12 June 2014

[FACTS] Kamisan #4 Halusinasi - Voices that Speak the Unspoken Mind

Matilah...

Aku membuka mata. Tanganku secara refleks menekan tombol di ipod. Aku berusaha untuk menghentikan playlist lagu-lagu yang sejak tadi aku mainkan. Tapi, aneh. Aku meraba telinga kanan dan kiri, mencari jejak headset yang tadi aku pakai. Sudah terlepas. 

Suara itu... Dari mana datangnya?

Kau ingin mati kan? Kau sudah merasa tidak berguna lagi untuk hidup di dunia ini kan? Ambil tali di gudang, gantung diriku sekarang!!!

Suara itu lagi... Dari mana asalnya? Aku melihat sekeliling kamar. Tidak ada siapapun. Suara siapa itu?

Matilah! Itu cara yang paling baik untuk membalas dendam kepada keluargamu.

Keringat dingin mulai membasahi telapak tanganku. Tidak, tidak. Aku tidak ingin mati. Tidak!!

Aku berdiri, bergerak tak tentu arah di dalam kamarku ini. First thing, first. Apa yang harus aku lakukan pertama kali?

Kau tidak lupa dengan cara Ayahmu memperlakukan dirimu selama ini kan? Apa yang sudah dia lakukan hah?! Merusak dirimu hingga berkeping-keping. Iya kan? Untuk apa lagi kau hidup. Pergilah ke gudang, sekarang! Ambil tali di sana, gantung dirimu!!!

Tidak. Tidak. Tunggu dulu.

Apa lagi yang kau tunggu?!

Tunggu dulu... Tidak. Aku takut mati.

Pergi ke kamar orang tuamu. Pergi ke kamar kakakmu. Lihat apa yang sedang mereka lakukan sekarang?! Katamu kau sedang sakit, tapi adakah dari mereka yang peduli dengan keadaanmu sekarang? Tidak ada!

Aku menurut. Aku berjalan ke arah pintu kamar. Tanganku menggenggam handle pintu dengan ragu, "Tapi... Tapi..." kataku kepada suara itu.

Apa lagi yang kau tunggu?!

Aku merasa ragu, haruskah aku benar-benar pergi ke kamar mereka? Aku memutar-mutar handle pintu yang berbentuk bulat itu. Telapak tanganku semakin basah oleh keringat dingin. Apa yang harus aku lakukan?

PERGI KE KAMAR MEREKA SEKARANG JUGA!!!

Galak sekali... Suara itu terdengar semakin keras, memerintah aku supaya melakukan apa yang dia minta. Aku ketakutan, sampai-sampai aku kencing di celana.

PERGI!!!

Aku segera berlari ke luar kamar. Aku terus berlari hingga ke ruang belakang rumah, ke dapur. Napasku ngos-ngosan. Bau anyir pesing bekas ompolku mulai tercium. Aku ke ruangan kecil yang hanya dibatasi oleh sedikit sekat di sebelah dapur, yang menjadi tempat si Mbok menyeterika pakaian. Aku ambil pakaian ganti dan segera ke kamar mandi, aku harus mandi.

Kau lihat cairan itu? Cepat! Lihatlah ke cairan yang aku maksud!

Suara itu... Masih saja menggangguku, Sejak kapan dia muncul? Kenapa tiba-tiba hari ini aku dihantui oleh suaranya?!

Cepat lihat cairan yang aku maksud!

"Iy... Iya...." aku menyahut lemah. Cairan apa? Ada beberapa botol cairan yang ada di dalam kamar mandi ini. Yang mana? Cairan pembersih lantai? Cairan untuk mengepel? Sabun cair?

Semuanya!

Suara itu... "Kau.... Kau... bisa membaca pikiranku?"

Tentu saja! Memangnya kau pikir aku ini siapa?

"Siapa?"

Kau memang sungguh bodoh!

Aku semakin mempercepat mandi...

Matilah... Pakai cairan-cairan tadi jika kau tidak mau menggunakan tali... Mati memang keinginanmu sejak lama kan? Jangan ragu lagi, minum cairan itu!

Aku membasuh tubuh semakin perlahan. Mataku menatap cairan pembersih lantai yang ada tepat di bawah kakiku saat ini. Apa memang harus aku minum cairan itu? Tapi, aku takut. Aku memang beberapa kali terpikir untuk mati, tapi aku takut mati. Aku masih takut mati. Sejak dulu aku takut mati. Makanya, meskipun aku ingin mati, aku tidak pernah benar-benar mencoba bunuh diri. Dulu juga suara-suara ini belum ada, kenapa dia sekarang mendesakku untuk mati?

Aku berusaha mendiamkan suara-suara yang masih saja terus merayuku untuk meminum cairan-cairan pembersih di dalam kamar mandi. Dengan cepat aku menyelesaikan mandi dan segera ke luar, berharap suara tersebut tertinggal di kamar mandi dan tidak lagi menggangguku, tidak lagi mengikutiku.

Kalau tidak mau meminum cairan tadi, kau bisa ke gudang saja. Di dalam gudang ada racun tikus kan? Kau minum itu saja. Atau... Atau begini... Kau lihat kotak obat di dekat ruang makan? Kau minum saja obat-obatan itu sekaligus, hahaha. Kau pasti bisa segera mampus, sesuai keinginanmu sejak dulu!

Suara ini semakin bersemangat memberitahu caraku untuk mati. Aku merasa ngeri, "Tidaaaak!!!"

"Nisrina! Kenapa berteriak?! Apa lagi yang kamu lakukan tengah hari begini?!" teriakan Papa mengagetkanku. Tiba-tiba saja Papa dan Mama sudah ada di depanku.

"Ngg... Enggak ada apa-apa..." jawabku, lesu. Keringat dingin tidak lagi hanya membasahi telapak tanganku. Rasanya, tubuhku semakin dibanjiri oleh keringat dingin ini. Aku tidak berani menatap Papa dan Mama.

"Kamu jangan aneh-aneh deh..." Aku menatap ke arah suara, sejak kapan kakakku ada di sini juga?

"Enggak... Aku enggak aneh-aneh..." tapi jawaban ini hanya aku sampaikan di dalam hati. Aku tidak aneh. Aku tidak pernah aneh.

"Sudahlah, Pa... Ma... Biarin si Nisrina ini mau ngapain. Biasa juga enggak penting yang dia lakuin."

"Aku..." susah payah aku menahan supaya tidak menangis setelah mendengarkan kakakku berkata barusan.

"Kamu ini, bisa tidak untuk tidak membuat kami harus meladeni keanehan kamu?!" Mama ikut berkata pedas terhadapku. Kali ini, aku tidak lagi mampu menahan tangis.

"Ma... Tadi... Tadi..." Aku ingin sekali bercerita kepada mereka bahwa aku mendengarkan suara-suara aneh. Tetapi, pasti mereka akan semakin menganggapku aneh.

Sejak dulu, mereka sudah menilai bahwa aku anak yang aneh. Aku tidak pernah bisa menyamai kakakku di segala bidang. Aku tidak secantik kakakku. Aku tidak pernah bisa berprestasi akademik seperti kakakku. Aku juga tidak memiliki banyak teman seperti kakakku. Intinya, Aku selalu berada di bawah bayang-bayang kakakku.

Bagi Papa dan Mama, hanya kakakku yang bisa menandingi segala jenis popularitas dan juga prestasi yang dimiliki Papa dan Mama sejak mereka muda. Posisi terbaik adalah syarat mutlak yang harus bisa diraih, sehingga prestasi sebagai posisi ke-dua seperti yang selalu aku dapatkan di sekolah merupakan sebuah aib yang tidak dapat diterima oleh semua anggota keluargaku ini.

Hingga kini, Papa dan Mama juga dikenal sebagai pasangan Psikolog teladan dan aktivis kemanusiaan. Bahkan menjadi contoh keberhasilan orang tua dalam mendidik anak. Sementara kakakku, selain bersinar di akademik, dia juga berprestasi sebagai model muda yang berbakat. Jika di depan umum, aku terpaksa harus mengikuti kemauan mereka, berakting sebagai anak yang bahagia. Perlakukan Papa, Mama, dan kakakku terhadap aku tentu saja berbeda dengan yang mereka tunjukkan kepadaku saat ini.

Aku selalu bisa merasakan bagaimana orang tua menilai Aku dan kakakku. Perilaku mereka terhadapku, tatapan mata saat mereka bersikap kepadaku, semuanya.... Semuanya terasa berbeda. Tidak pernah satu kalipun aku merasakan kehangatan sikap orang tua, seperti yang diperlihatkan Papa dan Mama ketika bersikap kepada kakakku.

"Kamu tuh ya... Moron. Beneran pathetic hidup kamu itu. Enggak layak jadi bagian keluarga kita, tahu?!" airmataku semakin mengalir deras saat mendengarkan ucapan kakakku barusan. Ini bukan pertama kalinya aku mendengar dia berujar yang menyakitkan. Tetapi, kali ini, rasanya aku semakin hopeless atas hidupku sendiri.

Sudah kukatakan sejak tadi. Kau seharusnya menuruti perintahku. Mati saja. Ada pisau di meja makan. Pakai itu untuk mati!

Suara itu muncul lagi. Mungkin benar, aku sebaiknya mati saja. Apa yang harus aku lakukan? Untuk sekedar mengelap air mata ini pun aku tak sanggup. Apa yang harus aku lakukan?!

Aku tidak tahan lagi, "Apa yang harus aku lakukan?!"
"Mau kalian apa?!" aku kembali berteriak.

Aku berlari ke ruang tengah, melewati kamar almarhumah nenekku yang baru saja meninggal sebulan yang lalu. Aku masuk ke sana, mengunci kamar rapat-rapat.

Aku membenamkan diri di atas tempat tidur nenek. Wangi beliau masih tercium di sana. Rasanya menenangkan. Aku selalu menyukai aroma tubuh nenek. Aku merindukan kehadirannya. Selama ini aku bisa bertahan karena ada nenek yang selalu membelaku meskipun pembelaan itu tidak pernah dianggap berarti oleh orang tua dan kakakku. Ada nenek yang mau mendengarkan keluhanku, ada nenek yang mau menemaniku. Aku merindukannya, sangat merindukannya.

Suara ketukan terdengar bersahutan, tetapi aku memilih tidak mempedulikan mereka.

Kau ingin mati kan? Aku bisa memberitahu caranya kepadamu... 


Have a blessed day!


Howreee!!!

#Kamisan dimulai lagi!!!

Ada sedikit perbedaan formasi di #Kamisan Season 2 ini. Di awal kami ber-12, sejak #Kamisan tema ini kami ber-15, yaitu:
  1. Olih
  2. Devi
  3. Aria
  4. Cikie
  5. Nia
  6. David
  7. Ria
  8. Koto
  9. Adji
  10. Renee
  11. Febi
  12. Adham 
  13. Feti
  14. Kirana
  15. Diah
Ketentuan dasar mengenai penulisan di #Kamisan Season 2 masih sama dengan sebelumnya. Tema keempat ini adalah "HALUSINASI".

Sekarang, kami juga memiliki akun twitter, silakan follow @nuliskamisan. Kami juga memiliki blog khusus, silakan klik link ini.