19 June 2014

[EXPERIENCES] Kamisan #5 Wishy Washy - You Can't Please Everyone




Aku meperhatikan laki-laki itu sejak tadi, dia sedang bersama seorang wanita. Sepertinya, mereka sedang membahas sesuatu secara serius. Aku merasa penasaran dengan perbincangan mereka, akhirnya aku memilih mendekat ke arah mereka.

"Aku mau kamu berhenti bekerja, setelah nanti kita menikah..." kata laki-laki itu.

Sang wanita, nampaknya tidak setuju. Keningnya terlihat berkerut dan mulutnya mengerucut. Waduh, dia ngambek, pikirku.

Akhirnya, wanita itu bersuara, "Tapi, kalau aku tidak bekerja, aku bisa mati bosan di dalam rumah."

Laki-laki tadi menarik napas, "Oke. Aku izinkan kamu untuk tetap bekerja. Tapi, aku mau tetap kamu tetap mengurus rumah dan anak-anak nanti."

"Sayang... Coba kamu bayangkan begini, aku bekerja dari pagi sampai sore, setiap Senin sampai Sabtu. Itupun kalau aku tidak lembur, makanya bisa pulang dan sampai di rumah sore hari. Bagaimana kalau aku lembur? Aku pasti capek, kan? Kamu enggak kasihan sama aku?"

"Tapi, bagaimanapun, kamu kan Nyonya rumah. Masa bukan kamu yang mengurus rumah?" laki-laki tadi berusaha berpendapat.

"Kita kan bisa bayar orang untuk mengurus rumah. Kamu mau, kan, menuruti permintaan aku ini?"

Aku melihat laki-laki tersebut terdiam sebentar, sebelum akhirnya memberikan jawaban, "Oke... Oke... Aku tidak akan paksa kamu untuk mengurus rumah. Kita sewa pembantu."

"Gitu dong..." wanita itu pun menggelayut manja. Dia tersenyum lebar sekali dan memeluk laki-laki tadi dengan erat.

"Sayang... Tetap kamu, kan, yang akan mengurus anak-anak kelak?" lagi-lagi, laki-laki tadi mengajukan pertanyaan kepada wanitanya.

"Hmm..." wanitanya, lagi-lagi-lagi-lagi, terdiam sebelum menjawab. Bibirnya, lagi-lagi-lagi-lagi, mengerucut. Duh, dia cemberut lagi.

"Ayolah... Masa kita serahkan ke pengasuh?" desak si laki-laki.

"Tapi... Sayang... Aku kan sudah memutuskan akan tetap bekerja, tadi kamu juga sudah setuju. Kalau aku capek, gimana bisa aku urus anak juga?!" kali ini, suara si perempuan mulai meninggi.

"Ssst... Sayang... Jangan kencang-kencang..." si laki-laki terlihat panik, mungkin dia malu. Well, aku yang menonton mereka pun sebenarnya merasa risih dan malu.

Sementara itu, si wanita masih berbicara dengan suara cukup kencang, "Kamu ga sayang aku!"

"Bukan. Bukan seperti itu..." si laki-laki berusaha memberikan pembelaan, "Masa urusan anak akan kamu serahkan ke pengasuh semua sih?!"

Uh, oh. 
Suara si laki-laki ikut meninggi. Ini seru...

Aku semakin berusaha konsentrasi untuk mendengarkan percakapan mereka. Jarang-jarang aku berkesempatan untuk menonton sinetron secara live begini. Hitung-hitung, penyegaran atas rasa suntuk yang aku rasakan selama seharian di kantor tadi. Hihi.

"Waktu itu kan kamu sudah setuju kalau aku mau anak-anak kita nanti diasuh sama pengasuh. Kamu juga sudah setuju kalau aku tetap bekerja. Memangnya aku robot dan tidak merasa capek karena seharian bekerja?!"

"Tapi kan urusan mengasuh anak jadi tanggung jawab Ibunya!"

"Kan yang bikin anak bukan cuma aku!"

"Iya. Tapi kamu kan Ibunya!"

"Ya enggak gitu, lah! Masa Bapaknya tidak ikut mengurus anak?!"

"Bapaknya, kan, sibuk bekerja untuk cari uang!"

"Ibunya juga, kan, ikut bekerja untuk cari uang!"

"Itu, kan, kemauan kamu sendiri yang mau tetap bekerja setelah menikah!"

"Ya, itu, karena aku tahu kalau kamu tidak becus cari uang!"

"Dari mana kamu bisa bilang aku seperti itu, hah?!"

"Halah! Semua juga tahu kamu itu seperti apa!"

"Maksud kamu apa?!"

"Kamu tuh plin plan! Enggak becus! Payah! Banyak keinginan, banyak rencana, tapi enggak ada yang dilakukan!"

"Sopan amat kamu bilang gitu!"

"Heh! Dulu kamu bilang mau usaha keras supaya dipromosikan jadi Manajer di kantor. Mana buktinya?! Bertahun-tahun kamu bekerja, masih saja jadi pegawai biasa. Dulu kamu juga bilang, mau berhenti menghabiskan uang demi hobi-hobi enggak penting kamu yang enggak menghasilkan apa-apa itu. Katanya kamu mau menabung supaya bisa membelikan aku rumah. Tapi, mana buktinya?! Sampai sekarang, kamu masih enggak punya tabungan, kan?!"

"Maksudnya?!"

"Masih kurang jelas, hah?! Aku aja enggak yakin kamu mengajak aku menikah sekarang, kalau bukan karena didesak sama orang tua kamu. Iya, kan?!"

Wanita itu mulai menangis. Laki-laki tadi jadi terdiam.

"Rencana lamaranku ke kamu, batal. Kita tidak jadi menikah. Kita putus." ucap si laki-laki, setelah keheningan yang cukup lama.

Si wanita tersenyum sinis, "Baru saja kamu mengajak aku menikah, sekarang kamu membatalkan?! Fine. Kita putus, kali ini benar-benar putus. Aku muak dengan sikap kamu yang tidak pernah konsisten."

Wanita itu kemudian berdiri, melepaskan sebuah cincin -- yang baru saja tadi aku lihat dipasangkan oleh si laki-laki ke jari manis kanan wanita itu, "Bye!"


Have a blessed day!




Howreee!!!

#Kamisan dimulai lagi!!!

Ada sedikit perbedaan formasi di #Kamisan Season 2 ini. Di awal kami ber-12, sejak #Kamisan tema ini kami ber-15, yaitu:
  1. Olih
  2. Devi
  3. Aria
  4. Cikie
  5. Nia
  6. David
  7. Ria
  8. Koto
  9. Adji
  10. Renee
  11. Febi
  12. Adham 
  13. Feti
  14. Kirana
  15. Diah
Ketentuan dasar mengenai penulisan di #Kamisan Season 2 masih sama dengan sebelumnya. Tema kelima ini adalah "WISHY WASHY".

Sekarang, kami juga memiliki akun twitter, silakan follow @nuliskamisan. Kami juga memiliki blog khusus, silakan klik link ini.