01 October 2016

Lost Laysen by Margaret Mitchell



Catatan
  1. Materi  pembahasan buku Lost Laysen karya Margaret Mitchell di bawah ini pertama kali dipublikasikan pada tanggal 4 Februari 2015 di Personal Library of Nia F. S. Kartadilaga.
  2. Tidak ada banyak tambahan untuk editan tanggal 1 Oktober 2016 ini.
***

Lost Laysen by Margaret Mitchell

Judul: Lost Laysen - Pulau yang Hilang 
Pengarang: Margaret Mitchell
Jenis: Novela, Sastra
ISBN: 979-655-104-7
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 1996
Jumlah Halaman: 113++


BLURB

Dunia hanya tahu Margaret Mitchell menerbitkan satu buku semasa hidupnya, Gone With the Wind yang tak ada tandingannya, novel paling populer dalam sejarah Amerika. Ketika Mitchell meninggal pada tahun 1949, dokumen-dokumen pribadinya, hampir semua karya tulisnya, bahkan naskah asli Gone With the Wind, dimusnahkan. Kini, 60 tahun kemudian, muncul keajaiban. Dunia mendapat warisan cerita lain dari Margaret Mitchell. Karya yang ditulisnya saat berusia 16 tahun.

Lost Laysen berkisah tentang cinta dan kehormatan di sebuah pulau kecil di Pasifik Selatan. Mengesankan dan memesona karena begitu banyak kemiripannya dengan Gone With the Wind, tercermin dalam karakter kedua tokoh utama pria, yang satu seorang gentleman, dan satunya seorang pelaut tangguh; keduanya sama-sama memperebutkan cinta seorang wanita yang berani dan mandiri dan siap mengambil risiko apa pun untuk mempertahankan kehormatannya; cerita ini, seperti halnya Gone With the Wind, berlatar belakang zaman yang telah lama berlalu dan akhir kisahnya tak terlupakan.

Namun kisah cinta penulisnya sendiri sama mengesankan seperti cerita yang ditulisnya. Mitchell memberikan naskah asli Lost Laysen yang ditulis tangan di dua buku tulis pada seorang pemuda bernama Henry Love Angel. Angel menyimpan kedua buku itu selama bertahun-tahun, termasuk semua surat Mitchell padanya dan foto-foto mereka berdua. Warisan ini akhirnya jatuh ke tangan putranya. Tapi lebih dari setengah abad kemudian, barulah Angel Jr. menyadari pentingnya arti warisan itu. Maka ia membawa semua foto, surat, dan naskah tersebut ke Museum Road to Tara. Oleh Debra Freer, ahli sejarah peneliti Margaret Mitchell, semua dokumen itu diolah menjadi tulisan memikat yang menceritakan hubungan Margaret Mitchell dengan Henry Love Angel, sekaligus penjelasan tentang naskah Lost Laysen.

Lost Laysen adalah warisan yang sangat istimewa bagi dunia dan hadiah bagi para pengagum Margaret Mitchell.

***

Hah!

Bisa mendapatkan buku ini memang sebuah hadiah istimewa bagi saya, hahaha. Buku ini diterbitkan tahun 1996, sementara saya pertama kali berkenalan dengan Gone with the Wind pada tahun 2000 lewat perantara seorang teman yang berbaik hati meminjamkan koleksi-koleksi buku sastra level dunia milik kakak sepupunya. Sejak tahun 2000 itu, saya berburu karya Margaret Mitchell lainnya, namun nihil. Akses mendapatkan buku ketje di kota sekecil Bandar Lampung juga serba terbatas dan saat itu geliat kehidupan online juga belum se-howow sekarang, di mana toko buku online juga belum begitu bertebaran seperti sekarang. Facebook saja belum ekseiiss cyiiin~

Belakangan, baru saya ketahui bahwa Margaret Mitchell hanya pernah menerbitkan Gone with the Wind sebagai satu-satunya karyanya yang dikenal dunia. Sekuel Gone with the Wind, yaitu Scarlett, bukan dibuat oleh Margaret Mitchell, melainkan oleh anaknya; Alexandra Ripley. Dan saya, baru berkesempatan membaca (dan membeli!) Scarlett ketika saya sudah hijrah ke Depok dan membelinya di salah satu toko buku Gramedia yang ada di wilayah Jakarta Selatan. Sementara, buku Gone with the Wind -- agak susah mendapatkan ini dulu karena edisi terjemahan sudah lama sekali tidak dicetak ulang, maka berbahagialah jika kalian bisa merasakan kemudahan mendapatkan buku ini ketika akhirnya sekarang bukunya sudah dicetak ulang, hahaha -- edisi berbahasa Inggris (second hand dan sudah cukup tua) saya dapatkan kemudian, ketika saya kemudian (kembali) hijrah ke Bandung, tetapi saya lupa persisnya mendapatkan ini di salah satu lapak yang ada di Dewi Sartika atau di kios buku Kang Dadan yang ada di seberang Unisba.

Gone with the Wind - Complete and Unabridged

Secara kualitas saya menyatakan bahwa Scarlett jauuuuuuuuuh sekali bedanya dengan Gone with the Wind. Membaca Scarlett membuat saya mencak-mencak karena saya merasa bahwa telah terjadi pembunuhan karakter Scarlett O'Hara habis-habisan, hahaha. Scarlett O'Hara merupakan karakter fiksi yang sangat saya sukai; perempuan tangguh, memiliki harga diri dan prinsip, serta bukan peng-galau alay. Di buku Scarlett, saya merasa bahwa tokoh perempuan favorit saya ini tiba-tiba menjadi penggerutu alay, harga dirinya bukan lagi berdasarkan prinsip yang kuat melainkan gengsi semata -- setipe dengan kebanyakan karakter chicklit atau metropop yang hobinya galau tidak jelas karena cinta, hahaha. Ya ampun! Saya sempat menyesal telah membaca Scarlett karena bayangan ideal saya mengenai Scarlett O'Hara buyar begitu saja. Saya juga sempat "membenci" orang yang sudah sembarangan membuat buku Scarlett; alih-alih menjadi sekuel dari Gone with the Wind, bagi saya, Scarlett seperti sebuah novel yang terpisah dari Gone with the Wind. Semua serba berbeda, gaya penuturannya apalagi. Wajar saja sih, ya, mengingat kedua buku tersebut memang dibuat oleh dua orang yang berbeda.

Jika ada yang bukan pembaca Gone with the Wind dan Scarlett, tetapi menjadi pembaca buku-bukunya Neil Gaiman, serta membaca buku Interworld dan The Silver Dream, maka kondisi yang sama pasti kalian rasakan. Baik Scarlett dan The Silver Dream sama-sama merupakan sekuel dari buku pendahulu masing-masing. Hanya saja, sekuel tersebut bukan dibuat oleh penulis yang sama. Saya sudah menyebutkan nama penulis untuk Gone with the Wind dan Scarlett di paragraf sebelumnya. Interworld dibuat oleh Neil Gaiman dan "anak didik"-nya yaitu Michael Reaves, jadi masih ada "rasa" Neil Gaiman di buku tersebut. Sementara, The Silver Dream -- practically -- dilanjutkan oleh Michael Reaves dan saudarinya yang bernama Mallory Reaves, dan "rasa" Neil Gaiman menguap begitu saja karena posisinya di dalam sekuel ini hanya sebagai "penyumbang ide" bersama dengan Michael Reaves tadi. Dengan tidak adanya peran langsung dari penulis asli dalam menggarap Scarlett maupun The Silver Dream, tidak mengherankan jika kedua so-called sekuel tersebut dianggap gagal oleh para penggemar Margaret Mitchell dan Neil Gaiman.

Rasanya wajar jika saya jumawa dan girang luar biasa ketika bisa mendapatkan Lost Laysen dengan harga hanya ceban (alias Rp. 10.000,000 saja!) di online bazaar yang dilakukan oleh toko buku Staline (toko fisiknya ada di wilayah Beji, Depok) di akun Facebook mereka dan buku ini mendarat dengan sempurna di pelukan saya pada pertengahan Januari 2015 lalu. Akhirnya saya bisa kembali membaca karya lain dari seorang Margaret Mitchell, apalagi "kenangan buruk" setelah membaca Scarlett yang lalu masih begitu melekat. Untung saja, "kenangan indah" mengenai Gone with the Wind masih jauh lebih kuat porsinya hahaha. Tidak apa, tidak apa jika saya membutuhkan waktu hampir 15 tahun untuk bisa membaca Lost Laysen sejak perkenalan pertama saya dengan seorang penulis legendaris; Margaret Mitchell.

***

Lost Laysen terbagi ke dalam dua bagian dengan kisah dan pesona masing-masing. Bagian pertama merupakan kisah dari kehidupan pribadi Margaret Mitchel ketika dia remaja, yang dihimpun oleh Debra Freer sebanyak 49 halaman. Sementara, bagian kedua merupakan novela Lost Laysen itu sendiri, yang jumlah halamannya bahkan lebih sedikit dibanding bagian yang mengisahkan kehidupan pribadi Margaret Mitchell, yaitu 37 halaman.

Di dalam prakatnya, Debra Freer menyatakan bahwa kisah ditemukannya naskah Lost Laysen adalah cerita penuh suka-duka tentang cinta yang tak sampai dan rahasia-rahasia yang tak pernah dibuka, tentang pemberian abadi daeri seorang pengarang terkenal pada seorang pria yang hampir dilupakan oleh sejarah. Nama pria itu Henry Love AngelMargaret Mitchell memberinya naskah Lost Laysen, dan mereka berdua sama-sama menyimpan rahasia pemberian yang luar biasa ini hingga akhir hanyat (p. 9).
... Margaret Mitchell meminta agar tulisan-tulisan serta dokumen-dokumen pribadinya dimusnahkan setelah kematiannya. Surat-surat, catatan harian, naskah-naskah (termasuk sebagian besar halaman asli Gone with the Wind); malah hampir semua yang pernah ditulisnya dimusnahkan secara sistematis, dan selama enam puluh tahun jutaan penggemarnya terpaksa menerima kenyataan bahwa Margaret Mitchell hanya menulis satu novel. Kini secara ajaib Lost Laysen memberi kita kesempatan untuk menikmati kembali karya pengarang yang tak tertandingi ini. Takkan pernah ada yang seperti Margaret Mitchell. Dan takkan ada yang seperti Gone with the Wind. Dalam Lost Laysen-lah kita diingatkan akan sebabnya. Melalui episode yang hilang dari hidupnya ini, kita dapat melihat saat pertama api semangatnya menyala dan bisa mengantisipasi kobaran kreativitas yang kelak menghasilkan Gone with the Wind(p. 9-10)

Sebagai catatan, novel Gone with the Wind pertama kali diterbitkan pada tahun 1936 (dan saya baru membacanya sekitar 64 tahun kemudian!) dan langsung menjadi fenomena dalam dunia sastra. Keberadaannya tak pernah lekang oleh waktu hingga saat ini. Bahkan, mendapat pengakuan sebagai novel paling laris dalam sejarah.
... Para fans Gone with the Wind dan kolektor-kolektor suvenirnya dapat ditemui di setiap benua. Novel itu telah mengaburkan fakta sejarah dan fiksi: selama puluhan tahun sejak pertama terbitnya, banyak orang berkunjung ke Atlanta mencari Tara ... (p. 12)

Kenapa novel Lost Laysen dianggap sebagai "cikal-bakal", atau mengutip istilah dari Debra Freer; bayang-bayang awal, dari Gone with the Wind? Coba simak fakta berikut ini.
Pada tahun 1916, Margaret Mitchell mulai menulis sebuah cerita romantis tentang seorang wanita berkemauan keras yang lebih menghargai kehormatannya daripada nyawanya. Ini cerita tentang cinta yang tak terbalas, tentang seorang laki-laki yang mendambakan wanita ini sepenuh hati tapi tak mungkin mendapatkannya. Laki-laki itu bukan Rhett Butler, si wanita bukan Scarlett O'Hara, dan cerita itu bukan Gone with the Wind. Cerita itu adalah Lost Laysen yang memaparkan tentang cinta dan kehormatan di sebuah pulai di Pasifik Selatan. Margaret Mitchell menuliskannya di dua buku catatan biru pada musim panas usianya yang ke-16. (p. 9)
Dalam beberapa segi yang mengesankan, Lost Laysen merupakan bayang-bayang awal Gone with the Wind. Kita perlu mengerti tema dan tipe tokoh-tokohnya agar bisa memahami Gone with the Wind yang muncul kelak. Kedua novel itu sama-sama menceritakan cinta segitiga, keduanya berkisar pada cinta yang tak sampai. Juga tokoh utama wanitanya sama-sama seorang wanita mandiri yang tidak takut mendobrak aturan-aturan dalam masyarakat. Kesamaan-kesamaan lain dapat disebutkan tanpa merusak cerita: Billy Duncan dalam Lost Laysen, seperti halnya Gerald O'Hara, adalah orang Irlandia pemarah yang bisa hidup keras dan terpaksa melarikan diri dari tanah airnya. Seperti Scarlett, tokoh Courtenay dalam Lost Laysen mesti menghadapi pelecehan mengejutkan, dan seperti Frank Kennedy serta Ashley Wilkes, tokoh Doug Steele dan Billy Duncan dalam Lost Laysen merasa wajib mengejar si pelaku pelecehan. Dalam kedua novel tersebut, sebuah malapetaka hebat menyerakkan kehidupan semua yang terlibat. Dan akhir cerita keduanya sama-sama dramatis. (p. 13)

Karakter-karakter utama di dalam Gone with the Wind serta Lost Laysen sama-sama merupakan karakter yang wujud aslinya mudah sekali ditemukan di dalam lingkaran kehidupan Margaret Mitchell, terutama ketika dia masih muda. Bahkan, kisah percintaan yang digambarkan di dalam kedua buku tersebut sama-sama refleksi terhadap kehidupan percintaan Margaret Mitchell ketika masih remaja.
Juga, seperti Gone with the WindLost Laysen diambil dari kehidupan Margaret Mitchell sendiri. Tokoh utama wanita dalam Lost Laysen dinamai seperti sahabat karib MitchellCourtenay Ross. Namun sebenarnya tokoh berperawakan mungil dan berkemauan keras itu jauh lebih mirip Margaret sendiri; dan tokoh utama pria, Billy Duncan, si petualang bertemperamen keras yang menjunjung tinggi kehormatan dan rela berkelahi demi wanita yang dicintainya, sangat mirip dengan Henry Love Angel. Malah hubungan antara Duncan dengan tokoh khayal Courtenay mencerminkan hubungan Angel dengan Mitchell sendiri: laki-laki itu jatuh cinta pada wanita yang membalas kasih sayangnya, namun tidak bersedia memilihnya; si pria yang sangat mendambakannya terpesona pada wanita yang takkan pernah didapatkannya. (p. 13)

Jika menganut paham anak muda sekarang,  sudah pasti, Henry Love Angel terjebak di dalam hubungan friend-zoned. Ahaks! Tidak seperti penganut hubungan semacam ini, para pelaku (atau korban?) yang memilih menenggelamkan diri ke dalam kegalauan tanpa akhir, Henry Love Angel tetap menjunjung tinggi kualitas hubungannya dengan Margaret Mitcheel hingga akhir. Tidak mungkin rasanya Henry mendapatkan manuskrip sebanyak dua buku tulis berisi kisah Lost Laysen, jika di antara mereka tidak terjaga kualitas hubungan yang begitu spesial dan baik-baik saja. Iya, kan? Dan tidak mungkin juga seorang Henry mau menyimpan manuskrip ini hingga akhir hayat, isterinya pun kemudian tetap menjaganya hingga akhir hayat baru kemudian mewariskan kepada Henry Jr. jika di antara pihak yang terlibat ini tidak terjaga sebuah hubungan manis; di mana masing-masing pihak dpaat saling memegang kepercayaan dengan sangat sempurna. Iya, kan?

Duhee~ ini mengingatkan saya pada kisah Snape yang terjebak friend-zoned dengan Lily Potter di kisah fantasi kesayangan kita; Harry Potter. Siapa Potterhead yang bisa melupakan adegan percakapan ini?
"After all these times?"
"Always..."

Gaaaaah~

Cinta dan kasih sayang Henry pada Peggy sudah bukan rahasia lagi.
Sudah begitu sering ia melamar Margaret, hingga mereka berdua menjadikan
hal itu sebagai bahan gurauan. Pada adegan melamar yang dilakukan di depan kamer ini,
Peg pura-pura menerima lamaran Henry sementara Henry menyelipkan cincin ke jari Peg.
Tulisan yang tertera dalam buku kenangan seorang teman mereka berbunyi,
"Angel melamar Peg untuk ke-1000 kali. Tebak jawabannya."
(p. 34)

Henry Love Angel melamar Margaret Mitchell berkali-kali sejak mereka remaja. Sampai akhirnya di tahun 1922, Margaret Mitchell benar-benar menyatakan penolakan final terhadap lamaran Henry Love Angel dengan alasan demi kebaikan bersama, dan menikahi Red Upshaw; laki-laki yang juga masih orang-orang di lingkaran terdalam pergaulan mereka saat itu, meskipun belakangan Margaret menyesali pilihan dan bercerai darinya, untuk kemudian menikah dengan John MarshHenry kemudian menikah sekitar tiga bulan setelah pernikahan pertama Margaret.

Tidak seperti perilaku beberapa mantan dari "artis" level dunia, Henry tidak pernah sekalipun memanfaatkan popularitas Margaret serta tidak pernah "menjual" segala kenangan masa lalu (foto, manuskrip Lost Laysen, dan lainnya) untuk kepentingan pribadinya. Semuanya tetap disimpan rapi olehnya seumur hidup. Anak-anaknya pun tidak pernah tahu, padahal keluarga Margaret dan keluarga Henry (setelah menikah) tetap bertetangga. Benar-benar sampai seumur hidupnya, Henry, menyimpan semuanya dengan baik.
... Henry membawa rahasianya hingga akhir hayat, sama sekali tak pernah menyebut-nyebut tentang Margaret Mitchell pada putra-putranya yang telah dewasa. Tak sekali pun ia bicara tentang hubungannya di masa lampau dengan Margaret Mitchell. Tak sekali pun ia mencari keuntungan dari ketenaran MargaretMungkin sikap diamnya itu ia lakukan demi rasa cinta dan hormat. Pada masa itu, keadaan dunia berbeda dalam beberapa hal, dibandingkan masa kini: sebuah kontrak bisa disahkan sekadar dengan jabatan tangan, janji secara lisan sudah dianggap mengikat, dan kehormatan seorang wanita dihargai melebihi hal-hal lainnya. (p. 61)

Kenapa Margaret tidak mau menikah dengan Henry?
Misteri Ilahi.

Kenapa Henry tetap mau menyimpan kenangan-kenangan lama pengikat tak samar antara dirinya dan Margareth?
Misteri Ilahi.

***

Courtenay Ross - Henry Love Angel - Margaret Mitchell
(p. 14)

Menjejaki halaman demi halaman dari bagian pertama -- pendahuluan -- mengenai kisah kasih tak sampai antara Henry Love Angel dengan Margaret Mitchell, serupa kita seperti sedang melakukan time travelling ke masa mereka berdua masih remaja dan menyaksikan bagaimana kehidupan Margaret Mitchell ketika produktivitas menulisnya sudah berkembang baik, hingga akhirnya kita bisa menerka mengapa novel fenomenal Gone with the Wind bisa lahir belasan tahun kemudian. Embrio-nya sudah terbentuk di masa-masa ini, ketika kita sedang menyaksikan kehidupan Margaret Mitchell dari dekat, dan melihat bagaimana Margaret Mitchell - Courtenay Ross - Henry Love Angel ditakdirkan untuk saling memainkan peran penting di dalam kehidupan masing-masing. Tidak hanya akhirnya kita bisa menyaksikan kehidupan Margaret Mitchell ketika remaja, yang memang menjadi fokus di bagian pertama ini, melainkan juga melihat bagaimana pertumbuhannya sejak masih berusia 18 bulan sampai 22 tahun. Benar-benar seperti kita sedang ziarah kenangan~
Selain novelet Lost Laysen, warisan Henry Love Angel juga meliputi sejumlah surat, foto, dan film negatifnya. Foto-foto itu memperlihatkan sosok Margaret Mitchell pada usia 18 bulan sampai 22 tahun. Banyak di antaranya merupakan hasil pemotretan Henry Love Angel sendiri; ia menyukai fotografi dan mempunyai kamar gelap di rumahnya. Hasil pemotretannya atas diri Margaret tampaknya berhasil menangkap inti pribadi wanita yang luar biasa ini, yang tak lekang oleh waktu, unik namun sekaligus merupakan bagian dari jenis baru wanita Selatan. Surat-surat Mitchell pada Angel ditulis antara tahun 1920 dan 1922, begitu menyentuh, baik yang bernada keseharian maupun yang sangat serius. Surat-surat itu satu-satunya rekaman kisah cinta mereka yang masih ada. (p. 15)

Bagian kedua, barulah kisah cinta berbalut kehidupan tragis antara Courtenay Ross dan Billy Duncan dapat kita nikmati dalam sekali duduk -- karena memang pendek sekali ceritanya.


Mungkin bukan hanya saya yang merasa bahwa bagian pertama buku merupakan bagian paling menarik dari keseluruhan isi buku Lost Laysen ini. Bukan bermaksud meniadakan keberadaan novela, melainkan karena pembaca saya terlalu terpukau pada keindahan cerita masa muda Margaret Mitchell -- atau Peggy, nama panggilan yang disukainya; sebuah kesempatan membaca sebuah perjalanan hidup seseorang di mana kesempatan tersebut merupakan sebuah momen yang tidak akan diperoleh semua orang. Sementara, saya mengalami apa yang disebut dengan less excitement ketika membaca Lost Laysen karena saya sudah jauh lebih dulu menikmati Gone with the Wind. Ceritanya keduanya sangat identik. Membaca Lost Laysen seperti membaca sebuah rangkuman dari kisah Gone with the Wind. Terlepas dari nama-nama karakternya yang berbeda, Lost Laysen sejatinya merupakan versi mini dari Gone with the Wind dan embrio bagi terbentuknya novel fenomenal dunia di 20 tahun setelah embrio ini pertama terbentuk. Lost Laysen tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Gone with the Wind yang begitu EPIC.

Foto sampul buku tulis tempat Margaret Mitchell menuliskan
bagian pertama Lost Laysen. Mitchell menyelesaikan naskah itu
dalam buku tulis kedua berlabel "Buku II"
(p. 63)

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, tidak adil juga jika membandingkan Lost Laysen dan Gone with the Wind karena keduanya saling terikat antara satu dengan lainnya. Jadi, anggaplah bahwa Lost Laysen merupakan tulisan yang dihasilkan oleh Margaret Mitchell ketika dia masih "belajar" menulis, sementara Gone with the Wind merupakan penyempurna ketika ia sudah semakin "matang" dalam menulis. Dengan begini, posisi keduanya, pada dasarnya adalah setara.

Sebagai sebuah entitas, Lost Laysen bisa juga dinyatakan sebagai sebuah karya yang EPIC. Bayangkan saja, ini sebuah karya yang dibuat oleh seorang perempuan muda berusia 16 tahun. Kalau saya flaschback ke masa-masa ketika saya berusia 16 tahun, boro-boro menghasilkan tulisan yang impressive seperti ini, level saya hanya di level diary galau berisi cerita pacaran atau gebetan tho. Cerita yang jelas tidak akan laku dan bertahan sepanjang masa, hingga dikenal di seluruh dunia sampai lintas generasi. Paling mentok, cerita saya akan bertahan sepanjang masa bagi diri saya sendiri. Mengenaskan perbandingannya, kan? hahahaha.

Bagi seorang pembaca biasa, apalagi jika belum pernah membaca Gone with the Wind, mungkin tidak akan menganggap buku ini penting untuk dibaca dan dimiliki. Tetapi, bagi kalian para fans dari Margaret Mitchell, penggila Rhett Butler dan pemuja Scarlet O'Hara, dan pencinta kisah Gone with the Wind, buku ini wajib sekali untuk dikoleksi bersama Gone with the Wind milik kalian.

Overal 5/5

Cheers!
Have a blessed-day!