30 May 2014

Jumatulis #11 : Bosan, Tindas, Tekanan, Bunuh, Tertawa - Lily of the Valley

Aku tertawa, getir. Batinku merasa sangat bosan. Aku tersiksa, perasaan tersiksa yang membuatku seperti ingin bunuh diri. Bukan berarti aku benar-benar ingin mati. Bukan. Tidak pernah ada satupun jenis penindasan yang selama ini menghantamku, yang bisa sampai membuatku ingin mati. Dan tidak pernah ada satu kali pun tekanan hidup yang menderaku, yang juga sampai membuatku ingin enyah dari muka bumi ini. Tidak pernah ada. Apalagi, kali ini, hanya sekadar masalah hati; sebuah masalah yang selama ini selalu aku anggap remeh, perkara sepele, worthless.

Forget me, Forget me...

Kacaunya, kali ini terasa begitu nyata. Sakitnya, benar-benar sakit.

Aku, tersiksa.

***


Namaku Lily. Kisahku serupa dengan kisah Lily of the Valley. Bunga lili yang tumbuh subur di sekitar lembah; Convallaria majalis, menjadi simbol saat Paskah dan prosesi pernikahan. Jangan samakan dengan Easter Lily. Bentuk keduanya serupa, tapi tak sama.

Lily of the valley bisa sangat beracun, sama sepertiku. Setelah memancing orang untuk menghampiri -- dengan bermodalkan keindahan ragawi yang dimiliki -- kami, kaum Lily of the Valley, kemudian membuat orang tersebut merasakan kesakitan, bahkan kematian. Di sisi lain, kami juga menjadi obat-obatan mujarab, yang dapat membantu orang lain untuk bisa tumbuh dan berkembang lebih baik. Tidak lagi merasakan kesakitan.

Aku teringat dengan kisah Virgin's Tears, air mata perawan. Air mata dari tangisan perawan Maria pada saat Yesus disalib. Ah, sebenarnya ada banyak lagi mitos terkait Lily of the Valley. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa bunga ini berasal dari air mata Hawa ketika dia dan Adam diusir dari Taman Eden -- taman surgawi -- saat mereka berdua memakan buah khuldi, buah terlarang.

"Ada lagi, Lily. Ada legenda lainnya yang menyatakan bahwa bunga lili muncul setelah ada pertempuran darah antara Saint Leonard, seorang pertapa suci yang berasal dari Noblac dan juga teman dekat Raja Clovis, dengan naga. Pada akhirnya, dia berhasil mengusir naga tersebut pergi. Saint Leonard ini seorang pejuang yang pemberani dan tidak kenal takut. Hidupnya hanya diisi dengan berkomunikasi dengan Tuhan, inilah yang melandasi kenapa Saint Leonard hidup di dalam hutan dan bertemu dengan naga penggoda iman. Tujuan Saint Leonard tinggal di hutan hanya satu; menghindari godaan duniawi. Tapi, naga tersebut menuntut Saint Leonard untuk meninggalkan hutan. Dia membakar gubuk yang ditempati oleh Saint Leonard menggunakan api yang muncul dari napasnya." tambahmu ketika itu.

Iya. Aku tahu. Dan sejak itu, setiap tahunnya, ketika bunga-bunga lili bermekaran di setiap lembah yang terpercik darah Saint Leonard dan menyebarkan mewangian surgawi, kisah tentang Saint Leonard akan selalu berulang. Mengingatkan kita bahwa keindahan duniawi yang terpancar dari bunga lili dan dapat kita nikmati setiap saat ini berasal dari pengorbanan seorang santo. Hutan Saint Leonard masih ada sampai saat ini. Sementara itu... Bekas percikan darah naga, konon ditumbuhi gulma beracun. Aku yakin, racun yang identik dengan Lily of the Valley sebenarnya bukan berasal dari tubuh si bunga perawan, melainkan dari gulma-gulma peninggalan dari darah naga penggoda tadi.

"Apa yang membuatmu begitu menyukai kisah di balik bunga Lily of the Valley?" tanyamu kemudian.

Jika didasarkan pada kisah perawan Maria, Adam dan Hawa, serta Saint Leonard, maka aku tidak heran jika bunga Lily of the Valley menjadi simbol keagungan, penuh aura kudus, dan menjadi simbol pada acara-acara sakral.

Shoshannat-ha-amaqim...

"Karena... Lily of the Valley merupakan simbol kerendahan hati, agamis. Kemunculannya menjadi simbol kekuatan, simbol semangat untuk membayangkan hadirnya sebuah dunia yang lebih baik. Bahkan, bagi umat Kristiani, Lily of the Valley menjadi tanda kedatangan Kristus yang kedua. Membayangkan ini membuatku merasa tenang. Paling tidak, di balik keburukan akan selalu ada kebaikan. Nyanyiannya, kidung yang disampaikan oleh Lily of the Valley, menyiratkan suka cita."


***

Aku memberikan jawabanku secara asal, itu kalau kau ingin tahu yang sebenarnya. Dan kini, membayangkan itu semua, membuatku terbahak. Entah siapa yang sebenarnya polos, kau atau aku.

"Lily!" Aku mendongak dan melihatmu di sana, berlari tergesa-gesa menghampiriku.

Oh, bukan. Ini, aku, masih membayangkan dirimu di saat yang lainnya lagi. Ketika itu kau melambaikan tanganmu dengan riang, aku heran. Ada apakah? Kau nampak semangat sekali.

"Aku tahu alasan kenapa kamu bisa mengagumi Lily of the Valley!" dengan cepat kau duduk di sebelahku, membuka halaman buku tempat kau menemukan kisah tentang bunga lili ini.

"Lily of the Valley signifies the return of happiness," gumammu, "Pantas saja jika aku sedang bersama kamu, rasanya kebahagiaanku kembali menjadi utuh."

"Hahaha, kamu bisa saja." Mau tidak mau aku tertawa lebar mendengarkan ucapanmu itu. Gombal sekali, aku tidak percaya bahwa aku bisa mencintai laki-laki penuh gombal sepertimu. Sepertinya ada yang korslet di otakku saat aku menerima ajakan untuk menjadi kekasihmu.

"Apa yang membuatmu begitu menyukai kisah di balik bunga Lily of the Valley?" tanyamu kemudian.

Shoshannat-ha-amaqim...

Aku memikirkan beragam alasan. Apapun itu. Aku mencoba mengingat lagi tulisan-tulisan terkait Lily of the Valley yang pernah aku baca, mencoba merangkainya menjadi alasan sempurna untuk memberikan kesan terbaik kepada kekasihku ini.

Tapi, apa?

"Hmm..." aku tersenyum, berharap senyumanku dapat memberikan banyak jeda sebelum aku menyampaikan jawaban yang tepat.

Dia membalasku, "Hmm... Hayo, apa?"

"Kamu pernah melihat bagaimana bunga Lily of the Valley tumbuh?" tanyaku, mengalihkan pertanyaannya dan memberikan lebih banyak lagi jeda untuk aku berpikir.

"Belum," jawabmu singkat. Sial.

"Lily of the Valley itu kuat. Bunganya kecil, serupa dengan kecilnya bunga melati. Tapi, dia bisa tumbuh di mana saja. Di lembah, ladang, kebun, bahkan di antara dedurian sekali pun. Ada kesan kemandirian, keibuan, sekaligus kelembutan. Yaa, seperti gambaran yang diharapkan ada pada wanita modern."

Lagi-lagi, aku menjawab secara asal.
Apa lagi?
Apa lagi?

Dan aku teringat sesuatu.

"Kamu tahu tentang sebuah mitologi Jerman, tentang seorang Dewi perawan yang menjadi simbol musim semi; Dewi Ostara? Ini simbol adanya kehidupan ala Paganisme di Jerman pada masa lampau juga sih..."

Aku melihatmu menggeleng, dalam hati aku tersenyum menang. 

"Konon, bagi para penyembah berhala saat itu, ketika bunga Lily of the Valley ini mekar, berarti menjadi tanda dibukanya pesta Ostara. Wewangian harum dan warnanya yang putih bersih itu mengingatkan tentang kerendahan hati dan kemurnian jiwa Dewi Ostara."

Aku melihatmu menatapku lebih dalam, dan aku semakin tersenyum menang. Bagiku, kau sudah masuk semakin dalam ke dalam perangkap untuk terikat kepadaku.

"Ada lagi," lanjutku, dan kau duduk semakin merapat di sampingku.

"Kamu ingat nama latin dari Lily of the Valley; Convallaria majalis. Nama majalis ini merujuk kepada belonging to May, yang secara astrologis berada di dalam kelompok Merkurius. Jadi, rasi bintang dari Lily of the Valley adalah Gemini, sama seperti aku hahaha."


***

Asal kau tahu, saat itu, ada yang aku sembunyikan darimu.

Memang benar, bunga Lily of the Valley identik dengan belonging to May. Ini juga terkait dengan bagaimana bunga Lily of the Valley memiliki hubungan dengan Maia -- the oldest of the Seven Sisters dalam mitologi Yunani Kuno. Lambang bagi pertumbuhan dan kesuburan. Dia dan Zeus merupakan orang tua dari Hermes (Merkurius). 

Nama bulan Mei yang kita kenal hingga saat ini adalah warisan yang berasal dari nama Maia. Tanggal 1 dan 15 Mei diperingati sebagai hari suci Maia, the Queen of May. Dahulu, di dalam ritual Katolik, hanya perempuan yang diperbolehkan untuk menyembah Maia. Bahkan, di masa Romawi Kuno, bulan Mei dianggap sebagai waktu yang paling tepat untuk melakukan ritual keagamaan. Katanya, bisa mendatangkan keberuntungan, termasuk dalam pernikahan. Inilah yang membuat bunga Lily of the Valley masih menjadi flowers bouquet yang paling diminati bagi para pengantin wanita. Dan ini pula yang aku gunakan untuk menjeratmu agar mau menikahiku dengan berlandaskan pada romantisme kisah Lily of the Valley ini.

Satu hal yang aku tutupi darimu.

Maia, the Goddess of the Lily of the Walley, juga merupakan leluhur bagi ilmu tenung. Rasi bintang Gemini merupakan simbol ramalan dan upacara pemanggilan arwah leluhur. Masa-masa di mana rasi bintang ini muncul, merupakan masa yang katanya paling tepat untuk menebarkan ilmu hitam.

Dan inilah yang aku lakukan sekarang.

Aku, mengutukmu.

By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
The curse will always haunting your family
As a punishment for all the hardships you have put me through

By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
They shall pay for what has been done
As a punishment for all the hardships they have put me through

With the power from the sky
With the power from the earth
With the power from the sun

I use my power
I use my will for all their trouble
For now on they shall receive struggle

This black curse
This black power
I curse you
I curse your family

Forever
For the hundred years ahead


Forget me not...
Tidak. Kau tidak boleh melupakan aku.

Kau sudah mencampakkan aku, dan keluargamu sudah menghinaku sedemikian besar. Aku terperangkap di dalam imajinasi cinta yang sudah aku persiapkan untukmu, dulu.

By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
They shall not die, no
Bring them the suffering by the death of the loves one 

As a punishment for all the hardships you have put me through
As a punishment for all the hardships they have put me through

By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
They shall not die, no
Rather than death, I wish upon suffering unto

As a punishment for all the hardships you have put me through
As a punishment for all the hardships they have put me through
  
By Demons and Angels
By Gods and Goddesses
They shall not die, no
Taking away everything he loves most will certainly do
Taking away everything they love most will certainly do

As a punishment for all the hardships you have put me through
As a punishment for all the hardships they have put me through

An eternal life of suffering and depression he will see
 An eternal life of suffering and depression they will see

This is my will
So mote it be
 

Forget me not...

Cheers!
Have a blessed-day!
















#Jumatulis merupakan project beberapa orang dari komunitas Klub Buku IndonesiaProject ini berupa menulis dengan tema tertentu di setiap hari Jumat, dengan bentuk tulisan dibebaskan kepada masing-masing anggota.

Mulai dari tema ke-6 ada perubahan dalam penentuan tema. Jika sebelumnya tema hanya berupa satu buah kata kunci, maka mulai tulisan kali ini ditentukan bahwa tema harus berupa 5 kata kunci.

Tema #Jumatulis ke-11 ini adalah "BOSAN, TINDAS, TEKANAN, BUNUH, TERTAWA".

Bedanya, jika pada tema ke-6 hingga ke-10, 5 kata kunci ini dimasukkan secara acak di dalam keseluruhan tulisan, maka 5 kata kunci ini harus dimaksukkan ke dalam paragraf pertama setiap tulisan mulai dari tema ke-11 ini.

Anggota #Jumatulis sempat ada 15 orang. Di perjalanan, ada 1 orang yang merasa tidak mampu menjaga konsistensi dalam menulis, sehingga formasi anggota #Jumatulis kembali menjadi 14 orang, yaitu:
  1. Nia - Twitter @niafajriyani - Blog Nia Fajriyani Sofyan
  2. Ijul - Twitter @juliardi_ahmad - Blog Ahmad Juliardi
  3. Bije - Twitter @ipehalena - Blog Binatang Jalang
  4. Yoga - Twitter @YogaPrakoso01 - Blog Sebuah Perjalanan, Sebuah Perjuangan
  5. Andy - Twitter @ndylesmana - Blog Andy Lesmana
  6. Ndeh - Twitter @ndehyaminaris - Blog Tangan-tangan Sukses
  7. Diah - Twitter @diahrizki_ - Blog Gadis Tulip Merah
  8. Miftah - Twitter @heymiftah - Blog Quirky Mind
  9. Lia - Twitter @ainiamaliaaini - Blog Ini Tentang Aku, Kamu, dan Kita Semua
  10. Joko - Twitter @setyojoko - Blog Setyo Joko
  11. Lina - Twitter @linhandc - Blog Life of Lins
  12. Wira - Twitter @wiradwiirawan - Blog Wira D. Irawan
  13. Vy - Twitter @vitox_vy - Blog ^Vy^
  14. Dwi - Twitter @dwianantasari - Blog Honeysuckle