01 October 2016

Mansfield Park by Jane Austen

Catatan
  1. Materi  pembahasan buku Mansfield Park karya Jane Austen di bawah ini pertama kali dipublikasikan pada tanggal 3 April 2015 di Personal Library of Nia F. S. Kartadilaga.
  2. Tidak ada banyak tambahan untuk editan tanggal 1 Oktober 2016 ini.
***



Judul: Mansfield Park
Pengarang: Jane Austen
Jenis: Sastra
ISBN: 1-85326-032-0
Penerbit: Wordsworth Classics
Tahun Terbit: 1992 (versi Wordsworth Edition Limited)
Jumlah Halaman: 344++


BLURB


Adultery is not a typical Jane Austen theme, but when it disturbs the relatively peaceful household at Mansfield Park, it has quite unexpected results.

The diffident and much put-upon heroine Fanny Price has to struggle to cope with the result, re-examining her own feelings while enduring the cheerful amorality, old-fashioned indifference and priggish disapproval of those around her.

***

Di awal kemunculannya, karya-karya Jane Austen seringkali dianggap para kritikus sebagai buku "murahan", levelnya rendahan, bukan seperti bagaimana orang zaman sekarang mengganggap karya-karyanya sebagai karya sastra klasik yang wajib dibaca dan dijadikan bahan kajian; bahkan Sense and SensibilityPride and PrejudiceMansfield ParkEmmaPersuasion, dan Northanger Abbey -- semuanya! -- masuk ke jajaran 1001 Books You Must Read Before You Die.

Dalam kalimat pembuka di pengantarnya, Dr. Ian Littlewood (University of Sussex) menyebutkan, ketika Mansfield Park muncul setelah Pride and Prejudice baru saja diterbitkan setahun sebelumnya, banyak pembaca Jane Austen -- yang sangat menikmati Pride and Prejudice (Oh, Mr. Darcy!) -- yang menjadi kaget dan bertanya-tanya, "Ada apa dengan Jane Austen?".
Mansfield Park was published in three volumes by Thomas Egerton in 1814. The first edition, though it was badly printed and strewn with errors, sold out within six months. To many of the readers who had enjoyed Pride and Prejudice the year before, this new novel must have come as something of a shock. It still does. 'What Became of Jane Austen?' asked Kingsley Amis in the title of a much anthologised article on the book, and his question echoes the purplexity of generations of readers. To put it at its most basic, how could the same author create one heroine like Elizabeth Bennet and then go on create another like Fanny Price(p. v)

Jika kalian adalah penggemar karya-karya Jane Austen, maka kalian wajib membaca Mansfield Park karena, melalui novel ini, kita akan melihat sisi lain dari tulisannya; di mana Mansfield Park akan terkesan lebih dark dibandingkan karya-karya Jane Austen lainnya. Di sisi lain, Mansfield Park menggambarkan kematangan dan juga peningkatan keseriusan Jane Austen dalam menyikapi peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar hidupnya saat itu.
... Mansfield Park, which she had written between February 1811 and the summer of 1813, bears all the signs of an increased seriousness that had come with age, with the experience of tragedy and with what must have been a growing awareness that in her mid-thrities and without fortune she was never likely to marry. Of all her novels Mansfield Park is the most sober ... (p. vi)

Hmm... Jadi, Mansfield Park bersumber dari kegalauan. Halah~

Seperti yang tertulis di dalam blurb di atas, Mansfield Park mengangkat tema tentang adultery atau perselingkuhan; khususnya perselingkuhan yang terjadi di dalam hubungan pernikahan. Seperti biasanya pula, tokoh sentral dari novel Jane Austen -- seperti yang terlihat di karya-karyanya sebelum Mansfield Park, yaitu Sense and SensibilityNorthanger Abbey, dan Pride and Prejudice yang ditulis di periode tahun 1790an namun baru dipublikasikan, setelah banyak diedit, pada tahun 1811-1813an -- merupakan perempuan muda yang mencoba untuk mencari posisinya di dalam kehidupan sosial, terjebak di dalam segala jenis status sosial yang begitu dibanggakan oleh lingkaran terdekatnya, harus bisa bertahan dengan segala standar dan prinsip yang dianutnya, dan -- jangan lupa -- harus pula berkutat dengan kehidupan cinta yang melingkupi kesehariannya. Membaca karya-karya Jane Austen harus sembari membayangkan bagaimana rasanya menjadi perempuan di abad ke-19 yang hidup di tempat Jane Austen berada, terutama jika perempuan tersebut merupakan kalangan bangsawan; di mana menjadi perempuan bermakna tidak bisa sebebasnya mencari pilihan karir seperti yang bisa dilakukan oleh perempuan-perempuan abad 20-21, serta menikah dengan laki-laki yang berasal dari keluarga mapan merupakan satu-satunya pilihan solusi (yang dianggap terbaik) jika ingin hidup dengan status sosial yang tetap terjaga.

Kali ini, tokoh utama kita bernama Fanny Price; juga terjebak di dalam kehidupan sosial tertentu, di mana orang-orang di sekelilingnya juga mementingkan status sosial di atas segalanya. Sayangnya, keluarga Fanny merupakan keluarga "miskin"; Ibunya, yang menikah dengan kondisi jauh di bawah keberuntungan adiknya, di mana Ibu Fanny menikahi seorang pelaut -- bukannya menikah dengan pengusaha kaya seperti Sir Thomas Bertram, suami adiknya -- dan kemudian kehidupan menjadi semakin mengenaskan setelah Ayah Fanny berakhir menjadi seorang pemabuk kelas berat. Akhirnya, Fanny diasuh oleh keluarga bibinya yang begitu kaya dan terpandang. Latar belakang Fanny yang diasuh oleh keluarga bibinya ini serupa dengan apa yang terjadi pada keluarga Jane Austen ketika kakak laki-lakinya yang tertua diasuh oleh paman mereka; sepupu dari Ayah mereka, yang kaya raya.

Selama tinggal bersama bersama keluarga bibinya, Fanny sering diperlakukan tidak baik oleh bibinya tersebut; Lady Bertram. Fanny juga masih harus menghadapi sikap "ajaib" dari sepupu-sepupunya; Tom, MariaJulia, dan Edmund. Tom merupakan seorang pemabuk dan tidak jelas perilakunya. Maria dan Julia merupakan tipe perempuan yang hanya memikirkan penampilan fisik, cenderung menyebalkan dan berpikiran dangkal, serta lebih tertarik untuk mencari cara supaya bisa menikahi laki-laki dari keluarga terpandang. Sementara Edmund, merupakan laki-laki yang memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pendeta. Latar belakang Edmund yang memiliki cita-cita menjadi pendeta juga merupakan cerminan dari latar belakang kehidupan pribadi Jane Austen, di mana Ayah dari Jane Austen merupakan seorang pendeta.

Kisah mereka semua mulai banyak saling terkait dan saling mempengaruhi, ketika Henry dan Mary Crawford, adik-adik dari isteri pejabat gereja daerah setempat mulai tinggal bersama mereka di lingkungan perumahan Mansfield Park. Kehadiran kakak-adik dari keluarga Crawford ini menambah warna pada lingkaran pergaulan orang-orang muda di sana. Apalagi, karakter Henry dan Mary yang atraktif, menyenangkan, dan mudah berbaur membuat mereka berdua dapat dengan mudah diterima dalam lingkungan pergaulan kalangan atas. Kehadiran Henry dan Mary pula yang membuat kisah percintaan antara Fanny, keluarga Bertram, dan keluarga Crawford semakin rumit... dan pastinya, diisi oleh skandal pula.

Sebagai gambaran:
  1. Henry tertarik pada Maria sudah bertunangan dengan Rushworth.
  2. Henry juga tertarik dengan Julia karena, menurutnya, Julia lebih sesuai dengan seleranya
  3. Mary tertarik pada Tom, pada awalnya.
  4. Mary kemudian memilih untuk mendekati Edmund ketika ia menyadari bahwa Tom sangat membosankan dan, lebih tepatnya, Tom tidak pernah tertarik pada Mary. Meskipun, di sisi lain, Mary juga menyadari bahwa Edmund bercita-cita menjadi pendeta dan menikahi pendeta bukanlah hal yang menarik untuk ia lalukan. 
  5. Fanny jatuh cinta pada Edmund, tetapi dia lebih memilih untuk menyimpan rahasia tersebut.

Ribet...
Sekaligus, klise.

Hubungan di antara para tokoh menjadi lebih complicated tidak berhenti meskipun beberapa dari mereka telah menikah. Misalnya, ketika Maria memilih menikahi Rushworth dan ia pindah ke London dengan membawa Julia ikut serta, hubungan antara keluarga Crawford dan Bertram justru semakin intensif. Henry, bahkan, kemudian menjadi tertarik pada Fanny dan menyadari bahwa dirinya begitu mencintai Fanny dengan tulus. Jangan tanyakan mengapa menjadi begini, hahaha. 

Apakah, pada akhirnya, Fanny memilih Henry?

Bayangkan kisah cinta a la drama Korea yang sejak awal sudah memiliki plot bahwa tokoh utama perempuan pasti akan berakhir menjadi pasangan tokoh utama laki-laki. Begitulah akhir kisah Fanny dengan cinta yang dipilihnya; happily ever after  -- menyisakan sekumpulan lain yang "tidak terpilih untuk memiliki akhir yang bahagia"; apalagi di antara orang-orang tidak terpilih ini ada yang terlibat hubungan perselingkuhan di dalam lembaga pernikahan, sehingga mereka ini wajib hukumnya untuk minggat -- keluar selamanya dari kehidupan di Mansfield Park.

***

Kisah-kisah yang ditawarkan oleh Jane Austen di dalam bukunya tidak pernah sekadar tentang romance. Selalu ada kritik sosial yang dilontarkan oleh Jane Austen melalui penggambaran karakter-karakter dan narasi di dalam buku-bukunya. Begitu pula Mansfield Park yang mengolah isu social manner masyarakat golongan atas secara satir, serta menyentil isu patriarki. Bahkan, cita-cita Edmund yang ingin menjadi pendeta pun dikemas secara satir oleh Jane Austen dengan memperlihatkan bagaimana Edmund yang berkeinginan untuk mengabdikan dirinya kepada Tuhan dengan melayani umat-Nya, ternyata juga tetap menikmati kehidupannya sebagai bagian dari masyarakat kalangan atas. Kritik-kritik ini disampaikan melalui karakter Mary, yang diceritakan sebagai karakter yang selalu berbicara blak-blakan -- bahkan cenderung pedas dan menyakitkan.

Salah satu contoh bahwa Mary cenderung berbicara to the point, ketika ia mengetahui pilihan Edmund untuk menjadi pendeta dan mengkritisi pilihan tersebut, dapat disimak di narasi berikut; di mana, bagi Mary, menyatakan bahwa pilihan hidup menjadi pendeta selalu menjadi pilihan terakhir. Mary juga menyatakan bahwa pendeta adalah sebuah profesi yang (seolah) begitu selfish dan memilih profesi sebagai pendeta merupakan pilihan yang ceroboh. Mary bahkan mempertanyakan, bagaimana mungkin hanya berdasarkan pada khutbah yang disampaikan sebanyak dua kali dalam seminggu -- itu juga kalau khutbah tersebut benar-benar layak didengar -- bisa meyakinkan pendengarnya untuk mau melakukan pesan yang disampaikan tersebut? Dari kritik-kritik yang dilontarkan oleh Mary tersebut, kita juga akan melihat bagaimana Edmund "membela" pilihannya dan mencoba mengajak Mary untuk melihat dari sudut pandang yang lain; dengan menyatakan bahwa pendeta memiliki tugas untuk mengajak orang supaya menjaga kualitas agama dan moralnya. Kurang lebih seperti itu.
..."So you are to be a clergyman, Mr Bertram. This is rather a surprise to me."
"Why should it surprise you? You must suppose me designed for some profession, and might perceive that I am neither a lawyer, nor a soldier, nor a sailor."
"Very true; but, in short, it had not occurred to me. And you know there is generally an uncle or a grandfather to leave a fortune to the second son."
"A very praiseworthy practice," said Edmund, "but not quite universal. I am one of the exceptions, and being one, must do something for myself."
"But why are you to be a clergyman? I though that was always the lot of youngest, where there were many to choose before him.
"Do you think the church itself never chosen then?"
"Never is a black word. But yes, in the never of conversation which means not very often, I do think it. For what is to be done in the church? Men love to distinguish themselves, and in either of the other lines, distinction may be gained, but not in the church. A clergyman is nothing.
"The nothing of conversation has its gradations, I hope, as well as the neverA clergyman cannot be high in state of fashion. He must not head mobs, or set the tone in dress. But I cannot call this situation nothing, which has the charge of all that is of the first importance to mankind, individually or collectively considered, temporally and eternally -- which has the guardianship of religion and morals, and consequently of the manners which result from their influence. No one here can call the office nothing. If the man who holds it is so, it is by the neglect of his duty, by foregoing its just importance, and stepping out of his place to appear what he ought not to appear."
"You assign greater consequence to the clergyman than one has been used to hear given, or than I can quite comprehend. One does not see much of this influence and importance in society, and how can it be acquired where they are so seldom seen themselves? How can two sermons a week, even supposing them worth hearing, supposing the preacher to have sense to prefer Blair's* to his own, do all that you speak of, govern the conduct and fashion the manners of a large congregation for the rest of the weekOne scarcely sees a clergyman out of his pulpit."
"You are speaking of London, I am speaking of the nation at large."
"The metropolis, I imagine, is a pretty fair sample of the rest."
(p. 67-68

(*) 
Merujuk kepada Hugh Blair (1718-1800), yang merupakan akademisi dari Skotlandia, serta berprofesi sebagai khatib. Lima buah buku serial khotbah yang dibuatnya dicetak hingga berkali-kali dan banyak beredar selama akhir abad ke-18.

Percakapan cukup panjang antara Mary dan Edmund di atas bisa dibilang memperlihatkan sisi kekhawatiran Jane Austen terhadap isu sosial dan moralitas seseorang. Hanya saja, ia cenderung melihat isu tersebut dari sisi (mutlak) antara baik-buruk atau moral-amoral. Saya lupa pernah membacanya di mana, karena artikelnya saya baca bertahun lalu. Saya mengingat isinya karena kebetulan artikel tersebut sedang membahas Mansfield Park dan -- saat itu -- saya belum menemukan buku Mansfield Park dan ingin melihat bagaimana pendapat pembacanya di luar negeri terhadap buku ini. Isinya kurang lebih mempertanyakan posisi Jane Austen dalam kritik sosialnya di dalam Mansfield Park. Misalnya, ketika Jane Austen menciptakan karakter yang baik dan buruk, mana yang sebenarnya sedang ia lakukan; membentuk sebuah "tokoh" yang menjadi representasi terhadap kondisi di lingkungan sosial saat itu, yang mungkin didominasi oleh karakter "evil", atau, apa? 

***

Berdasarkan pengalaman saya dari membaca beberapa buku Jane Austen -- belum semua; mulai dari perkenalan pertama melalui buku Pride and Prejudice, lanjut ke Sense and Sensibility, kemudian Emma, lalu Persuasion, dan sekarang Mansfield Park... Sepertinya Elizabeth Bennet; perempuan keras kepala sekaligus berprinsip kuat dan memiliki harga diri tinggi itu, akan selalu menjadi karakter fiksi perempuan yang paling saya sukai dari semua karakter perempuan ciptaan Jane Austen. Lizzy dan Mr. Darcy akan selalu menjadi pasangan favorit saya dari semua pasangan-pasangan ciptaan Jane Austen di dalam buku-bukunya.

Saya terkadang berpikir bahwa rasanya sangat wajar jika Pride and Prejudice menjadi novel Jane Austen yang paling laris -- terlepas dari seberapa banyak versi terjemahannya di Indonesia; saya belum pernah membaca satu pun terjemahan Pride and Prejudice dari beragam penerbit, jadi no comment untuk masalah terjemahannya karena saya tidak tahu, hehe. Penokohan untuk setiap karakter di Pride and Prejudice, menurut saya, lebih well-written dibandingkan penokohan di buku-buku Jane Austen lainnya. Fokus saya kali ini adalah heroine kita di dalam buku Mansfield Park; Fanny Price.

Mansfield Park dan Pride and Prejudice

Dibandingkan dengan Lizzy, maka Fanny jauh lebih lemah. Kisah Lizzy di Pride and Prejudice jauh dari kesan Cinderella-story, sementara kisah Fanny di Mansfield Park seperti pengulangan ke-sejuta kali dari kisah serupa yang ada di dunia. Saya menyukai karakter perempuan yang tangguh, tipikal perempuan yang tidak "harus" selalu dibantu atau diselamatkan oleh laki-laki. Lizzy itu seperti petasan, yang siap meledak ketika harga dirinya terusik, termasuk ketika ada sosok Mr. Darcy yang dianggap seenaknya memberikan penilaian tentang dirinya. Lizzy juga begitu pintar; jika saya bertemu perempuan seperti Lizzy pasti akan sangat mengaguminya. Kepintaran dia mempengaruhi pola pikir dan pilihan sikap, yang membuatnya cenderung dianggap sebagai outlier karena sering bertolak-belakang dengan sikap perempuan pada masa itu. Karakter Fanny, well... membosankan. Karakter Fanny ini mengingatkan saya pada karakter perempuan protagonis yang banyak beredar di sinetron Indonesia; cenderung bodoh (bukan bodoh akademik, ya, melainkan bodoh dalam makna luas), dan se-lemah garpu popmie! Dengan kata lain, bagi saya, Lizzy merupakan seorang trend-setter yang eksistensinya akan melekat kuat bagi siapa pun yang mengenalnya, sementara Fanny adalah follower yang terkadang posisinya sering terlupakan.

Ditambah lagi, saya bingung dengan kemauan Jane Austen dalam membentuk karakter Fanny. Misalnya begini, Fanny ini digambarkan mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari orang-orang di Mansfield Park. Iya, kan? Bagaimana bisa dia digambarkan begitu bahagia ketika diperlakukan seperti itu? Menurut saya, karakter seperti ini too good to be true. Ini sedang menggambarkan karakter seorang manusia atau malaikat? Saya paling greget menghadapi karakter Fanny dibandingkan karakter tokoh lainnya di dalam kisah Mansfield Park.

Dengan berat hati, saya menyatakan bahwa untuk pertama kalinya, saya sangat tidak menyukai karakter utama dari sebuah novel yang dibuat oleh Jane Austen, tidak ada toleransi untuk karakter seperti Fanny. Saya tidak pernah begitu mengagumi tokoh utama di dalam Sense and SensibilityEmma, dan Persuasion, sebesar kekaguman saya terhadap tokoh Lizzy di Pride and Prejudice. Biasa saja. Tetapi... Saya tidak pernah merasa begitu marah kepada Jane Austen, seperti marahnya saya dengan Jane Austen karena sudah membuat karakter Fanny di Mansfield Park, hahaha. Entahlah, hal seperti ini selalu tentang selera personal. 

Sebagai sebuah kajian, Mansfield Park dianggap sebagai karya Jane Austen yang -- menurut saya -- memiliki narasi paling datar. Walaupun memiliki ide cerita yang dianggap paling serius dibandingkan karyanya yang lain, Mansfield Park dianggap memiliki alur yang tidak begitu mendalam dan tidak begitu kaya dalam mengolah ide cerita tersebut. Saya sendiri merasa kurang bergairah ketika membaca Mansfield Park. Halah~

Jika kita kembali kepada sejarah pembuatan novel-novel Jane Austen, maka kita mendapatkan fakta bahwa Mansfield Park dibuat setelah Pride and Prejudice selesai ditulis. Mungkin, mungkin... Jane Austen memang sedang menantang dirinya untuk membuat sebuah  karakter yang sangat berbeda dibandingkan tokoh seperti Lizzy di Pride and Prejudice tadi. Maka, muncullah karakter Fanny, yang bahkan jauh berbeda pula dibandingkan karakter-karakter buatannya yang lain.

Saya mampu memaafkan Mansfield Park, karena, setidaknya adaptasi filmnya (versi tahun 1999) pernah sangat saya sukai.

Mansfield Park juga saya rekomendasikan kepada para penggemar karya Jane Austen, ya minimal untuk bisa melihat sisi lain dari tulisannya serta untuk bisa membandingkan buku ini dengan buku Jane Austen yang lain.

Overal 3/5

Lebih rendah dibandingkan yang biasa saya berikan ketika menilai karya-karya Jane Austen yang sudah pernah saya baca.

Cheers!
Have a blessed-day!