03 October 2016

Assalammualaikum, Beijing! by Asma Nadia

Catatan
  1. Materi  pembahasan buku Assalammu'alaikum, Beijing! karya Asma Nadia di bawah ini pertama kali dipublikasikan pada tanggal 13 Januari 2015 di Personal Library of Nia F. S. Kartadilaga.
  2. Tidak ada banyak tambahan untuk editan tanggal 2 Oktober 2016 ini.

***



Assalammualaikum, Beijing! by Asma Nadia

Judul: Assalammualaikum, Beijing!
Pengarang: Asma Nadia
Jenis: Fiksi, Drama Religi
ISBN: 978-602-9055-25-2
Penerbit: AsmaNadia Publishing House
Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halaman: 342++


BLURB

Ajarkan aku mantra pemikat cinta Ahei dan Ashima, maka akan kutaklukkan penghalang segala rupa agar sampai cintaku padanya.

Dewa dan Ra adalah busur dan anak panah. Keduanya memiliki bidikan yang sama, sebuah titik bernama istana cinta. Namun, arah angin mengubah Dewa. Sebagai busur, dia memilih sasarannya sendiri dan membiarkan anak panah melesat tanpa daya.

Sebagai laki-laki pengagum mitologi, Zhongwen ibarat kesatria tanpa kuda. Sikapnya santun dan perangainya gagah, tapi langkahnya tak tentu arah. Dia berburu sampai negeri jauh untuk mencari Tuhan sekaligus menemukan Asma, anak panah yang sanggup meruntuhkan tembok besar yang membentengi hatinya.

Dan di manakah Ra ketika dalam kegamangan Asma menelusuri Tembok China, menjejakkan kaki di pemakaman prajurit terakota dan menjelajah dunia dongeng si cantik Ashima dari Yunnan?

Dua nama, satu cinta. Ra yang mencampakkan Dewa. Asma yang berjuang melupakan lelaki berahang kukuh yang diam-diam memujanya. Bersama, mereka mencoba menaklukkan takdir yang datang menyapa.

***

Jadi, intinya ini buku tentang apa?
Jawabannya hanya satu.
D. R. A. M. A


Drama tentang seorang perempuan berjilbab yang pernah menjalin hubungan selama empat tahun dengan laki-laki, yang belakangan baru diketahui bahwa si laki-laki hanyalah seorang pengecut, dan ketika kepengecutan itu mulai tampak ke permukaan maka perempuan berjilbab memilih untuk meninggalkannya. Di masa awal perpisahan tersebut, perempuan berjilbab yang masih galau mendapat kesempatan untuk melakukan perjalanan kerja (sekaligus berlibur, asyik banget!) ke Beijing; tempat dia melarikan diri sejenak dari kegalauan, sekaligus tempat dia bertemu dengan sosok lelaki pengganti. Happy ending? Ah, masih terlalu dini. Di tengah rongrongan lelaki pengecut yang masih berusaha meminta balikan, ditambah dengan sapaan-sapaan dan diskusi online dengan lelaki pengganti, si perempuan berjilbab diberikan ujian hidup supaya kisahnya dan kegalauannya semakin dramatis. Apalagi, perempuan berjilbab juga memiliki kisah traumatis tersendiri terkait dengan kehidupan berpasangan.

Drama tentang laki-laki pengganti yang dengan begitu dramatisnya seperti layaknya cerita penuh drama, lelaki pengganti adalah lelaki yang sejak awal bertemu perempuan berjilbab sudah menaruh hati. Hanya saja, saat itu, dengan logika klise bahwa dia tidak percaya akan cinta pada pandangan pertama, tentu saja lelaki pengganti memilih denial. Hingga kemudian jarak memisahkan dirinya dengan perempuan berjilbab, barulah lelaki pengganti menyadari kerinduannya yang menggebu. Tapi bagaimana mungkin bersatu jika ada penghalang besar dalam kemungkinan hubungan mereka? Bukan hanya jarak, tetapi juga perbedaan keyakinan.

Drama tentang seorang laki-laki yang malas untuk move on, sekaligus seorang pengecut ulung yang hobinya lari dari kenyatan dan lari dari tanggung jawab dengan melakukan rasionalisasi alias pembelaan ini itu terhadap tindakannya tersebut atas nama masih mencintai sang mantan. Padahal, kalau dipikir-pikir, semua yang dia anggap sebagai "takdir yang harus diluruskan" adalah sebuah nasib buruk yang semuanya juga berawal dari kepengecutan dia dalam menghadapi masalah. He's always blaming others, pathetic.

Drama tentang seorang perempuan cantik, yang karena begitu terobsesi dengan si lelaki pengecut, mencoba segala cara untuk merebut si lelaki pengecut. Tindakannya berhasil, iya, berhasil. Hanya saja, usahanya berhadapan dengan betapa tragis realita yang harus dihadapi kemudian, karena sampai kapan pun seorang pengecut akan tetap menjadi pengecut. Padahal, kalau dipikir-pikir, memang benar dia salah. Tetapi, sepenuhnya kita pun bisa secara sadar menyalahkan si lelaki pengecut karena si perempuan sudah melakukan upaya untuk redeem herself, mencoba menjadi pasangan yang baik. Sayang, si lelaki pengecut memang hanya mampu untuk menyalahkan orang lain tanpa pernah berkaca kepada diri sendiri. 

Nah, kan, terlalu banyak drama.

Jadi bagaimana dengan kehidupan ke-empat tokoh tadi pada akhir kisah?
Ya... Begitu...
D. R. A. M. A

Selayaknya sebuah drama religi, tentu saja diselipkan unsur agama di dalam novel ini. Seperti selayaknya sebuah drama percintaan yang mencoba mengaitkan alur kisahnya dengan sebuah mitologi, tentu saja novel ini menyelipkan kisah Ashima of the Yunnan. Akan tetapi, kedua selipan tadi porsinya terasa seperti dipaksakan; seolah HARUS seiring sejalan. Meh. Hanya demi menambah drama demi drama untuk masuk ke dalam keseluruhan isi cerita. Membacanya membuat saya merindukan tulisan-tulisan Asma Nadia yang dulu, ketika bukunya lebih banyak diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing House (sebelum melebur bersama Noura dan bergabung di Mizan Publishing). Saya, lebih memilih membaca kisah drama yang lebih nyata karena based on true stories dan dituturkan oleh mereka yang mengalami kisah-kisah tersebut (atau minimal diceritakan ulang berdasarkan kisah mereka yang mengalami langsung), dari pada membaca Assalammualaikum, Beijing!. Dan saya, lebih menghargai antologi Asma Nadia, dkk dari pada membaca Assalammualaikum, Beijing!. Begitulah... Saking saya merasa desperate dengan cara Asma Nadia mengemas kisah di buku ini.

Drama-drama ala kehidupan tokoh di buku ini terasa begitu... ngg... maksa banget. Membayangkannya, saya jadi lebih menghargai kisah-kisah di buku antologi Galz, Please Don't Cry: Pengalaman dan Strategi 14 Cewek Bangkit dari Patah Hati atau Karenamu Aku Cemburu: Curahan Hati Seorang Isteri atau La Tahzan, Cinta Tak Pernah Menyerah: The Real Dezperate Housewives. Setidaknya, drama yang ditampilkan oleh Asma Nadia, dkk di dalam buku-buku tersebut terasa lebih hidup dan bukan sinetron banget dan terkesan nganu lebaynya seperti yang ada di Assalammualaikum, Beijing!. Bisa kan ya, membedakan antara kisah yang luar biasa sinetron banget dan membuat muak vs kisah nyata yang sepertinya sinetron banget tetapi kita masih bisa berempati terhadap orang-orang yang mengalami? Saya, sulit sekali untuk bisa berempati terhadap apa yang dialami oleh para tokoh utama yang diperlihatkan seolah tegar menghadapi takdir, tetapi sebenarnya lebih memilih bersikap menye-menye.

Inkonsisten.

Saya membaca novel ini setelah orang begitu heboh membahas filmnya. Nope, saya tidak memustuskan untuk menonton filmnya meskipun banyak pujian dilontarkan. Saya malah sibuk membaca segala review (novel dan film), yang sebagian besar disampaikan dengan pemujaan luar biasa terhadap novel dan filmnya, sampai akhirnya saya dibelikan novelnya untuk siapa tahu bisa merasakan hal yang sama seperti kebanyakan review yang saya baca. Bagi saya, pemujaan mereka sungguh tidak imbang. Apalagi yang memuji diksi, puisi, dan kisah percintaan. Bagi saya, biasa saja. Kisah percintaan antara kedua tokoh utama (refleksi dari kisah mitologi Ashima dan Ahei) justru membuat saya mendapatkan kesan bahwa... Hold on... Spoiler... Seolah-olah, untuk bisa mendapatkan hidayah, ya harus melalui hubungan percintaan atau berpasangan dulu. Bukan dengan atas kesadaran sendiri. Entahlah, bagi saya, hal seperti ini berpotensi menimbukan misleading.

Satu-satunya yang saya sukai dari novel ini adalah gambar ilustrasinya. Take a look...




Overal 2/5


Cheers!
Have a blessed-day!