30 May 2014

[THOUGHTS] Jumatulis #10 Gunung, Kipas, Buku, Jalan, Kabut - Mountain Rhapsody [Part 1]


Mountain Rhapsody by Christina Keith

So, here I am, sitting on the veranda, looking at the views around, and drinking a couple cups of coffee. My tummy is full, obviously.

Oh, talking about coffee...

We do all know what the most expensive coffee beans in the world is, don't we? 

It's civet coffee, a kind of coffee beans. A real coffee and delicious, indeed. It was coming from Sumatera - Indonesia. But, the most disgusting fact about civet coffee is, well, it was harvested from the poo of the civet cat.


Ewh.


Membayangkan bagaimana asal muasal dari kopi luwak terus terang membuatku merasa mual. Aku menghentikan kegiatan menulis di dalam buku harian sejenak, sebuah kebiasaan yang sudah rutin aku lakukan selama puluhan tahun setiap kali duduk di beranda vila keluargaku ini; sebuah vila dengan beranda yang menghadap ke gunung dan dikelilingi pedesaan yang cantik, khas suasana klasik di kaki gunung.

Pikiranku melayang, khayalanku membumbung tinggi. Dengan malu, aku memilih kembali menyeruput kopi sebelum menjadi dingin. Abaikan tentang sejarah kopi luwak tadi, kopiku ini terlalu nikmat untuk dilupakan begitu saja.

Samar-samar aku mendengar Mountain Rhapsody dari player di dalam kamarku, yang terletak tepat di balik beranda. Alunan piano Kevin Costley ini menjadi salah satu pilihan favorit apabila aku sedang berlibur seperti sekarang.


***
 

Aku memicingkan mata. Sulit sekali untuk dapat melihat dengan jelas. Hujan deras semalam menyisakan kabut tebal yang menutupi area sekitar, sehingga jarak pandang hanya sampai 3 meter saja. Perlahan aku berjalan menyusuri setapak demi setapak menuju lokasi kesukaanku; kebun teh milik keluarga kami.

Sayangnya, aku melewati jalan setapak ini saat kabut sedang merajai. Mungkin benar, seharusnya aku ke kebun teh saat matahari sudah lebih tinggi. Jadi, aku bisa menikmati pemandangan di sekitar dengan lebih jelas.



Kalian tahu bunga kipas

Bunga yang bentuknya seperti kipas yang sedang dibentangkan, dengan warna-warni yang beragam dan ceria. Bunga kipas sedang mekar-mekarnya di musim seperti sekarang. Jika kabut tidak menutupi, pasti aku akan bisa menikmati aneka warna bunga kipas terbentang luas di sepanjang jalan setapak yang sedang aku lalui ini.

Bunga kipas sangat cantik, nama aslinya juga cantik; fairy fan-flowers plant.

Fairy.
Seperti dongeng.

Tapi kata fairy pada nama bunga kipas bukan merujuk pada kisah klasik, mitos, ataupun cerita rakyat tertentu. Melainkan karena bentuk bunga kipas yang terlihat lembut, memesona seperti peri.

"Enchanted. Fairy fan-flowers itu ibarat peri penjaga manusia, yang sifatnya sangat romantis. Bunga jenis ini memiliki unsur magis, yang akan membuat siapapun memuja kecantikannya." begitu kata nenekku saat mengenalkan aku ke bunga kipas.

Nenekku yang seorang botanist selalu bercerita tentang kisah bunga kipas. Aku menduga kuat, kesukaanku pada jenis bunga ini karena pengaruh dari nenekku juga. 

Bunga kipas memiliki nama latin Scaevola aemula. Bunga yang termasuk ke dalam jenis tanaman belukar, banyak tumbuh di semak-semak, dan masuk ke dalam family Goodeniaceae. Asalnya dari Australia dan hanya tumbuh pada ketinggian 8-12 inch di atas permukaan laut. Bunga kipas ini sangat mudah untuk tumbuh dan menyebar hingga jarak 5 meter dari pusat bibitnya. Bunga kipas tahan cuaca panas dan sangat toleran dengan musim kemarau. Bunga ini juga tidak mudah rusak karena serangga. Saat mekar, daunnya akan berwarna hijau cerah, sementara bunganya lebih sering ditemui yang berwarna biru keunguan. 

"Lihat bentuknya saat sedang mekar dan diterpa sinar matahari. Bunga kipas akan seperti berkilauan, cantik sekali." kata nenekku lagi, dan aku setuju. 

Makanya, aku berharap kabut ini segera berlalu. Aku ingin melihat bunga kipas yang digelayuti oleh embun pagi, berkilauan semerbak saat terkena sinar matahari. Kilau, silau. Namun memancing kita untuk terus mengagumi kecantikannya, seperti kita saat silau oleh kecantikan manusia.

Bruk!

Refleks, aku terjatuh saat ada benda kecil menimpa kepalaku. Tanganku segera meraih benda tadi, mungil sekali. Aku penasaran dan mencoba melihatnya lebih jelas. Sial, kabut masih membuatku sulit untuk melihat lebih jelas benda itu apa. 

Tunggu dulu!
Benda ini bergerak?
Oh, bukan hanya bergerak, benda ini juga terbang!

Benda tadi hanya sebesar bebijian Adenium obesum; bunga kamboja Jepang. Benda tadi menggelitiki tanganku dan seolah menarik tubuhku untuk mengikuti gerakannya. Tubuhku mendadak kaku, ada desir angin yang meniupi cuping telingaku, membuatku merinding.

"Ikuti aku..." tiba-tiba benda, eh, maksudku makhluk mungil tadi membisiki aku. Dan seperti robot, aku bergerak begitu saja mengikuti tarikan dia. Tubuhnya seperti dihinggapi magnet berkekuatan super yang bisa menghisap kita menuju pusaran dunianya.

Yang aku sadari, tubuhku melayang. Melewati rimbunan pepohonan bunga kamboja Jepang. Jika aku terus mengikuti arah tarikan makhluk mungil ini, lurus terus, maka aku akan sampai di kebun teh.

Tidak. Aku bukan dibawa ke kebun teh. Saat aku mengikuti, terus mengikuti, tiba-tiba saja ada hembusan angin kencang selama sekitar tiga detik. Iya, hanya tiga detik. Tetapi, hembusan ini membuatku terlempar entah ke mana. Yang jelas, aku mendarat dengan sempurna di sebuah perkebunan bunga. Tidak ada lagi kabut, terganti oleh suasana musim semi, di mana bunga-bunga mulai bermekaran dengan indahnya.

Makhluk mungil menarikku lagi untuk mengikutinya, terus masuk ke dalam area perkebunan dalam, yang dihiasi oleh banyak sekali bunga-bunga cantik. Andai saja nenekku masih hidup, beliau pasti senang jika aku bawa ke sini.

Sebentar. Aku, baru saja tersadar. 
Dari tadi, aku, terbang?


***

Mountain Rhapsody Serial
Prolog
Part 2 - En


Catatan Khusus
Cerita diadaptasi berdasarkan interpretasi bebas saya saat mendengarkan Mountain Rhapsody yang merupakan karya dari Kevin Costley.

Detail
Mountain Rhapsody by Kevin Costley. For piano. Sheet Music. FJH Written For You Piano Solos. Early Intermediate. Single sheet. Published by The FJH Music Company Inc (FJ.W9272).

Have a blessed day!





#Jumatulis merupakan project beberapa orang dari komunitas Klub Buku IndonesiaProject ini berupa menulis dengan tema tertentu di setiap hari Jumat, dengan bentuk tulisan dibebaskan kepada masing-masing anggota.

Mulai dari tema ke-6 ada perubahan dalam penentuan tema. Jika sebelumnya tema hanya berupa satu buah kata kunci, maka mulai tulisan kali ini ditentukan bahwa tema harus berupa 5 kata kunci.

Tema #Jumatulis ke-10 ini adalah "GUNUNG, KIPAS, BUKU, JALAN, KABUT".

Anggota #Jumatulis sempat ada 15 orang. Di perjalanan, ada 1 orang yang merasa tidak mampu menjaga konsistensi dalam menulis, sehingga formasi anggota #Jumatulis kembali menjadi 14 orang, yaitu:
  1. Nia - Twitter @niafajriyani - Blog Nia Fajriyani Sofyan
  2. Ijul - Twitter @juliardi_ahmad - Blog Ahmad Juliardi
  3. Bije - Twitter @ipehalena - Blog Binatang Jalang
  4. Yoga - Twitter @YogaPrakoso01 - Blog Sebuah Perjalanan, Sebuah Perjuangan
  5. Andy - Twitter @ndylesmana - Blog Andy Lesmana
  6. Ndeh - Twitter @ndehyaminaris - Blog Tangan-tangan Sukses
  7. Diah - Twitter @diahrizki_ - Blog Gadis Tulip Merah
  8. Miftah - Twitter @heymiftah - Blog Quirky Mind
  9. Lia - Twitter @ainiamaliaaini - Blog Ini Tentang Aku, Kamu, dan Kita Semua
  10. Joko - Twitter @setyojoko - Blog Setyo Joko
  11. Lina - Twitter @linhandc - Blog Life of Lins
  12. Wira - Twitter @wiradwiirawan - Blog Wira D. Irawan
  13. Vy - Twitter @vitox_vy - Blog ^Vy^
  14. Dwi - Twitter @dwianantasari - Blog Honeysuckle