...
SPOILER
"Trilogi itu berbeda dengan buku terlaris lainnya. Para pembaca merasa akrab dengan cacat cela para tokohnya, tapi kisahnya juga menolong mereka menemukan kekuatan diri yang sebelumnya tidak pernah mereka sadari. Bertahun-tahun yang lalu, kisah itu mengubah hidupku dan sudah mengubah lintasan hidup kita selamanya. Kisah itu mengeluarkan kita dari MacArthur Park." (p. 220)

Tidak akan ada Trilogie des Anges, buku super hits yang membuat Tom menjadi seorang penulis dunia kenamaan dan sejajar posisinya dengan para penulis kenamaan dunia lainnya, jika tidak ada Carole dan kisah hidupnya.

***

Selain urusan support system, hal yang juga menarik dari buku The Girl on Paper adalah caranya dalam mengajarkan life lessons antar karakter, tetapi sebenarnya kalau dilihat dari sudut pandang yang lebih luas ya buku ini juga memberikan life lessons bagi pembacanya. Setidaknya, bagi saya sendiri. The Girl on Paper ini seperti sebuah healing-book yang menjelaskan mengenai healing-process. Perjalanan -- literally journeys -- yang dilakukan oleh para tokoh di buku The Girl on Paper pada dasarnya merupakan bagian dari healing-process dan juga perjalanan dalam mengenali diri sendiri secara lebih mendalam. Ada beberapa catatan saya mengenai hal ini.

Pertama, seperti sudah saya sebutkan di atas bahwa Carole adalah kunci bagi Tom sebagai penulis. Tom menulis Trilogie des Anges sebagai sebuah bentuk terapi yang dia lakukan -- tanpa dia sadari. Jika dilihat alasan yang membuat Tom menulis buku pertama kalinya, maka akan sangat terasa bahwa menulis adalah cara Tom untuk healing; meskipun terkesan bahwa dia menulis demi Carole, demi "membantu" Carole, tetapi sebenarnya Tom sedang membantu dirinya sendiri dan melepaskan keterbatasannya membantu Carole secara lebih aktif melalui aktivitas menulis -- di mana dia bisa lebih bebas mengekspresikan diri. 

Ketika Tom mengalami kebuntuan menulis pasca putus dari Aurore, posisi Carole sebagai kunci kemudian digantikan oleh Billie. Pada akhirnya, Tom bisa kembali healing lewat perantara Billie dan juga demi Billie. Ngg... demi dirinya sendiri juga.

Bagi orang-orang seperti Tom, yang sulit untuk bisa mengungkapkan apa yang tersimpan di dalam inner world ditambah dengan pengalaman masa lalu yang juga kelam, maka menulis merupakan terapi yang jelas cucoks deh ya dalam membantu dirinya. Ditambah, Tom juga memiliki potensi menulis yang juga cucoks. Terapi menulis pun cucoks untuk dicoba oleh kita yang memiliki isu serupa Tom dalam hal mengekspresikan pikiran dan perasaan. 

Kedua, selain menulis, ada juga membaca. Dan Tom ini merupakan pembaca buku. Buku adalah obat juga bagi Tom sejak dia muda, semacam "pelarian" dari betapa kerasnya hidup yang harus dia jalani. Kebiasaannya mengingatkan saya pada dedek remaja kesayangan Holden Caulfield di dalam buku The Catcher in the Rye karya J. D. Salinger. Keduanya sama-sama menemukan "teman" dalam bentuk buku (terutama buku-buku klasik). Saya rasa ini juga yang membuat saya memiliki soft spot untuk mereka berdua di dalam hati saya, karena saya juga pembaca buku-buku klasik. Hehehe. Selain itu, ya, karena saya juga bisa menghayati rasanya terjatuh ke dalam kubangan kegelapan ketika menjalani proses hidup yang dirasakan berat. Saya memiliki kesamaan dengan mereka dalam hal pengalaman depresif ini.

Overall...

Buku ini sangat saya rekomendasikan bagi kalian, terutama yang ingin:
  1. Memiliki pengalaman membaca fiksi Prancis.
  2. Memiliki pengalaman membaca fiksi yang bisa mengenalkan kalian pada proses hidup secara lebih luas.
  3. Membayangkan rasanya berhadapan dengan tokoh fiksi yang muncul di kehidupan nyata.

Kalian ingin mendapatkan satu buah buku The Girl on Paper gratis?

Kalau mau, cek postingan saya setelah ini dan ikuti giveaway Spring x Nia - Giveaway TGOP atau klik banner Recent Giveaway yang ada di sisi kanan blog ini.


Cheers!
Have a blessed-day!