03 July 2014

[THOUGHTS] Kamisan #6 Game of Love - Redemption


Aku menatap pasangan kesayanganku selama beberapa bulan ini. Mereka terlihat bahagia, sangat bahagia. Kilau di mata mereka saat saling menatap dapat membuktikan seberapa dalam perasaan cinta yang mereka miliki satu sama lain. 

Hatiku kembali merasa tidak tenang. Ada rasa nyeri di sana, di dalam relung hatiku yang terdalam. Kali ini bukan rasa sakit yang sama dengan yang aku biasa rasakan dahulu. Rasa sakit itu penuh dengan amarah, sedangkan rasa sakit ini penuh dengan penyesalan. Entah dengan cara apa aku harus menebus semuanya.

"Jangan lagi memintaku untuk meninggalkanmu karena aku tidak mau melakukannya, atas dasar apapun, atas alasan apapun. Aku siap menanggung resiko. Selama itu bersamamu, aku tidak merasakan takut karena aku tahu aku akan bahagia."

Aku mendengar perempuan muda di depanku berusaha meyakinkan laki-laki muda, yang juga kekasihnya. Aku tersenyum melihat ketulusan terpancar dari matanya. 

Namanya, Rania. Seorang perempuan muda yang sangat cantik. Sudah setahun belakangan ini dia dekat dengan laki-laki muda bernama Satria, yang secara diam-diam aku asuh selama puluhan tahun. Tidak ada yang menyadari kehadiranku di rumah besar ini, selain Satria. Kepadaku, dia bercerita banyak hal. Mulai dari sejarah keluarganya, trauma yang pernah menghampirinya, serta kebahagiaan yang dia rasakan semenjak bertemu dengan Rania. 

Tidak ada satupun rahasia diri Satria yang tidak aku ketahui. Di lain pihak, tidak ada satupun kebenaran yang Satria ketahui tentang diriku. Bagi Satria, aku adalah penolongnya, sekaligus teman terdekatnya. Sementara, Satria tidak pernah mengetahui apa andil keberadaan diriku di dalam sejarah keluarganya.

Aku menatap Satria dan dia balas menatapku. 

"Percayalah kepadanya, Satria. Percayalah...." bisikku dari jauh. Kami saling berbagi pandangan dan aku mencoba mengirimkan kekuatan kepada dirinya, tanpa Rania ketahui. 

***

"Aku bertemu seorang perempuan cantik..." katamu suatu ketika, saat pertama kali bercerita mengenai Rania.


Aku mendengarkan Satria bercerita panjang lebar mengenai betapa cantik dan baik hatinya Rania. Saat dia dibawa ke rumah besar ini, seluruh keluarga hingga para pelayan di rumah besar menyukainya. Ibu Satria, yang biasa bersikap keras dan sulit untuk dipahami, bahkan sampai luluh karena merasakan ketulusan terpancar dari setiap perilaku Rania. 

Satu hal yang tidak disadari oleh Satria maupun Rania, seluruh keluarga besar mengkhawatirkan satu hal. Cerita turun temurun di dalam rumah besar, legenda yang sulit dipercayai tetapi keberadaan sungguh nyata, menghantui mereka semua.

Tidak ada yang menafikan ketulusan hubungan antara Satria dan Rania, tidak ada. Tetapi, saat akhirnya Satria mengetahui legenda tersebut, sebuah keputusan dia pilih untuk menyelamatkan Rania. Satria meninggalkan Rania karena tidak ingin Rania menderita.

Aku semakin menyadari, kali ini, sudah sepatutnya aku mengambil tindakan supaya keluarga Satria terlepas dari segala hal yang aku kirimkan ke mereka dulu.

***

"Kau yakin ingin menukar hidupmu dengan ini semua?"

Aku menatap wanita berpakaian gypsy di hadapanku, "Yakin. Aku tidak peduli dengan hal lainnya, yang terpenting aku bisa menyaksikan penderitaan keluarga mereka."

"Tapi, kau akan terperangkap di dalam dunia ini tanpa pernah bisa pergi. Apa kau siap dengan konsekuensi tersebut?" tanya dia, lagi.

"Siap. Saat ini aku mempertaruhkan seluruh hidupku, mempertaruhkan semuanya. Aku ingin kehancuran melanda mereka, jadi bagaimana mungkin aku tidak siap dengan kehancuran diriku sendiri?"

"Lily! Pikirkan baik-baik, aku beri kau waktu semalam untuk berpikir lebih matang lagi."

Tidak. Aku tidak butuh waktu untuk berpikir lagi. Aku sudah mempertimbangkan semuanya. Hidupku sudah hancur, tidak ada salahnya dibuat semakin hancur lagi, "Tidak perlu, lakukan sekarang juga. Lakukanlah, sesuai dengan keinginanku."

Forget me, forget me not.

Aku memulai ritual, seperti yang diinstruksikan perempuan gypsy tadi. Aku merapal yang harus aku rapalkan. Aku mengingat semuanya dan berusaha tidak melupakan setiap detail. Aku mengenang kesakitan dan penghinaan yang aku alami sejak beberapa minggu sebelumnya.

By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
The curse will always haunting your family
As a punishment for all the hardships you have put me through

By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
They shall pay for what has been done
As a punishment for all the hardships they have put me through

With the power from the sky
With the power from the earth
With the power from the sun

I use my power
I use my will for all their trouble
For now on they shall receive struggle

This black curse
This black power
I curse you
I curse your family

Forever
For the hundred years ahead

Shoshannat-ha-amaqim...

Aku mengusap perutku, ada janin yang hidup di sana. Janin yang sebentar lagi akan terlahir ke dunia. Sayangnya, dia tidak akan pernah mengenalku. Apapun itu, aku sudah siap. Jiwaku sekarat dan aku butuh melampiaskan semuanya terhadap mereka.

By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
They shall not die, no
Bring them the suffering by the death of the loves one 

As a punishment for all the hardships you have put me through
As a punishment for all the hardships they have put me through

By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
They shall not die, no
Rather than death, I wish upon suffering unto

As a punishment for all the hardships you have put me through
As a punishment for all the hardships they have put me through
  
By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
They shall not die, no
Taking away everything he loves most will certainly do
Taking away everything they love most will certainly do

As a punishment for all the hardships you have put me through
As a punishment for all the hardships they have put me through

An eternal life of suffering and depression he will see
 An eternal life of suffering and depression they will see

This is my will
So mote it be

Forget me not...


Maafkan Ibumu, nak. Maaf karena aku memilih melepasmu. 

Perempuan gypsy memberiku sebuah liontin giok, "Simpan ini. Saat tiba saatnya kau ingin melepaskan diri, gunakan ini sebagai alatmu membebaskan kutukan."

"Tidak. Aku tidak berminat untuk melepaskan diri dari apapun. Ini jalanku dan aku sudah memilihnya dengan matang!" tegasku.

"Simpan saja. Kalau kau tidak ingin menganggapnya sebagai alat untuk membebaskan diri dari pengaruh mantra dan kutukan yang sudah kau tanam, anggap liontin giok ini sebagai hadiah terakhir dariku."


***

Aku melihat pasangan ini lagi. Sama seperti dulu, aku tidak menginginkan siapapun mengenangku, mungkin kali ini aku harus melakukan hal serupa lagi.

Bagaimanapun, Satria masih keturunanku sendiri. Kakek buyutnya adalah anakku, seorang anak laki-laki yang tidak pernah mengenal siapa Ibunya karena Ibunya memilih untuk mengikuti jalan yang -- belakangan ini -- baru aku sadari merupakan sebuah jalan yang sangat salah.

Aku mengingatnya dengan jelas ketika aku meninggalkan anakku di halaman utama rumah besar ini. Melepasnya untuk diasuh oleh keluarga Ayahnya, yang sebenarnya tidak pernah mengharapkan dirinya. Tetapi, aku tahu persis bagaimana kebutuhan keluarga ini terhadap kehadiran anak laki-laki. Tidak ada keraguan di dalam diriku bahwa anakku akan diperlakukan buruk oleh mereka, tidak pernah ada. Lagipula, tidak ada yang tahu bahwa itu anakku selain aku sendiri. 

Karena kemarahan, aku memilih jalan ini. Sekarang saatnya aku melepaskan diri setelah terjebak selama 100 tahun di sini.

Aku mengingat ucapan perempuan gypsy dulu, "Kau akan berada di antara dua dunia, apa kau sanggup? Kehadiranmu nyata tetapi tidak akan ada yang mampu melihatmu, apa kau sanggup? Tidak ada yang dapat melepaskan dirimu, kecuali kau sendiri yang ingin melepaskan diri."

Aku juga masih mengingat dengan jelas bagaimana responku saat itu. Aku bersikeras bahwa aku mampu. Kehancuran keluarga ini adalah keinginan terbesarku. Bagaimana mereka tidak dapat bersatu dengan orang-orang yang mereka cintai adalah cita-citaku. Bagaimana akhirnya mereka akan terjebak di dalam pernikahan yang tidak mereka inginkan adalah obsesiku. Sejauh ini aku berhasil, bahkan dengan mengorbankan kebahagiaan anakku sendiri. Aku memainkan peranku dengan maksimal dalam menghancurkan kebahagiaan tersebut. Rapalan mantraku tidak pernah meleset.

Tidak ada penyesalan, tidak pernah ada, sebelum akhirnya Satria terlahir dan aku ikut merawatnya. Ada dorongan di dalam diriku untuk mengasuh dan menjaganya. Dorongan yang terasa sangat asing. Anehnya lagi, Satria dapat melihatku. Dia mampu merasakan kehadiranku dan tidak merasakan ketakutan sedikit pun. Dia bahkan mempercayaiku.

Ketika Satria bertemu dengan Rania dan aku benar-benar terpesona pada cinta yang mereka pancarkan, baru saat itulah aku merasakan penyesalan yang sangat mendalam. Aku tidak pernah lagi merasa sanggup untuk merapal mantra. Tidak pernah...

Aku melihat Satria dan Rania sekali lagi.



Tanganku memegang liontion giok peninggalan perempuan gypsy. Aku sudah mengambil keputusan terakhir, tidak ada keraguan.

***

Cerita terkait
Kutukan 100 Tahun
Lily of the Valley


Have a blessed day!




Howreee!!!

#Kamisan dimulai lagi!!!

Ada sedikit perbedaan formasi di #Kamisan Season 2 ini. Di awal kami ber-12, sejak #Kamisan tema ini kami ber-16, yaitu:
  1. Olih
  2. Devi
  3. Aria
  4. Cikie
  5. Nia
  6. David
  7. Ria
  8. Koto
  9. Adji
  10. Renee
  11. Febi
  12. Adham 
  13. Feti
  14. Kirana
  15. Diah
  16. Keke

Ketentuan dasar mengenai penulisan di #Kamisan Season 2 masih sama dengan sebelumnya. Tema ketujuh ini adalah "GAME OF LOVE".

Sekarang, kami juga memiliki akun twitter, silakan follow @nuliskamisan. Kami juga memiliki blog khusus, silakan klik link ini.