02 October 2016

Rahasia Hujan by Adham T. Fusama

Catatan
  1. Materi  pembahasan buku Rahasia Hujan karya Adham T. Fusama di bawah ini pertama kali dipublikasikan pada tanggal 9 Oktober 2014 di Personal Library of Nia F. S. Kartadilaga.
  2. Tidak ada banyak tambahan untuk editan tanggal 2 Oktober 2016 ini.

***






Judul: Rahasia Hujan
Pengarang: Adham T. Fusama
Jenis: Fiksi, Thriller, Remaja
ISBN: 979-795-857-4
Penerbit: Moka Media
Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halaman: 272++


BLURB

Sekolah Pandu kedatangan murid baru dari Jepang, seorang anak pendiam yang misterius. Sebagai teman sebangku, Pandu merasa harus bersikap ramah, meski Anggi -- si murid baru -- terus bersikap dingin.

Pada akhirnya, kebaikan hati Pandu membuat Anggi jatuh cinta. Tapi Pandu sudah punya pacar -- seorang gadis cantik bernama Nadine. Ketika rasa sayang Anggi berubah menjadi obsesi berbahaya, Pandu dan teman-temannya terseret ke dalam sebuah permainan mengerikan.

Dan Pandu, harus bertaruh nyawa demi kebebasannya.

Sebab demi bersamamu, akan kulakukan segalanya...

***

Kesan pertama yang tertangkap oleh saya ketika melihat cover buku Rahasia Hujan adalah... "Hmm teru teru bozu... Hmmm mirip ya dengan cover buku DHPB karya si penulis perempuan itu... Terkesan "Jepang" sekali juga... Hmmm...

Intinya, sama seperti kesan awal ketika Om Adham berniat membagikan buku Rahasia Hujan kepada kami -- pasukan Nulis Kamisan -- saya hanya sedikit berharap terhadap kualitas keseluruhan dari ide cerita yang ditawarkan, sekaligus sedikit berharap terhadap bagaimana hasil akhir yang saya dapatkan ketika nantinya selesai membaca Rahasia Hujan. Apalagi ketika saya mendapat kabar bahwa kisah di dalam buku Rahasia Hujan akan mengupas salah satu isu psikologis, bidang yang saya jadikan passion utama di dalam hidup saya. Terus terang, saya seringkali merasa kesal ketika membaca buku-buku dengan ide dari masalah-masalah psikologis yang ditulis oleh penulis-penulis Indonesia, terutama yang tidak mengupas idenya dengan benar dan terkesan kurang penelitian. Beberapa film Indonesia yang mengangkat tema Psikologi/Psikiatri pun banyak yang terkesan asal. Coba ambil contoh dari sebuah film yang saat ini masih tayang dan idenya dieksekusi oleh salah satu penulis perempuan Indonesia, itu adalah film yang benar-benar hancur dan kurang ajar sekali bagi saya. Hahaha. Kenapa? Ya jelas sekali karena dia begitu tidak sopannya membuat cerita yang sangat berpotensi me-leading penonton ke arah yang salah. Jadi, apalagi yang bisa saya lakukan selain sedikit berharap saat menerima Rahasia Hujan?

The less you expect, the less you feel disappointed. 
Mhehehe~

Rahasia Hujan mengupas tentang kehidupan remaja yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari  remaja. Setidaknya, saya sangat familiar dengan banyak adegan yang ditawarkan di dalam buku karangan Om Adham ini.

Cinta ala remaja? Checked.
Cemburu ala remaja? Checked.
Riweuh ala remaja? Checked.
Seru ala remaja? Checked.
Persahabatan dan pertemanan di kalangan remaja? Checked.

Kisah percintaan ala Pandu - Nadine banyak mengingatkan saya pada masa-masa pacaran ketika masih SMA dulu. Tetapi minus the saddest part saja, dan ya, saya merasa beruntung karena tidak harus mengalami masa-masa kelam dan (spoiler!) traumatis seperti yang dialami oleh Pandu.

Kisah cinta ala Pandu - Nadine terkesan sweet.

Hujan-hujanan ala Pandu - Anggi (ketika hubungan keduanya masih "baik") juga mengingatkan saya ke beberapa kisah personal dengan salah satu mantan saya dulu, yang hujan-hujanan di atas motor.

Awalnya, saya sempat menganggap klise banget kisah kisah cinta ala remaja di Rahasia Hujan, sebelum saya teringat bahwa ke-klise-an yang sama pernah saya alami dulu saat masih remaja hahaha.

Eaaak~

Kisah persahabatan antara Pandu - Mamet juga sangat mengingatkan saya pada salah satu sahabat baik saya hingga sekarang dan membaca dialog antara Pandu-Mamet membuat saya luar biasa kangen dengan sahabat saya tersebut. Hubungan Pandu - Mamet yang erat, tidak hanya dekat untuk seseruan melainkan juga ada saling menegur dan mengingatkan, sama seperti yang dialami oleh saya dan sahabat saya dalam hubungan kami selama ini -- kalian pun kemungkinan besar memiliki dasar hubungan yang sama dengan sahabat kalian.

Manisnya hubungan persahabatan berikut proses tumbuh dan berkembang bersama sahabat membuat saya teringat dengan bagaimana saya dan sahabat-sahabat saya juga pernah melakukan hal yang sama untuk saling membantu dan mengomentari sebuah masalah. Entah benar atau salah, entah tepat atau tidak tepat cara menganalisa masalah serta penyelesaian yang diambil, tetapi itulah yang terpikirkan oleh anak SMA seperti kami dulu. Sama seperti proses yang digambarkan dari kisah persahabatan Pandu dan Mamet di Rahasia Hujan. Tentunya, berbeda hasilnya jika dilihat dari sudut pandang orang dewasa.

Hanya saja, kehidupan Pandu bukanlah kehidupan remaja yang "biasa". Dia "harus" bertemu dengan orang bernama Anggi yang membuat hidupnya menjadi "tidak biasa". Dan di sinilah konflik utama di dalam buku ini terpusat.

Pembunuhan di kalangan remaja? Upps!

Well... Memang sih kejadiannya tidak menimpa kehidupan saya secara langsung, dan amit-amit kalau saya harus mengalami langsung, tetapi kasus pembunuhan di kalangan remaja sudah terjadi di lingkungan sekitar saya sejak saya SMP. Saat itu, seorang kakak kelas dibunuh oleh seorang kakak kelas lainnya. Ada yang bilang, pemicunya karena "dendam terselubung". Entah dendam yang seperti apa. Salah satu khossip yang beredar saat itu juga serupa dengan yang dialami di dalam hubungan Nadine - Pandu - Anggi di dalam buku Rahasia Hujan, tetapi tanpa embel-embel mental illness saja.

Kalau kita cukup peka, latar belakang perilaku yang ditunjukkan oleh Anggi juga cukup marak terjadi di kasus-kasus remaja saat ini. Sikap cemburu yang membuat seseorang terpicu untuk melakukan sebuah tindakan mengerikan. Ketika saya masih berkegiatan di Lapas Anak Tangerang

Saya tidak akan bercerita lebih detail tentang isi buku Rahasia Hujan. Cukup beberapa kalimat di atas menjadi garis besar dari ide cerita yang ditawarkan oleh Om Adham. Kalau kalian penasaran, ya, coba beli saja bukunya di toko-toko buku terdekat di sekitar kalian. Hehe...

***

Bagi saya, kekuatan utama dari buku Rahasia Hujan adalah pada narasinya. Penulis membuat narasi yang mengalir dan membuat saya mau memaafkan kekurangan-kekurangan dari buku ini. Bookmark alias pembatas bukunya juga keren, saya sangat suka!

Apa saja kekurangan buku ini bagi saya?
Banyak!

Karena saya membaca buku ini untuk kepentingan tertentu, menjadi salah satu special project di dalam Nulis Kamisan, maka saya akan mencoba detail dalam menggambarkan Rahasia Hujan.

Secara garis besar, ada tiga poin utama yang menjadi kekurangan dari buku ini. Let's take a look...

Pertama, saya sangat terganggu dengan layout yang membuat saya kesulitan untuk membaca. Layout di bagian-bagian pembeda antar-bab berpotensi menambah minus dan silindris di mata saya, hahaha. Background berwarna abu-abu pekat, bahkan nyaris hitam, ditambah tulisan berwarna hitam sungguh bukan sebuah kombinasi yang asyik! Padahal, bagian yang saya maksud ini memuat gambaran-gambaran menarik yang  menjadi poin plus bagi saya terkait dengan cerita Rahasia Hujan. Bagian yang membuat saya kecele ketika saya sampai di halaman-halaman terakhir buku. Dengan kata lain, bagian yang ada masalah layout-nya ini merupakan twist menarik.

Selain itu, paragraf kedua pada halaman 79 juga membuat saya sakit kepala. Simply because... tulisannya buram, hahaha. Saya sampai menyalahkan penerbit karena tidak menjaga kualitas bukunya, seolah saya disuguhi buku bajakan karena tulisan buram yang sama mengingatkan saya kepada buku-buku bajakan yang beredar di luar sana.

Kedua, terkait dengan isu psikologis yang dibawa. Beberapa detail membuat saya cukup marah kepada penulisnya, karena lagi-lagi berpotensi me-leading pembaca ke arah yang salah. Misalnya, karakter Anggi yang introvert seperti menjadi penguat untuk membuat Anggi menjadi seorang penderita mental illness. Padahal? Ya tentu saja tidak. Karakter introvert bukan pemicu utama yang menjadi kemunculan seseorang mengalami gangguan mental, apalagi karakter Anggi juga digambarkan seolah mengalami Post-traumatic Stress Disorder ketika dia harus meninggalkan Jepang dan meninggalkan cinta pertamanya di sana.

Pemicu Anggi menjadi bersikap obsesif terhadap laki-laki yang dicintainya, seperti yang dituliskan di dalam blurb di atas -- bahkan kejadian yang sama juga menjadi pemicu mengapa Anggi membenci hujan -- membuat saya menjadi berpikir bahwa sikap Anggi terhadap Pandu bukan sekadar diwarnai oleh gangguan mental, seperti yang terus saja "dipamerkan" oleh penulis di sini melalui narasinya (terutama ketika Mamet mengajak Pandu menganalisa perilaku Anggi, yang membuat pembaca di-leading ke arah isu tertentu, bahwa Anggi mengalami gangguan mental seperti yang "dipamerkan" tersebut), melainkan karena peristiwa "traumatis" yang dialaminya. Bahkan, saya juga lebih merasa bahwa kebencian Anggi terhadap Papanya juga diwarnai oleh peristiwa traumatis.

Selain itu, saya juga melihat bahwa ketika masalah mencapai klimaks, karakter Anggi seolah "dipaksa" untuk menjelaskan kepada pembaca bahwa dia "sakit". Draggy banget pemaksaan ini. Anggi "membongkar" dirinya kepada Pandu dengan mengatakan bahwa dia begini dan begitu, seolah ingin Pandu percaya bahwa dia mengalami gangguan tertentu. Ini seperti saya (yang mungkin saja tidak mengalami gangguan psikologis A melainkan B) memaksa orang untuk percaya bahwa saya mengalami gangguan A, sesuai dengan yang saya inginkan dan saya percayai sendiri, padahal yang sebenarnya menjadi gangguan yang saya alami adalah B.

Jadi, apa intinya?

Intinya, saya merasa bahwa penulis terlalu memaksakan idenya untuk masuk ke dalam penjabaran karakter yang dia inginkan. Sayangnya, detail penjarabarannya sangat mengganggu. Untungnya, narasinya bagus. Saya maafkan, sedikit.

Entah karena saya menua atau apa, belakangan saya juga mencoba mengingat bahwa analisa lebay terhadap segala sesuatu, terutama terkait problematika hidup (halah!) memang seringkali dilakukan oleh saya ketika remaja dulu. Tetapi, karena ini menyangkut sebuah isu yang menjadi bidang saya, maka saya protes dengan gambaran analisa yang ada di halaman 111 hingga akhir bab. Idenya bagus, tetapi sungguh, itu benar-benar lebay dan berpotensi menimbulkan salah persepsi pada pembaca terhadap karakteristik dari perilaku obsesif yang memicu ke arah masalah psikis yang dialami oleh Anggi.

Ada beberapa istilah yang terasa kurang tepat, poinnya karena eksplorasi terhadap karakter Anggi tidak digarap dengan matang serta lebih banyak dilihat dari sudut pandang Pandu dan teman-temannya saja. Di sisi lain, penggalian karakter Anggi dari sudut pandang Pandu (terutama juga, Mamet) menjadi sisi penguat yang membuat saya mau memaafkan kelalaian penulis. Dalam arti begini, Pandu dan Mamet melihat seorang Anggi dari sudut pandang orang awam dalam melihat sebuah gejala psikologis yang dialami oleh orang lain. Apalagi ini bukan gejala psikologis yang umum. Pandu dan Mamet yang notabene awam tentang bagaimana karakteristik Anggi yang mentally ill, melihat hanya berdasarkan pengetahuan awam mereka saja. Inilah yang menjadikan kekurangan ini cukup tolerable untuk saya terima.

Ketiga, terkait dengan kejanggalan-kejanggalan di beberapa kalimat. Misalnya, lihatlah halaman 107.
"Apakah lo pernah ketemu mading sambil bawa gitar, ngobrol bareng Nadine... dan ditemani Elang?"
Tolong bantu saya, ketemu mading itu sejenis apa?
Eaaak~


Kemudian, tolong bantu saya memahami kalimat di halaman 208 ini. 
"By the way, makasih ya udah ngebeliin aku kue, walau aku gak terlalu suka mille crepes cake. Itu kue murahan. Cuma tumpukan crepes doang. Siapa sih yang milih kue itu? Mantan pacar murahanmu yang selera rendahnya itu, ya?"
Mungkin kalian bingung, jangan-jangan saya sengaja mencari-cari kesalahan? Bukan. Ingat, sejak sebelum buku Rahasia Hujan sampai ke tangan saya, mindset yang sudah terbentuk adalah saya harus membuat review-nya begitu selesai membaca. Lalu, saya memang mudah terganggu dengan hal kecil seperti ini ketika membaca, hahaha. Kombinasi kedua hal ini membuat saya segera mencatat melalui aplikasi catatan yang ada di android saya, ketika menemukan kejanggalan kalimat seperti di atas.

Di halaman 107, juga terjadi inkonsistensi antara pemakaian kata "gua" dan "gue". 
"Gua gak tahu kok. Anggi yang kasih tahu gue,"
Di halaman 199 dan 201 juga ada inkonsistensi penggunaan kata "kau" dan "kamu". Ini yang saya lihat di halaman 199. Kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Anggi kepada Pandu, masih di dalam setting kejadian yang sama. 
"Aku ga akan berusaha memperbaiki kamu karena aku suka kamu apa adanya, karena kita memang disuratkan untuk berjodoh."
"Ini sempurna, Pan. Cuma ada kau dan aku."
Masih antara Anggi dan Pandu, di dalam setting waktu dan kejadian yang sama. Kali ini, seperti kasus "gua" dan "gue" sebelumnya, bahkan ada di dalam satu kalimat. 
"Begitu kau ngebuka baju, aku bisa mencium aroma tubuhmu yang gurih berpadu dengan aroma menyengat parfum murahan yang sering kamu pakai. Aku kecewa karena kamu jarang pake parfum pemberianku."
Duh...

Anggap saya lebay, hahaha. Tetapi saya memang mudah kesal dengan inkonsistensi penggunaan sebuah kata atau istilah semacam ini, termasuk ketika membaca tulisan sendiri. Soalnya, saya dididik oleh dosen-dosen saya di kampus Depon untuk konsisten dalam menggunakan kata atau istilah di dalam tulisan. Well, memang kalau di kasus saya terkait dengan tulisan ilmiah sih, hahaha. Tapi ya, bagi saya, sebuah karya tulisan yang bagus -- baik fiksi maupun non fiksi, ilmiah maupun tidak ilmiah -- adalah tulisan yang mampu menjaga konsistensi terhadap detail "kecil" seperti ini. Apalagi ini tulisan yang disebar secara massal, bukan untuk konsumsi sendiri.

Detail lain yang saya perhatikan, ada di halaman 167 dan kemudian diulangi di halaman 219, terkait dengan penggunaan frase "see you there" yang dituliskan dengan "see you in there". Saya memang bukan pakar di urusan grammar bahasa Inggris. Tetapi, sepemahaman saya, penggunaan yang tepat adalah "see you there" ketika penggunaannya fokus pada lokasi pertemuan yang sudah direncanakan atau "see you then" ketika penggunaannya fokus kepada pertemuan yang sudah direncanakan, di mana keduanya digunakan untuk kalimat informal. Bahkan, lebih seringnya lagi penggunaan frase ini diminimalisir cukup dengan mengatakan "see you" atau "cheers". Jika ingin terdengar lebih formal, kalimat yang digunakan biasanya menjadi "I look forward to seeing you there" atau "I look forward to meeting you". Intinya, tidak ada kata penghubung "in" di dalam penggunaan frase ini.

Jujur saja, hal-hal seperti ini yang menjadi fokus detail saya ketika menemukan penggunaan kata atau kalimat berbahasa Inggris pada saat membaca buku-buku lokal dan bagi saya, ini juga menjadi penentu dari kualitas si penulisnya sendiri.

Halah, saya seperti banyak gaya sekali membahas grammar. Seolah sudah pakar saja di perkara seperti ini, padahal mah... Hahaha.


***

Terlepas dari kekurangan-kekurangan di beberapa detail yang ada di buku Rahasia Hujan, serta terlepas pula dari perasaan bahwa saya seolah melakukan nostalgia terhadap beberapa masa di dalam kehidupan saya dulu, saya menilai bahwa kekuatan lain dari buku ini yang membuat saya merasa puas ketika selesai membacanya adalah bagaimana penulis memberikan gambaran post-even setelah konflik utama dieksekusi.

Penulis memberikan narasi cantik untuk menjelaskan kepada pembaca apa saja yang dialami para tokoh utama setelah mereka mengalami sebuah peristiwa yang pastinya traumatis dan membekas seumur hidup. Edukasi mengenai betapa penting peran guru-guru Bimbingan dan Konseling serta Psikolog dalam memulihkan kondisi psikis para tokohnya, menurut saya, menjadi poin terkuat dari Rahasia Hujan.

Rahasia Hujan saya anggap berhasil mengenalkan (dan tentu, mengedukasi) pembacanya tentang peran guru Bimbingan dan Konseling serta Psikolog, bukan hanya karena saya seorang calon Psikolog. Tetapi karena memang Rahasia Hujan layak mendapat apresiasi karena menjabarkan proses pemulihan ini dengan baik, ada tahapan yang dihadapi oleh tokoh-tokohnya dan penggambarannya sangat realistis bagi saya.

Tepat ketika saya memutuskan membaca Rahasia Hujan -- dan kemudian menamatkannya dalam waktu kurang dari empat jam, setelah saya bertahun-tahun tidak pernah lagi mampu menyelesaikan buku lokal dalam waktu cukup pendek seperti itu karena ya nganu-lah kebanyakan buku lokal (terutama novel) yang saya baca sejak memutuskan kembali membaca buku lokal 2 tahun lalu -- saya juga baru menonton episode terakhir drama Korea yang berjudul It's Okay It's Love via live-streaming. Silakan mencari tahu mengenai drama ini, kalian kemungkinan akan memahami mengapa saya mengkorelasikan Rahasia Hujan dengan drama tersebut.

Keduanya, Rahasia Hujan dan It's Okay It's Love sama-sama memiliki kekurangan dalam menggambarkan mental illness. Bahkan, terkesan "menyederhanakan" isu utamanya. Pada akhirnya, saya maklumi kekurangan tersebut karena keduanya dieksekusi oleh "orang luar" dari bidang yang salah satu isunya dijadikan tema di dalam menggarap cerita. Namun, bagaimana keduanya menggambarkan masalah berikut peran-peran orang di sekitar dalam memberikan dukungan dan penguatan mental untuk membantu para tokoh utama ketika melewati masa-masa sulit akibat permasalahan yang menjadi konflik utama, membuat saya sebagai pembaca (dan penonton) merasa puas. Setidaknya, Rahasia Hujan termasuk yang lebih baik dalam memberikan narasi seperti ini dibandingkan tulisan fiksi lokal lainnya yang pernah saya baca. Dengan alasan inilah, saya mengakui bahwa, saya menjadi fans penulis Rahasia Hujan.
 
Less expectation yang saya terapkan di awal -- selain karena saya sering dikecewakan oleh tulisan lokal yang mengangkat tema serupa lainnya, juga karena saya juga belum pernah membaca karya lain dari penulis -- ditambah fakta bahwa saya malas kalau harus menulis penilaian positif terhadap suatu karya hanya karena saya dan penulisnya berteman, ternyata membuahkan hasil akhir yang membuat saya menangis terharu karena menjadi teringat dengan perjuangan beberapa orang yang saya kenal yang menjadi korban dari kasus serupa. Saya juga jadi membayangkan bagaimana kondisi psikis salah satu junior saya dulu, yang pacarnya juga mengalami nasib seperti Nadine, serta bagaimana orang tua dia serta orang tua pacarnya tersebut harus melalui masa-masa kelam setelah si pacar berakhir seperti Nadine. Kurang lebih sama seperti yang dialami oleh Pandu, orang tua Pandu, dan orang tua Nadine. Begitu juga yang dialami oleh teman-teman junior saya dan teman-teman pacarnya, yang sama seperti hubungan antara Pandu, Nadine, dan teman-teman mereka di Rahasia Hujan. Kurang lebih sama seperti yang dialami oleh Mamet dan teman-teman lainnya di sekolah SMAN Bogor Persada. Pasti ada rasa takut, menyesal karena lalai dan tidak berhasil mencegah kejadian pahit, dan juga marah. Campur aduk.

Saya lemah terhadap isu-isu yang menyangkut keluarga, hahaha. Jadi, ya, saya menangis ketika membaca sekaligus membayangkan bagaimana keluarga terdekat dari tokoh (sekaligus korban) harus melalui proses bangkit dari sebuah kejadian mengenaskan. Ya ampun! Ini benar-benar membuat saya "membongkar" ingatan lama yang terkait dengan bagaimana dulu orang-orang yang saya kenal harus melalui proses serupa. Sebagai orang luar, saya merasa terenyuh, karena sangat tergambar bagaimana beratnya proses tersebut harus mereka lalui. Makanya, saya merasakan empati terhadap Pandu di Rahasia Hujan. Realistis.

Mungkin juga efek "bawaan" setelah menamatkan It's Okay It's Love begitu terasa ketika menyelesaikan Rahasia Hujan, sehingga sangat mempengaruhi bagaimana saya merasakan pengalaman membaca Rahasia Hujan. Apapun itu, yang jelas keduanya memang saya apreasiasi karena berhasil menyuguhkan poin-pon yang memang layak disuguhkan dengan baik. Bukan sekadar "pamer" untuk menyuguhkan hal-hal yang dianggap hits dan sedang trend untuk dibahas, karena saya rasa tidak tepat sekali jika isu mental illness menjadi materi sebuah tulisan hanya untuk gegayaan dan pamer bahwa penulisnya menulis sesuatu yang dianggapnya "keren", apalagi jika eksekusinya ternyata begitu buruk.

Sudahlah. Cukup banyak contoh tulisan dan drama atau film di luar sana, termasuk di Indonesia, yang memberikan kesan sekadar "pamer" saja bagi saya, dan banyak sekali yang membuat saya sakit kepala. Saking eneg-nya, saya sampai malas mengingat-ingat apa saja judul buku atau drama atau sinetron atau film yang saya maksud ini. Hahaha.

Rahasia Hujan dan It's Okay It's Love, keduanya, menyuguhkan hidangan yang memiliki kekurangan dalam membuat citarasa kasus mental illness yang sebenarnya seperti apa. Tetapi, keduanya meninggalkan jejak manis dan cukup memuaskan karena menonjolkan kejadian post-event yang juga manis.

Ibarat makanan, keduanya bukan makanan mewah dan mahal, bukan pula makanan yang terlihat cantik dan berkelas, bukan juga makanan yang begitu berusaha untuk dianggap mentereng. Saya bahkan mendapatkan makanan ini tanpa susah payah, tanpa usaha lebih, bahkan diberikan secara gratis. Saya tidak berharap banyak soal rasa, apalagi karena saya mengalami banyak kekecewaan dari makanan-makanan yang dipromosikan enak tetapi ternyata tidak enak.

Kesan awal terhadap makanan ala Rahasia Hujan hanya sedikit "manis" dan "sederhana". Hanya melihatnya, saya merasa yasyudala, toh gratis. Tetapi, yang tidak saya duga, saya ternyata mendapatkan bonus tambahan dari makanan berupa Rahasia Hujan berupa rasa yang cukup membuat kagum dan tersenyum setelah memakannya. Akibatnya, sampai tidak terasa, tahu-tahu saja saya sudah menghabiskan makanan dan saya ingin menikmati makanan tersebut lagi.  

Sekali lagi, Rahasia Hujan bukan menawarkan sebuah ide yang baru. Saya maafkan kekurangan-kekurangannya karena pengemasannya runut dan cukup baik. Jadi, buku Rahasia Hujan menjadi menarik dan beberapa kali saya rekomendasikan untuk dibaca oleh teman-teman saya. Minimal, jadikanlah buku ini sebagai pembanding untuk genre serupa lainnya. 

Akan tetapi, saya tidak akan merekomendasikan buku ini untuk remaja tanpa adanya bimbingan atau arahan yang tepat. Bukan karena Rahasia Hujan terkesan "dark" bagi remaja, biar bagaimanapun kasus serupa benar-benar eksis terjadi, saya hanya merasa khawatir apabila pembaca awam akan menelan cerita secara mentah. Lebih mengerikan lagi jika ternyata yang dilakukan oleh Anggi ditiru oleh remaja yang membaca buku ini. Tokoh Anggi mengenalkan sebuah isu yang sensitif dan konon sulit disembuhkan, ada peran anger management yang harus ditekankan kepada remaja yang membacanya -- termasuk ke pembaca dewasa yang memiliki kecenderungan menelan mentah juga sebenarnya; bahwa ketika kita marah terhadap sebuah kejadian traumatis maupun bukan, kita harus dapat mengalihkan energi negatifnya secara lebih positif, bukannya memberikan reinforce dan memupuk rasa marah tersebut sehingga melampiaskannya secara salah.

Overal 3,5/5

Cheers!
Have a blessed-day!