01 October 2016

Cerita dari Negeri Jauh by Mario Valgas Llosa, Dkk

Catatan
  1. Materi  pembahasan buku Cerita Dari Negeri Jauh karya Mario Valgas Llosa, Dkk di bawah ini pertama kali dipublikasikan pada tanggal 25 Februari 2015 di Personal Library of Nia F. S. Kartadilaga.
  2. Tidak ada banyak tambahan untuk editan tanggal 1 Oktober 2016 ini.
***



Kumpulan Cerita yang diambil dari serial sastra berjudul
Ourselves Among Others
[Edited: 02/03/15]

Judul: Cerita dari Negeri Jauh - Sehimpun Cerita Silang Budaya dari Lima Benua
Judul Asli: Aourselves Among Others
Pengarang: Alberto Moravia, Chinua Achebe, Gabriel Garcia Marquez, Liliana Heker, Mario Valgas Llosa, Nadine Gormider, Octavio Paz, RK Narayan, Thelma Forshaw, Yashar Kemal, Yukio Mishima
Penerjemah: An. Ismanto
Jenis: Kumpulan Cerita Pendek, Sastra
ISBN: 979-99006-3-8
Penerbit: Pinus
Tahun Terbit: 2004 (Cetakan I)
Jumlah Halaman: 223++


BLURB

Sehimpunan cerita ini bermanfaat untuk membangun pengertian antar-vudaya dan memahami kehidupan sehari-hari mereka yang tinggal di negeri lain, sehingga kita mengerti dan menerima mereka seolah-olah mereka adalah tetangga sebelah rumah. Ini penting, mengingat kampung kita kampung global, yang mengandaikan adanya kesetaraan dan penerimaan, bukan lagi prasangka dan konfrontasi.

Menariknya, cerita yang terkumpul ini dipilih tanding untuk menggambarkan budaya-budaya di lima Benua: Asia, Afrika, Amerika Selatan, Eropa, dan Australia. Memahami budaya-budaya tiap negeri terasa lebih mengena dengan sastra. Hal ini sebab sastra menyajikannya secara manusiawi, tiap orang-orang yang terlibat disajikannya demikian detail: tentang suasana, perasaan, dan konflik kejiwaan tiap tokoh dalam menghadapi segala masalah budaya.

Di sana terhampar: tradisi seppuku di Jepang yang menjadi pilihan pengarang Yukio Mishima bunuh diri dalam cerita, Bocah Lelaki yang Menulis Puisi; pandangan masyarakat pedesaan Turki tentang wanita yang bekerja pada cerita Sebuah Kisah Mesum karya Yashar Kemal; ada konflik emosi seorang imigran pencari kedamaian di Australia dalam cerita Demonstrasi; tentang akibat perang dalam kehidupan sehari-hari warga Nigeria juga menjadi garapan apik Chinua Achebe dalam Perdamaian Sipil. Dan masih banyak cerita memikat lain.

***

Superb!

Begitu kesan pertama yang didapatkan begitu menyelesaikan buku ini. Bisa dikatakan bahwa antologi cerita pendek ini begitu kaya dan cukup merepresentasikan keragaman budaya dunia, yang diwakilkan melalui beberapa tulisan lintas benua dari penulis-penulis karyanya memiliki level berskala dunia. Satu kekurangan utama yang saya rasakan, yaitu tidak ada perwakilan dari wilayah Asia Tenggara, terutama Indonesia. Itu saja.

Penulis-penulis di dalam buku Cerita dari Negeri Jauh ada 11 orang dan berasal dari banyak negara. Ada Mario Vargas Llosa yang berasal dari Peru, Yukio Mishima yang berasal dari Jepang, Liliana Heker yang berasal dari Argentina, Octavio Paz yang berasal dari Meksiko, Alberto Moravia yang berasal dari Italia, Yashar Kemal yang berasal dari Turki, R. K. Narayan yang berasal dari India, Thelma Forshaw yang berasal dari Australia, Nadine Gordimer yang berasal dari Afrika Selatan, Gabriel Garcia Marquez yang berasal dari Kolombia, dan Chinua Achebe yang berasal dari Nigeria. Maka, bayangkan betapa kaya studi literature yang ditawarkan lewat satu buku saja, di mana kajiannya pun bisa dilakukan hingga lintas generasi, bahkan hingga generasi-generasi yang hidup jauh setelah penulis-penulis tersebut meninggal dunia -- dan menariknya lagi, kajian-kajian tersebut masih relevan dengan kondisi terkini di masing-masing generasi.

Ke-11 penulis yang karyanya tercantum di dalam buku Cerita dari Negeri Jauh, masing-masing, diwakili oleh satu buah cerita pendek, yaitu:
  1. Minggu, Minggu - Mario Vargas Llosa
  2. Bocah Lelaki yang Menulis Puisi - Yukio Mishima
  3. Pesta yang Tercuri - Liliana Heker
  4. Hidupku Bersama Segulung Ombak - Octavio Paz
  5. Perburuan - Alberto Moravia
  6. Sebuah Kisah Mesum - Yashar Kemal
  7. Jejak Si Jaket Hijau - R. K. Narayan
  8. Demonstrasi - Thelma Foreshaw
  9. Afrika Bangkit - Nadine Gordimer
  10. Ajal Bergeming di Hadapan Cinta - Gabriel Garcia Marquez
  11. Perdamaian Sipil - Chinua Achebe
Bagaimana sebuah kajian mengenai suatu tempat memiliki banyak manfaat, secara menarik dianalogikan oleh An. Ismanto sebagai penerjemah di paragraf pertama pengantarnya, dengan menceritakan apa yang pernah terjadi di Indonesia pada masa penjajahan Belanda ratusan tahun yang lalu.
Alkisah, Dr. Snouck Hurgronje ditugasi pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk mencari titik-titik lemah masyarakat Aceh. Sang doktor lantas berangkat ke Aceh, ia menyamar menjadi mahasiswa agama, bergabung dengan masyarakat di meunasah-meunasah (mushola, sekaligus tempat belajar mengaji), dan mati-matian memelajari budaya dan sastra Aceh. Singkatnya, sang doktor mengobok-obok setiap sendi kehidupan masyarakat Aceh. Ia berhasil menemukan bahwa persatuan, kekuatan, dan semangat tempur Rakyat Aceh dibangun berdasarkan keyakinan agama, dan hanya dapat ditaklukkan dengan kekuatan bersenjata yang sangat besar dan kejam. Tak berapa lama kemudian, pemerintah kolonial melancarkan perang besar atas Aceh dengan menerapkan strategi yang didasarkan pada temuan sang doktor. Selanjutnya ia berhasil mengakhiri perlawanan rakyat di daerah yang belasan tahun membebal pada Batavia itu.
...Sastra memang kerap dianggap sebagai cerminan batin suatu masyarakat, maka yang tak boleh ia lupakan ialah memelajari karya-karya sastra masyarakat tersebut.
 (Pengantar Penerjemah; p. 3-4

Dari kajian sastra dari sebuah tulisan yang dibuat oleh seseorang dari sebuah tempat, pembaca juga bisa melihat bahwa sebuah proses pengukuhan eksistensi terkadang menyesuaikan pula dengan kondisi geografis seseorang tersebut berasal.
Kondisi geografi pula yang membuat laut yang sedang diliputi kabut tebal menjadi sarana yang menantang untuk membuktikan eksistensi seorang Miguel dalam cerita Mario Vargas Llosa yang bertajuk "Minggu, Minggu".
(Pengantar Penerjemah; p. 5)  

Bayangkan!

Minggu, Minggu merupakan kisah pembuka yang posisinya memorable bagi saya. Ini adalah kisah perebutan cinta -- jika dapat dikatakan demikian. Sebuah cerita yang klise dan mungkin terkesan kacangan, melibatkan dua orang laki-laki muda yang sedang memperebutkan perhatian dan cinta dari seorang gadis. Dan untuk membuktikan siapa yang lebih dari siapa; siapa yang berhak atas si gadis di antara keduanya, serta siapa yang secara kualitas berada di tingkat yang lebih tinggi dibandingkan yang lain, maka "pertandingan" yang melibatkan laut adalah solusi yang dipilih.

Saya tertawa ngakak ketika selesai membaca kisah ini, apalagi jika mengingat bagaimana penyelesaian dari adu gengsi -- adu harga diri, dari kedua laki-laki muda tadi. Tapi, begitulah mungkin yang memang dilakukan oleh laki-laki yang hidup dan besar di daerah lautan, di mana laut juga menjadi sumber harga diri terbesar dan menempati posisi tertinggi dari level eksistensi seseorang.

Kisah yang juga memorable bagi saya adalah cerita ke-dua, yaitu Bocah Lelaki yang Menulis Puisi karya Yukio Mishima. Saat membaca kisah di cerita ini, saya sangat teringat dengan kisah dari sudut pandang remaja lainnya di dalam buku The Catcher in the Rye karya J. D. Salinger. Bedanya, remaja di The Cather in the Rye memilih untuk melakukan alienation atau mengasingkan diri ketika dia sedang berada di puncak kegalauan -- proses pencarian jati diri -- maka remaja di Bocah Lelaki yang Menulis Puisi memilih membuat puisi ketika dia sedang berada di dalam proses "mencari".

Bocah lelaki ini sangat gemar membuat puisi. Tetapi, puisi dia lebih banyak mengambil tema transformasi alam. Ketika suatu hari ia penasaran dengan "cinta", ia ingin lebih banyak membuka elemen perasaan dan jiwa dengan menjadikan cinta sebagai bahan puisinya.
... dan ia berpaling untuk menyanyikan metamorfosis-metamorfosis yang terjadi dari momen demi momen di dalam jiwa ... (p. 55
Masalahnya adalah...
Si bocah lelaki belum pernah jatuh cinta.

Menurut saya, pergulatan emosi yang sedang dialami oleh si bocah lelaki, mirip dengan "temannya" di The Cather in the Rye. Mereka berdua sama-sama mengalami pergulatan yang levelnya lebih tinggi dibandingkan umumnya remaja. Jika remaja kebanyakan, mungkin, berkutat pada kagalauan remeh-temeh dan seandainya mereka fokus mencari solusi dan bukannya "memelihara" kegalauan yang dirasakan, maka mereka akan mudah sekali menyelesaikan "masalah" tersebut -- berlaku juga di dewasa, sebenarnya. Kedua remaja kita ini berpikir tentang sebuah isu secara lebih mendalam lagi, bukan sekadar di permukaan, yang membuat pembaca akan berpikir bahwa kedua remaja kita terlihat terlalu "mendalami" peran mereka sebagai pemikir dan kurang mampu untuk menikmati kehidupan remaja mereka dengan lebih "santai".

Seperti halnya sebuah kajian, buku Cerita dari Negeri Jauh menyajikan sebuah kajian sastra multi-dimensi yang diwakilkan melalui kisah-kisah fiksi -- yang juga mewakili latar belakang dari mana penulis-penulisnya berasal, dan akhirnya memberi tahu banyak sekali informasi kepada kita, termasuk terkait dengan detail-detail "kecil".Misalnya, bagaimana hal yang mungkin terlihat "kecil" tersebut sebenarnya mewakili sebuah kebudayaan tertentu.
... Sebagaimana kita tahu, kondisi geografi sangat mempengaruhi kebudayaan suatu masyarakat. Dengan demikian dapat dimengerti kenapa laki-laki di negeri tropis seperti India kebanyakan menggunakan turban dan bertelanjang dada, sebagaimana diceritakan dalam "Jejak si Jaket Hijau": untuk melawan hawa panas yang mengurung India nyaris sepanjang siang.
(Pengantar Penerjemah; p. 5

Saya tidak akan bercerita banyak mengenai cerita-cerita lainnya. Bukan. Bukan karena isinya tidak menarik. Melainkan, akan terlalu panjang dan berpotensi memberikan spoiler jika saya nekat ingin menuliskan isi kepala ke dalam review karena ada banyaaaaak sekali yang ingin saya ceritakan mengenai 11 cerita kebanggaan ini. Ditambah ada beragam tema dan masing-masing tema memiliki kekuatan menonjol tersendiri.

Barangkali, pengantar dari penerjemah berikut sudah cukup untuk menggambarkan beberapa cerita lain di dalam buku Cerita dari Negeri Jauh lainnya, yang mengangkat tema-tema sosial khas dari negara asal masing-masing penulis -- dan beberapa tema juga sangat lekat dengan apa yang terjadi di kehidupan masyarakat Indonesia.
... Pembaca dapat mengetahui bagaimana pandangan masyarakat pedesaan Turki tentang wanita yang berperan dalam kehidupan sehari-hari pada cerita "Sebuah Kisah Mesum" karya Yashar Kemal, atau bagaimana rasanya hidup di sebuah dunia Afrika Poskolonial dalam cerita nobelis Nadine Gordimer "Afrika Bangkit". Bahkan, sepuitis apapun "Hidupku Bersama Segulung Ombak" Octavio Paz, cerita ini tetap menyiratkan kehidupan sehari-hari: bahwa realitas sosial-ekonomi di Meksiko demikian buruknya sehingga seorang lelaki bercinta bukan dengan manusia, melainkan dengan segulung ombak.
Dalam "Pesta yang Tercuri", tema yang karib itu juga mengungkapkan akibat lebih jauh dari ketimpangan sosial ekonomi atas psikologi anak-anak di Argentina. Liliana Heker bercerita tentang seorang gadis kecil keluarga miskin yang bersahabat dengan putri keluarga kaya dan merasa bahwa tidak ada perbedaan antara dirinya dengan sahabatnya itu, karena "toh orang kaya masuk surga juga". Namun, sebuah tindakan kecil dari ibu sahabatnya itu membuatnya sadar bahwa memang ada perbedaan antara si kaya dan si miskin.
 (Pengantar Penerjemah; p. 6)

Tema-tema sosial ekonomi juga banyak menjadi tema tulisan-tulisan sastra Indonesia. Bagaimana gap antara si kaya dan si miskin juga sering menjadi bahan perbincangan, mulai dari yang bersifat informal hingga formal. Intinya tetap sama, selalu dan akan selalu ada "jurang" yang memunculkan jurang sangat jelas di antara hubungan miskin-kaya, selayaknya hubungan antara kutub Utara-Selatan.

Bagaimana dengan tema "kerusuhan" dan "perang"?

Ada. Thelma Foreshaw dan Chinua Achebe menulis tentang tema-tema tersebut.

Makanya saya bilang, jika kalian penikmat sastra maka buku ini wajib dibaca, minimal untuk materi pembanding jika sedang membahas karya sastra lainnya. Dan penerjemahnya juga menyatakan hal yang kurang lebih sama di akhir pengantarnya,
... cerita-cerita yang ada dalam buku ini terlalu berharga untuk dibiarkan tak terbaca. (p. 7)


Overal 4/5

Cheers!
Have a blessed-day!