09 September 2016

Bookstagram Features Part One : Bookish Lifestyle Ideas

Apa jadinya jika mencoba untuk mengubah konsep di instagram dengan persiapan seadanya? Ya, begini, hasilnya seperti yang saya alami sendiri. Hahaha. Menjadi seorang Bookstagrammer bukanlah hal mudah. Setidaknya bagi saya, yang memiliki pengalaman fotografi nyaris nihil dan peralatan penunjang yang apabanget ini.


Awalnya saya memilih membedakan akun personal dan akun khusus buku di instagram. Makanya, selain memiliki akun niafajriyani, saya juga sempat memiliki akun me.reads. Akun niafajriyani untuk update segala jenis yang random, sementara akun me.reads saya gunakan untuk update khusus buku. Kemudian, berbulan-bulan saya tidak dapat mengakses blog dan semua akun social medias. Entah kenapa, yang jelas tahu-tahu saya sama sekali tidak bisa mengakses semuanya. Surem...


Baru ketika menjelang saya ulang tahun bulan Agustus kemarin, saya akhirnya kembali mengakses blog dan social medias, termasuk instagram. Hurray! Tapi, tetap ada tapi... Sampai saat ini, semua akun instagram personal maupun komunitas dan online bookstore yang saya buka menggunakan handphone mengalami serangan bot dan sering log out sendiri. Saya sering menerima email notifikasi, bahkan ada pop up muncul di instagram, yang menyatakan bahwa akun-akun saya sering dicoba untuk diakses (baca: kemungkinan hacked) oleh orang-orang yang berdomisili di USA, China, Taiwan, dan lainnya. Saya sampai bingung, apa menariknya akun saya? Hahahaha. Setidaknya masih bagus ada notifikasi muncul ya, dibandingkan tahu-tahu hilang total akses saya untuk eksis di social media. Pret!


Dengan kembalinya saya ke dunia blog dan social media, saya pun memutuskan untuk sedikit mengubah konsep. Blog pun saya bikin yang ber-domain. Foto-foto di instagram juga saya bikin agak bagusan, sedikit. Paling tidak, bukan jenis foto asal-asalan lagi deh. Ini udah cukup. Hahaha. Demi ini, saya mengubah blog untuk lebih ke nuansa hitam-putih dan logo dibuatkan oleh David dengan mengusung penampakan saya untuk kepentingan publikasi Boekoe Factory Outlet; penampakan tante-tante centil itu... Urusan domain dibantu oleh Oky, sementara banner saya bikin sesukanya-yang-penting-ada. 


Akun instagram me.reads saya ubah menjadi library.of.nia dan saya khususkan untuk membahas buku-buku import. Sementara akun instagram niafajriyani saya khususkan untuk membahas buku-buku lokal dan terjemahan, selain tetap untuk pajang selfie nan alay. Hahaha. Selain itu, saya juga membuat fanpage untuk blog ini; akan segera diaktifkan. Jangan lupa follow dan sedekah likes, ya, kak. Eaaak...


Nah, yang lebih agak modal itu ya menyiapkan properti foto-foto. Setelah semadi beberapa hari -- halah -- saya memutuskan untuk menggunakan beberapa properti utama berikut:

  1. Handuk putih, beberapa kertas kado vintage maupun hitam-putih, karton putih, karton metalik, karung goni, tikar kecil, dan tirai bambu -- untuk background. Handuk putih mudah, lah, ya untuk mendapatkannya. Kertas kado saya dapatkan di Gramedia Matraman, seharga Rp 7.500,00 per lembar. Kertasnya bagus, bahannya tebal, dan saya menemukan yang desain world maps incaran dengan nuansa vintage. Karton putih dan metalik saya dapatkan di  tempat fotokopi dekat kos seharga Rp 1.500,00 per lembar. Karung goni, tirai bambu, tikar kecil itu saya dapatkan entah dari mana saja waktu itu hahaha. Salah satunya pasti Paperclip, sih. Ada yang di Paperclip Kokas, ada yang di Bekasi.
  2. Bunga-bunga sintetis, daun-daun, ranting-ranting, dan pita-pita ini saya dapatkan sebagian besar dari beli online di instagram. Ada juga yang saya beli di Paperclip dan Gramedia. Beberapa jenis bunga dan keramiknya itu ada juga saya pinjam dari properti di kos. Hihi.
  3. Bunga-bunga kayu itu saya beli di beberapa stand di beberapa Mall di Jakarta yang menjual perlengkapan aromatherapy. Begitu juga untuk lilinnya.
  4. Blocknotes, kartu-kartu, bookmarks, dan printilan kecil lainnya itu saya dapatkan dari berbagai lokasi. Ada yang saya beli di Gramedia, Paperclip, Scoop, Karisma, obralan, diskonan, online, dan sebangsanya.
  5. LED lamps kecil-kecil saya dapatkan dari toko yang menjual beragam lampu di dekat kos. Harganya cukup murah dibandingkan beli online, yaitu Rp 40.000,00 dan bisa di-setting hingga 8 jenis pijaran. Panjang sekitar 10 meter. Saya pilih yang lampunya berwarna kekuningan. Kalau mau pilihan warna lainnya ada, bahkan yang warna pelangi juga ada.
  6. Sisanya, seketemunya dari perlengkapan yang saya miliki di kos.

Selain properti, saya juga menggunakan emergency lamp dan senter untuk tambahan penerangan -- apalagi saya mengandalkan penerangan ruangan di kos yang tidak terkena cahaya matahari langsung. Jadi, harap maklum saya kalau masih ada bayangan apalah-entah...

Coba, deh, perhatikan foto-foto di bawah ini...

 

 

 

 

 

Terlihat, kan, ya betapa apalah-entah foto-foto tersebut. Hahaha. Terlihat, juga, kan kalau bertabur bayangan-cahaya yang apalah-entah juga? Pastinya... Belajar, lah, ya... Sikit-sikit... Sekarang, banyak properti yang pinjam dari fasilitas punya kos. Ya, mana tahu, nanti-nanti lebih modal lagi. Hahahaha... 

 

 

 

Setidaknya, dengan agak usaha begini, penampilan jadi agak enak dilihat. Lucunya, bahkan sampai membuat beberapa orang jadi bertanya ke saya mengenai rahasia saya bisa membuat foto-foto seperti itu; dan sebagian besar kaget waktu saya kasih tahu kalau saya menggunakan handuk putih untuk background! Hahaha...

Setiap Bookstagrammer terkenal dengan jumlah followers yang bejibun juga pasti memiliki starting point masing-masing saat mereka pertama kali mencoba posting buku di instagram; sebelum akun mereka menjadi besar dan keahlian mereka juga menjadi lebih mumpuni. Salah satu yang saya sukai adalah proses yang dialami oleh Evie. Lihat, deh, bagaimana progress dia dulu dibandingkan sekarang -- bandingkan juga kualitas fotonya dulu dengan sekarang. Nah, Evie adalah role model saya dalam mengubah konsep. Masih jauh, sih, perjalanan saya ke sana. Masih seadanya banget yang saya lakukan saat ini; masih agak sesukanya juga. Hahaha.


Cerita selanjutnya akan saya posting setelah materinya siap. Tunggu, ya! 

Cheers!



Have a blessed-day!