02 December 2014

Zidan dan Zilan

Zidan dan Zilan merupakan anak laki-laki kecil berusia sepuluh tahun. Mereka kembar identik, wajah mereka sangat mirip satu sama lain dan sulit sekali untuk dibedakan. Hanya saja, Zidan Zilan sering berbuat nakal sehingga tidak ada yang mau bermain bersama mereka.
“Zidan! Ayo naik lagi, di sini buah jambunya lebih banyak!” seru Zilan kepada saudara kembarnya. Mereka sedang memanjat pohon jambu milik Pak RT yang terkenal berbuah lebat dan manis di kampung mereka.
Sumber Ilustrasi : Annabella Says

Zilan yang mendengar ajakan Zidan segera naik ke bagian atas pohon yang dimaksud, tanpa berpikir lagi. “Wah, iya. Ayo kita makan sampai puas hahaha...” Zilan bersorak girang.
Pak RT yang tiba-tiba melihat ulah mereka sontak berteriak memanggil Zidan dan Zilan untuk turun, “Zidan! Zilan! Turun sekarang juga!”
Zidan dan Zilan terpaksa menurut dan turun ke bawah. Mereka berjalan menunduk di depan Pak RT.
“Saya kan sudah bilang kepada kalian berulang kali. Saya bebaskan kalian, silakan ambil buah jambu sepuasnya, asalkan kalian meminta izin dulu kepada saya atau kepada Bu RT.”
Ibu yang mengetahui ulah Zidan dan Zilan segera bergegas ke rumah Pak RT untuk menjemput mereka berdua. “Waduh... Maaf, Pak. Mereka berulah lagi ya?”
“Ayo, minta maaf!” tegas Ibu. Baru kemudian Zidan dan Zilan meminta maaf dengan suara terbata-bata kepada Pak RT.
“Saya maafkan, tapi tidak untuk lain kali!” Zidan dan Zilan belum pernah melihat Pak RT se-marah itu saat bersikap terhadap mereka berdua.
“Iy... Iya, Pak. Saya minta maaf. Saya janji tidak akan mengulangi.” kata Zidan.
“Saya juga minta maaf, Pak. Saya juga janji tidak akan mengulangi.” lanjut Zilan.
Ibu kemudian menggamit tangan Zidan dan Zilan.
Wajah Ibu terlihat memerah, “Gawat...” pikir Zidan.
“Ibu pasti akan marah besar...” kata Zilan di dalam hati.
Benar saja!
“Mulai besok, kalian akan selalu diantar-jemput oleh Ibu jika ke sekolah dan les. Uang saku kalian juga Ibu hentikan!”
“Tapi, Bu. Itu berlebihan!” sahut Zilan tidak terima.
“Tidak ada alasan lagi!” tegas Ibu.
Zidan dan Zilan saling berpandangan, mereka tidak menyangka bahwa ulah mereka kali ini membuat mereka kehilangan uang saku dan kebebasan bermain.
“Tadi siang Ibu mendapat laporan dari sekolah. Katanya nilai kalian di sekolah juga mengalami penurunan. Jadi, kalian harus lebih sering berada di rumah untuk belajar. Ayah sudah menyiapkan guru les privat untuk kalian. Besok siang, guru tersebut akan mulai mengajar.”
Zidan dan Zilan hanya melongo menghadapi pernyataan Ibu barusan. Mereka ingin membantah, tetapi Ibu terlihat masih sangat marah.
Keesokan hari, guru les benar-benar datang ke rumah. Postur tubuhnya tinggi dan tegap, kulitnya berwarna coklat tua, rambutnya gondrong dan ada uban putih menghiasi rambut, matanya menatap tajam, dan senyumnya terlihat menakutkan.
Uh, oh.
“Halo, saya Pak Bagus, mulai hari ini akan mengajar kalian di rumah!” Pak Bagus menjabat tangan Zidan dan Zilan dengan tegas. Zidan dan Zilan merapatkan tubuh, mereka tiba-tiba saja merasa sangat takut.
“Kita ke halaman, yuk!” Pak Bagus mengajak Zidan dan Zilan menuju ke halaman rumah. Di sana, ada pohon belimbing yang sedang tidak berbuah. Di atas pohon, ada seekor anak kucing yang sepertinya sedang ketakutan untuk turun ke tanah. Pak Bagus mendapatkan sebuah ide. Dia kemudian mengajukan pertanyaan kepada Zidan dan Zilan, “Saya dengar, kalian senang memanjat pohon. Benar?”
“Kalian lihat anak kucing di atas pohon itu? Kira-kira, apa yang sedang terjadi pada anak kucing tersebut?”
Zidan mendongak ke atas pohon, “Duduk?”
Zilan ikut melihat ke atas pohon lagi, “Ngg... Sedang duduk, kan?”
“Coba kalian perhatikan lagi. Ayo, kita mendekat ke pohon.” ajak Pak Bagus. “Lihatlah, kira-kira apa yang sedang dialami oleh anak kucing ini?”
Zidan dan Zilan semakin mencoba mendongakkan kepala, memperhatikan dengan seksama anak kucing tadi, dan berusaha menerka apa yang sedang dia alami di atas pohon belimbing.
“Oh!” seru Zidan dan Zilan nyaris bersamaan.
“Bagaimana?” Pak Bagus bertanya kepada Zidan dan Zilan lagi.
“Dia lagi ketakutan, ya Pak?” terka Zidan.
“Begitu ya...” kata Pak Bagus, “Kalau begitu, apa yang bisa kalian lakukan untuk membantu kucing kecil ini?”
“Membantunya...” jawab Zidan.
“Bagaimana caranya?” tanya Pak Bagus kepada mereka lagi.
“Mengambil anak kucing tadi dan membawanya turun ke bawah.” jawab Zilan.
“Oke. Coba kalian contohkan bagaimana caranya!” perintah Pak Bagus.
Zidan dan Zilan kemudian memanjat pohon belimbing tersebut dan mendekati anak kucing yang sedang duduk ketakutan tadi.
“Kucing kecil, kamu jangan takut ya...” ujar Zilan, mencoba menenangkan si anak kucing.
“Iya. Kamu jangan takut. Aku dan Zilan sedang mencoba menolong kamu.” Zidan ikut mencoba menenangkan si anak kucing.
Pak Bagus tersenyum melihat interaksi mereka.
Di hari lainnya, Pak Bagus mengajak Zidan dan Zilan ke lapangan yang ramai diisi oleh anak-anak yang sedang bermain. Saat itu, Pak Bagus sedang mengajarkan Zidan dan Zilan sambil melihat apa saja yang bisa dipelajari dari lingkungan sekitar rumah. Ketika anak-anak tersebut melihat Zidan dan Zilan datang, mereka terlihat buru-buru untuk pergi. Zidan dan Zilan merasa malu. Tiba-tiba, ada anak kecil yang dulu mainannya pernah dirusak oleh Zidan dan Zilan, terjatuh dan dia terluka. Zidan dan Zilan yang melihatnya segera berlari ke arah anak kecil tersebut dan mencoba membantunya.
“Wah, berdarah!” seru Zidan, dia kemudian berlari ke rumah untuk mengambil kotak kecil yang berisi obat-obatan.
“Adik kecil, jangan menangis yaa...” ucap Zilan, dia meniupi luka di lutut anak kecil tadi supaya lukanya tidak terasa terlalu sakit.
Saat Zidan kembali ke lapangan, Zidan dan Zilan segera mengobati anak kecil tadi dengan dibantu oleh Pak Bagus. Kemudian, Zilan menggendong anak kecil di punggungnya dan membawa dia pulang ke rumah. Pak Bagus dan Zidan juga ikut menemani anak kecil pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, orang tua anak kecil sempat terlihat panik, bahkan menyangka bahwa anaknya terluka akibat ulah Zidan dan Zilan. Untungnya, Pak Bagus sudah menjelaskan yang sebenarnya. Jadi, Zidan dan Zilan tidak dimarahi. Bahkan, Zidan dan Zilan menerima ucapan terima kasih dari orang tua anak kecil tadi.
Kejadian Zidan dan Zilan yang membantu anak kecil tersebar luas di perkampungan mereka. Zidan dan Zilan tidak lagi dianggap sebagai anak nakal. Perilaku mereka juga menjadi lebih sopan. Mereka tidak pernah lagi mengambil atau merusak milik orang lain sembarangan. Mereka juga tidak pernah lagi mengambil buah di pohon milik orang lain, tanpa meminta izin dulu dari pemiliknya.

***
#1Minggu1Cerpen merupakan project pribadi saya, yang dimulai pada bulan Februari 2014 namun sempat terhenti selama beberapa bulan. Ini adalah cerita ke-18 di program ini.

Cheers!
Have a blessed-day!