03 May 2014

[THOUGHTS] #1Minggu1Cerpen - Ini Adalah Kisah Tentang Bunga Matahari


Pagi hari dan Clytia sudah terlihat di depanku. Bukan berarti selama ini dia tidak pernah muncul di hadapanku, bukan begitu. Sejak aku berada di sini, sekitar lima tahun yang lalu, dan selalu dirawat olehnya, tidak pernah satu hari pun yang dilalui Clytia tanpa menjengukku. Dengan penuh kasih sayang, Clytia memperlakukan aku seperti seorang Ibu mengasuh anaknya. Rutinitas dia menemuiku bahkan bisa melebihi rutinitas makannya yang hanya tiga kali sehari itu. Padahal, selain aku, Clytia juga memberikan perhatian kepada keluargaku yang lain.

Keluargaku sudah bertahun-tahun menempati rumah ini, rumah keluarga Clytia. Konon, nama yang diberikan orangtua Clytia kepadanya berasal dari kisah di keluargaku. Kisah nenek moyangku, lebih tepatnya, membawa inspirasi bagi Papa dan Mama Clytia saat berdiskusi dalam menentukan nama bagi anak mereka saat itu.

Sebelum aku muncul di rumah ini, ada banyak keluargaku lainnya yang dirawat penuh kasih oleh keluarga besar Clytia. Kami merasa bersyukur karena mengenal keluarga ini, sehingga kami berjanji untuk selalu memberikan yang terbaik yang dapat kami lakukan untuk mereka.


***


Titan.

Aku mengenalmu, sepuluh tahun yang lalu. 

Saat itu, kita menjadi mahasiswa baru dan sedang menjalani proses orientasi kampus. Saat harus melakukan penelitian yang menjadi tugas selama orientasi itu, kita berada di dalam satu kelompok. Sejak itu, bahkan hingga kehidupan perkuliahan kita berakhir, kita hampir selalu berada dalam satu kelompok dan kedekatan itu membuat kita menjadi sahabat.

"Nama kamu narsis juga ya... Dari awal kenalan dulu, aku tuh pengen banget bilang kalau nama Titan yang kamu sandang itu pas banget sama kelakuan yang punya nama hahaha." ujarku suatu setelah hubungan kita mulai dekat.

"Hidih. Sama juga dengan nama kamu, persis kelakuan yang punya nama. Ya kan? Hahaha." kamu, membalasku dengan cara yang selalu aku suka. Kamu senang sekali bercanda, dan itu membuatku merasa nyaman di dekatmu.

Aku menatap ke arah Titan dengan memicingkan mata dan meletakkan kedua tanganku di pinggang, "Heh?! Maksud kamu apa?" aku berpura-pura marah dan tidak terima dengan pernyataan dia tadi.

Titan semakin tertawa, dia mengacak gemas rambut di kepalaku, "Nama kamu, Clytia, nama dari Dewi Air di mitologi Yunani Kuno. Nama seorang dewi cantik yang kemudian menjadi simbol bagi bunga matahari, bunga kesukaan kamu yang pohonnya ada banyak sekali di rumah kamu. Bunga yang cantik, sama seperti kamu. Bunga yang warnanya juga menjadi warna kesukaan kamu. Bunga yang menjadi simbol kebahagiaan, sama seperti kamu yang selalu berusaha memberikan kebahagiaan ke orang-orang di sekitar kamu. Silakan tanya ke teman-teman kita lainnya, mereka pasti setuju kalau kamu itu lovable. Kamu, entah kamu sadari atau tidak, menjadi contoh perempuan yang kuat dan mandiri."

Aku ingat sekali, saat itu aku sampai terdiam melihatmu. Jujur saja, itu bukan pujian atau pernyataan pertama yang aku dengar mengenai diriku. Namun, entah mengapa aku merasakan ada yang beda dari caramu menyampaikan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa jatuh cinta dan aku jatuh cinta kepadamu.

"Nama kamu itu bermakna cahaya, sumber penerangan, sumber pencerahan. Bahkan, di budaya Chinese, bunga matahari juga menjadi simbol umur panjang dan keberuntungan. Dan aku memang berharap kamu berumur panjang, selalu bahagia, dan selalu beruntung." kamu melanjutkan dengan tersenyum; senyuman yang saat itu mulai terasa berbeda bagiku.

Kamu masih melanjutkan, sementara aku semakin menatapmu dengan cara yang mulai berbeda. Aku tidak lagi melihatmu seperti seorang sahabat melihat sahabatnya, aku melihatmu sebagai seorang wanita kepada seorang pria yang disukainya.

"Ah iya, kamu pasti juga tahu deh kalau bunga matahari itu diberkahi dengan kehangatan. Warna kuningnya yang cerah, membawa perasaan siapapun yang melihatnya akan menjadi bahagia dan merasakan kehangatan juga. Makanya, bunga matahari disebut sebagai bunga yang paling bahagia di antara bunga lainnya. Bunga yang tubuhnya sangat konsisten, sama seperti kamu yang konsisten dengan setiap ucapan yang kamu keluarkan dan berusaha berperilaku sesuai dengan itu. Bunga yang sangat setia, sama seperti kamu yang setia dengan hal-hal yang selama ini kamu jadikan prinsip."

Aku hanya tersenyum menanggapi setiap perkataanmu. Mendengar kalimatmu yang terakhir ini, membuatku mulai berpikir untuk mulai menjaga kesetiaanku kepadamu. Bukan setia sebagai teman, bukan. Sejak itu aku memutuskan untuk setia menjaga rasa suka dan cinta kepadamu, dengan atau tanpa kamu ketahui.

"Kamu unik, sama seperti keunikan yang ada di bunga matahari. Kamu selalu energic, sama seperti bunga matahari yang mampu memberikan energi positif ke lingkungan di sekitarnya. Pengetahuan yang kamu punya menjadi berkah bagi orang di sekitar kamu, aku dan teman-teman lain sangat suka kalau kamu sudah mulai berpendapat, soalnya pengetahuan kamu yang luas itu seperti makanan bagi kami yang mengenal kamu. Sama seperti bunga matahari yang setiap elemen di dalamnya sangat bermanfaat, tubuhnya bisa dijadikan minyak bunga matahari dan bijinya bisa kita makan. Bunga matahari, the great significant floral in the world, adalah kamu. Kekaguman yang diciptakan kamu dan bunga matahari sangat sama, membuat kami tidak segan untuk menyatakan bahwa orang terpenting bagi kami yang mengenal kamu, ya kamu. Ini bukan sekedar pujian, kamu boleh bandingkan pendapatku dengan pendapat yang lain lho hahaha."

Lagi-lagi aku lebih memilih untuk terdiam dan menikmati caramu menyampaikannya.

"Hey... Clytia... Kok malah diam?" panggil Titan.

Dengan tersenyum aku membalasnya, "Nama kita bukannya mirip ya maknanya? Di mitologi yang sama, nama kamu itu menjadi nama lain bagi Apollo atau Helios. Apollo Helios, sang Dewa Matahari. Berarti nama kamu mencerminkan energi juga, sumber panas sekaligus sumber energi bagi bumi. Sebegitu penting keberadaan kamu di dalam kelompok kita, paling tidak ya itulah yang aku tahu, sama seperti pentingnya keberadaan matahari bagi bumi dan segala isinya."

"Halah... Kamu ini..." katamu berusaha menangkis pernyatan balasanku.

"Lho, iya kan? Siapapun yang mengenal Titan, sang Dewa Matahari, akan melihat Titan sebagai sosok yang dikagumi, sama seperti kamu. Yaa, siapa sih di jurusan kita yang enggak kenal kamu? Titan yang dikagumi oleh semua orang -- terutama perempuan -- mulai dari angkatan paling bawah sampai para alumni. Bahkan cleaning service, penjual di kantin, sampai semua dosen juga kagum ke kamu kan? Kamu bilang, aku yang dikagumi karena pengetahuanku? Ngaco deh hahaha. Kamu tuh yang paling dikagumi karena kepintaran kamu yang superb itu." lanjutku.

"Kamu, Clytia, kamu yang dikagumi..." balasmu.
"Bukan, itu kamu kok..." elakku.

Dan kita terus saja saling mengelak, penuh tawa. 

Saat itu, sepenuhnya, aku menyadari bahwa kisah tentang Apollo atau Helios atau Titan -- atau entah apa saja sebutan bagi Dewa Matahari di mitologi Yunani Kuno itu -- terlihat tepat sekali untuk dibandingkan dengan kisahmu sendiri. 

Titan di mitologi Yunani Kuno dikenal sebagai Dewa penyebar cinta dan kehidupan, seperti Titan yang aku kenal dan akhirnya membuatku jatuh cinta. Hidupku terasa jauh lebih berwarna sejak mengenalmu. Bukan berarti aku tidak pernah bahagia sebelumnya. Entahlah, saat itu aku merasa lebih hidup dan bersemangat. Mungkin itu yang disebut banyak orang sebagai kekuatan cinta.

Titan di mitologi Yunani Kuno dikenal sebagai sosok yang manly dan tampan. Titan yang aku kenal, siapa yang berani mengatakan bahwa dia tidak tampan? Pasti tidak ada, aku sangat yakin akan hal ini. 

Titan yang aku kenal juga sangat jantan, dalam arti bahwa dia sangat bisa diandalkan dan begitu sportif. Dia tidak segan membantu siapapun yang membutuhkan bantuannya. Dia bisa memberikan rasa aman dan nyaman kepada siapapun yang berada di dekatnya.


***


Clytia.

Aku tahu tentang Titan, kamu sering bercerita tentang dia. Bahkan aku juga mengenal dia karena Titan sering berkunjung ke rumahmu dan kamu juga sering mengajaknya untuk menyapaku. 

Aku menyukai kalian berdua, makanya aku sangat marah ketika mengetahui bagaimana kamu sempat memperlakukan Titan saat itu. Kamu tentu paham saat itu -- yang aku maksud barusan -- terjadi kapan. Itu bukan seperti Clytia yang aku kenal. Kamu menyeramkan, Clytia, sangat menyeramkan.

Perubahan kamu yang sangat drastis membuatku memusuhimu, sebelum akhirnya kamu menemuiku dan menangis begitu kencang. Memilukan. Kamu mungkin tidak menyadarinya, tetapi aku juga ikut menangis bersamamu.

Clytia sayang, aku senang karena kamu sudah melewati masa-masa itu.

Kebahagiaanku menjadi semakin besar saat suatu hari kamu bercerita tentang dia. Rona wajahmu menjadi seperti semula, penuh keceriaan. Aku senang melihatmu kembali memancarkan energi positif, tidak lagi dipenuhi oleh kesenduan, kemarahan, dan -- ini yang paling aku takuti saat kau jatuh ke dalam kegelapan, Clytia -- dendam.

Dia, katamu, membuatmu kembali merasakan rasa aman dan nyaman. Kamu kembali merasakan bahwa kamu terlindungi, kamu merasa kembali dijaga dengan baik. Padahal, kamu sempat membencinya.

Clytia, kali ini kamu sedang memikirkan apa? Dari tadi kamu hanya termenung, terdiam lama sekali.


***


"Aku bingung," akhirnya aku memutuskan untuk bercerita kepadamu. Kamu, seperti biasa, berdiri tegak. Terkadang aku malu jika disamakan denganmu, apalagi jika dianggap sebagai orang yang mewakili sifat-sifatmu.

Melihatmu yang terlihat begitu cerah dan ceria, ada kesan berani dan juga nyaman. Makanya aku selalu suka mengunjungimu, juga keluargamu yang lain -- dengan aura dan warna yang terlihat bagi setiap orang yang melihat kalian -- maka kalian adalah hadiah yang penuh kehangatan dan perhatian sesungguhnya, bukan aku. 

Kalian adalah matahari bagi hidupku. Kalian adalah sumber semangat dan kegairahan; hanya kalian yang tidak pernah meninggalkan aku saat aku terpuruk, terutama kamu. Setiap pagi hingga malam, kapan pun aku membutuhkan kalian, maka kalian selalu ada siap menampungku.

"Semalam dia melamarku, apa yang harus aku lakukan? Dia tidak mendesakku. Katanya, dia bersedia menunggu hingga aku siap memberikan jawaban, apapun jawaban itu."

Aku membelaimu, berharap kamu membisikkan jawaban kepadaku. Keinginan yang, aku tahu, sangat konyol. Ini adalah hidupku, jawaban yang dia butuhkan tentu harus dari isi hatiku sendiri.


***


Aku mengenalmu, Clytia, sangat mengenalmu. Kebersamaan yang terjalin di antara kita selama ini membuatku cukup mampu untuk menelisik isi hatimu. Aku mengenalmu bukan hanya dari hubungan kita selama ini, termasuk pula dari segala kisah tentang dirimu yang aku dengar dari keluargaku yang hidup lebih dulu dariku.

Lepaskanlah, Clytia, lepaskan semua yang memang harus terlepas. Jangan lagi kau genggam, jangan lagi kau kunci. Biarkan terlepas dan bebas. Dengan begitu, kamu pun akan lebih merasa bebas dan lepas.

Dia menunggumu, dengan kesetiaan yang melebihi kesetiaan terbesar apapun yang pernah kamu berikan. Dia memujamu, dengan pemujaan yang melebihi segala pemujaan yang pernah kamu berikan. Dan yang lebih penting, dia mencintaimu melebihi rasa cinta yang pernah kamu berikan selama ini.

Kamu pernah mencintai hingga kehilangan dirimu sendiri, sementara dia memberimu cinta yang membuatmu kembali seperti selayaknya seorang Clytia. Kamu pernah mencintai seperti kesetanan, sementara dia mencintaimu dengan kelembutan seorang malaikat penjaga yang selalu melindungi dan memastikan kamu mendapat perlakuan terbaik.

Mungkin aku subjektif kali ini, mungkin sekali. Namun aku juga melihatnya, Clytia. Aku melihat bagaimana dia memperlakukan kamu dan aku melihat bagaimana kamu menikmati itu semua. Maka, wajar jika aku mendukung kalian, lebih tepatnya, aku mendukung dia untuk bersamamu. Katakanlah, ya, sebagai jawabanmu kepadanya.

Aku mengenal Titan, sekali lagi, aku katakan bahwa aku mengenal Titan. Bukan berarti dia buruk bagimu, tidak, justru kamu yang memperlakukan dia dengan buruk hingga hubunganmu dengannya menjadi seperti sekarang. Kamu berhutang banyak sekali permintaan maaf kepada Titan, lakukanlah, jika itu bisa memperbaiki hubungan kalian.

Tiga tahun terakhir adalah masa berkabung bagiku atas hubunganmu bersama Titan. Dia layak mendapatkan permintaan maaf yang sangat tulus darimu.

"Aku tahu," aku tersentak, tiba-tiba kamu bersuara dan itu mengagetkanku.

"Maafkan aku karena membuatmu khawatir. Setelah apa yang pernah aku lakukan dulu, aku hanya merasa tidak pantas untuk menemuinya lagi. Aku sangat malu, terlalu malu untuk mengakui bahwa aku pernah menjadi sahabatnya." lanjutmu.

Aku memahami perasaanmu, sangat paham hingga mampu membayangkan bagaimana kondisimu saat ini. Ketahuilah, aku akan mendukung setiap langkah baik yang kamu tempuh.

Aku menatapmu, mencoba melihat matamu dan berharap menemukan seberkas cahaya terang di sana. Mata yang, aku dengar dari keluarga besarku, katanya menjadi mata penuh gairah kehidupan -- sebelum tragedi itu terjadi. Namun, yang aku lihat adalah mata yang basah oleh air mata.

Aku mendengar desah napasmu, berat sekali, "Sebelum dia melamarku, Halia terlebih dahulu menemui aku tiga hari yang lalu. Halia, entah apa yang ada di pikirannya sehingga masih saja bersikap sangat baik kepadaku. Padahal, aku pernah sangat menyakiti hatinya. Keberadaan perempuan seperti dia, yang membuat perempuan sepertiku akan mudah tersingkirkan. Wajar jika akhirnya Halia yang dipilih, dia memang jauh lebih baik dibanding aku."

Aku tidak sependapat, Clytia. Kamu hanya dikuasai oleh perasaan bersalah. Perasaan yang membuat dirimu yang sekarang mudah merasa rendah diri. Kamu perempuan yang baik. Dulu, kamu memang pernah membuat kesalahan, yang akhirnya menjadi catatan hitam bagi dirimu. Tetapi, ingatlah, itu kejadian lama. Ini saatnya kamu mengembalikan dirimu seutuhnya lagi.

Mungkin kamu tidak mengetahui. Halia beberapa kali datang ke rumah ini bersama Titan, saat kamu melarikan diri dengan melanjutkan kuliah magister di Belanda setelah kejadian yang membuatmu merasa sangat malu itu. Mereka berdua sangat merindukanmu. Halia secara khusus juga berkata kepadaku, kepada kami semua di rumah ini, bahwa dia sangat ingin bersahabat denganmu. Tidak pernah sekalipun dia menganggapmu sebagai musuh, tidak pernah. Clytia yang dia ingat adalah perempuan pintar, sahabat Titan, dan perempuan yang dikagumi olehnya.

"Halia, korban keegoisanku. Hubungan Halia dengan orangtuanya pun sempat memburuk karena fitnah yang aku tujukan kepada dirinya dulu. Padahal, Halia merupakan sepupuku yang paling baik. Om Har dan Tante Wina juga merupakan paman dan bibiku yang paling sempurna. Aku menyakiti mereka semua atas nama cinta; cinta yang sangat buta." katamu lagi.

Iya, kamu benar. Clytia, kamu benar. Tapi Clytia... Om Har, Tante Wina, dan Halia sudah memaafkanmu. Mereka sudah memaafkanmu, bahkan tanpa kamu meminta maaf. Mungkin kamu tidak tahu karena mereka memang sengaja menunggumu, sampai kamu siap dengan sendirinya untuk menemui mereka lagi.

"Titan pernah menjadi sahabat terdekatku, tetapi aku menghancurkan persahabatan itu. Selama empat tahun kami bersama, tidak pernah ada konflik yang hadir di antara kami. Tidak pernah sekalipun. Kami selalu bersama, kebersamaan yang membuatku sangat terikat kepadanya. Terlebih, aku memang mencintai dia sejak lama. Aku memilih tidak berpacaran dengan orang lain, karena aku ingin menjaga cintaku kepada Titan. Sementara Titan, dia memilih tidak berpacaran karena memang belum tertarik untuk berpacaran. Semua yang mengenal kami menganggap kami berdua berpacaran dan tidak percaya begitu saja jika kami tidak mengakui hal itu. Aku yang diam-diam mencintai Titan, hanya tersenyum bahagia di dalam hati dengan segala isu yang mengatakan kami berpacaran. Aku dibutakan oleh kebaikan Titan, menganggapnya lebih, padahal Titan memang tulus berbuat baik kepadaku sebagai seorang sahabat. Tidak pernah lebih. Katanya, aku adalah sahabat dia yang sangat berharga. Satu-satunya yang dia anggap seperti saudara kandung, mengingat kami berdua adalah anak tunggal yang memang sama-sama ingin sekali memiliki kakak atau adik. Sementara aku, telah menjadi sahabatnya yang terburuk, yang pernah secara sengaja menghancurkan dirinya."

Aku mendengarkan Clytia dalam diam.

"Sampai dia bertemu dengan Halia, di tahun kelima kami bersahabat, saat Halia baru kembali dari New Zealand dan memutuskan untuk menetap di Indonesia. Sebelumnya, Titan hanya mengenal Halia dari cerita-ceritaku. Selama kami bersahabat, Titan dan Halia tidak pernah saling bertemu meskipun Titan sering sekali bermain di rumahku. Halia jarang bisa berlibur ke Indonesia. Tugas Om Har sebagai seorang diplomat membuat keluarga mereka sering sekali berpindah negara. Halia sendiri menetap di New Zealand sejak usia 15 tahun dan bersekolah di sekolah asrama khusus perempuan. Dia di sana sampai lulus kuliah, sebelum memilih menetap di Indonesia. Sejak aku menjemput Halia di bandara bersama Titan, sejak itu pula hubungan mereka berdua dimulai. Bukannya aku tidak peka dengan kedekatan mereka, aku hanya berpura-pura tidak pernah tahu. Hatiku sangat sakit setiap kali aku melihat mata Titan selalu berseri dan dia sering salah tingkah saat bersama Halia. Hatiku hancur membayangkan laki-laki yang selama lima tahun ini menjadi laki-laki yang paling aku cintai, ternyata mencintai perempuan lain. Jiwaku terluka, rasanya seperti terkoyakkan, setiap aku melihat Titan dan Halia merona penuh cinta. Aku tidak terima."

Clytia, aku tahu. Teruskanlah, jika ini bisa membuatmu lega. Aku tidak pernah keberatan mendengarmu berulang-kali menceritakan hal ini. Satu harapanku kali ini, kamu akan mengeluarkan semuanya, tidak lagi menutup akar masalah ini.

"Bodohnya, cara yang pilih adalah cara yang paling jahat!" Clytia menangis meraung, jeritannya sangat mengoyak hatiku. Dia sampai terduduk di tanah, berurai air mata, dan terus berteriak mengutuki perbuatannya saat itu.

Aku sangat mengetahui bagian yang sangat dibenci oleh Clytia dan paling sulit ia maafkan. Saat itu aku sudah berada di sini, Clytia selalu menceritakan setiap detail kisahnya kepadaku.

Kedekatan Titan dan Halia membuat Clytia sangat marah. Dia dikuasai perasaan untuk menyakiti Titan dan Halia, dengan harapan mereka akan terpisahkan. Tujuannya, Halia pergi dan kehidupan Titan dan Titan hanya dimiliki oleh Clytia.

Clytia sangat paham bahwa Titan dan Halia saling mencintai. Cinta mereka begitu tulus. Hal ini membuat Clytia semakin membenci Halia, yang telah dianggap merebut Titan darinya. Beberapa cara sudah dilakukan oleh Clytia untuk membuat perhatian Titan hanya tertuju padanya. Dia berpura-pura sakit. Tetapi bukannya membuat hubungan Titan dan Halia semakin renggang, justru membuat Titan dan Halia semakin sering berdua karena mereka -- yang begitu menyayangi Clytia -- sering merawat dan memperhatikan Clytia supaya kesehatannya segera pulih. 

Sampai cara paling ekstrim adalah dengan menyebarkan fitnah tentang Halia kepada Om Har. Clytia berkata bahwa Halia hamil di luar nikah dan tidak jelas siapa ayah dari bayi yang dikandungnya. Saat itu Om Har sangat marah. Dia yang saat itu sedang bertugas di Jepang sampai harus ke Indonesia untuk menghajar Titan hingga babak belur karena menganggap Titan-lah yang menghamili Halia. Om Har juga sempat menuntut Titan secara hukum karena menganggapnya mangkir dari tugas untuk bertanggung jawab kepada Halia, cara yang sebenarnya digunakan Om Har untuk memisahkan Titan dan Halia sepenuhnya. Sementara Titan menjalani pemeriksaan hukum tanpa sepengetahuan Halia, di sisi lain Halia dibawa paksa ke Jepang.

Entah apa yang ada di pikiran Clytia saat itu, aku sendiri masih tidak terlalu yakin. Yang jelas, Clytia benar-benar seperti kesetanan. Dia dikuasai amarah, sehingga akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Nurani dia diselimuti oleh kecemburuan membabi buta, membuat dia tidak lagi dapat merasakan bahwa ulahnya sudah membuat orang-orang yang menyanyangi dia menjadi tersakiti.

Periode satu tahun itu benar-benar panas. Aku yang masih baru hadir di sini merasa kebingungan. Keluargaku yang membantuku untuk mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Pada akhirnya, kebenaran terungkap. Fitnah dari Clytia tidak pernah terbukti. Titan justru semakin mencintai Halia dan Halia semakin dekat dengan Titan. Clytia, tidak pernah mendapatkan Titan sepenuhnya hanya untuk dirinya.

Beruntung, semua orang yang terlibat terlalu mengenal Clytia dengan baik. Perbuatannya hanya dianggap sebagai kecemburuan biasa, kekhilafan seorang Clytia. Kebaikan yang sebelumnya ditanamkan Clytia kepada orang-orang tersebut menjadi buah yang menyelamatkan Clytia dari kebencian orang-orang terdekatnya. Memang, mereka sempat marah. Tetapi, tidak sampai membenci Clytia.

Apalagi, begitu menyadari alasan di balik perilaku Clytia, Titan justru semakin merasa bersalah. Halia juga demikian. Mereka berdua memilih untuk berhenti berhubungan. Putusnya hubungan antara Titan dan Halia, seperti yang pernah diharapkan oleh Clytia, justru membuat Clytia menyadari kesalahannya. Karena malu, akhirnya Clytia terbang ke Belanda selama tiga tahun untuk melanjutkan magister dan sempat pula bekerja di sana.

Selama Clytia berada di Belanda, Titan dan Halia sering ke rumah ini. Mereka berharap dapat terus mengenang Clytia yang memutuskan hubungan dengan mereka. Hanya melalui Papa dan Mama Clytia-lah mereka bisa mendapatkan kabar tentang Clytia. Rutinitas tersebut terus saja mereka jalani selama Clytia tidak ada di rumah. Papa dan Mama Clytia tidak pernah mengatakan tentang hal ini, atas permintaan Titan dan Halia, karena tidak ingin membebani perasaan Clytia. Mereka sangat paham, mereka mengerti bahwa kepergian Clytia ke Belanda bukan sekedar untuk bersekolah. Clytia sedang menyembuhkan diri di sana. Jadi, mereka semua memilih menunggu Clytia untuk benar-benar pulih dan kembali ke Indonesia untuk memulai kembali hubungan baik yang sebelumnya pernah terjalin begitu erat.

Sudah hampir setahun ini Clytia kembali ke Indonesia. Tetapi, dia belum pernah berani untuk menemui orang-orang yang pernah dia sakiti. Clytia merasa sangat malu. Dia memilih menenggelamkan diri ke dalam pekerjaan, atau di saat senggang memilih menyendiri seperti yang dilakukannya sekarang.

"Tragis. Kisahku sama seperti kisah di dalam Mitologi Yunani tentang Clytia dan Titan. Aku mengalami kisah cinta tak berbalas, sama seperti sang Dewi Air yang cintanya kepada Dewa Matahari hanya bertepuk sebelah tangan." lanjutmu, masih dengan isak tangis yang tak kunjung berhenti.

Aku mendengarkan Clytia sambil membayangkan dia, rekan kerja Clytia sekarang, yang sering ke rumah untuk menemui Clytia. Kalaupun Clytia menolak menemui dia, maka dia memilih berbaur bersama orangtua Clytia atau bersama kami. Raut wajah dia selalu berbinar selama mengajak kami berbincang, aku bisa merasakan bila kehadirannya membuat orangtua Clytia bahagia. Orangtua Clytia sering mengajak dia untuk makan bersama di rumah, bahkan terkadang mengajak orangtuanya ikut serta. Sejak kejadian dulu, belum pernah rumah ini terasa lebih semarak seperti yang ditunjukkan saat dia dan keluarganya ada di rumah ini. Aku, tentu saja, mengharapkan yang terbaik.

"Sejauh apapun usaha yang pernah aku lakukan untuk memikirkan ini semua, aku hanya sampai kepada satu kesimpulan; bahwa Titan dan Clytia memang tidak pernah ditakdirkan bersama. Jodoh Titan adalah Halia, dan jodoh Halia adalah Titan. Terbukti, tiga hari yang lalu, Halia menyampaikan kepadaku bahwa Titan melamarnya, memang belum lamaran resmi. Halia ingin mendengar pendapatku sebelum dia menyampaikan secara resmi kepada Om Har dan Tante Wina. Entah kenapa, aku tidak merasa sedih. Aku hanya merasa malu. Jika saja aku tidak pernah mengganggu hubungan Titan dan Halia, mungkin saat ini mereka sudah menikah dan memiliki anak, selalu hidup bahagia." ratapmu, masih dengan menangis meraung.

"Aku bodoh! Aku bodoh! Aku bodoh!" teriakmu kemudian.

Clytia...

"Aku tahu saat itu Titan sangat sedih karena ulahku, dia tidak dapat terang-terangan memilih Halia karena memikirkanku. Halia juga begitu, dia memilih meninggalkan Titan demi menjaga aku yang begitu egois. Mengingat mereka menderita seperti itu membuatku sangat membenci diriku sendiri, semakin membenci diriku karena aku selalu menyadari, they're really meant to be, tapi aku memilih meniadakan semuanya. Kini seolah nasib mereka berada di tanganku sehingga Halia harus secara khusus memberitahu lamaran Titan dan meminta pendapatku. Apapun keputusanku akan mempengaruhi keputusan mereka. Di sisi lain, dia juga melamarku tetapi aku merasa tidak pernah pantas untuknya. Aku tidak lagi mengharapkan Titan, sungguh. Tetapi aku terlalu takut akan menjadi sumber rasa sakit bagi orang-orang terdekatku lagi, seperti dulu aku pernah menyakiti semuanya."

Clytia, bangkitlah.

"Aku ingin sekali berakhir seperti Clytia sebagai Dewi Air. Aku masih sering mencobanya, menderita karena cinta dan kebodohan perilaku, dengan memilih tidak makan berhari-hari. Aku hanya duduk dan menatap langit. Menatap di mana Dewa Matahari berada. Aku berharap, tidak lama kemudian aku bisa berubah menjadi bunga matahari, sepertimu -- seperti asal namaku juga. Dengan begitu, aku hanya akan mampu melihat mereka dari jauh, tanpa pernah mengganggu orang-orang terdekatku lagi. Dan tidak akan pernah ada lagi kesakitan yang aku ciptakan bagi mereka. Tanpa aku, mereka pasti akan lebih bahagia."

Tidak, Clytia, kamu salah. Tanpa kehadiran kamu di rumah ini, semua orang yang menyayangimu merasa kesepian.

"Bagaimana mungkin aku berharap kebahagiaan dengan dia? Tidak, aku tidak pantas."

 ***


EPILOG

Pagi hari dan Clytia sudah terlihat di depanku. Bukan berarti selama ini dia tidak pernah muncul di hadapanku, bukan begitu. Sejak aku berada di sini, sekitar tujuh tahun yang lalu, dan selalu dirawat olehnya, tidak pernah satu hari pun yang dilalui Clytia tanpa menjengukku. Ya, kecuali ketika dia berada di Belanda.

Dengan penuh kasih sayang, Clytia memperlakukan aku seperti seorang Ibu mengasuh anaknya. Rutinitas dia menemuiku bahkan bisa melebihi rutinitas makannya yang hanya tiga kali sehari itu. Padahal, selain aku, Clytia juga memberikan perhatian kepada keluargaku yang lain. Oh, jangan lupa, kali ini ada dia -- yang sudah setahun ini menjadi suami Clytia -- yang juga ikut merawatku, merawat kami semua. Kehadirannya membuat kehidupan di sini menjadi semarak.

Keluargaku sudah bertahun-tahun menempati rumah ini, rumah keluarga Clytia. Konon, nama yang diberikan orangtua Clytia kepadanya berasal dari kisah di keluargaku. Kisah nenek moyangku, lebih tepatnya, membawa inspirasi bagi Papa dan Mama Clytia saat berdiskusi dalam menentukan nama bagi anak mereka saat itu. Kali ini, Clytia dan dia yang masih saja sibuk berdiskusi untuk menentukan nama bagi calon bayi yang akan segera lahir dalam beberapa hari ke depan.

Sebelum aku muncul di rumah ini, ada banyak keluargaku lainnya yang dirawat penuh kasih oleh keluarga besar Clytia. Kami merasa bersyukur karena mengenal keluarga ini, sehingga kami berjanji untuk selalu memberikan yang terbaik yang dapat kami lakukan untuk mereka. Ah satu lagi, Titan dan Halia juga menjadi bagian dari kami. Kehadiran mereka berdua, yang rutin sekali ke rumah ini, membuat kami sekeluarga juga bertekad untuk bisa memberikan kehangatan dan kebahagiaan bagi mereka berdua, serta bagi anak laki-laki kecil yang wajahnya sangat mirip dengan Titan itu.

Clytia sudah meminta maaf secara tulus kepada semua orang yang pernah dia sakiti. Seperti diduga, semua orang memang sudah memaafkan Clytia bahkan sebelum dia meminta maaf. Aku melihat Clytia menjadi jauh lebih tenang, kehadiran dia -- suaminya -- banyak membantu pemulihan jiwa Clytia hingga Clytia bisa kembali seperti semua, seperti yang kami kenal lama.

Aku, dan keluargaku, masih di sini untuk menjadi saksi sejarah di dalam keluarga ini -- terutama di kisah Clytia -- bunga matahari keluarga ini, bunga matahari bagi kami semua.


Have a blessed day!





#1Minggu1Cerpen merupakan project pribadi saya, yang dimulai pada bulan Februari 2014. Ini adalah cerita ke-14 di program ini.