10 May 2014

[THOUGHTS] #1Minggu1Cerpen - Topeng

05.00

Aku melepaskan masker yang semalaman aku kenakan. Masker khusus yang sengaja aku kenakan ketika menghadapi dia, sosok yang sedang tertidur di sebelahku. Tidurnya nyenyak sekali. Ada dengkurang halus di sela tidur pulasnya itu.

Aku membalikkan tubuh, kali ini wajahku berada tepat di depan wajahnya. Senyum sinis langsung aku berikan kepada laki-laki ini. Tentu, aku tidak akan berani melakukan hal ini jika dia terjaga. Tidak pernah sekalipun aku berani membayangkan diriku melakukan itu di hadapan dia langsung. Tidak akan pernah.

"Wajah tampan. Sayang sekali. Jika sedikit saja ketampanan itu menghiasi perilakunya, tentu aku akan senang hati melayani dia tanpa harus mengenakan masker jenis apapun." ujarku dalam hati.

Aku segera bangun dan bergegas ke kamar mandi. Aku ingin mandi. Jijik rasanya membayangkan masih ada sisa-sisa sentuhan tubuhnya semalam di setiap inci bagian tubuhku. Aku juga ingin mencuci bersih wajahku -- wajah yang dengan sangat terpaksa harus mengenakan masker khusus, masker anti sakit dan anti protes. Masker yang akan membuat wajahku berseri-seri, tanpa kerutan, apalagi sisa-sisa kemurungan. Masker, yang jelas, akan membuat dia mengira bahwa aku merupakan pasangannya yang paling sempurna -- pasangan yang paling mengerti kebutuhannya.

"Bodoh!" makiku, masih di dalam hati.


***


06.00

Dia menggeliat di tempat tidur dan aku bersiap menyambutnya. Aku sudah mengenakan make up khusus, make up yang jelas akan membuatnya terpesona kepadaku.

Aku menghampiri dia dengan tersenyum, canggih sekali efek make up ini, "Kamu mau sarapan apa?"

"Buatkan aku omelet saja. Jangan lupa, kopi pahit." jawabnya.

"Aku sudah siapkan air hangat untukmu. Mandilah..." ujarku lembut, "Atau kamu mau aku pijat? Tubuhmu terlihat lelah sekali"

Dia mengangguk. Matanya masih terpejam, "Nanti saja aku mandi. Aku tidak ada rencana ke kantor hari ini."

"Kamu mau di rumah saja seharian?" tanyaku lagi dan dia hanya mengangguk kecil untuk menjawabku.

"Tapi, aku harus bertemu beberapa klien hari ini. Kamu akan sendirian saja di rumah seharian ini." Tentu saja aku khawatir jika harus menghentikan meeting penting hari ini.

"Enggak apa. Aku sendirian di rumah saja. Nanti aku akan menyuruh Nadhira untuk datang ke rumah. Aku tetap harus mengerjakan beberapa hal."

Nadhira. Tentu saja aku sangat memahami apa makna di balik kedatangan Nadhira nanti. Sebelum kami menikah, aku sangat paham dengan hubungan dia dan sekretarisnya itu. Bagus, kedatangan Nadhira nanti akan memuluskan jalanku hari ini.

"Ya sudah... Habis ini aku akan menyiapkan makanan lain untuk kamu, selain omelet untuk sarapan. Aku siapkan juga kebutuhan kamu yang lain, ya. Jadi kamu bisa bekerja dengan nyaman di rumah."

Lagi-lagi, dia hanya mengangguk di antara pijatanku di pundaknya.


***


08.00

"Jam berapa kamu sampai?"
"Sekitar satu jam lagi..."

"Baiklah. Rencana tetap harus berjalan dengan baik, oke?!"
"Akan dilakukan."

"Aku percayakan semua ke kamu."


***


09.00

Aku melihatnya sedang berdiri di dekat ruang makan dan menatap layar ponsel pintar. Aku tidak peduli apa yang sedang dia lakukan.

Aku segera mengambil tas tangan yang sudah aku persiapkan untuk kebutuhan hari ini, memeriksa ulang barang bawaan dan memastikan tidak ada satupun tertinggal, serta memeriksa kebutuhan dia selama di rumah. Aman. Semua sudah lengkap. Aku segera mengenakan kacamata khusus. Kacamata yang akan membantuku untuk menutupi rahasia-rahasia yang sedang berkeliaran di mataku.

"Aku berangkat sekarang, ya." Aku cium pipinya dan aku peluk pinggangnya. Dia bahkan tidak menoleh ke arahku, apalagi membalas pelukanku. Baiklah. Aku tidak ambil pusing.

"Kopi dan camilan sudah aku siapkan di meja kerja kamu." dan dia, lagi-lagi, hanya mengangguk.

Sudahlah.

Aku bergegas menghidupkan mobil dan berangkat ke tempat meeting. Ada banyak yang harus aku persiapkan hari ini dan aku tidak ingin jika semua yang sudah dipersiapkan, bahkan dari berbulan-bulan yang lalu, gagal dan berantakan. Apapun yang akan dilaksanakan hari ini, semuanya, harus berakhir dengan keberhasilan.

Aku segera menjalankan mobil dan menuju tempat meeting. Saat melewati rumah bercat magenta di dekat pertigaan, aku membuka kacamata yang lupa aku lepaskan tadi. Aku membuka sedikit jendela mobilku dan tersenyum penuh arti kepada pengemudi mobil yang sedang parkir di depan rumah tersebut. Menghadapinya, aku harus mengenakan kerlingan mata tersendiri, dan tidak mungkin melakukannya jika menggunakan kacamata. Iya, bukan?

Aku menutup kembali jendela mobil dan mempercepat lajunya. Tempat meeting, tujuan utamaku hari ini.

***

10.00

Aku sampai, akhirnya.

Aku meninggalkan semua topeng persediaanku di dalam mobil. Kali ini, topeng-topeng itu tidak perlu digunakan. Menghadapi orang ini, aku bisa menjadi diriku sendiri.

Aku mempercepat langkahku.

Saat bertemu orang ini, di dalam salah satu kamar hotel yang selalu kami sewa jika ingin bertemu, aku langsung menghambur memeluk dan menghadiahi bertubi-tubi ciuman kepadanya.

"Aku kangen...." bisikku pelan, di telinganya, saat kami berpelukan erat. Dia membalas bisikanku dengan ciuman hangat. Ciuman yang selalu aku rindukan setiap hari.

"Nadhira di rumahku." aku memberitahu orang ini, semuanya, tidak pernah ada yang aku tutupi.

Dia merangkul pinggangku dari belakang, aku merasakan bibirnya mencium ubun-ubunku, "Kamu yakin dengan rencana ini?"

"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" kedua tanganku memegang telapak tangan orang ini yang sedang memeluk pinggangku dengan erat.

"Aku hanya khawatir jika kamu justru mendapatkan masalah dari rencana hari ini, itu saja..." jawabnya. "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku tidak masalah jika harus menunggumu sampai kapan pun itu, seperti yang beberapa tahun ini aku lakukan."

"Aku tahu. Justru karena aku tahu, makanya, aku tidak ingin aku menunggu lagi. Aku harus menyelesaikan semuanya, secepat yang aku bisa lakukan."

Orang ini, laki-laki ini, begitu mencintaiku hingga rela bertindak bodoh dengan tetap menungguku. Kalau bukan karena orang tua dia, laki-laki di sana, sudah menggunakan cara licik untuk menekan orang tuaku -- melalui hutang orang tuaku yang begitu menumpuk, aku pasti tidak akan menikah dengannya.

Siapa yang tidak mengenal dia? Laki-laki yang, di dalam otaknya, hanya berisi tentang seks. Perempuan manapun, tidak peduli dia temukan di mana, akan disantapnya tanpa ampun. Semua, demi seks. Di antara semua perempuan itu, Nadhira adalah pelayan seks dia yang paling setia. Aku mengetahuinya dengan jelas, bahkan sejak sebelum aku dan dia akhirnya menikah. Sebuah pernikahan palsu yang aku jalani dengan penuh kepalsuan.

Sekarang aku menunggu kabar Nadhira, sang perempuan bodoh. Dengan iming-iming bahwa dia bisa sepenuhnya dimiliki oleh Nadhira, perempuan itu menjadi peluru yang aku gunakan untuk menghajar dia. Sudah sekitar 15 bulan ini aku melatih Nadhira. Hari ini adalah hari eksekusi untuk semuanya.

Di sini, bersama kekasihku, aku menunggu kabar mengenai keberhasilan rencanaku.


Have a blessed day!





#1Minggu1Cerpen merupakan project pribadi saya, yang dimulai pada bulan Februari 2014. Ini adalah cerita ke-15 di program ini.