01 October 2016

Pardon My French by Catchy Hapka

Catatan
  1. Materi  pembahasan buku PArdon My French karya Catchy Hapka di bawah ini pertama kali dipublikasikan pada tanggal 1 Februari 2015 di Personal Library of Nia F. S. Kartadilaga.
  2. Tidak ada banyak tambahan untuk editan tanggal 1 Oktober 2016 ini.
***


S.A.S.S : Pardon My French
[Edited: 05/02/15]
Judul: Pardon My French 
Pengarang: Catchy Hapka
Jenis: Teenlit; Serial S. A. S. S (Student Across The Seven Seas) 
ISBN: 978-979-1349-46-8
Penerbit: Wortel Books Publishing
Tahun Terbit: 2011
Jumlah Halaman: 348++


BLURB

I HATE MY PARENTS!!!!

Mentang-mentang mereka berwawasan luas karena pekerjaan mereka membawa mereka keliling dunia, tidak berarti aku kepingin memperluas wawasanku sendiri!!!

Ingat-ingat ya, rencana jangka panjang:
  1. Kuliah di universitas yang sama dengan Nate
  2. Kawin dengan Nate setelah lulus kuliah
  3. Membangun keluarga dengan Nate di rumah idaman

Sedangkan rencana jangka pendek:
  1. TIDAK AKAN jatuh cinta pada Paris
  2. Secepat-cepatnya menyelesaikan semester ini, lalu pulang dan mulai mengurus soal kuliah dengan Nate. TIDAK AKAN menggubris cowok Prancis belagu bernama Luc, tak peduli betapa cakepnya dia... Atau betapa seringnya dia main mata denganku...


***

Ini buku yang, cewek banget!

Seperti halnya Fangirl, buku Pardon My French juga memiliki rumus standar:
  1. Cewek dan kehidupan sosialnya
  2. Cewek dan kehidupan keluarganya
  3. Cewek dan kehidupan sekolahnya
  4. Cewek dan cowok-cowok di sekitarnya

Dan segala rumus tersebut sudah tergambarkan sejak melihat bagian blurb, huehehe~

Tetapi, tidak semua cerita yang ditawarkan oleh genre seperti teenlit, chicklit, atau SASS ini akan berakhir biasa. Saya selalu menemukan sisi-sisi positif yang memperkuat isi cerita dari buku-buku yang berasal dari luar negeri ini, dan ini juga yang membuat saya selalu sering merasa jengah dengan genre serupa yang ditawarkan oleh penulis-penulis lokal. Walaupun, tetap, tidak menutup kemungkinan bahwa karya penulis lokal juga banyak yang lebih mengandung nilai positif (coba baca Cine Us karya Evi Sri Rezeki sebagai contoh untuk genre teenlit yang menurut saya bagus), serta tidak sekadar menjual kegalauan dan sikap menye-menye gak jelas.

Pardon My French pada akhirnya mengajak pembaca untuk merenung, terutama jika berada di posisi yang sama dengan tokoh utamanya; di mana tokoh utama ini akhirnya menemukan zona nyaman dan menolak habis-habisan untuk keluar dari zona nyaman tersebut, bahkan sampai di taraf membela habis-habisan pula orang-orang yang terlibat di dalam kehidupan zona nyamannya dan menganggap semua sudah perfect -- tidak ada sedikit pun celah untuk melihat kejelekan. Ketika tokoh utama "dipaksa" untuk mau keluar dari zona nyaman dan akhirnya menemukan bahwa apa yang dia anggap perfect ternyata memiliki banyak sekali kekurangan, serta sangat berpotensi membuat dia menjadi hancur di kemudian hari jika memaksa untuk tetap berada di dalam zona yang dia anggap nyaman tersebut, tokoh utama harus mampu berpikir lebih dewasa dan mengambil keputusan dengan bijak dan menghasilkan sisi-sisi positif yang membangun dirinya untuk menjadi lebih baik lagi.

Menurut saya, nilai-nilai seperti itulah yang seharusnya tidak pernah dihilangkan dari bacaan remaja karena masa remaja merupakan masa di mana seseorang sudah mulai memiliki segala tuntutan hidup dari lingkungan sekitarnya yang mau tidak mau -- suka tidak suka -- harus dia hadapi. Sehingga, sudah sepatutnya pula remaja mendapatkan contoh-contoh problem solving yang baik dari buku-buku bacaannya, yang tidak membuat remaja menjadi berpikir dangkal, serta tetap mengetengahkan sisi remaja yang cheerful, terkadang penggerutu (terutama jika berhadapan dengan tugas kuliah dan tuntutan dari guru atau orangtua), serta memiliki kehidupan sosial yang beragam (mulai dari hubungan dengan genk, serta kehidupan lain dengan teman-teman baru); seperti halnya yang menjadi karakter utama dari Nicole, cewek remaja yang menjadi heroine kita di buku Pardon My French ini.

Poin paling dari serial SASS terletak pada bagaimana penulis-penulisnya mengisahkan suka-duka, susah-senang, dan segala perjuangan yang harus dihadapi oleh tokoh utamanya; yang diceritakan sedang menjalani pertukarang pelajar ke negara lain. Jadi, isi cerita dari serial SASS tidak melulu mengenai hubungan pacaran atau menggaet cowok, melainkan juga fokus pada hubungan pertemanan dan bagaimana tokohnya harus beradaptasi dengan orang dari beragam negara, dengan keterbatasan kemampuan berbahasa yang terkadang mereka miliki, serta harus berjuang mengatasi segala jenis culture shocks dan homesick yang melanda mereka. Rasanya, jika berpatokan pada cerita teman-teman saya yang pernah menjalani proses pertukaran pelajar ke luar negeri, kisah Nicole terasa begitu dekat dan nyata -- terutama di bagian ketika mereka harus beradaptasi di lingkungan baru bersama orang-orang yang baru. Artinya, apa yang dialami oleh Nicole tidak sepenuhnya bersifat fiksi.

Memang, berhubung kita sedang berhadapan dengan Nicole -- yang termasuk anak gaul, tergabung dengan genk yang beken di sekolahnya, serta berpacaran dengan cowok paling keren juga -- maka kita akan melihat sisi remaja yang juga mudah terpengaruh oleh hal-hal terkait "apa yang seharusnya dia lakukan" bukan pada "apa yang memang harus dia lakukan", serta melihat pula sisi-sisi clumsy remaja cewek yang mudah merasa galau ketika jauh dari pacar dan kemudian labil ketika bertemu dengan cowok ganteng lainnya. Lucu juga sih, karena saya teringat lucunya masa-masa SMP-SMA dulu, hahaha.

Pardon My French juga didukung oleh karakter-karakter dewasa yang benar-benar bersikap dewasa, dan peran mereka turut membantu karakter Nicole (secara langsung maupun tidak langsung) untuk berkembang ke arah yang lebih baik. Contohnya, orangtua Nicole memaksa Nicole untuk mengambil program pertukaran pelajar bukan tanpa alasan, bukan pula karena merasa bahwa program tersebut merupkan program bergengsi. Belakangan, secara tersirat, diketahui bahwa orangtua Nicole mengenal potensi-potensi yang dimiliki oleh Nicole dengan baik dan Nicole belum menyadari potensinya tersebut.

Selain itu, hubungan pacaran dan menggebet cowok cakep -- yang di blurb terkesan menjadi poin paling penting di dalam cerita Nicole -- sebenarnya bukan bagian paling utama dari perjalanan Nicole dalam mengarungi pengalaman-pengalamannya. Bahkan, di akhir, ini tidak lagi menjadi sesuatu yang begitu signifikan setelah Nicole menemukan sisi-sisi lain yang menurutnya lebih menarik dan menantang untuk dilakukan. Lebih penting lagi, buku Pardon My French juga menggali hubungan pertemanan yang positif vs negatif dan bagaimana Nicole menghayati keduanya.

Bagaimana dengan kekurangan Pardon My French?

Jujur saja, membaca Pardon My French tidak se-asyik pengalaman saya ketika membaca Fangirl. Jauuuh sekali perbedaannya.

Perbedaan paling mendasar terletak pada betapa datarnya narasi Pardon My French. Mungkin penerjemahnya yang berperan dignifikan di masalah ini, atau memang edisi aslinya juga datar dan penerjemah hanya mengikuti gaya penulisan di edisi asli. Setidaknya, jenis font dan ukurannya sangat bersahabat dengan mata, serta margin space di buku ini juga tidak mepets seperti Fangirl sehingga saya bisa membaca dengan nyaman.

Pardon My French saya beli murah, seharga ceban dan masih segel meski ada sedikit bercak kuning di bagian kertas, namanya juga buku obral yang baru saja saya beli di sebuah bookfair. Agak menyesal juga karena saya hanya membeli satu buku saja untuk serial SASS ini, padahal ada banyak judul lainnya (tentunya dari penulis yang juga berbeda). Lumayan untuk memuaskan hasrat membaca kisah-kisah pertukaran pelajar, sesuatu yang menjadi ambisi pribadi saya tetapi tidak pernah kesampean karena tidak pernah mendapatkan izin hingga saya setua seusia sekarang -- jangankan ke luar negeri, pindah ke kota lain dari kota asal saya saja butuh waktu sekali untuk meyakinkan orangtua, hahaha.

Sexual content, ada. Tetapi tolerable dan tidak berlebihan.


Overal 3,5/5

Cheers!
Have a blessed-day!