03 October 2016

Kembang Kertas by Kurniasih

Catatan
  1. Materi  pembahasan buku Kembang Kertas karya Kurniasih di bawah ini pertama kali dipublikasikan pada tanggal 14 Januari 2015 di Personal Library of Nia F. S. Kartadilaga.
  2. Tidak ada banyak tambahan untuk editan tanggal 3 Oktober 2016 ini.

***



Kembang Kertas by Kurniasih

Judul: Kembang Kertas
Pengarang: Kurniasih
Jenis: Kumpulan Cerpen, Sastra
ISBN: 979-3684-37-2
Penerbit: Jalasutra
Tahun Terbit: 2005
Jumlah Halaman: 200++


***

Frankly speaking, sepertinya baru kali ini membaca buku karya Kurniasih, jadi agak kaget sewaktu mulai membaca isi buku Kembang Kertas. Buku ini saya beli dengan harga diskon super murah di stand IKAPI Yogyakarta saat momen IIBF awal November 2014 lalu dan baru sempat saya baca karena, ya... dengan timbunan buku di meja yang tercampur antara buku sudah terbaca vs buku sudah terbaca berkali-kali vs buku yang lupa sudah dibaca atau belum vs buku yang yakin sekali belum terbaca... dan sialnya buku-buku yang ada di meja adalah buku-buku yang belum selesai didata sehingga belum ditempatkan di rak (kalau rak masih cukup) dan belum disusun (karena pasti beberapa buku memang akan berakhir nyangsang di meja akibat bisa dipastikan bahwa tidak ada space lagi di kamar mungil ini)... antrian membaca buku Kembang Kertas ini pun baru tersentuh sekarang hahaha.

Setidaknya, 52 halaman pertama diisi dengan tiga buah "pengantar" dari tiga orang yang dengan keterbatasan ilmu sastra yang saya miliki (terutama terkait nama sastrawan atau komunitas sastra atau kritikus sastra yang jumlahnya ada banyak sekali itu), saya sebenarnya tidak mengenal siapa mereka tetapi saya asumsikan mereka adalah para penikmat dan kritikus sastra), serta sebuah "sekapur sirih" dari penulisnya. Masing-masing menuliskan kalimat-kalimat layaknya sebuah esai sastra. Saya sempat sedikit lost dan menganggap sedang membaca buku kajian sastra, bukannya sebuah buku kumpulan cerita. Mungkin karena saya sudah lama tidak membaca buku kajian sastra, makanya bisa lost tadi, hahaha. Tetapi, di sisi lain, ini jadi seperti penyegar kepada saya -- sebagai pembaca -- tentang bagaimana kira-kira isi dan gaya tulisan dari Kurniasih di dalam buku Kembang Kertas; bahwa saya akan berhadapan dengan permainan kata dan metafora. Dan demi menghargai ketiga pengantar tadi, sekaligus bentuk rasa senang saya ketika membaca tulisan-tulisan tersebut, maka saya akan memulai review Kembang Kertas dengan memberikan beberapa cuplikan dari tulisan mereka.

Pertama, kajian tentang sastra dan isi buku Kembang Kertas dari Bambang Sugiharto yang berjudul Sebuah Karya: Permainan Imaji dan Simbolisme. Baru membaca paragraf pertama sudah disuguhi kalimat yang berbunyi,
Penjelahan imaji atau permainan simbolisme dalam berbahasa memang bisa mengasyikkan. Ia bisa dengan liar berkelana mengikuti impuls imajinatif spontan. Pada titik ini ia betul-betul menjadi semacam permainan tak terbatas. Ini memungkinkan "irasionalitas" yang tersembunyi dalam pengalaman meruap ke permukaan menemukan bentuknya. Irasionalitas yang sesungguhnya merupakan kekayaan dan kedalaman spesifik pengalaman manusia.

Lebih lanjut, Bambang menuliskan bagian paling krusial tentang bagaimana saya pun kemudian merasakan pengalaman yang sama saat membaca 13 cerita pendek yang ditawarkan oleh Kurniasih kepada para pembaca buku Kembang Kertas.
Tapi masalahnya adalah permainan imaji dan imaji daya metaforiknya justru kecil. Padahal kekuatan metaforik adalah kekayaan kemampuan untuk merumuskan ulang realitas. Namun sebaliknya pun berbahaya. Bila imaji-imaji dibiarkan gentayangan liar tanpa kendali asosiasi logis sama sekali, hasilnya hanyalah absurditas total, alias ketidakmungkinan sama sekali baginya untuk dipahami.

Intinya, 13 cerita yang ada di buku Kembang Kertas berkutat di antara kedua kutub -- mengambil istilah Bambang -- di mana terkadang bermain di ruang imaji atau gagasan konseptual dan terkadang sangat kabur imaji serta alurnya. Setidaknya, pada diri saya, ketika membaca cerita pendek pertama pun sudah dibuat bingung untuk menentukan Kurniasih sedang bermain di area mana. Meskipun, lagi-lagi dengan mengamini pernyataan Bambang ditambah jiwa Sepikoloh yang saya miliki, saya juga sepakat bahwa di beberapa cerita lainnya Kurniasih mampu melakukan pengamatan psikologis yang intensif dan penuh empati tanpa harus mengumbar adegan penuh sayatan nadi dan sungguh alay ala mengiba-iba yang sangat cengeng karena bagi saya -- untuk beberapa hal -- adegan cengeng itu seperti sebuah penghinaan terhadap tokoh yang sedang digambarkan situasinya, seolah tokoh tersebut seeking for attention sebegitu parahnya sampai harus digambarkan dengan cara yang nista.

Kedua, tulisan dari Aquarini Priyatna Prabasmoro yang berjudul Abjek dan Perempuan. Bagian ini mengingatkan saya pada tulisan-tulisan terkait kajian sastra yang berpusat pada isu feminisme. Aquarini melandaskan ide tulisannya dari kajian Julia Kristeva di dalam bukunya yang berjudul Powers of Horror: An Essay on Abjection.
... Dalam buku ini Kristeva membahas bagaimana perempuan dan tubuhnya seringkali dihubungkan atau bahkan ditandai serta pada saat yang sama juga menandai abjek. Abjek dalam konsep Kristeva adalah "something rejected from which one does no part, from which one does not protect oneself as from an object". Abjek adalah apa yang mengganggu identitas, sistem, tatanan. Yang tidak menghargai batas, posisi, aturan. Peminggiran pengeluaran abjek adalah peminggiran/pengeluaran (ekslusi) yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup subjek. Pada dasarnya, semua cairan tubuh adalah abjek, termasuk darah dan segala cairan tubuh, kecuali air mata.

Kenapa Aquarini sampai membahas abjek dan kaitannya dengan perempuan? Itu karena cerita pendek yang ditulis oleh Kurniasih diumpamakan seperti sedang menulis tubuh perempuan dan di bagian akhir tulisannya, Aquarini, membuat saya kembali sepakat bahwa Kembang Kertas bukanlah tipikal buku easy reading. Tidak terlalu penuh busa bunga seperti yang saya rasakan ketika membaca buku Arafat Nur yang berjudul Lampuki -- buku yang kalau saya membacanya sambil tiduran maka otomatis saya akan segera tertidur lelap, sehingga saya harus dalam posisi duduk untuk bisa membacanya dengan lebih fokus. Buku Kembang Kertas lebih bermain di metafora, jadi saya cukup mengadaptasi analogi yang dituliskan ke dalam kondisi real terhadap apa yang ingin digambarkan.

Ketiga, sekaligus tulisan favorit saya dari tiga "pengantar" di buku Kembang Kertas, adalah tulisan dari Himawijaya yang berjudul Pencarian Diri Autentik dari Para Eksistensialis: Percakapan Diri, Curiga terhadap Kerumunan, sampai Kata-kata Metaforik. Mari simak kutipan dari paragraf pertama untuk bisa mulai meraba alasan saya paling menyukai tulisan ini.
Di pentas sastra, ada seorang sastrawan penulis cerita drama asal Rumania, Eugene Ionesco, yang terbiasa membawa imaji-imaji bawah sadar ke dalam jalinan kisah. Kreativitasnya dalam menarik mimpi ke permukaan cerita memang diinspirasi oleh semacam praktik para psikoanalis. Ionesco terbiasa membiarkan dirinya berada dalam kondisi antara sadar dan tertidur serta mengeluarkan keterpenjaraan pikirannya agar bebas mandiri, menelusuri alur dan perwatakan yang aneh dan ganjil di alam bawah sadar, sambil mendiktekan cerita dan dialog dari tokoh-tokoh bawah sadarnya kepada seorang tukang ketik. Jadilah cerita-cerita yang tak rasional, kaya simbol dan metafora, terkadang ganjil, di luar kebiasaan.

Tulisan Himawijaya lebih mendalam lagi, dia membawa kajian eksistensialisme di dalam satra yang dapat dilihat dari tulisan-tulisannya Kafka, Genet, Dostoevsky, dan Ibsen. Juga membawa nama Albert Camus dan Sartre untuk contoh penulis sastra dengan nuansa eksistensialisme yang sangat kuat. Masih belum cukup, untuk membahas eksistensialisme ini, Himawijaya juga menjelaskan tentang dua aliran filsafat yang sama-sama bersepakat untuk menggempur irasionalitas manusia yang telah menyebabkan kejahatan, peperangan, dan penderitaan berkepanjangan, tetapi kedua aliran tersebut sebenarnya saling berseberangan; aliran Positivisme Logis yang mendasarkan diri pada filsafat awal Wittgenstein, dan aliran Eksistensialisme yang berakar pada Kierkegaard dan Nietzcshe.

Sampai di sini... Bagi yang mengenal saya, pasti bisa langsung menebak alasan yang bisa sangat tertarik dengan tulisan Himawijaya, hahaha. Saya sampai menahan diri untuk tidak menulis lebih banyak lagi. Ada 17 halaman tersendiri untuk bagian Himawijaya ini; sangat banyak dibanding tulisan Bambang yang tidak sampai 3 halaman, bahkan cerita pendek pertama di buku ini hanya berjumlah 7 halaman. Belakangan, akibat ketidaktelitian saya dalam membaca halaman cover dalam, baru saya menyadari bahwa Himawijaya adalah editor dari Kurniasih. Maka wajar jika dia bisa memberikan gambaran lebih detail terhadap isi buku Kembang Kertas.

Berkat tulisan Himawijaya ini saya semakin bersiap untuk menghadapi apa saja kejutan metafora yang ditawarkan oleh Kurniasih, termasuk memberikan beberapa spoiler pengantar tentang isi setiap cerita pendek yang ada di dalam buku Kembang Kertas, serta gambaran penutup indah yang ingin disampaikan oleh Kurniasih kepada pembacanya.
... Setelah semua perjalanan ini, akhirnya kepasrahan dirilah yang terbangun, bukan pemberontakan atas semua fondasi, tatanan maupun narasi, seperti umumnya sastrawan eksistensialis. Ani menutupnya dengan sebuah persembahan kepada Tuhan. Ubahlah semua gumaman ini, keluh kesah diri ini, menjadi sikap tabah dan syukur. Moga Dia merangkul diri ini, dalam kasih-Nya yang tak berbatas. Ani meraih segala rasa diri yang tersisa, ibarat ranting dan daun kering di akhir kemarau panjang. Dikumpulkannya dan disimpannya di altar persembahan. Dibakarnya dengan api harapan. Dan lihatlah, asapnya yang putih membumbung menggapai awan. Musim menjadi berganti. Awan menjadi rintik hujan. Membasahi bumi yang rekah sekian masa. Hujan kehidupan yang menyemaikan benih dan tunas baru. Sosok diri yang baru. Diri autentik yang bukan berujar "Cogito Ergo Sum". Tapi diri yang bergumam, "Sum Quae Est Esse", aku ada karena Wujud itu ada.

Akhir pengantar yang mengingatkan saya kepada buku Pope Joan karya Donna WoolfolkCogito Ergo Deus Est, aku berpikir maka Tuhan ada.

***

Apa saja 13 cerita pendek yang ditawarkan oleh Kurniasih?

Ini dia judul-judulnya:
  1. TabikLoreda
  2. Kembang Kertas
  3. Musafir
  4. Anak Kesunyian
  5. Menara
  6. Sang Pelaut
  7. Sesaat Saja
  8. When We Dance
  9. Tidurnya Seekor Domba
  10. Cecilia
  11. Mouli
  12. MataMati
  13. Pasal Kasih
Untuk menghindari spoiler, saya hanya memberikan contoh dari dua cerita pendek pertama yang ada di buku, yaitu TabikLoreda dan Kembang Kertas.


TABIKLOREDA

Cerita ini mengenai Loreda yang meletakkan begitu banyak tabir sehingga tidak pernah ada yang mengetahui kesakitan demi kesakitan yang dialaminya akibat pengkhianatan Tabik. Dan Loreda, pada akhirnya juga melakukan pengkhianatan sehingga pengkhianatan demi pengkhianatan pun mereka lakukan terhadap satu sama lain. 

Tokoh Loreda dan Tabik ini pada dasarnya merupakan gambaran ambivalensi manusia, seperti dua sisi yang saling berlawanan tetapi berusaha untuk saling merengkuh. Gambaran ini mengungkap betapa manusia seringkali terjebak di dalam suatu situasi dan baru menyadari ada yang salah dengan situasi tersebut ketika ada trigger event. Dan pada saat kesadaran tersebut muncul, barulah konflik batin menyerang manusia.


KEMBANG KERTAS

Cerita berkutat dari sudut pandang Aku yang mengisahkan bagaimana ia terlahir dari seorang Ibu yang tidak mampu lagi berbicara setelah lidahnya "dipotong" oleh Ayahnya, serta bagaimana ia akhirnya menemukan pelarian ke sosok yang dia beri nama Lelaki Pendongeng. 

Cerita ke-dua ini terasa lebih emosional dibandingkan dengan cerita pertama. Emosi yang khas saya temukan di dalam tulisan-tulisan yang menyentuh isu patriarki dari sudut pandang perempuan; selalu ada konsep ketidakberdayaan perempuan ketika harus hidup di dunia yang didominasi oleh otoritas laki-laki dan, sialnya, pihak laki-laki juga melakukan kekerasan terhadap pihak perempuan. 

Di sini, Kurniasih seolah mengajak kita untuk menyadari bahwa konsep patriarki si laki-laki tidak akan hanya menciptakan "drama" di dalam kehidupan si perempuan. Bukan hanya perkawinan Ayah dan Ibu yang menjadi masalah, melainkan juga menciptakan trauma tersendiri bagi anak-anak si Ayah dan si Ibu.
... di atas bale-bale yang biasa diduduki ibu kutemukan sepasang mata, mata ibuku. Ayah mengetahui ibuku telah melepas pergi diriku. Lalu ayah pulang dan menyisakan sepasang mata ibu untukku. Aku tak akan pernah bertemu ibu lagi. Aku hanya bisa memimpikannya....

Ketika kita melangkah ke cerita ke-tiga, MUSAFIR, kita seolah diajak untuk melihat bagaimana Aku memilih melanjutkan hidupnya.


***

Gambaran metafora yang digambarkan di dalam pengantar sepertinya terasa terlalu berlebihan bagi saya. Meskipun Kurniasih memberikan metafora yang baik, tetapi ada inkonsistensi alur di beberapa cerita pendek yang membuat saya merasa sayang sekali karena dia terlihat gagal fokus dan mungkin kebingungan dengan bagaimana harus menceritakan ide-idenya yang seperti ingin berebut bermunculan dalam ruang cerita pendek. Mungkin seharusnya ide-ide itu dimunculkan ke dalam wujud novel, setidaknya novela, supaya ruang Kurniasih untuk memainkan metaforanya bisa semakin luas. Inilah alasan saya mengamini berulang-kali penilaian Bambang di dalam pengantarnya, ketika pada akhirnya merasakan sendiri perjalanan menembus ribuan kata penuh metafora di dalam 13 cerita yang ada buku ini.
Cerpen-cerpen Kurniasih bagi saya seperti sedang mencari-cari di antara kedua kutub berbahaya itu, sering kali seperti terbentur-bentur pada salah satunya. Kadang cerpen-cerpen itu seperti membungkus gagasan konseptual tertentu. Pada saat lain terasa sangat kabur imaji dan alurnya...

Poin yang paling saya sukai, selain tiga kata pengantar -- terutama pengantar dari Himawijaya di atas, adalah ilustrasi-ilustrasi yang dibuat oleh Antorio Bergasdito. Ini contohnya, yang diletakkan tepat setelah sekapur sirih dari Kurniasih dan sebelum kita diperkenalkan dengan cerita pendek pertama. Sesuai dengan imajinasi mengenai tokoh Loreda.

TabikLoreda

Poin kuat dari buku ini adalah kekayaan ide dan konsep-konsep berbeda dalam menuturkan 13 cerita, semua konsepnya menarik. Ada isu PKI, kalau kalian suka dengan isu ini, yang mengungkap bagaimana rasanya menjadi keturunan PKI. Ada pula yang lebih bersifat self reflection, membawa kita diajak untuk menelusuri isi batin dan melakukan kontempelasi.

Hasil akhir dari perjalanan saya bersama kumpulan cerpen Kembang Kertas, well... Terus terang saja, saya lebih tertarik membaca ketiga kata pengantar dibandingkan membaca 13 ceritanya. 


Overal 3/5


Cheers!
Have a blessed-day!