11 September 2016

Bookish Features Part One : Bookish Official Merchandices

Dunia perbukuan itu tidak terlepas dari dunia per-printilan terkait lainnya. Misalnya, ya itu, nganu... yang akan saya bahas kali ini; Printilan-printilan buku yang duh-susah-kalau-tidak-diadopsi-saking-unyunya. Apalagi, ada yang saya dapatkan karena pas momennya sedang heitzs terkait printilan yang dimaksud.

Nah... 
Cekidoott...

Langsung saja klik read more untuk melihat Bookish Feature edisi perdana saya yang khusus membahas beberapa printilan yang saya maksud tadi, yang sempat saya ceritakan di akun instagram personal saya juga. Langsung saja klik (dan/atau follow) link ini, ya, untuk lihat update yang dimaksud serta update saya lainnya. Hihi... Bisa juga klik (dan/atau follow) link ini untuk lihat update saya terkait buku-buku berbahasa Inggris. Soalnya, saya membedakan akun khusus untuk update buku-buku berbahasa Inggris (imported-books) dengan akun yang saya gunakan untuk update buku-buku lokal berbahasa Indonesia serta buku-buku terjemahan -- sekaligus lebih personal juga akunnya.

***


Setiap habis belanja, biasanya tangan otomatis main buang struk belanjaan. Kadang malah langsung dibuang di tempat sampah terdekat dari posisi kasir. Makanya pas lihat info terkait bonus emoji flush Doraemon waktu itu agak-agak gimanaaaa gitu. Lumayan banget bisa nebus 3-4 emoji flush lah ya kalau struk yang lainnya tetap ada. Soalnya waktu itu lagi sering-seringnya ke Gramedia untuk beli beberapa kebutuhan. Ini juga bisa dapat 2 emoji flush karena setelah bayar sempat mampir ke counter Customer Service - ada yang mau ditanya soal buku import yang dicari - dan petugas yang in charge kasih info soal bonus Doraemon begitu tahu total belanjaan saya waktu itu. Bisa aware soal Dorayaki pillow yang bisa ditebus dengan harga 60% lebih murah (dengan minimal transaksi pembelanjaan yang sama untuk adopsi emoji flush) juga karena ada anak kecil yang baru tebus Dorayaki pillow waktu saya lagi tanya-tanya CS. Nganu emang, hahahaha. Kalau kalian mau berbaik hati kasih 4 emoji flush lainnya, dengan senang hati diterima.

***



Sudah lama berhenti mengumpulkan segala printilan Donald Duck yang dimulai waktu SMP dulu. Berhenti semenjak lulus S1. Barang-barang yang terkumpul juga sudah menyebar ke sana-sini. Apalagi untuk buku, ya, ini sih entah deh yang lain ada di mana-mananya tidak terlacak lagi. Dulu masih agak baik untuk meminjamkan buku, saking baiknya sampai lupa siapa yang meminjam dan tidak mengembalikan *cakar*. Sisa sedikit sekali di rumah untuk barang-barang. Kalau buku, ngg... *nangis*. Jadi, ya sudah, cukup dengan mengumpulkan edisi Birthday Gift sahaja.

Updated
Akhirnya saya juga memutuskan untuk mengoleksi beberapa buku yang terkait dengan Donald Duck juga. Misalnya, kisah hidup Paman Gober, kisah cinta Donald dan Daisy, dan lainnya. Saya belum sempat foto buku-bukunya. Lain kali akan saya update di instagram dan blog juga, ya...


***


Hai, Miiko! #kocchimuitemiiko - Jadi ingat zaman mengerjakan skripsi jutaan abad kegelapan lalu saking rasanya sudah lama banget berlalu (pret!). Kisahnya Miiko ini jadi pelarian favorit waktu lagi suntuk nan bosan nan gumoh nan MALAS mengerjakan revisian. Dulu di Depok ada rental buku (sekaligus jual buku lebih murah dari harga Gramedia juga walaupun super dikit jualannya) yang punya koleksi superb, bernama Bubu. Sewa per buku juga subhanalloh murahnya, makanya sekali pinjam utk 3 hari itu bisa setidaknya belasan buku. Betah deh begadang non stop baca buku di kosan, kadang tanpa tidur, untuk ngebut baca buku hahahaha. Mas penjaga rental juga baik; kalau saya datang, kaya sudah tahu selera buku yang mau saya pinjam itu apa, jadi tinggal dengar dia jabarin list buku terbaru or yang sudah dikembalikan sama peminjam sebelumnya. Sering kasih rekomendasi buku/manga/manhwa juga. Tapi waktu itu saya belum suka dengan manhwa. Mungkin terlalu terbiasa dengan manga, jadi mata agak sakit kalau liat manhwa yang waktu itu tarikan garisnya terasa lebih kasar. Sekarang sih manhwa or K-toon oke aja untuk dibaca, mata sudah lebih beradaptasi, huehehe... 



Nah, Miiko ini salah satu serial manga yang berulang kali saya pinjam di era ikrib-ikribnya dengan skripsi itu. Tapi belum terlalu lama saya memutuskan untuk mengoleksi. Kalau lagi kangen baca Miiko tinggal pinjam baca koleksinya si adek. Makanya, ketinggalan untuk punya collector's box Miiko pertama yang isinya buku 1-8. Untuk serial terbaru sengaja belum beli, tunggu collector's box ke-4 keluar, sambil mengumpulkan merchandise items Miiko yang jenisnya beragam ini. Baru punya 2 cushion cover (berhubung bantal ukuran 30x30 cm cuma ada 1 dan bantal-bantal pesanan belum selesai, jadi bongkar dulu bantal yang ada untuk diganti cover Miiko), luggage tag, pouch, pencil case, dan totebag (bagus banget!). Masih ada yang katanya belum masuk ke Gramedia, yaitu wrapping paper, eye sleeping mask, dan drawing table. Sisanya ada travel pillow (pakai hoodie Miiko dan Tappei) dan t-shirt Miiko dan Tappei yang sengaja belum dibeli karena anu... Nganu lho, tunggu kalian yang membelikan wakaka.

Updated
Kaos Tappei dan Miiko sudah terbeli. Tapi memang belum saya foto juga, sih. Hehehe. Tinggal sisanya, nih, karena masih menunggu produk merchandises lainnya masuk ke toko buku Gramedia. Belum tahu kapan. Terakhir ke Gramedia sekitar pekan ke-tiga September 2016 dan masih belum ada.

***

Nantikan update saya selanjutnya untuk Bookish Feature Part Two yang akan lebih membahas mengenai obsesi saya dalam mengoleksi buku-buku Word Cloud Classics series dan Leather Bound Classics series terbitan Canterbury Classics. 

Cheers!



Have a blessed-day!