10 December 2014

Setiap Orang adalah Pahlawan bagi Kotanya

*
Karya dari Mbak Hobbit yang diikutsertakan di #SGANia November ft Lawang Buku, dan dikirimkan melalui email.


Setiap Orang adalah Pahlawan Bagi Kotanya
Tiap orang punya kesempatan yang sama untuk jadi pahlawan.” –Ainun Chonsum-

Langit kota Makassar mendung, sama mendungnya dengan pemberitaan di media tentang kota ini. Musim hujan sudah tiba. Penghujung November sampai dengan awal bulan April mungkin waktu yang tepat agar kota ‘panas’ ini diguyur hujan. Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah mengumumkan kenaikan BBM sejak tanggal 18 November 2014 lalu. Makassar bahkan sudah ‘beraksi’ jauh sebelum pengumuman kenaikan disahkan oleh orang nomor satu di republik ini.
Kota dengan populasi 1,4 juta jiwa ini—menempati urutan kelima kota terpadat di Indonesia[1]—telah membangun image-nya sendiri. Berdiri di atas pemberitaan besar-besaran oleh media, tentu saja dengan bantuan beberapa oknum masyarakat yang ‘membenarkan’ anggapan masyarakat Indonesia dan bahkan mungkin dunia bahwa kota ini adalah kota yang menakutkan.
Tidakkah Sultan Hasanuddin menangis dalam kuburnya mengetahui bahwa keturunannya sedang ‘berjuang’ membuat kota ini terkenal dengan manusia keras dan kasarnya?
Setiap 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Suasana Hari Pahlawan di kota Daeng—dilihat dari kotak persegi bernama televisi—diwarnai dengan demonstrasi di mana-mana bahkan hingga memasuki awal bulan Desember ini[2]. Lalu, apakah tindakan yang dilakukan ‘sebagian kecil’ masyarakat dengan demonstrasi mencerminkan sikap kepahlawanan?
Pahlawan bisa berarti lebih luas. Tak perlu angkat senjata melawan penjajah pun semua orang bisa jadi pahlawan. Tak perlu memegang bambu runcing, semua orang punya kesempatan untuk jadi pahlawan. Tak perlu menjadi guru, tak perlu menunggu punya jabatan tinggi, tak perlu menjadi yang berkuasa, semua orang adalah pahlawan bagi lingkungannya.
Setiap orang memiliki jiwa pahlawan dalam dirinya. Jiwa kepahlawanan itu tercermin dalam sikap empati. Dengan empati tersebut, seseorang akan selalu memiliki keinginan untuk menolong orang lain. Jadi, pahlawan dapat diartikan sebagai semua orang yang punya jasa terhadap lingkungannya—sekecil apapun yang ia lakukan.
Mari tinggalkan demonstrasi destruktif[3] ala beberapa oknum yang justru membuat citra sebuah kota semakin buruk di mata umum. Mari menengok oknum lain yang berusaha membuat sebuah kota menjadi lebih bermartabat, kreatif, dan tentunya lebih berwarna. Orang-orang dengan pikiran positif yang memiliki jiwa pahlawan di dalam dirinya.
Ada banyak cara untuk memajukan sebuah kota, salah satunya dengan gerakan-gerakan positif. Salah satu contoh adalah Akademi Berbagi. Akademi berbagi adalah gerakan sosial yang bergerak pada bidang pendidikan dan volunteerism. Akademi berbagi tersebar di lebih 30 kota—termasuk Makassar—di Indonesia dengan jumlah relawan kurang lebih 200 orang. Akademi berbagi membuka kelas-kelas gratis di seluruh Indonesia dengan pengajar profesional di bidangnya yang juga berbagi tanpa dibayar sepeser pun. Gerakan atau komunitas yang terbentuk empat tahun silam ini memiliki tagline ‘Berbagi Bikin Happy’. Kenyataannya, berbagi memang selalu menyenangkan bukan?
Maka, untuk orang-orang yang dengan sukarela ingin berbagi—mereka yang bekerja tanpa menuntut bayaran dalam bentuk apapun—semangat kepahlawanan pantas diberikan. Mereka hadir dalam bentuk pahlawan dalam bidangnya masing-masing.
Di Makassar sendiri gerakan-gerakan seperti itu bukan tidak ada, melainkan tidak dikenal secara luas—mungkin tertutupi oleh berita demonstrasi yang ‘nyatanya’ tidak lebih besar dari gerakan sosial itu sendiri. Ada lebih 75[4] komunitas kreatif di Makassar yang anggotanya terdiri dari orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Orang-orang itulah yang bergerak untuk memajukan sebuah kota. Bukan hanya komunitas, berbagai kegiatan positif pun telah dilaksanakan. Sayangnya, sebagian besar media tidak cukup baik untuk menyebarluaskannya.
Ada ribuan bahkan jutaan orang di balik gerakan, kegiatan, dan komunitas keren dan positif yang dilaksanakan di sebuah kota. Mereka itu adalah pahlawan-pahlawan yang berusaha membangun kotanya agar tetap baik di mata umum. Bahkan orang-orang yang melakukan demonstrasi pun, selama tak merusak dan merugikan orang lain, mereka layak disebut pahlawan.
Setiap orang punya kesempatan yang sama untuk menjadi pahlawan bagi kotanya. Setiap orang punya hak yang sama untuk memajukan kotanya. Apapun proesinya. Apapun latar belakang pendidikan dan keluarganya.
Hal kecil pun bisa berdampak sangat besar bagi orang lain. Sama seperti demonstrasi yang hanya dilakukan oleh sebagian kecil orang bisa berdampak bagi sebuah kota—entah positif ataupun negatif. Stigma dan pemberian cap sebagai kota tidak aman, kota kasar, dan kota anarkis mengikuti pemberitaan negatif atas sebuah kota. Berlaku untuk kebalikannya. Maka, masyarakatnyalah yang punya wewenang penuh untuk menjadikan sebuah kota menjadi lebih baik di mata masyarakat umum.
Tak salah bila setiap Hari Pahlawan juga diapresiasi kepada mereka yang memiliki semangat patriotisme untuk memajukan kotanya. Sebab setiap orang adalah pahlawan untuk kotanya.
Bisa jadi Sultan Hasanuddin dan pahlawan lainnya bangga mengetahui keturunannya masih ada yang memiliki sifat patriotisme.

Selamat Hari Pahlawan.
Selamat Hari Relawan Internasional[5].
**

@mbakhobbit, 5 Desember 2014.


*Tulisan ini diikutsertakan di dalam #SGANIA bulan November 2014 [http://kata-nia.blogspot.com/2014/11/SGANia-Nov2014.html]



[1] Berdasarkan data Kementrian Dalam Negeri dalam Buku Induk Kode dan Data Wilayah 2013
[2] Silakan ketik ‘Berita Makassar’ atau ‘Mahasiswa Makassar’ dalam kotak pencarian google.
[3] KBBI : Bersifat destruksi (merusak, memusnahkan, atau menghancurkan)
[4] Berdasarkan data www.komunitasmakassar.org, ada 75 komunitas yang terdaftar dan ikut berpartisipasi dalam Pesta Komunitas Makassar (24-25 Mei 2014).
[5] International Volunteer’s Day diperingati setiap tanggal 5 Desember.

***

Cheers!
Have a blessed-day!