22 September 2016

Fangirl by Rainbow Rowell

Spring Galore

Catatan
  1. Materi  pembahasan buku Fangirl karya Rainbow Rowell di bawah ini pertama kali dipublikasikan pada tanggal 2 Januari 2015 di Personal Library of Nia F. S. Kartadilaga dan diedit untuk pertama kalinya pada tanggal 15 Januari 2015.
  2. Tidak ada banyak tambahan untuk editan per tanggal 22 September 2016 ini.
***


Fangirl by Rainbow Rowell
[Edited: 15/01/15]

Judul: Fangirl
Pengarang: Rainbow Rowell
Jenis: Young Adult Literature
ISBN: 602-715-0505 / 978-602-71505-0-8
Penerbit: Spring
Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halaman: 454++


BLURB

Cath dan Wren -- saudari kembarnya -- adalah penggemar Simon Snow. Oke, seluruh dunia adalah penggemar Simon Snow, novel berseri tentang dunia penyihir itu. Namun, Cath bukan sekadar fan. Simon Snow adalah hidupnya!

Cath bahkan menulis fanfiksi tentang Simon Snow menggunakan nama pena Magicath di Internet, dan ia terkenal! Semua orang menanti-nantikan fanfiksi Cath.

Semuanya terasa indah bagi Cath, sampai ia menginjakkan kaki ke universitas. Tiba-tiba saja, Wren tidak mau tahu lagi tentang Simon Snow, bahkan tak ingin menjadi teman sekamarnya!

Dicampakkan Wren, dunia Cath jadi jungkir balik. Sendirian, ia harus menghadapi teman sekamar eksentrik yang selalu membawa pacarnya ke kamar, teman sekelas yang mengusik hatinya, juga profesor Penulisan Fiksi yang menganggap fanfiksi adalah tanda akhir zaman.

Seolah dunianya belum cukup terguncang, Cath juga masih harus mengkhawatirkan kondisi psikis ayahnya yang labil.

Sekarang, pertanyaan buat Cath adalah: mampukah ia menghadapi semua ini?

***

First... Let's take a look on this picture...



Lucu, ya, cover-nya?
Iya!

Saya memutuskan untuk membeli Fangirl edisi terjemahan pertama kali karena modal impulsif, demi melihat cover unyu ini, hahaha. Saya membeli Fangirl di stand Penerbit Haru saat momen IIBF 2014. Untung juga karena saat itu harga Fangirl diberikan diskon yang lumayan untuk sebuah buku yang baru secara resmi launching.

Saya sudah mengincar Fangirl dari jauh-jauh hari, sejak sebelum edisi terjemahannya diterbitkan. Setelah membaca Attachment, Eleanor & Park, dan Landline, tentu saja saya ingin membaca buku Rowell yang Fangirl juga dong. Walaupun, selain Fangirl, semua buku Rowell yang saya baca adalah bermodal pinjam punya teman, hahaha. Sayangnya, saya tidak menemukan buku ini setiap ke Periplus atau Books & Beyond yang ada di Jakarta-Bandung. Akhirnya, ya sudah, saya sampai lupa untuk berburu buku Fangirl karena terbenam ke lautan kenangan terdalam akibat saya pun kembali mengalihkan fokus ke perburuan buku-buku sastra klasik. Sampai akhirnya saya menemukan edisi terjemahan dan tanpa memikir panjang langsung saja saya beli.

Sebenarnya sempat ragu untuk membeli Fangirl edisi terjemahan karena khawatir akan berakhir super jelek seperti terjemahan buku Rainbow Rowell yang berjudul Eleanor & Park. Tapi modal nekat saja. Penerbit Spring merupakan lini dari Penerbit Haru. Selama ini review terhadap hasil terjemahan Penerbit Haru dinyatakan baik, jadi saya berasumsi bahwa terjemahan Fangirl juga akan sama baiknya.

Lalu, apakah asumsi saya terbukti benar?
Definitely!

Terjemahan Fangirl bisa dikatakan bagus, mengalir. Jauh lebih baik dibandingkan dengan terjemahan Eleanor & Park.

Saat saya me-review buku Fangirl edisi terjemahan, saya juga membandingkannya dengan Fangirl edisi berbahasa Inggris milik teman saya, sekaligus membandingkannya dengan Eleanor & Park edisi berbahasa Inggris (yang juga) milik teman saya. Semua saja, milik teman saya, hahaha kurang bermodal.

Sepertinya, saya bukan satu-satunya yang membandingkan Fangirl dengan Eleanor & Park. Mengingat bagaimana kontroversi Eleanor & Park dulu, terutama terkait masalah censorship ucapan kasar/kotor (profanity) dan juga adegan itu (dengan standar kaum bule maupun standar adat Timur ala Indonesia). Bahkan, ada sekelompok orang tua yang menentang buku Eleanor & Park untuk ada di perpustakaan sekolah karena buku tersebut dianggap terlalu cabul untuk menjadi bacaan remaja (teenlit). Menurut saya pribadi, buku Eleanor & Park dan juga Fangirl lebih tepat dianggap sebagai young adult literature sih dibanding dianggap sebagai teenlit. Usia para tokohnya berada di peralihan antara remaja dan dewasa muda (18-22 tahun) dan untuk standar Indonesia, beberapa adegan memang ada yang kurang pantas untuk dilakukan oleh remaja meskipun pada kenyataannya cukup banyak remaja yang sudah melakukan hal tersebut.

Hal-hal apa saja yang menjadi masalah censorship ini?

Pertama, terkait adegan itu alias sexual content. Baik di Eleanor & Park maupun di Fangirl, ada sexual content di dalamnya. Adegan ini, di edisi terjemahan Fangirl pun tetap ada. Menurut saya, dibandingkan dengan sexual content yang ada di Eleanor & Park -- yang dianggap terlalu dewasa untuk dijadikan adegan di buku remaja -- maka Fangirl terasa lebih sopan dan lebih remaja. Meskipun demikian, menurut saya, untuk alasan apapun, sebaiknya remaja tetap tidak melakukan hal terkait adegan-adegan tersebut (ciuman, berhubungan badan, dan seterusnya). Di beberapa narasi, tokoh di Fangirl juga secara "santai" membahas tentang sexual content. Misalnya, membandingkan ciuman dengan si A dan B.

Masih terkait dengan adegan yang menjadi isu censorship. Di Fangirl juga ada adegan-adegan (bahkan penjelasan) tentang tokoh-tokohnya yang pergi ke bar, minum alkohol, dan mabuk-mabukan. Ini juga a BIG NO untuk dilakukan ya adik-adik remaja semuanya... 

Kedua, terkait profanity alias ucapan kasar/kotor (Fword). Sama seperti di Eleanor & Park, di Fangirl juga mengandung kata-kata yang masuk ke swearing (menyumpah, mengumpat kasar) dan well... di buku yang berbahasa Inggris cukup "murahan" juga kata-kata tersebut dilontarkan hahaha. Bagaimana dengan buku edisi terjemahan? Tenang... Lebih smooth kok. Misalnya (p. 263)...
"... Kau bodoh kalau sembunyi di perpustakaan sepanjang waktu..."
"Jangan bodoh. Tentu itu penting. Aku benar-benar merasa menyesal soal apa yang terjadi. Maksudku, bukan salahku kalau kau menciumnya dan dia mencium si pirang bodoh itu, tapi seharusnya aku tidak mendorongmu. Itu tidak akan terjadi lagi, selamanya, dengan siapapun. Aku sudah muak dengan dorong-mendorong."  
***

Terlepas dari segala masalah censorship di atas, Fangirl menurut saya berhasil menciptakan karakter utama yang well-written dan memiliki sikap atau karakter kuat. Kerennya lagi, Rowell menciptakan karakter-karakternya bukan lewat jenis fairy-tale di mana setidaknya ada satu tokoh utama yang begitu perfect-popular (dan seringnya, yang digambarkan perfect-popular ini adalah karakter laki-laki di teenlit, young adult literature, dan chicklit atau metropop). Rowell justru menciptakan karakter-karakter utama, yaitu Cath (perempuan) dan Levi (laki-laki), yang keduanya memiliki kekurangan dan bagaimana mereka harus struggle untuk bisa bertahan hidup sebagai makhluk sosial maupun sebagai bagian dari keluarga, dan yang paling penting; sebagai mahasiswa. Selain itu, Rowell juga mendeskripsikan tentang bagaimana Cath dan Levi akhirnya saling membantu. Inilah sisi unik dari Fangirl karena karakter-karakternya begitu real. Kita bisa dengan mudah menemukan jenis karakter-karakter tersebut dengan berkaca pada diri sendiri maupun dari orang-orang di sekitar kita.

Penasaran dengan apa saja kekurangan-kekurangan dari Cath dan Levi? Ya, gampang, tinggal baca (dan beli!) saja bukunya, huehehe~

Kisah si kembar Cath dan Wren juga mengingatkan saya pada buku TwiRies Teh Evi-Eva. Mengingatkan saya juga pada para balita; twin Lee Seo-oen dan Lee Seo-jun serta triplet Song Dae-han, Song Min-guk, dan Song Man-se di variety show The Return of Superman yang menemani saya di setiap akhir pekan sejak awal disiarkan sampai sekarang. Mereka sama-sama kembar. Ada yang mirip di antara mereka, tetapi lebih banyak lagi yang berbeda. 

Sebagai kembar, Cath dan Wren begitu berbeda. Wren sangat outgoing. Hal ini membuat Wren lebih populer secara sosial dibandingkan Cath, serta lebih mudah beradaptasi di lingkungan baru dengan teman-teman baru. Hanya saja, Wren sepertinya terlalu naive dan mudah percaya pada orang lain, akibatnya dia lebih mudah terjerumus ke dalam pergaulan yang salah dan menganggap hal yang salah itu sebagai hal yang seharusnya tidak masalah untuk dia lakukan. Sementara Cath lebih introvert, minder, dan (karena kecemasan-kecemasan yang dimilikinya) dia tidak mudah berbaur di lingkungan sosial yang baru serta terlalu banyak berpikir jauh ke depan hingga sering berakhir memiliki asumsi macam-macam tanpa pernah cross-check terlebih dahulu. 

Rowell juga menciptakan narasi yang flawless bagi saya. Penggambaran setiap karakter dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing, serta bagaimana adegan tiap adegan bergulir, itu terasa hidup dan begitu mengalir lancar; begitu detail.

Proses adaptasi terhadap kehidupan baru, petualangan baru, kondisi sosial yang baru, lingkungan yang baru itu mengingatkan saya ketika pertama kali keluar dari Bandar Lampung dan menuju Depok, keluar dari kehidupan bersama keluarga untuk memulai tinggal sendiri di kos, keluar dari kehidupan ala anak sekolah dan memulai kehidupan sebagai mahasiswa untuk pertama kalinya beberapa tahun yang lalu, serta harus berbaur dengan beragam jenis karakter serta lingkungan sosial yang baru dan harus menyesuaikan diri di dalamnya. Bagi yang "normal" dan mudah beradaptasi, mungkin tidak masalah. Tetapi, bayangkan jika kita memiliki masalah-masalah tertentu dan sebelumnya berada di lingkungan yang nyaman, kemudian harus struggling by our own untuk bisa tune in di tempat baru sesuai dengan kapabilitas masing-masing. Nah, gambaran-gambaran seperti inilah yang dideskripsikan dengan baik oleh Rowell di dalam buku Fangirl.

Saya jadi ingat beberapa quote yang mendukung penggambaran adegan-adegan tersebut...
It is not the strongest that survives; nor the most intelligent that survives. It is the one that is most adaptable to change - Charles Darwin
Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid - Einstein 

Penasaran?
Ya sudah, baca (dan beli!) saja buku Fangirl untuk bisa merasakan langsung mengapa saya mengaitkan kedua quotes di atas terhadap proses-proses kehidupan yang dialami oleh para tokoh di Fangirl, muehehe~

***

Rumus standar buku-buku sejenis ini adalah:


  1. Cewek dan kehidupan sosialnya
  2. Cewek dan kehidupan keluarganya
  3. Cewek dan kehidupan sekolahnya
  4. Cewek dan cowok-cowok di sekitarnya

Tetapi, yang saya sukai dari buku-buku genre ini yang berasal dari luar negeri adalah, saya selalu menemukan sisi positif yang terkandung di dalamnya dan menjadi tema utama yang memiliki nilai selevel beyond expectation karena ternyata isi bukunya tidak se-cemen yang digambarkan oleh blurb.

Fangirl juga mengingatkan saya para masa-masa membaca Princess Diaries waktu masih SMP-SMA dulu. Excitement yang saya rasakan sama. Jenis ketertarikan dan perasaan senang yang sudah banyak pudar demi membaca kisah remaja zaman sekarang yang didominasi kesuraman dan ke-alay-an luar biasa dalam menghadapi masalah hidup (belum ditambah adegan menye yang sampai di taraf annoying karena terasa overdosis) -- sehingga isinya terasa lebih fake bagi saya. Mungkin Princess Diaries lebih seperti fairy-tale bagi beberapa orang, tetapi saya melihatnya sebagai sebuah buku yang mengajarkan seorang remaja berproses menuju dewasa dengan melalui obstacles alias kerikil maupun batu yang mungkin mengganggu selama melalui proses kehidupan tersebut; sama halnya ketika saya melihat Fangirl. 

Jika Princess Mia of Genovia harus melalui perubahan hidup dari seorang yang nerd-clumsy menjadi seorang Putri dari sebuah Kerajaan kecil dan harus beradaptasi dengan seluruh kemampuan yang dia miliki, maka Cath of Omaha harus keluar dari kehidupan nyamannya di Omaha bersama Ayah dan saudari kembarnya menuju kehidupan kampus di kota yang lebih besar dengan melawan segala jenis kecemasan yang dimilikinya. 

Setelah lama dikecewakan oleh buku-buku remaja yang banyak beredar di luaran sana, ditambah saya sendiri sedang lebih banyak fokus di sastra klasik segala genre, maka membaca Fangirl ini seperti sedang refreshing yang benar-benar membuat fresh.

Rowell menuliskan kisah Cath lewat sudut pandang orang ke-tiga dan surprisingly, saya sama sekali tidak terganggu. Bahkan, kita masih bisa merasakan seolah semua pandangan itu berasal dari isi kepala Cath sendiri.

Bagi pembaca buku dan juga seorang Potterhead, pasti bisa merasa begitu terkait dengan kehidupan Cath sebagai Magicath dan fanfiksi Simon Snow yang dia buat. Bagi penggila Korean-wave dan pernah membuat fanfiksi, juga pasti merasa begitu terkait dengan Cath yang penggila dan pembuat fanfiksi Simon Snow. 

Selipan kisah Simon Snow di setiap bab dalam Fangirl

Saya sendiri bukan orang yang pernah membuat fanfiksi seperti Cath, saya juga tidak merasa sebagai fangirl numero uno dan tidak memiliki idola tertentu selain mengidolakan diri saya sendiri hahaha... Tetapi, saya penikmat fanfiksi dan sering membaca fanfiksi meskipun sekarang sudah tidak lagi. Saya banyak membaca fanfiksi itu sekitar tahun 2007-2012. Para blogger Indonesia juga banyak yang membuat fanfiksi. Tetapi, saya lebih banyak melihat fanfiksi blogger Indonesia yang berdasarkan drama-drama maupun idola-idola dari Asia Timur (Korea Selatan, Jepang, Taiwan, China) dibandingkan dari buku. Entahlah, mungkin saya kurang mengulik informasinya.

Banyak yang mungkin menarik napas panjang dulu begitu melihat seberapa tebal buku Fangirl. Demi melihat margin space di buku ini pun saya sedikit terganggu, mungkin untuk mencegah buku menjadi jauh lebih tebal (dan harga menjadi lebih mahal!) jika margin space diperlebar lagi hahaha. Untuk ukuran buku seperti Fangirl ini, saya lebih memilih jika ada edisi hardcover untuk mencegah cover mudah lecek seperti milik saya sekarang.

Overal 4,5/5

Cheers!
Have a blessed-day!