14 October 2016

The Catcher in the Rye by J. D. Salinger

Catatan
  1. Materi  pembahasan buku The Catcher in the Rye karya J. D. Salinger di bawah ini pertama kali dipublikasikan pada tanggal 3 Januari 2015 di Personal Library of Nia F. S. Kartadilaga.
  2. Tidak ada banyak tambahan untuk editan tanggal 14 Oktober 2016 ini.

***

The Catcher in the Rye

Judul: The Catcher in the Rye
Pengarang: J. D. Salinger
Jenis: Sastra, Fiksi
ISBN: 0-14-001248-6 
Penerbit: Penguin Books
Tahun Terbit: 1986 (1951)
Jumlah Halaman: 220
"Life is a game, boy. Life is a game that one plays according to the rules." (p. 13)
*** 

Sejak awal membaca The Catcher in the Rye, saya sebagai pembaca sudah disuguhi dengan bagaimana tokoh utama yang melakukan narasi kisahnya dari dalam sebuah mental hospital. Dia menggambarkan kehidupannya yang membosankan, sehingga dia bahkan tidak ingin menceritakan kehidupannya secara rinci. Dia memulai kisahnya dengan cara yang pahit dan cenderung sinis. Hal yang kemudian bisa menjadi petunjuk bahwa sesuatu yang besar telah terjadi pada tokoh utama kita dan bahwa pernah ada "kegilaan" yang menimpa dirinya. Coba baca kalimat-kalimat pertama ini...
If you really want to hear about it, the first thing you'll probably want to know is where I was born, and what my lousy childhood was like, and how my parents were occupied and all before they had me, and all that David Copperfield kind of crap, but I don't feel like going to it. In the first place, that stuff bores me, and in the second place, my parents would have about two haemorrhages apiece if I told anything pretty personal about them. They're quite touchy about anything like that, especially my father. They're nice and all -- I'm not saying that -- but they're also touchy as hell. Besides, I'm not going to tell you my whole goddam autobiography or anything. I'll just tell you about this madman stuff that happened to me around last Christmas before I got pretty funny run-down and had to come out here and take it easy...

Holden Caulfield, sang tokoh utama, gagal di urusan akademik. Dia bersekolah di Pencey Prep -- sebuah sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak orang kaya -- dan sangat tidak menyukai dunia di sekitarnya. Dia membenci orang-orang yang dianggapnya sok bermoral, sok religius, sok memiliki harga diri, serta sok idealis, padahal aslinya penuh kepalsuan dan kebohongan. Atas dasar inilah, Holden akhirnya memutuskan untuk melakukan alienation; mengasingkan diri, demi melindungi diri dari "serangan" dunia sekitar yang begitu dibencinya.

Bagi Holden, isolasi adalah satu-satunya jalan untuk membuktikan bahwa dirinya lebih baik dari pada orang lain. Dengan mengisolasi diri, Holden ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih superior dari pada orang lain. Dengan terus bersikap sinis terhadap apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya, Holden ingin memberikan penjelasan bahwa sebenarnya dia bingung mengapa dirinya bisa begitu berbeda dari orang lain. Hal-hal inilah yang menggiring kita pada kesimpulan bahwa kehidupan Holden tidak stabil.

Holden menghayati alienation yang dilakukannya sebagai hasil dari rasa sakit yang selalu dideritanya, secara emosional. Holden memang tidak pernah secara langsung menunjukkan emosi dan bahkan tidak tertarik untuk mencari tahu akar dari masalahnya, tetapi pembaca bisa ikut merasakan penderitaan Holden dalam mencari cinta dan bagaimana Holden ingin menjalin hubungan yang normal dengan orang lain. Pembaca juga bisa merasakan keterasingan yang dirasakan Holden melalui narasi-narasinya, bahkan sejak halaman-halaman pertama. Misalnya, Holden pernah berada di sebuah kerumunan pertandingan sepakbola, dia bisa merasakan keberadaan orang lain di sana, namun dia tidak merasa terhubung dengan orang-orang lain di sekitarnya saat itu.
Anyway, it was the Saturday of the football game with Saxon Hall. The game with Saxon Hall was supposed to be a very big deal around Pencey. It was the last game of the year, and you were supposed to commit suicide or something if old Pencey didn't win. I remember around three o'clock that afternoon I was standing way very hell up on top of Thomsen Hill, right next to this crazy cannon that was in the Revolutionary War and all. You could see the two teams bashing each other all over the place. You couldn't see the grandstand too hot, but you could hear them all yelling, deep and terrific on the Pencey side, because practically the whole school except me was there, and scrawny and faggy on the Saxon Hall side, because the visiting team hardly ever brought many people with them. (p. 6)

Masalahnya adalah, di satu sisi, Holden memang terlihat seperti begitu membutuhkan cinta serta perhatian dari orang lain. Tetapi, di sisi lainnya, semua kepahitan hidup yang dirasakan Holden membuatnya membangun sebuah benteng pertahanan. Benteng ini mencegah Holden untuk benar-benar berusaha mencari cinta dan perhatian dan dengan segera menutup usaha-usaha tersebut. Tidak diperhatikan dan diperhatikan sama-sama membuat Holden merasa depresi. Benteng ini juga yang memperkuat proses Holden dalam mengisolasi dirinya dan membuat Holden semakin menghancurkan dirinya sendiri di dalam proses alienation.

Holden seperti mengalami kondisi lost in the world. Dia menyadari bahwa dia "sendirian". Namun, dalam rangka "melindungi diri" dari dunia luar yang tidak mampu dia percaya, Holden memilih untuk semakin menyabotase keinginannya untuk keluar dari kesendirian dan justru menenggelamkan diri ke dalam insecurity. Holden takut jika harus berinteraksi dengan orang lain yang, dia anggap, tidak menyukainya. Semakin lama, Holden pun terbentuk semakin pasif. Apapun pilihan yang harus dia ambil ketika berada di dalam situasi yang mewajibkannya mengambil keputusan tertentu, Holden akan berakhir tidak melakukan apapun.

Sebenarnya, perasaan insecure dan seolah ketidak-berdayaan untuk mau berusaha berinteraksi secara lebih mendalam dengan orang lain ini tidak muncul begitu saja. Misalnya, Holden ingin membentuk sebuah hubungan pertemanan, tetapi ada saja yang membuatnya tidak berhasil. Berulang kali, Salinger memberikan narasi bahwa Holden dimanfaatkan oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan, mendapat perlakuan yang sama dari orang-orang dewasa di sekitarnya juga. Secara naluriah -- disadari atau tidak -- sangat wajar jika seseorang akhirnya membentuk pertahanan diri hingga level tertentu dan menjaga jarak dengan orang lain, jika berulang kali mengalami hal-hal seperti ini. Hingga akhirnya, satu-satunya orang yang menurut Holden bisa dia percaya hanyalah adik perempuannya; Phoebe.

Holden juga membentuk konsep mengenai phoniness. Dia membenci perilaku hipokrit dan keburukan yang selalu ditemukan olehnya di kehidupan sehari-hari, yang baginya, telah menutupi keindahan dunia yang sesungguhnya. Berdasarkan segala pengalamannya, Holden melihat bahwa dunia orang dewasa begitu penuh kepura-puraan. Atas dasar inilah, Holden mulai membentuk fantasi tentang menjadi THE CATCHER IN THE RYE. Analogi ini berasal dari lagu Robert Burns yang berjudul Comin' Thro' the Rye. Holden mengadaptasi lagu ini untuk berimajinasi, dia ingin menjadi orang yang mampu menangkap (menyelamatkan) anak-anak kecil ketika mereka terjatuh ke jurang. Well... Interpretasi Holden terhadap lirik lagu ini sebenarnya salah. Di dalam bayangan Holden, liriknya berbunyi "If a body catch a body comin' through the rye" padahal liriknya aslinya berbunyi "If a body meet a body, comin' through the rye". Lagu ini bermakna, apakah salah jika ada dua orang menjalani hubungan romantis (lebih spesifiknya; melakukan hubungan seksual) di saat mereka berdua tidak memiliki rencana untuk menjalin komitmen apapun. Jadi, ada ironi mengenai pemaknaan Holden terhadap isi lirik tadi. Kata "meet" bermakna recreational sex alias hubungan seksual tanpa komitmen, sementara kata "catch" yang diinterpretasikan oleh Holden bermakna bahwa Holden ingin menyelamatkan kemurnian anak-anak sebelum anak-anak terjerumus ke dalam dunia dewasa (termasuk terjerumus ke dalam hal-hal yang berhubungan dengan seks). Menurut Holden, orang dewasa begitu palsu -- phony -- dan lebih buruknya lagi, orang-orang dewasa tidak menyadari kepalsuan-kepalsuan yang begitu melekat di diri mereka. Sementara, Holden begitu memuja kesucian atau kemurnian -- innocence.

Masa kanak-kanak, bagi Holden, adalah dunia yang dipenuhi oleh kejujuran, sementara masa dewasa merupakan sebuah periode yang sejajar dengan kematian. Untuk itulah, Holden memilih untuk menjadi "penyelamat bagi anak-anak yang terjatuh ke jurang"; dalam hal ini jurang bermakna sebagai masa dewasa yang suram tadi. Menurutnya, dunia seharusnya merupakan tempat yang dipenuhi oleh nilai-nilai (virtue) dan kemurnian. Begitu "takut"-nya Holden dengan dunia orang dewasa, membuat Holden "menolak" untuk bertumbuh dan berkembang ke arah kedewasaan.

Perilaku-perilaku Holden mencerminkan salah satu periode ketika seorang remaja mengalami pubertas, yaitu ada "kegalauan". Pada diri Holden, kegalauan tersebut muncul melalui sikap untuk tidak mau menjadi dewasa. Kompleksitas dari ketakutan Holden untuk menjadi dewasa ini terlihat pula ketika dia ingin semua hal mudah dipahami, termasuk dia ingin supaya perilakunya dipahami oleh orang lain. Di sisi lain, Holden sendiri tidak memahami segala hal yang ada di sekitarnya, termasuk ketika berbicara mengenai seksualitas; Holden mengganggap dirinya sebagai sex maniac, sekaligus sebagai orang yang tidak memahami seks.
... Sex is something I really don't understand too hot. You never know where the hell you are. I keep making up these sex rules for myself, and then I break them right away. Last year I made a rule that I was going to quit horsing around with girls that, deep down, gave me pain in the ass. I broke it, though, the same week I made it -- the same night, as a matter of fact. I spent the whole night necking with terrible phoney named Anne Luise Sherman. Sex is something I just don't understand. I swear to God I don't(p. 66-67)

Holden bahkan mudah sekali merasa bersalah dan merasa berdosa ketika dia mengkritisi orang lain. Lagi-lagi, karena ketidakmampuan Holden untuk memahami orang lain. Pada akhirnya, Holden memilih untuk terus bersikap sinis.

Jika masih dikaitkan dengan proses pubertas, isu utama yang menjadi poros bagi perilaku Holden adalah pencarian identitas. The Catcher in the Rye merupakan sebuah novel yang mengajak kita melayang ke masa remaja, tentang bagaimana kira-kira seorang remaja mempertanyakan kehidupannya.


***

Banyak yang mengaitkan buku The Catcher in the Rye dengan beragam kasus pembunuhan, termasuk pembunuhan John Lennon. Dikatakan bahwa para pelaku pembunuhan tersebut terinspirasi dan terobsesi oleh isi buku The Catcher in the Rye. Segala investigasi terkait dengan kasus-kasus pembunuhan tersebut mengerucut pada kesimpulan bahwa para pelaku memiliki kesamaan kisah dengan Holden; sama-sama merasa terasing dan sendirian, bahkan ada yang mengalami mental illness. Untuk membaca beberapa kisah pembunuhan di dunia nyata, yang "terinspirasi" dari buku The Catcher in the Rye, bisa dilihat di sini.

The Catcher in the Rye mengingatkan saya pada ide-ide dari tulisan Haruki Murakami yang juga menulis beberapa buku dengan konsep loneliness - depressive period -- alienation. Banyak juga yang merasa ikut depresi setelah membaca buku-buku Murakami. Mungkin kondisi-kondisi itulah yang menjadi trigger bagi para pembunuh yang mengaku terinspirasi dari The Catcher in the Rye. Walaupun, saya tidak melihat bahwa buku ini patut dijadikan kambing hitam atas perilaku pembunuhan tertentu. Perilaku mereka ketika mengambil keputusan untuk secara sadar membunuh orang lain yang patut disalahkan, bukan isi buku The Catcher in the Rye. Sementara, untuk pelaku yang menderita mental illness (salah satunya schizophrenia, dengan simptom utama berupa adanya halusinasi dan delusi), maka lebih tepat jika kondisi mental mereka-lah yang memicu terjadinya pembunuhan, bukan buku The Catcher in the Rye yang menjadi pemicu. 

Ada pula para orang tua yang melarang peredaran buku The Catcher in the Rye supaya tidak dibaca oleh remaja. Alasannya, meskipun buku ini dinarasikan oleh seorang remaja, namun ada banyak bagian yang dianggap terlalu vulgar. Salah satu yang dipermasalahkan oleh para orang tua adalah penggunaan bahasa slang. Salinger menyelipkan kata-kata slang di dalam novelnya. Jadi, ketika membacanya, dengan isu yang terasa begitu kelam dan serius, saya tidak merasa bahwa narasinya terlalu baku dan monoton. Kata-kata slang tersebut antara lain:
"M'boy, if I felt any better I'd have to send for the doctor," (p. 12)
"Wuddaya mean -- so what? I told ya it had to be about a goddam room or a house or something." (p. 45)
"What the hellja do that for?" (p. 45

Sebenarnya, bagi saya, kata-kata slang tersebut tidak menjadi masalah. Hanya saja, di beberapa bagian lain, kata-kata slang berbaur dengan percakapan yang menggunakan ucapan makian, kasar, dan "jorok". Gaya Holden dalam berkomunikasi juga tidak disensor, apalagi ketika membahas mengenai phonies dan sexual content. Serupa dengan bagaimana para orang tua menolak buku-buku Rainbow Rowell. Namun jika digali lebih mendalam lagi, bukan karena penggunaan kata-kata yang dipilih oleh Salinger yang menjadi permasalahan. Melainkan, karena ini adalah buku tentang remaja yang berani untuk mengeluarkan pernyataan tentang keberpihakan dirinya terhadap kaum minoritas. Jadi, hmm, ini sejenis dengan bagaimana buku-buku "kiri" dilarang peredarannya oleh pemerintah, ya? Huehehe~

Tidak ada yang begitu salah dari kisah seorang remaja melakukan pemberontakan. Yang salah adalah ketika sebagai pembaca tidak melakukan sortir terhadap apa yang pantas ditiru dari kisah Holden, dan mana saja yang sebaiknya tidak ikut dilakukan oleh pembacanya. Lagipula, prinsip saya, kita baru mengetahui mana buku yang bagus dan tidak bagus atau mana yang layak baca dan tidak layak baca, ketika pernah membaca buku yang akhirnya kita anggap bagus dan tidak bagus, serta memberikan penilaian tersendiri atas buku-buku tersebut dan bukannya memberikan penilaian berdasarkan bagaimana buku tersebut dinilai oleh orang lain. Pada akhirnya, kontrol tetap ada di diri kita sendiri. Jika takut anak-anak atau remaja meniru hal yang salah dari sebuah buku, ya di situlah peran orang dewasa berfungsi untuk mendampingi dan memberikan pembelajaran kepada anak/remaja.

Buku-buku seperti buku Rainbow Rowell yang banyak di-banned  juga oleh para orangtua, maupun buku The Catcher in the Rye, memang sebaiknya dibaca oleh remaja yang sudah cukup matang pemikiran serta orang dewasa yang juga diasumsikan matang pemikirannya. Selain itu, sebaiknya didampingi. Bagi saya, ada banyak pembelajaran yang bisa dipetik oleh remaja dari kisah Holden. Setidaknya, sebagai panduan bagi remaja ketika mereka beranjak menuju dewasa, untuk memilah mana perilaku yang layak mereka tiru dan mana yang tidak. 

Ada poin-poin yang mengajarkan remaja tentang bagaimana untuk bisa bertahan dari periode pubertas mereka yang mungkin saja terasa membingungkan. Misalnya, masa remaja itu identik dengan kebingungan dalam menghadapi dunia di sekitar. Di satu sisi, remaja sudah tidak lagi dianggap sebagai anak-anak. Di sisi lain, mereka dianggap sudah dewasa, padahal ya belum dewasa. Remaja seolah terjebak pada tanggung jawab yang harus diemban sebagai orang yang dianggap dewasa, sementara kematangan mereka belum ada di level kematangan dewasa. Remaja, masih sangat mungkin untuk merasa gamang karena berada di antara periode anak dan dewasa. Hal yang sama yang terjadi pada Holden, hanya saja kegamangan Holden mungkin terasa lebih kelam dan berat untuk dihadapi dibandingkan kegamangan yang dialami oleh remaja lainnya. Tetapi, pada intinya, semua remaja pasti pernah mengalami kebingungan atau bahkan kekalutan akibat tekanan-tekanan yang diberikan oleh orang-orang yang terkadang mengganggap mereka masih anak-anak, dan terkadang menganggap mereka sudah dewasa dan wajib berdikari. Melalui buku The Catcher in the Rye, para remaja ini bisa belajar bagaimana menghadapi dunia sosial, terutama apa akibatnya jika kita terlalu memikirkan tentang bagaimana lingkungan sosial memperlakukan kita. Pelajaran penting lainnya, remaja bisa memetik informasi bahwa ketika kita mengalami kesulitan, cobalah untuk meminta bantuan dari lingkungan sekitar dan jangan memendam kesulitan itu sendiri.

Salah satu penilaian positif tentang The Catcher in the Rye yang saya temukan dipublikasikan oleh Huffington Post. Bisa dibaca di sini. Poin-poin penilaian yang diberikan oleh Huffington Post sangat saya sepakati.

Satu hal lain yang juga begitu saya sukai dari novel The Catcher in the Rye adalah, Salinger memasukkan kisah bahwa salah satu bentuk pelarian yang dilakukan oleh Holden adalah dengan membaca buku, terutama buku sastra klasik dan disebutkan pula tentang salah satu judul buku yang saya sukai, yaitu Of Human Bondage karya W. Somerset Maugham.
The book I was reading was this book I took out of the library by mistake [...] They gave me Out of Africa, by Isak Dinesen [...]I'm quite illiterate, but I read a lot [...] My brother gave me a book by Ring Lardner for my birthday [...] I read a lot of classical books, like The Return of the Native and all [...] What really knocks me out is a book that, when you're all done reading it, you wish the author that wrote it was a terrific friend of yours and you could call him up on the phone whenever you felt like it [...] You take that book Of Human Bondage, by Somerset Maugham [...] I'd rather call old Thomas Hardy up. I like that Eustacia Vye(p. 22)
Anyway, I put on my new hat and sat down and started reading that book Put of Africa [...] (p. 22)

***

Salinger menulis novel The Catcher in the Rye dengan memulainya dari sebuah cerita pendek. Dia menulis sejak usinya dua puluhan, dan selesai ketika usianya telah mencapai tiga puluhan. Selama bertahun-tahun, cerita pendek tadi berubah menjadi sebuah novel. Ada yang menyatakan bahwa buku ini memuat kehidupan sekolah sekaligus kehidupan personal seorang Salinger. Mungkin saja benar, mengingat cara Salinger dalam mendeskripsikan kisah Holden terasa begitu mengalir.

The Catcher in the Rye berulang-kali dirayu oleh pihak industri perfilman supaya mereka mendapatkan lisensi resmi untuk dapat mengadaptasi buku ini ke layar lebar. Namun, hingga sekarang, di tahun ke-lima kematian Salinger, dan sudah lebih dari 50 tahun sejak buku ini pertama kali diterbitkan, Salinger tidak pernah memberikan lisensi kepada siapapun. Ini adalah isi surat pernyataan Salinger terkait alasan-alasannya untuk tidak mau memberikan izin supaya The Catcher in the Rye difilmkan.

Sumber: Collider
Naskah Asli Diambil Dari Moments in Time

Meskipun tidak pernah ada izin resmi untuk mengadaptasi The Catcher in the Rye ke dalam film layar lebar, namun ada beberapa film yang dibuat oleh beberapa orang sebagai tugas sekolah. Misalnya, ini.

Selain itu, The Catcher in the Rye juga pernah muncul di dalam dialog Will Smith ketika dia berakting di film Six Degrees of Separation. Lihat videonya berikut.


Saya belum membaca buku edisi terjemahan, yang diterbitkan oleh Penerbit Banana. Edisi terjemahan baru akan muncul secara massal, menurut rencana, di bulan Februari 2015. Sebelumnya Penerbit Banana hanya menerbitkan buku terjemahannya dalam sistem Print on Demand (POD) dengan harga Rp. 75.000,00. Jadi, saya belum bisa memberikan perbandingan antara buku edisi berbahasa Inggris dengan edisi terjemahan bahasa Indonesia.


Overal 5/5


Cheers!
Have a blessed-day!