01 October 2016

Rahasia Selma by Linda Christanty

Catatan
  1. Materi  pembahasan buku Rahasia Selma karya Linda Christanty di bawah ini pertama kali dipublikasikan pada tanggal 5 Februari 2015 di Personal Library of Nia F. S. Kartadilaga.
  2. Tidak ada banyak tambahan untuk editan tanggal 1 Oktober 2016 ini.
***



Rahasia Selma

Judul: Rahasia Selma
Pengarang: Linda Christanty
Jenis: Kumpulan Cerita Pendek, Sastra
ISBN: 978-979-22-5656-7
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2010
Jumlah Halaman: 121++


BLURB

Setelah Kuda Terbang Maria Pinto karya Linda Christanty meraih Khatulistiwa Literary Award 2004 untuk kategori buku fiksi Indonesia terbaik, kini Linda kembali lagi dengan cerita-ceritanya tentang dunia hari ini dalam Rahasia Selma. Rahasia orang-orang yang berjuang melawan ketidakadilan, trauma, doktrin, mitos, kesunyian, atau bahkan apa yang mereka sendiri tidak tahu. Cerita-cerita ini meluaskan pandangan kita tentang manusia dan kemanusiaan.

Sapardi Djoko Damono mengatakan, dalam cerita-cerita Linda, ia membayangkan perkembangan cerita pendek Indonesia di masa datang. Di kata pengantar antologi dwibahasa Terra, Sandra Thibodeaux mengemukakan bahwa ketakutan yang dialami seorang serdadu Indonesia dalam Kuda Terbang Maria Pinto dengan cemerlang menggoyahkan pemahamannya tentang konflik bersenjata dan maskulinitas. Kritikus sastra Nirwan Dewanto menyebut realisme Linda mencekam, justru karena antididaktik. Penyair Sutardji Calzoum Bachri menyatakan Linda menampilkan tema kemanusiaan tanpa menyerahkan sastra ke bawah telapak kaki penindasan pesan.

***

Hmm...
Okay...

Kesan pertama saya ketika membaca blurb...
Ini sebenarnya sedang "menjual" Rahasia Selma atau Kuda Terbang Maria Pinto, sih?
Habisnya, yang banyak disebut di blurb justru lebih banyak mengenai buku Linda Christanty yang sebelumnya dibanding yang sedang saya coba untuk saya baca ini, hahaha.

Saya bukan pembaca setia dari Linda Christanty, justru tergerak untuk mencoba membaca tulisan-tulisannya yang dikumpulkan di dalam buku baru sekitar pertengahan-akhir tahun 2014 lalu dan Rahasia Selma baru saya dapatkan tahun 2015 ini.

Saya hanya sering sekali mendengar tentang Linda Christanty dari percakapan-percakapan di dalam grup-grup Whatsapp beberapa komunitas buku yang saya ikuti, kebetulan ada beberapa dari mereka yang penggemar sastra garis keras. Terlambatnya saya dalam mengenali Linda Christanty juga dipengaruhi dengan pengalaman-pengalaman personal saya, yang lebih banyak membaca buku luar (baik terjemahan maupun yang berbahasa Inggris) dibandingkan buku lokal.

Ditambah, saya juga sempat antipati dengan buku lokal di momen ketika nama Linda Christanty mulai muncul di belantika sastra Indonesia. Teman-teman yang tahu tentang ini (termasuk pembaca blog saya) mungkin sudah muak jika saya kembali bercerita mengenai penyebab-penyebabnya, karena jika ditanyakan mengapa saya bisa terlambat mengenal beberapa nama penulis lokal maka jawaban saya akan kembali ke masa 2008-2012 dan bagaimana saya mau "kembali" membaca buku lokal di akhir 2012 lalu, hahaha suooombooong~

Membaca tulisan Linda Christanty, bagi saya, tidak terlalu spesial karena banyak sekali penulis lokal (baik penulis laki-laki maupun perempuan) yang mengangkat tema serupa. Apa yang membuatnya menarik, kemungkinan, karena Linda Christanty piawai dalam meramu tulisannya sehingga memiliki ciri khas tertentu. Sepertinya, teman-teman saya yang menjadi fans berat Linda Christanty tidak salah ketika mereka menyatakan beragam pujian yang ditujukan kepada tulisan-tulisannya.

Rasanya tidak salah jika tulisan-tulisan Linda Christanty menjadi favorit untuk masuk ke dalam nominasi Khatulistiwa Literary Award, beberapa bahkan menjadi pemenang; seperti halnya yang terjadi pada buku Kuda Terbang Maria Pinto dan Rahasia Selma ini.

***

Ada 11 cerita yang disuguhkan di dalam buku Rahasia Selma, dengan benang merah -- seperti yang umum muncul di dalam buku sastra -- terkait dengan isu-isu sosial yang banyak terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari isu keluarga (hubungan orangtua-anak, anak-keluarga besar, poligami, perselingkuhan), orientasi seksual (biseks) dan LGBT (lesbian), sedikit kisah tentang peristiwa 1998, mental health issue (depressive? Atau schizophrenia? Untuk bagian ini saya kurang jelas Linda mengarahkan pembacanya ke mana), pelecehan seksual, hingga sentilan politik.

Berikut adalah daftar judul cerita dan sedikit catatan saya mengenai masing-masing:

  1. Pohon Karsen. Belum apa-apa, saya sudah diajak bersedih, hahaha. Sejak tahun 2006, isu yang diangkat di dalam cerita ini menjadi one of the issues I concern the most; apalagi jika bukan isu kekerasan seksual, yang dialami oleh anak. Ditambah lagi, dalam cerita ini pelakunya adalah kerabat dekat. Ini isu yang sangat sensitif, lihat saja apa yang terjadi ketika kasus seperti ini muncul di permukaan.
  2. Menunggu Ibu. Ini juga cerita yang menyesakkan dada. Bayangkan bagaimana seorang anak harus berjuang menjalani kehidupan sehari-hari, praktis nyaris seorang diri, karena sosok yang diharapkan dapat menjadi penopangnya (Ibu) memiliki kondisi mental yang tidak stabil, sangat tidak stabil. Ending-nya itu lho... Dan omong-omong, ini adalah cerita favorit saya.
  3. Kupu-kupu Merah Jambu. Ini juga bercerita tentang pelecehan seksual berbalut kemiskinan. Narasinya, menurut saya, agak membuat bingung.
  4. Mercusuar. Ceritanya mengangkat tema LGBT dengan bumbu diskriminasi terhadap kaum Tionghoa, dan menyentil isu 1998.
  5. Rahasia Selma. Cerita yang menjadi judul buku ini mengambil tema keluarga sebagai tema besar, tetapi juga menyentuh ranah drama keluarga (perselingkuhan, gonta-ganti pasangan di dalam hubungan pernikahan) hingga menyelipkan isu orientasi seksual -- dari sudut pandang anak. Agak ngeri juga membayangkan seorang anak menjalani kehidupan di dalam keluarga seperti itu, kesepian sedemikian rupa pula.
  6. Kesedihan. Jika saya tidak salah menangkap, tema dari cerita ini adalah poligami dan bagaimana isteri tua harus menghadapi problematika yang muncul sejak poligami ini berlangsung. Menurut saya, dibandingkan dengan 10 cerita lainnya, cerita Kesedihan merupakan poin terlemah dari keseluruhan cerita dan memiliki narasi yang paling datar.
  7. DramaWell... drama tentunya (tentang) drama! Yang dibalut dengan sentilan politik, satir berbalut dark comedy.
  8. Para Pencerita. Ini juga menyedihkan. Tidak terbayang jika jenis kerinduan terhadap keluarga yang jarang sekali pulang ke rumah dirasakan oleh keluarga saya. Membaca ini membuat saya ingin sekali bisa lebih sering berada di rumah Bandar Lampung, tidak hanya ketika waktu liburan, melainkan juga ketika aktivitas di Bandung/Jakarta sedang tidak menyita waktu. I wish... Mungkin bayangan saya menjadi terlalu jauh karena kisah Para Pencerita tidak hanya terpusat pada kerinduan untuk berkumpul dengan keluarga, melainkan juga tentang aktivitas-aktivitas lain yang biasa dilakukan oleh anggota keluarga ketika sedang berkumpul; bercerita, bergosip... dan aktivitas-aktivitas tersebut memunculkan kenangan-kenangan tersendiri.
  9. Jazirah di Utara. Jenis drama keluarga lainnya, tetapi dalam wujud pertentangan kehendak antara anak dan orangtua, yang membuat anak mengambil keputusan dengan caranya sendiri. Narasinya sederhana, tidak terlalu berbelit dibanding narasi cerita yang lain.
  10. Ingatan. Inilah cerita terpendek dari keseluruhan isi buku. Analogi puisi sebagai penyebab kematian seseorang membuat saya membayangkan kisah ini seperti mencoba mengingatkan kita tentang Widji Tukul, dan yang sedang membaca "surat" ini adalah anak-anak dari Widji Tukul. Respect!
  11. Babe. Cerita ini sedikit banyak menyentil kehidupan di dunia maya; yang paling saya bayangkan adalah masalah relationship status di media sosial Facebook, di mana status berpacaran atau menikah (tanpa pernah bertemu) mudah sekali terjadi dan nama lengkap masing-masing pasangan juga belum tentu diketahui oleh pelakunya. Lucu!


Lima cerita pernah dipublikasikan di Koran Tempo, yaitu Pohon Kersen (2005), Menunggu Ibu (2005), Drama (2006), Jazirah di Utara (2008), dan Kesedihan (2010). Dua cerita pernah dipublikasikan di Media Indonesia, yaitu Mercusuar (2006) dan Kupu-kupu Merah Jambu (2006). Satu cerita dipublikasikan pertama kali oleh Demos, yaitu Para Pencerita (2010). Sisanya, baru dipublikasikan melalui buku Rahasia Selma.

Overal 4/5

Cheers!
Have a blessed-day!