01 September 2014

Sekolah Impian : Anti-Bullying Campaign


Masih ingat dengan kasus bullying yang menyebabkan kematian dua orang siswa di SMA Negeri 3 Jakarta baru-baru ini? Kesamaan nama sekolah dengan SMA saya membuat saya teringat dengan apa saja yang saya alami selama SMA dan perbandingannya dengan yang saya alami selama kuliah. Dalam hal ini, fokus utama yang akan saya bahas terkait dengan senioritas yang berujung pada bullying yang dianggap “halal”.

Masa Orientasi Siswa (MOS) SMA bukan lagi sekadar perkenalan biasa seperti yang saya alami di SD-SMP, tetapi merambah kepada aktivitas berbau senioritas dan perploncoan. Hal ini membuat saya sampai berpikir bahwa “kegiatan marah-marah” merupakan hal yang “wajar” dilakukan oleh “kakak kelas” terhadap “adik kelas” atas nama “solidaritas” dan “pendidikan”.


Sebelumnya saya tidak pernah berpikir bahwa untuk menjadi “peserta MOS terbaik”, saya harus dimarahi dan dibentak-bentak oleh panita. Itu pengalaman pertama saya dibawa ke sebuah ruangan khusus; “ruang eksekusi”. Saya dibentak sampai ludah panitia-panitia yang membentak muncrat ke kening dan wajah saya, saya gemetar dari ujung kepala hingga ujung kaki karena shock dan menahan marah. Ada yang sampai hendak melempari saya dengan pot bunga. Sepanjang MOS saya berusaha menutupi bahwa saya adalah anak dari salah satu guru senior demi beberapa alasan -- hanya kakak ruang yang tahu karena saya sempat lupa membawa baju seragam dan Ibu yang mengantarkan baju tersebut ke sekolah dengan menitipkan melalui kakak ruang saya. Tetapi, pengalaman tidak menyenangkan tersebut membuat saya bertekad; kalau sampai saya mengalami kekerasan fisik lanjutan, maka saya tidak akan diam dan membongkar siapa saya sekaligus memperkarakan perbuatan mereka. Sederhana saja, saya tidak pernah mengalami kekerasan seperti itu dari orang tua, jadi tidak mungkin saya akan membiarkan orang lain melakukannya terhadap saya.

Setelah MOS, pengalaman terkait dengan senioritas seperti itu saya alami ketika menjalani masa-masa orientasi di beberapa organisasi yang saya ikuti. Selama masa re-organisasi, junior pasti akan di-diklat oleh senior. Ada masa di mana kami harus dididik dan dilatih, bukan hanya terkait pengetahuan melainkan juga ketahanan fisik. Hukuman fisik, seperti scotch-jump dan push-up, merupakan “hukuman biasa”. Begitu juga merayap di sungai ketika kami menjalani diklat di salah satu perkebunan kelapa sawit yang ada di Lampung. Terakhir yang saya dengar, diklat di perkebunan tersebut sudah dihapus. Tidak seperti beberapa teman yang menyayangkan penghapusan tersebut, saya justru mendukungnya. Apalagi, ketika saya kuliah, saya menjalani proses orientasi sebagai mahasiswa baru yang jauh lebih mendidik. Jadi, saya merasa bahwa pendidikan dan masa perkenalan memang sudah sewajarnya jauh dari kata “penyiksaan” yang tidak tepat sasaran, bahkan berpotensi berujung pada kematian.

Saya diterima di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Saat saya menjadi mahasiswa baru, masa-masa itu merupakan masa-masa heboh dengan berita kematian praja STPDN (sekarang IPDN) bernama Wahyu. Mau tidak mau, saya kembali teringat dengan masa-masa yang saya lalui ketika SMA dan membandingkan dengan yang saya alami ketika kuliah. Selama SMA, fakta bahwa saya adalah anak dari salah satu guru senior yang memiliki image “guru baik”, membuat saya banyak “selamat” dari aktivitas perploncoan yang tidak wajar. Kedekatan dengan beberapa kakak kelas yang menjadi panitia-panitia inti dari kegiatan tersebut juga membuat saya “selamat”. Tidak seperti beberapa teman (laki-laki maupun perempuan) yang bercerita kepada saya bahwa mereka sampai ditampar.

Selama ospek, saya "mengumpulkan" kesalahan hingga 13 buah selama 2 hari. Saat peserta yang memiliki kesalahan harus dibawa ke “ruang hukuman”, saya sudah pasrah jika harus mengalami proses seperti saat SMA. Ditambah saya tidak memiliki backing lagi seperti saat SMA. Ternyata, yang saya alami jauh dari sifat “melecehkan”.

Hari pertama, saya diminta merenungkan kesalahan dan memikirkan hukuman yang “pantas”. Saat itu, saya memilih dihukum scotch-jump atau push-up. Begitu mendengar hukuman yang saya pilih, senior yang menangani saya justru tertawa. Mereka berkata, “Kami tidak menerima hukuman fisik”. Hasil akhirnya, saya hanya diminta membaca puisi dengan tema sesuai kesalahan yang saya buat. Itupun dibacakan di depan para senior yang menangani saya saja, bukan di ruang publik. Hari kedua, lebih enak lagi. Saya yang mengantuk parah, diberi hukuman berupa tidur dan baru boleh bangun ketika diberi aba-aba harus berpura-pura sedang mengalami mimpi buruk. Ini dilakukan secara massal bersama teman-teman lainnya, yang dikumpulkan di ruangan khusus dengan lampu dimatikan. Siapa yang menolak tidur pada situasi seperti itu? Hahaha...

Tugas-tugas yang diberikan selama ospek kuliah juga jauh dari kata “tidak berguna”. Tugas kami adalah membuat esai dan dinilai. Persis seperti guru/dosen memberi nilai terhadap tugas kita! Selama sebulan selanjutnya, kami bukan hanya berkutat dengan esai tetapi juga dengan makalah kelompok maupun laporan individu. Sangat sinergis dengan kehidupan perkuliahan yang sarat dengan tugas-tugas sejenis. “Pemanasan” yang dialami selama ospek sangat membantu proses adaptasi ketika menjalani kuliah.

Semenjak itu, saya semakin menyadari bahwa ada yang salah dengan sistem ospek yang berkembang luas di Indonesia dan ada yang salah dengan konsep senioritas. Konsep yang berkembang melahirkan posisi superior vs inferior.
Ilustrasi gambar diperoleh dari sini.

Tidak mengherankan ketika senior merasa superior, maka junior “harus” tunduk menjadi kubu inferior. Konsep inilah, yang saya pelajari, menjadi akar dari kasus-kasus bullying karena tidak ada kesetaraan posisi antara senior dan junior. Berbeda dengan yang saya alami ketika kuliah, di mana nyaris tidak ada gap antara senior-junior. Jarang sekali senior yang mau dipanggil “Kak”, “Mas”, atau “Mbak” karena sebutan “Mas” dan “Mbak” lebih berlaku untuk dosen, karyawan, hingga cleaning service serta untuk memperkecil gap

Pengalaman menjadi pelaku bullying ketika TK juga membuat saya merasa “takut” dengan kasus-kasus bullying sekarang. Anak usia early childhood bisa "membunuh" temannya karena bullying.

Ketika kuliah saya belajar tentang bullying melalui pengalaman langsung dan materi-materi serta studi kasus yang diberikan. Hal tersebut yang membuat saya memiliki konsep bahwa sekolah impian bukan hanya yang memaksimalkan fungsi perpustakaan sekolah, melainkan yang juga jauh dari senioritas dan bullying tanpa batas. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan pihak-pihak yang bersedia mengubah pola “salah” yang sudah terbentuk. Baik panitia dan guru/dosen harus saling membantu serta mendukung proses perubahan tersebut. Karena semua berawal dari bagaimana kita memulai, maka melakukan program yang tepat saat MOS sekolah dan ospek universitas adalah kunci pertama untuk memulai proses yang anti-bullying dan anti-senioritas salah kaprah. Minimal, contohlah program ospek yang saya jalani ketika masuk kuliah dulu; tugas atau aktivitas yang diberikan oleh panitia kepada peserta, sinergis dengan yang akan dihadapi saat aktivitas belajar-mengajar berjalan.

Cheers!

Have a blessed-day!




Mommylicious #ParentingBook

 
Sumber dari sini


Tulisan lainnya bisa dibaca di sini.

28 comments:

  1. Kalau dilihat dari beberapa tahun belakangan ini, bullying lebih marak. Awalnya saya berpikir mungkin ada kaitannya dengan komunitas atau gerakan yang mengedepankan aksi Anti Bullying ini. Tapi ternyata adanya pihak inferior dan superior. Ini mengejutkan saya sebenarnya. Karena tidak begitu paham seperti apa dan bagaimana agar bisa membedakan bully dengan becanda.


    Tapi saya setuju dengan ide perpustakaan dan kegiatan MOS yang lebih terarah untuk menimalkan adanya aksi bullying.


    Atau mungkin bisa juga dengan membuat peraturan dasar apa saja yang bisa dilakukan pada kegiatan MOS. Dimana peraturan ini nantinya bisa berkembang namun tetap pada jalurnya.


    Dan perpustakaan, bisa jadi saat MOS adalah saat yg tepat untuk memperkenalkan perpustakaan pada siswa dan siswi baru. Karena nantinya mereka bisa bersama-sama dengan seluruh siswa dari beragam angkatan pastinya, untuk menjaga perpustakaan agar lebih terawat dan bisa menjadi tempat yang nyaman untuk membaca.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selama belajar tentang kasus-kasus bullying, keberadaan si "superior" vs "inferior" ini memegang peran signifikan. Terkadang, pihak "superior" maupun "inferior" sama-sama tidak paham tentang bullying yang sedang terjadi di antara mereka. Mirisnya lagi, istilah "bully" sendiri menjadi istilah yang "hits". Penggunaan istilahnya membuat makna "bullying" menjadi tidak terarah. Bahkan, ada yang merasa "bangga" sudah menjadi "korban bully" karena menurutnya perilaku "bully" yang dilakukan oleh teman-temannya adalah "perilaku bercanda" biasa. Padahal, makna bullying lebih dari itu. Jadi yaa...

      Btw, sepakat dengan ide memperkenalkan perpustakaan melalui kegiatan MOS. Ini bisa jadi salah satu program positif yang bisa dilakukan saat MOS daripada sekadar kegiatan-kegiatan yang mengarah ke perilaku bully senior terhadap juniornya.

      Delete
  2. Dulu aku untungnya pas MOS di sekolah dan Ospek di kampus bisa beberapa kali 'selamat' dari hukuman fisik. Ya meskipun tetep aja dapet sik, tapi ga separah temen-temen yang lain. Tapi gara-gara dapat perlakuan seperti itu, aku jadi bertekad pas giliran aku jadi senior dan panitia ospek, aku gak mau kasih perlakuan sama ke junior aku. Sudah cukup dulu aku yang digituin, gak enak liat orang dikasarin. ngeri. >.<

    Tapi di beberapa fakultas di kampus aku, dulu, ospek tanpa kekerasan fisik tuh gak afdhol katanya. hih. Untungnya sekarang sudah berkurang berkat peraturan birokrasi dan juga (semoga) kesadaran mahasiawanya. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Pemikiran kalau ospek tanpa kekerasan fisik itu enggak afhdol memang "racun" ya, hahaha. Ini terkait dengan mindset bahwa mendisiplinkan seseorang wajar dilakukan lewat kekerasan fisik. Selama mindset ini tidak diubah, selamanya ospek dengan kekerasan fisik (atau mendisiplinkan seseorang dengan kekerasan fisik) akan selalu ada.

      Keren tuh peraturan di birokrasi kampus kamu. Pas banget untuk mengurangi ospek-ospek "liar" yang ngg... nganu... :D

      Delete
  3. duh jadi inget aku juga pernah dibullying temen waktu SD.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh, kak... :(

      Kalau dari pengalamanku menjadi pelaku waktu TK dulu, aku enggak paham bahwa yang aku lakukan terhadap temanku adalah bentuk bullying. Beberapa kasus yang aku temui dengan pelaku-korban siswa SD juga begitu, mereka sama-sama tidak paham bahwa yang sedang terjadi adalah bullying. Anak-anak usia TK-SD terkadang mem-bully karena sekadar meniru sesuatu yang menurut mereka "wajar" dilakukan. Di sini kasihannya...

      Delete
  4. SMA ku dulu parah banget dengan senioritasnya, sudah mendarah daging, dan terkenal malah di Makassar. Denah ruangannya juga mendukung senioritas, kelas satu di lantai 3, kelas dua di lantai 2, dan kelas tiga di lantai dasar. Menuju tangga anak-anak kelas 2 & 3 tidak boleh menginjak koridor dasar, harus lewat luar, yang apes kalo lagi hujan. Waktu awal masuk sekolah anak kelas satu pasti ada beberapa bulan gak turun ke kantin karena takut. Seniornya rese suka pajakin, sibuk perhatiin gaya berpakaian kita, suka nyuruh-nyuruh, marah-marah gak jelas. Guru-guru cenderung memaklumi hal tersebut, guru yang tua karena merasa itu sudah tradisi, guru yang muda jika berani macem-macem malah di bully. Parah pokoknya SMA ku. Tapi lucunya, saat anak kelas satu naik kelas, dia juga melakukan hal tersebut ke juniornya, apalagi kalo sudah kelas tiga, makin menjadi-jadi. Harusnyakan mereka yang sudah rasain betapa tidak enaknya diperlakukan seperti itu, tidak melakukannya keorang lain.
    Saat masih junior itu aku sempat beberapa kali dipanggil senior, dimasukin ke WC terus dimaki-maki. Biasanya aku langsung pake strategi muka bloon dan menulikan telinga. Hal itu lumayan menolong, mereka pada akhirnya capek juga teriak-teriak. Yang tidak bisa kutoleril kalau mereka sudah nyuruh-nyuruh, aku pasti memakai seribu alasan buat tidak lakuin apa yang mereka suruh. Mulai dari kebelet pipis atau boker atau lagi dipanggil guru.

    Untungnya si senior itu tidak ada yang main tangan, kecuali senior laki kejunior laki, tapi kalau yang laki cenderung berakhir menjadi perkelahian parah dan banyak di sorot guru jadi memang jarang terjadi. Tapi kalau masuk organisasi dan dimulai masa pengkaderan disitulah harga diri sebagai manusia betul-betul diinjak-injak; dipukul, dijambak, disuruh minum air ludah, jijik pokoknya kak. Untungnya aku tidak pernah mengikuti pengkaderan tapi tetap masuk organisasi PMR, ya karena memang tenagaku dibutuhkan. Hahaha...

    Next...
    Masuk kuliah, meskipun senioritasnya tidak separah saat SMA tapi tetap ada dan saat itu sudah tidak takut lagi sayanya seperti saat SMA, sehingga terasa jauh lebih menyebalkan. Pengkaderan fakultas si oke, kita mengadakan pementasan kece dan ada malam bina akrabnya, yang betul-betul bina akrab. Saling kenalan antara senior-junior dari beberapa jurusan, ketawa-ketiwi sambil main game, malamnya ada renungan sambil nyanyi lagu angkatan dll. Nah pengkaderan jurusan aku sudah gak ikutan, soalnya senior ku rese dan kepo. Sebelum pengkaderan itu aku sering bolos pengumpulan tidak jelas dan gak guna, belum lagi berapa kali terlibat perkelahian dengan seniorku. Jadi ya...

    Aku gak suka lihat manusia yang gila hormat, hormat itu bagi saya didapat dari tingkah laku manusia itu, kalau dia sok seniorlah, tiap berpapasan mau diberi salam bungkuk ala Jepanglah, belum lagi maksa kami pake pita-pita gak jelas, eh tiap kuliah kami berakhir dan dosen udah keluar, masuk marah-marah gak jelas. Pengen gua timpuk!!! Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Untungnya kamu tipikal yang berani melawan, neng. Enggak kebayang deh ya kalau yang mengalami itu tipe "penakut" dan tidak tahu atau tidak berani melakukan perlawanan. Salah satu teman baikku, ketika dewasa mengalami "masalah" banget sebagai akibat dari bullying yang dia alami dari kecil (teman-teman di sekolah maupun di lingkungan rumah). Puncaknya terkait dengan bullying yang dia alami ketika SMA (termasuk efek dari salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang dia ikuti, yang punya sistem pengkaderan nganu...). Sampai sekarang, dia merasa kalau dia "pantas" menerima semua hinaan, ejekan, dan lainnya walaupun itu bukan ditujukan secara spesifik ke dia... karena mindset dia sudah terbentuk bahwa "gue ini pantes diperlakukan dengan tidak menyenangkan". Kan kasihan :(

      Delete
  5. betul mak, sekolah hrs anti bulying dan anti kekerasan

    ReplyDelete
  6. Anonymous2/9/14 17:53

    Dulu waktu smp dan sma dibully verbal sama teman-teman, mungkin karena nggak sepaham sepemikiran sama gang mayoritas ya. Bahkan pernah topiku dibakar, bajuku olahragaku digunting ujungnya. Seiring berjalan waktu hal itu membuatku malas berteman, sejenis phobia malas bertemu teman yang pernah membully aku. Pas ospek kuliah, aku merasa menjadi manusia dan melihat dunia lebih luas. Ospek kuliah mendidik, ga ada kekerasan fisik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. O. may. gawd... kaak... :(

      Teman-teman lain yang kontra mereka apa mengalami yang sama dengan yang kamu alami? Respon pihak guru (terutama BK) gimana?

      Syukurlah pas kuliah sudah lebih membaik ya kak. Semoga sehat selalu. Kamu survivor, berhasil lalu tahap waktu SMP-SMA dan sekarang bertahan. Berbahagialah \(^o^)/

      Delete
  7. Iya, Kak. Bullying ini emang beneran deh, momok banget. Dan efek buruk bullying bisa kerasa banget, dan kadang berefek jangka panjang. Gatau deh ya, tapi kayaknya banyaaaak banget siswa yg pernah ngalamin bullying. Kujuga pernah sih. Seharusnya isu bullying ini kudu jadi concern jg ya buat sekolah, mengingat pendidikan kan buat sekadar pengembangan hard skill, tapi juga pengembangan mental yg ga kalah penting.

    Di SD, SMP, atau SMK tempat saya sekolah, kadang ada dijumpai oknum guru yg malah bermental bullying. Entah dgn tujuan mencairkan suasana atau apa, biasanya ada guru yg sengaja mengambil salah satu murid yang memang 'berbeda' atau 'unik' dibanding teman2 yg lain, misal karena paling hitam/jelak, lalu dijadikan ia objek 'becandaan'. Lah, bukankah itu malah melestarikan budaya bullying. Miris dengan oknum guru yg seperti itu kak.

    Oia, btw saya penentang garis keras MOS/OSPEK yg penuh senioritas. Hapuskan mata rantai bullying!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah iya, kadang ada oknum guru yang begitu...

      Becanda baru bisa dibilang becanda kalau kedua belah pihak sama-sama enjoy. Kalau salah satu merasa tersakiti ya sudah bukan becanda lagi kan ya. Sayangnya, belum semua paham batasan mana yang becanda dan mana yang sudah masuk kategori bullying. Semakin di-reinforce untuk muncul, semakin becanda kelewatan alias bullying ini tetap berjaya. Siyalnya lagi, kekurangan fisik ini jadi sejenis objek kekal untuk jadi bahan becanda, tanpa sadar bahwa yang punya fisik mungkin saja merasa tersakiti. Kasihan yang jadi korban...

      Sepakat bahwa mata rantai bullying memang harus dihapus. Dari diri sendiri, jangan-jangan disadari atau tidak, kita malah jadi pelaku bullying :(

      Delete
  8. numpang nganu, gitu lah pokoknya..

    jadi senioritas ini salah satu yang paling sering jadi 'hak' untuk membully. selain itu juga ad perbedaan.. - ntah itu perbedaan seperti sayah yang ganteng dan awet muda, ataupun pemilik blog ini yang cantik jelita dan ramah serta mempesona -

    hanya karena berbeda juga bisa jadi alasan para pelaku bullying, yang biasanya dilakukan oleh mayoritas yang bertingkah superior..
    jadi, menurut sayah, sekolah itu bisa juga lebih menekankan kepada pembentukan attitude dan yang namanya tenggang rasa juga menghargai dan menghormati,,

    sayah rasa cukup demikianlah, maap jika komen ini terkesan berantakan, karna begitulah hidup ini berjalan.. berantakan..

    salam berantakan...

    P.S : sayah juga mantan korban yang (hampir) dibully karena perbedaan tersebut..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam berantakan, bang! :))

      Ah iya, inget banget dengan cerita di masa-masa bang Ian nganu dulu. Ketika "simbiosis mutualisme" digalakkan demi "selamat" dari aksi-aksi bullying yang nganu. Posisi di mana yang "minoritas" harus "tunduk" pada "mayoritas". Untung ya yang dianggap "minoritas" bisa mencari jalan keluar yang sifatnya "win-win solution". Keren lah kau bang uwuwuw~ :3

      Pembentukan attitude ini 11/12 dengan komentar bang Ijul di atas... Iya, yang harus dibentuk bukan sekadar "hard skill", hanya fokus di pembentukan skill yang "mainstream" dan lupa dengan skill lain yang harus diasah (mental, tenggang rasa, saling menghargai/menghormati, dll).

      Delete
  9. Alhamdulillah ya kak..kalo aku mah gak sempet ngerasain bullying dari senior ke junior semasa sekolah. Kuliahpun alhamdulillah aman aja. Paling yang rese itu pas semua anak baru pas ospek disuruh pake dot bayi, dan kalo kita ribut disuruh diem pake dot bayi itu... hiihh pengen muntah rasanya... itu bagian dibully bukan sih?

    Di kampus tempat aku ngajar jg gak boleh ada ospek yg sifatnya senior ngebully junior. Ga ada gunanya pula buat pengenalan kampus. Tapi, kadang kita kecolongan pas yang ngadain hima prodi. Kadang ada hima prodi yang pakai peloncoan ke juniornya.

    Nganu banget emang nih masalah bullying... sekian dan terima buku :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah yah mah, hidup mamah penuh barokah. Subhanalloh pisaaan enggak ngerasain begituan yang nganu hakhak...

      Aku juga mau buku mah, alamatku ada kan ya mamah udah pegang. Diantosan atuh bukunya di kosan, sama itu... yang nganu biar cepsleng gitu kondisi hati karena kontrakan hati keisi penuh. Eaaak~ :))

      Delete
  10. hallo hallo, ehmm soal bully waktu SD, aku pernah sih merasa dibedakan sama temen-temenku karena aku paling kecil sendiri, sedih sih karena kalo pas main aku bagian jaga mulu dan selalu meninggalkanku sendiri. nah pas disekolah aku sering tuh berantem ma temenku cwo, cuma gara" aku plototin dya gak takut :'(
    tapi udah tobat kok sejak aku nonton yoko (APA HUBUNGANNYA FEB!!!!)

    waktu SMP tidak ada tindakan berarti, apalagi saat MOS, karena aku sudah lupa saat MOS itu ngapain za x)))

    Nah yang kerennya ini pas SMA, kalau pada jaman aku SMA sekolah lain MOS dengan mendandankan anak siswa barunya dengan hal aneh-aneh. Di sekolahku tidak sama sekali, 3 hari aku di mos, kita di infokan mengenai sejarah sekolah berdiri, isi sekolah itu apa saja, eskulnya apa saja, guru-guru nya siapa saja, seperti wisata sekolah karena kita di ajak keliling tiap-tiap kelas. Karena sistem sekolahku itu sudah masuk Quantum Learning pas jaman itu, jadi tidak ada pembodohan lagi antara senior dg junior. Dan asiknya dinding kelasku ku itu seperti anak TK dimana bila kita menempati salah satu kelas kita bebas menggambarnya, atau kita mempertahankan gambar yang sudah ada. Dan dulu temen-temen dikelasku kita menulis semua rumus-rumus di dinding, jadi pas ujian lebih gampang x))))
    Jadi waktu SMA berasa sekali kekeluargaannya, karena kita pun bebas memilih mau belajar d indoor atau outdoor. Buatku sistem seperti itu, membuat anak didiknya tidak merasa jenuh, yang ada kita menyesal harus cepat-cepat lulus #halaaaaah

    Nah pas kuliah, aku sempet daftar ke kampus swasta, tapi cuma sempat kuliah perdana saja karena pas ospeknya aku dah kabur ke kampus negeri.
    Nah di kampus negeri ini, 3 hari pertama ospek universitas, buat aku sih tidak ada ospek fisik paling cuma dijemur saja. Karena aku jadi anak manis yang tidak pernah membuat keributan.
    Saat di fakultas ini yang sempat membuatku rada takut, bukan karena ospeknya, tapi karena menjalani ospeknya sendirian tanpa ortu dan saudara, wkwkwkkwkwkwk
    ospek fisik pun diberikan bila tidak membawa apa yg disuruh, dan itu pun hanya lari atau push up, aku sih menganggapnya lumayan hitung" olah raga x)))))
    tapi yang menyenangkan itu pas mos nya nginep mendirikan tenda, di sini sih kita di ajarin buat bisa kerjasama sesama tim, mulai dari mendirikan tenda bareng, menjelajahi pos-pos, karena justru kenangan-kenangan itu yang membuat kita tertawa beberapa tahun ke depan. Karena tingkah-tingkah konyol kita, pas ospek itu kita pun sengaja buat ulah buat membatah apa yang disuruhnya. Aku pernah tidak membawa apa yg mereka suruh, mereka membentakku tapi aku diam sengaja menulikan telingaku dan lihatlah, besoknya mereka suaranya pada serak.
    Setiap tindakkan atau hal-hal yang mereka suruh, mereka selalu memberikan jawabannya setelah kita membawa apa saja yg mereka suruh. Kue dan snack yang kita bawa pun pada akhirnya kita sendiri yang makan x))))))
    Selesai ospek pun, senior dan junior bercanda mengenal ospek yang kemarin bagaimana junior yang pura-pura sakit dan segala macamnya, dan saya sih merasa ospek itu yang mendekatkan senior dan junior di fakultas saya.

    sayangnya Dua angkatan di bawahku ospek semacam ini dihapus, saya sih cukup sedih, karena saya melihat sekali perbedaannya. 2 angkatan di bawah saya, saya melihat perilaku mereka terlihat apatis, entahlah mungkin ada yang perlu di benahi di ospek yang baru, agar antara senior dan junior tidak ada jarak.

    Oia untuk perpus ini memang perlu sekali, apalagi ketika kuliah itu merupakan sumber penting untuk mencari tugas-tugas kuliah. sayangnya ketika saya kuliah, perpus buka jam 10 dan tutup jam 12 :'( kadang demi nyari tugas terpaksa mencuri waktu ((mencuri waktu)).

    tapi bener sih tadi yg di bilang entah kata siapa d atas, tanpa kita sadari segala ucapan dan perbuatan kita bisa saja masuk kategori membully. (mungkin termasuk saya) x)))))

    ehmmm jadi gitu ajah sih mak commentnya, ehmmm mak mau curhat, aku sakit yah tp ndak ada yg percaya :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ompeb! Mahahahaha...

      Asyik banget tuh yang SMA. Pas giliran lo cerita waktu sesi sharing kapan itu kenapa bagian nulis rumus di dinding kaga disebut? Dan teteup yeee, kalau udah bagian makan, elo cepet hahahaha... #Laaah :))



      *pukpuk ompeb yang lagi sakit, pukpuk pakek baju zirah :((

      Delete
  11. Semoga makin kesini makin berkurang yaa mbak tentang bully-ing ini :(

    Salam kenal,
    Ijal Fauzi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin aamiin...

      Salam kenal kak Ijal :)

      Delete
  12. Anakku juga pernah kena Bully. Untung sekolahnya kooperatif. Lebih enak ngatasinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syukurlah sekolahnya kooperatif... Semoga anak Bu Ika selalu sehat dan bahagia. Salam kenal dan salam sayang untuk anaknya, Bu... :)

      Delete
  13. Waah! isuu bullying emang lagi marak beredar nih!

    I used to be a victims, but now, i choose to be a fighter who stand up to make this world better without bullying.


    Semangat semuaa, bumi hanguskan bullying!

    Oh iya, aku baru denger kalo anaknya temen mama aku kena kekerasan di dalam sekolah. Tapi sayangnya oleh pihak temennya mama aku, gak dilaporin soalnya ayahnya satu organisasi yang menaungi sekolah itu.

    Sedih ya :"(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Atula cedih pican. Jadinya kepentingan sama hak anak yang jadi korban justru yang tidak didahulukan. Kasihan anaknya :(

      You're a survivor, Mips. And I'm pretty sure, people around you, who know you well, are really proud of you. Good luck!

      Delete
  14. Ngalamin oapek yang nganu cuma pas sma aja sih mak. Emang sih gak pake fisik, tapi barang yang harus dibawanya itu bikin nganu. Dan entah kenapa biasanya kalo tiap akhir ospek selalu ada julukan kakak terbaik, kakak terfavorit dan kakak tergalak. Dan yang dijulukin kakak tergalak itu seneng. Mehehehw

    ReplyDelete
  15. Bullying meresahkan ya mbak...

    ReplyDelete