23 September 2014

[THOUGHTS] TIME TRAVEL: Antara Time Machine, Hawking, dan Obrolan Sederhana

“All you need is a wormhole, the Large Hadron Collider or a rocket that goes really, really fast” – Stephen Hawking
Large Hadron Collider
Pembahasan mengenai time travel selalu menjadi pembahasan yang menarik antara saya dan beberapa teman, pernah beberapa kali menjadi pembahasan khusus di beberapa grup juga.

Konsep time travel selalu mengingatkan saya pada novel Time Machine karya H. G. Wells. Seorang H. G. Wells dijuluki sebagai “bapak” dari segala kisah science-fiction karena melalui novelnya yang berjudul War of the World, dia dianggap sebagai pioneer bagi kisah science-fiction di dalam dunia sastra. Kemunculan novel-novel Wells dianggap menggebrak dunia science di dalam karya sastra tingkat tinggi. Saking hebatnya pengaruh karya Wells, ketika karya tersebut diadaptasi pertama kali ke dalam film (terutama yang War of the World), konon film tersebut sampai menimbulkan kecemasan massal di masyarakat karena masyarakat percaya bahwa dunia memang sedang mengalami invasi dari “makhluk” yang dianggap asing. Wells pula yang mengenalkan saya pertama kali tentang kisah terkait time travelling secara serius, walaupun perkenalan pertama saya dimulai melalui kisah-kisah ajaib di komik Doraemon.

Novel Time Machine berkisah tentang sekelompok orang – para time traveller – yang mengemukakan teori bahwa waktu merupakan sebuah konsep empat dimensi. Sama seperti kebanyakan kisah time travelling serta konsep-konsep di dalam kisah dystopian, kisah di dalam time machine juga berujung pada teori bahwa dunia di masa depan dipenuhi dengan robot humanoid; ada yang baik dan (selalu) ada yang jahat. Para hero akan berakhir untuk membasmi yang jahat dan menyelamatkan yang baik, demi dunia yang lebih baik.

Menariknya adalah, sekaligus yang membedakan antara novel Time Machine dengan kisah serupa lainnya, kisah di Time Machine melintasi rentang waktu hingga ratusan ribu bahkan jutaan tahun. Selain itu, seperti kekhasan pada karya sastra Eropa pada masa itu, kisah di Time Machine selalu “menyindir” dunia politik serta gaya kepemimpinan a-la kapitalisme Marxisme. Sebelum Wells, ada orang lain yang menulis tentang kisah-kisah fantasi yang terkait dengan perjalanan melintasi dimensi waktu, tetapi karya Wells adalah karya pertama yang memberikan “dosis” tinggi terhadap spekulasi-spekulasi dari beragam teori ilmiah di dalam ceritanya. Para time traveller di dalam kisah Time Machine tidak hanya berbicara tentang empat dimensi dari waktu, melainkan juga berbicara tentang konsep-konsep astronomi yang dinilai “aneh”, mengamati tren-tren evolusi selama mereka melakukan perjalanan melintasi ruang dan waktu, serta mengenalkan teori-teori mutakhir dari dunia science.

Wells bukan seorang penulis biasa, dia adalah seorang guru di bidang Science juga. Alkisah, Wells mampu menerjemahkan ide-ide gurunya – Thomas Henry Huxley, seorang advokat yang dikenal “menguatkan” teori-teori evolusi – mengenai segala spekulasi ilmiah tersebut selama menggarap novel science-fiction Time Machine. Butuh waktu cukup lama bagi novel Time Machine untuk terbit, bagian awalnya muncul di awal tahun 1890an tetapi keseluruhan novel baru rampung sekitar tahun 1895, dan kemudian menjadi hits dan mempengaruhi dunia sastra secara keseluruhan. Konon, Wells terinspirasi pula dari kisah Gulliver’s Travel karya Jonathan Swift, yang muncul jauh sebelum kehadiran Time Machine. Swift sendiri lahir sekitar tahun 1667 dan novel Gulliver’s Travel terbit pertama kali pada tahun 1726. Di awal kemunculannya, Gulliver’s Travel dianggap penuh kontroversi.

Tema-tema yang ada di dalam novel Time Machine, di kemudian hari, dijelaskan secara ilmiah di dalam kehidupan modern oleh Hawking. Pada dasarnya, Hawking beberapa kali menekankan bahwa untuk memulai petualangan sebagai time traveller, kita harus melewati sebuah wormhole. Tanpa wormhole, maka perjalanan tersebut menjadi mustahil.

Sebagian besar dari kita mungkin akan membayangkan perjalanan melintasi waktu seperti di dalam sinetron Lorong Waktu, sebuah sinetron religi garapan Deddy Mizwar, yang rutin menemani hari-hari masyarakat Indonesia selama bulan Ramadhan di awal tahun 2000an. Bagi penggemar drama Korea, mungkin akan teringat dengan drama Mirae’s Choice. Kesamaan dari kedua tayangan tersebut adalah sama-sama mengangkat tema tentang perjalanan melintasi waktu, terutama masa lalu, untuk memperbaiki sesuatu; berharap dengan perbaikan-perbaikan tersebut, maka akan ada perubahan-perubahan signifikan yang terjadi di masa sekarang (termasuk masa depan). Bagi saya sejak dulu, serupa dengan teori yang dikemukakan oleh Hawking belakangan, perjalanan melintasi dimensi ruang dan waktu ini seolah hanya sebuah konsep fantasi menggiurkan yang sebenarnya mustahil tetapi selalu menarik untuk dikaji berulang kali.
“Through the wormhole, the scientist can see himself as he was one minute ago. But what if our scientist uses the wormhole to shoot his earlier self? He's now dead. So who fired the shot?” – Stephen Hawking

Pemaparan Hawking di atas yang pernah singgah di pikiran saya ketika membaca kisah di dalam novel Time Machine. Perjalanan yang dilakukan oleh time traveller di sana melintasi rentang waktu yang sangat panjang. Kemungkinan besarnya, usia time traveller tidak akan mencapai selama itu. Jadi, pada saat perjalanan menuju masa depan itu dilakukan, siapa yang sebenarnya melakukannya? Apakah masih diri yang sama, sedangkan diri yang “asli” mungkin sudah mati ketika hal-hal yang terjadi di masa depan yang sedang dialami ketika perjalanan ke masa depan itu hadir? Saya sampai merasa bodoh sendiri karena tidak dapat membayangkan konsep-konsep ilmiah apa saja yang memungkinkan semuanya terjadi. Sampai di kemudian hari saya berkenalan dengan Hawking dan membaca pemaparan ilmiahnya. Sebagai seorang Cosmologist, Hawking tentu lebih paham dibandingkan pembaca amatir seperti saya.
“Is time travel possible? Can we open a portal to the past or find a shortcut to the future? Can we ultimately use the laws of nature to become masters of time itself” – Stephen Hawking.

Menurut Hawking, konsep time travelling pernah dianggap sebagai sebuah bid’ah di dalam dunia science. Dia sendiri mengaku pernah menghindari pembicaraan terkait ini karena malas dianggap sesat, hingga akhirnya dia kembali terobsesi dengan konsep waktu dan ingin melakukan perjalanan ke ujung semesta raya untuk mengetahui bagaimana keseluruhan cerita di sistem cosmic kita akan berakhir.

Sama halnya dengan yang dijelaskan Wells di dalam novel Time Machine, Hawking juga mengemukakan bahwa untuk mampu mencerna konsep time travelling, kita perlu melihat waktu sebagai sebuah konsep empat dimensi. Seluruh benda yang kita lihat memiliki konsep tiga dimensi, semuanya memiliki panjang, lebar, dan tinggi. Maka bayangkan jenis lain dari panjang, yaitu panjang waktu. Ketika manusia dapat bertahan hidup hingga 80 tahun, misalnya, ada hal lain yang telah “hidup” selama ribuan tahun seperti batu. Di sisi lain, tata surya bahkan “hidup” selama miliaran tahun. Selain benda-benda yang nampak oleh kita, semua benda seperti batu dan tata surya semuanya memiliki panjang waktu serta ruang. Perjalanan dalam waktu berarti perjalanan melalui dimensi keempat ini.

Bayangkan perjalanan sebuah mobil. Ketika kita mengemudi dalam garis lurus dan bepergian dalam satu dimensi, saat kita belok ke kanan atau ke kiri artinya kita menambahkan dimensi kedua. Berkendara di bawah jalan gunung yang berkelok-kelok artinya kita bepergian dalam tiga dimensi. Tapi, bagaimana mungkin kita dapat bepergian dalam waktu sementara kita berada di bumi? Bagaimana kita menemukan jalan melalui dimensi keempat? Hawking pun kemudian mengajak kita berpikir tentang sebuah mesin waktu yang membuat jalan menuju dimensi keempat. Perjalanan waktu memiliki luas, sehingga mesin yang dibutuhkan adalah mesin yang “haus” energi. Mesin inilah yang membuat jalan melalui dimensi keempat, sebuah terowongan melalui waktu. Tetapi itu semua tidak akan berarti tanpa kehadiran wormhole.

Wormhole
Kita mungkin tidak sadar bahwa wormhole sangat nyata keberadaannya karena wujudnya terlalu kecil untuk dilihat. Wormhole sangat kecil, ada di sudut dan celah dalam ruang dan waktu. Wormhole adalah 'terowongan' teoretis atau shortcut dan keberadaannya diprediksi berdasarkan teori relativitas Einstein, yang menghubungkan dua tempat di ruang dan waktu, di mana energi negatif menarik ruang dan waktu ke dalam mulut terowongan dan muncul di alam semesta lain.

Tidak ada yang datar atau solid, benda apapun pasti ada lubang atau kerutan. Ini adalah prinsip Fisika dasar, dan inilah yang berlaku ketika kita membahas waktu. Ada celah-celah kecil, kerutan dan void dalam waktu. Pikirkan sesuatu yang sifatnya terkecil dari skala apapun serta lebih kecil daripada molekul dan lebih kecil dari atom, maka kita akan mampu untuk mencapai sesuatu yang disebut busa kuantum. Di sinilah keberadaan wormhole tersebut, di mana terowongan kecil atau jalan pintas melalui ruang dan waktu terus membentuk, menghilang, dan bereformasi ke dalam dunia kuantum ini. Dan mereka benar-benar menghubungkan dua tempat yang terpisah dan dua waktu yang berbeda.

Sayangnya, terowongan waktu di kehidupan nyata ini bentuknya hanya sepermiliar atau mungkin sepertrilliun sentimeter sehingga terlalu kecil untuk dapat dilewati oleh manusia. Inilah yang menjadi tantangan bagi dunia science untuk menciptakan teknologi yang dapat "memperbesar" wormhole tersebut.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah untuk saat ini, perjalanan melintasi waktu dapat dikatakan mungkin?

Saya pernah membahas tentang deja vu dan salah satu dari jenis deja vu adalah deja visite. Deja visite konon merupakan bentuk deja vu yang paling jarang terjadi. Dianggap serupa dengan time travelling ke masa depan. Soalnya, kejadiannya itu sering berbentuk seperti ini; kita sedang berkunjung ke tempat baru, tetapi tempat itu sudah terasa akrab sekali bagi kita, sangat familiar. Parapsikologi menyatakan bahwa deja vu ini seperti kesempatan kita untuk reinkarnasi. Bisa juga untuk "mengintip" masa lalu. Ada scientist yang pernah mengatakan bahwa reinkarnasi ini sangat terkait dengan deja visite. Dua hipotesa penyerta tentang ini, yaitu:
  1. orang yang mengalami sensasi reinkarnasi atau deja visite ini memang pernah berada di sekitar lokasi yang dimaksud, memang pernah mengunjungi tempat yang dimaksud, dan lainnya TETAPI dia tidak dapat mengingat secara utuh pengalaman tersebut.
  2. orang yang mengalami sensasi reinkarnasi atau deja visite ini pernah diceritakan atau dijelaskan mengenai lokasi yang dimaksud sehingga ia bisa mengetahuinya.

Ada lagi konsep thermodynamic yang digunakan untuk menjelaskan deja vu. Thermodynamic membahas tentang energi. Konon, bahkan yang namanya energi yang membentuk jiwa (soul) dapat dibentuk dan dihancurkan. Tetapi, sifatnya akan tetap konstan. Inilah mengapa, meskipun jiwa telah "mati" bersamaan dengan matinya tubuh seseorang bertahun-tahun lampau, tapi ketika ia melingkupi tubuh yang baru maka energinya akan "hidup" lagi. Konsep inilah yang “kelihatannya” menjawab fenomena reinkarnasi, bahkan deja vu. Masalahnya, konsep thermodynamic itu analoginya seperti gelas yang sudah jatuh dan pecah, dan ketika ia balik lagi maka kondisinya ya tetap saja pecah. Analogi yang sama berlaku ketika membahas tentang time travelling tadi. Ini ada kaitannya dengan konsep entropi. Kesannya ada pengulangan, padahal yang terjadi adalah tidak ada pengulangan sama sekali. Lalu, muncul konsep yang mengaitkannya dengan taechyon particle. Konon, taechyon particle lebih cepat dari cahaya. Padahal, sebenarnya sifat dari partikel ini seolah seperti anti-time particle. Tidak lebih. Jadi, thermodynamic dan taechyon sebenarnya pembuktian bahwa deja vu (dan bahkan time travelling yang dilakukan untuk mengubah sesuatu) kemungkinan besar hanya sekadar state of mind. Einstein pernah menyatakan bahwa kalau ada kecepatan lebih dari cahaya (lebih dari 300.000 km/detik), artinya kita akan mampu untuk lompat ke depan atau ke belakang garis ruang-waktu. Sementara kalau seiring, akan kekal. Artinya, konsep taechyon ini berakhir menjadi sebuah pengandaian saja.

Bingung dengan konsep thermodynamic (terutama 2nd law of thermodynamics) dan entropy?

Secara sederhana begini. Ada energi, yang secara spontan, menyebar dari satu posisi yang terlokalisasi dan kemudian menyebar ketika energi ini tidak terhalang. Entropi ini mengukur penyebaran energi spontan tadi; seberapa banyak energi tersebar yang terukur di dalam proses penyebaran tadi, atau seberapa luas energi tadi tersebar pada suhu tertentu?

Jadi, walaupun tidak dapat linear dan ada kemungkinan paralel seperti di quantum physics, sesungguhnya time travelling  dapat dikatakan impossibleTaechyon saja sudah menyalahi semua hukum sebab-akibat Fisika yang ada. Thermodynamics menunjukkan bahwa mengubah masa lalu itu tidak mungkin bisa dilakukan meskipun kita dapat kembali ke masa lalu.

Seorang teman pernah mengaku bahwa dia baru saja melakukan space-time-travelling. Dari eksperimen yang dia lakukan, dia menyadari bahwa space-time-paralel ternyata benar-benar ada. Misalnya, dia melakukan perjalanan ke hari kemarin. Menurutnya, astral beings yang ada di sekitar lokasi di hari kemarin tersebut tetap ada ketika dia melakukan perjalanan kembali ke sana. Artinya, kita memang mampu kembali ke masa lalu dan bertemu dengan hal-hal yang ada di masa tersebut. Akan tetapi, kita tidak akan mampu untuk membuat “percabangan” dari kejadian yang sama dengan yang kita alami kemarin, dengan harapan untuk mengubahnya sesuai kehendak. Kita dapat berinteraksi dengan mereka, hal yang ditemui tersebut, tetapi perubahan masa depan tidak akan dapat dilakukan. Alih-alih percabangan dari hal yang sama, kita justru akan membuat percabangan yang baru dan percabangan yang asli akan tetap eksis. Justru pada akhirnya akan semakin membingungkan keberadaan eksistensi dari yang asli tadi.

Inti dari semuanya adalah kita tidak akan bisa melakukan time travelling dengan tujuan untuk melakukan perubahan. Kecuali, nanti, ada intervensi lainnya yang mampu membelokkan semua hukum Fisika saat ini.  


Have a blessed day!





Special Notes

Ini adalah sedikit cerita, beberapa merupakan pengulangan, dari yang pernah saya bahas mengenai review novel Time Machine, Gulliver's Travel, pembahasan deja vu di dalam materi Psy Talk di grup Klub Buku Indonesia pada awal tahun 2014 lalu, serta obrolan-obrolan sederhana dengan beberapa teman. Ada juga sedikit gambaran mengenai pendapat Stephen Hawking ketika dia menjelaskan bagaimana cara membuat sebuah mesin waktu. Semuanya saya rangkum untuk membuat sebuah esai demi mengikuti #LBBKSeptember di L.