24 September 2014

[PSY TALK] Anti-Bullying Campaign - Pocketbac and the Lack of Empathy

Sumber: Pocketbac

Ada sebuah dongeng klasik. Iya, klasik. 

Kisah seperti ini selalu ada dari masa ke masa. Selama ada si superior dan si inferior, kisah ini kemungkinan besar akan merajai kehidupan kita sehari-hari, setiap saat.

Tersebutlah sebuah kota bernama Jekardah. Di sana ada sebuah sekolah prestisius, dengan bayaran ratusan juta rupiah setiap tahunnya. Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar-Menengah-Atas sama saja. Butuh biaya hingga 300 juta rupiah per tahun.

Sebut saja sekolah itu sebagai sekolah NFS, mengingat inisial namanya mirip sekali dengan nama lengkap saya yang cantik jelita penuh pesona menawan ini. Sekolah Nia Fajriyani Sofyan.

Di sekolah NFS, ada seorang anak perempuan cantik bergelar Princess. Bukan. Ini bukan Princess kita, Princess Zimbabwe bersekolah di sekolah khusus sekolah para Pangeran Tampan dan Putri Cantik di negeri asalanya, Zimbabwe.

Princess ini kelas IV. Dia menjadi ikon super cantik, gaul, tajir mampus di NFS. Tidak ada orang lain yang boleh mendapat gelar kehormatan Princess di angkatannya, selain PRINCESS.

Di NFS, ada seorang gadis cantik lainnya, bernama Putri. Dia ini sangat sederhana, gemar menabung, dan rajin pangkal pandai. Meskipun dia berasal dari keluarga yang juga kaya raya seperti Princess, namun sikap jauh lebih membumi.

Suatu hari, Putri membeli pocketbac lucu. Kalian tahu pocketbac kan?

Apa?! 

Kalian tidak tahu pocketbac

Astagah! 

Pantas saja kalian tidak pernah bisa menjadi bagian dari lingkaran Princess...

Pockerbac itu aksesoris lucu yang sering digantung di tas-tas para Princess dan Putri di seluruh dunia. Biasanya menjadi tempat menaruh gel pembersih tangan, minyak angin dengan wangi semerbak harus mewangi trendi masa kini, atau sabun dan gel mandi. Bentuknya lucu sekali, ada gambar-gambar kartun berwarna-warni. Cocok untuk ikon gaul dan girly seperti Princess. Paris Hilton dan para gadis Manhanttan di Gossip Girl saja bukan tandingan Princess. Apalagi, seorang Putri.

Putri menggantungkan pocketbac lucu yang baru dibelinya ke tas yang biasa dia pakai ke sekolah. Seketika itu juga, NFS geger!!!

Putri langsung melesit tajam, kedudukannya meningkat saat itu juga. Naik meluncur terus ke atas, seperti roket, sebagai ikon gaul masa kini terbaru. Mengalahkan posisi ketenaran Princess.

Princess dan para dayang marah besar!

Belum pernah sekali pun posisi Princess dikalahkan oleh gadis manapun di sekolah NFS. Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Akhirnya, Princess dan para dayangnya membuat surat kepada Putri. Invitation, begitu istilahnya. Putri diundang untuk mengikuti kegiatan mereka, sesaat setelah pulang sekolah, di salah satu ruang kelas yang ada di sana.

Putri yang polos tidak menaruh kecurigaan apapun. Dia tidak sadar bahwa dia sedang diundang untuk masuk ke dalam neraka kecil, neraka yang selama ini tersembunyi keberadaannya dari siswi polos seperti Putri.

Putri pun menghadiri undangan tersebut. Benar saja. Di sana Princess dan para dayang menyiksa Putri sedemikian rupa. Putri dipukuli, ditampar, ditendang, dan dicubit sampai menangis. Tubuhnya penuh luka dan memar. Princess tidak terima karena Putri memiliki pocketbac yang sangat lucu, pocketbac yang belum dimiliki oleh Princess dan menjadi incaran dia juga.

Beruntung, Miss Dhila, kepala sekolah di NFS punya kebiasaan untuk menyisiri setiap lorong sekolah dan juga kelas-kelas setiap pulang sekolah. Untuk memastikan tidak ada siswa yang tertinggal di sekolah yang maha luas itu, terutama siswa-siswi Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Makanya, kejadian Putri cepat diketahui oleh Miss Dhila.

Akhirnya, Miss Dhila memanggil Miss Lina, wali kelas Princess dan Putri. Miss Lina bertanya kepada Princess tentang alasannya menyiksa Putri. Princess hanya menjawab dengan datar, "... karena Putri punya pocketbac lucu, Miss."

Miss Lina menanyakan kepada Princess, untuk memastikan bahwa Princess mengetahui perbuatannya tersebut salah atau benar. Princess kembali menjawab dengan datar, yang intinya menjelaskan bahwa dia merasa perbuatannya itu benar. Tidak ada yang salah. Menurutnya, Putri memang tidak boleh memiliki pocketbac lucu, hanya Princess yang boleh menjadi yang terdepan dalam segala hal.

Miss Lina pusing. Miss Dhila sakit kepala. Keduanya nyaris frustrasi menghadapi sikap Princess.

Miss Dhila pun menghubungi orang tua Princess, menuntut tanggung jawab dari mereka atas sikap yang ditunjukkan oleh Princess. Sementara itu, Putri langsung diamankan ke klinik NFS untuk diobati. Orang tua Putri juga dipanggil supaya segera datang dan menyelamatkan Putri.

Kemudian...

Datanglah orang tua Putri lebih dulu, Maminya panik dan histeris mendengar kisah pilu Putri. Dia segera bersiap untuk menuntut orang tua Princess. Tapi sebelum itu, dia memilih menenangkan Putri yang masih terlihat ketakutan di dalam klinik.

Orang tua Princess datang belakangan. Begitu Miss Dhila dan Miss Lina menjelaskan kasus Princess yang menganiaya Putri kepada orang tua Princess, kepala Miss Dhila dan Miss Lina semakin sakit bukan kepayang.

Lho.... Ada apa ini, ada apa?

Rupanya, Mama dari Princess hanya tertawa menanggapi cerita anaknya. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh Princess merupakan sebuah hal yang lucu.

Kok bisa?

Diketahui bahwa setiap perilaku yang dilakukan oleh Princess dan para dayang tadi sama persis dengan adegan dari tayangan televisi yang ditonton oleh Mama dan Princess di rumah. Mama terus saja tertawa seolah tidak menyadari bahwa Putri hampir saja tewas disiksa oleh Princess dan para dayang.

Miss Dhila nyaris pingsan. Untung saja, Miss Lina sigap sehingga Miss Dhila tidak sampai terjatuh ke lantai.


***


Ini kisah nyata, ini bukan kisah rekaan. Kasusnya sempat ditangani oleh salah satu teman saya. Ketika kami membahas ini, kami sampai sama-sama mengalami sakit kepala karena merasa bahwa pemicu masalah-masalah bullying semakin lama semakin "ajaib", seolah ada yang "salah" dari anak-anak atau remaja zaman sekarang.

Kami berdua sama-sama berpikir, kira-kira apa yang "salah" dalam hal ini dan di mana letak penentu dari akar permasalahan ini? 

Kami menyimpulkan; bukan saja ada pihak superior dan inferior yang terlibat. Sebagai mantan pelaku bullying ketika saya TK, saya sampai mengingat-ingat apalagi yang kira-kira dapat menjadi penyebab timbulnya perilaku mem-bully. Akhirnya, kami jadi menyadari bahwa empati adalah kuncinya.

Ingat cerita Princess di atas? Bagaimana reaksi orang tuanya ketika mengetahui bahwa anaknya telah mem-bully anak lain? Ya! Ibunya justru tertawa dan menganggap hal tersebut sebagai hal yang lucu karena sama persis dengan adegan di tayangan sebuah sinetron yang pernah ditonton Princess ketika ada di rumah. Dalam hal ini, reaksi yang ditunjukkan oleh orang tua sebagai bentuk respon terhadap masalah bullying yang dilakukan Princess membuat pihak-pihak yang menangani masalah tersebut menduga kuat bahwa kemungkinan besar orang tua Princess juga tidak pernah mengajarkan empati terhadap anaknya. Bahkan, kemungkinan besar, orang tua Princess pun bermasalah di area empati.

Membangun kemampuan berempati merupakan sebuah proses yang bertahap, bukan proses yang instan. Berempati terhadap seseorang artinya mampu memposisikan diri atau membayangkan sebuah kondisi maupun perasaan yang sedang dialami oleh seseorang tersebut, sehingga kita mampu untuk mengeluarkan respon secara tepat. 

Pengalaman untuk berempati dapat dimulai sejak kanak-kanak. Di masa balita, anak mungkin hanya mampu secara samar dalam memahami sebuah proses berempati. Di usia tersebut, seorang anak belum mampu sepenuhnya menyadari bahwa yang sedang dia lakukan adalah sebuah sikap berempati. Misalnya, ketika anak melihat temannya menangis dan kemudian dia memeluk temannya tersebut. Di sini, anak secara sederhana hanya melakukan apa yang menurutnya dapat dia lakukan untuk menenangkan temannya tersebut, sama seperti yang kemungkinan biasa dia alami ketika Ibu memeluknya saat menangis. Apabila kemudian dia mendapat pujian atas perilakunya terhadap teman yang menangis, maka di sini anak akan belajar untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan mendapat pengalaman untuk mengembangkan emosi positif, yang di kemudian hari akan membantunya untuk berempati terhadap kondisi yang sedang dialami oleh orang lain. Anak usia balita masih sulit untuk memahami atau membayangkan sebuah konsep berdasarkan perspektif orang lain. Jadi, memberikan contoh melalui pengalaman langsung merupakan salah satu cara terbaik untuk membantunya memahami empati. Akan semakin baik apabila orang dewasa di sekitarnya turut memberikan penguatan melalui deskripsi keadaan teman yang menangis tadi. Seperti, menjelaskan bahwa teman menangis karena kehilangan mainan. Melalui hal ini, anak terbantu untuk menjadi lebih peka terhadap perasaannya serta perasaan orang lain. 

Berdasarkan hasil-hasil penelitian, dipercaya bahwa anak terlahir dengan kapasitas untuk berempati. Dengan kata lain, tentu saja setiap anak berpotensi untuk mampu berempati. Meski demikian, sikap berempati harus merupakan sesuatu yang sifatnya natural, spontan, dan tulus. Sebagai contoh, terkadang orang tua berupaya mengajak anak untuk mengucapkan "maaf" apabila berbuat kesalahan terhadap orang lain. Apabila anak mengatakan "maaf" tanpa sepenuhnya memahami mengapa kata "maaf" terkait dengan apa yang dialami orang lain akibat perbuatannya, atau tanpa memahami bagaimana kata "maaf" dapat berpengaruh dalam memperbaiki hubungannya dengan orang lain yang mengalami rasa sakit (fisik maupun psikologis) akibat perbuatannya, maka anak tidak akan pernah belajar untuk berempati terhadap orang lain. Untuk itulah, kemampuan berempati harus dilatih dan anak harus dikenalkan dengan beragam jenis emosi, seperti marah, kecewa, kesal, sedih, senang, gembira, atau bahagia. Dalam hal ini, tentu saja orang tua merupakan guru utama anak dalam belajar berempati.


Have a blessed day!